Just Stay Beside Me| Four

s-y-m-just-stay-beside-me

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Chaptered

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo || Na HaeRyeong BESTie

Credit Poster :

Haruru98 by http://cafeposterart.wordpress.com

Note:

Anyeong….aku bawa kelanjutan untuk Chapter 4, Sorry belum bisa lanjut untuk  FF ku yang lain…Dan Sorry juga kalau nantinya JSBM ini tidak bagus 😦

SELAMAT MEMBACA, SEMOGA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA BERKOMENTAR

*

*

Lovely Girl , it’s you…

Several months later…

*

“ Anyeong!!! “  wajah Sooyeon terpampang jelas pada Handycam nya.

“ My name is  Jung Sooyeon yang berarti sebuah kemewahan, hihihi” Sooyeon terkikik, ia sedikit malu memperkenalkan dirinya sendiri pada Handycamnyaitu.

“Banyak orang yang mengatakan aku cantik. Ya… setelah kuperhatikan aku memang cukup cantik. Apa aku cantik?. Emhhh  Aku cukup mahir dalam beberapa hal, kecuali olahraga, aku membenci olah raga lari, dan aku hampir tidak pernah renang karena aku tidak bisa berenang, itulah sebabnya aku sedikit pendek. Emh_” Sooyeon mengetukkan jarinya pada bibirnya, ia terlihat berfikir untuk perkenalan selanjutnya.

“ mungkin memasak adalah daftar terakhir kemahiranku, bukankah selanjutnya seperti itu?” Potong Myungsoo.

Sooyeon merengut, dan wajah itu terekam pada Handycamnya. Ia menatap tajam Myungsoo lalu mengalihkan handycam nya pada Myungsoo.

“ Dan dia adalah manusia paling menyebalkan di dunia, dia dingin, dia datar, dia kejam, dia jahat, dia selalu berkata kasar, dan dia _” Sooyeon menggantung kalimatnya.

“ Orang yang tidak bisa kau jauhi” lanjut Myungsoo.

Sooyeon terdiam kikuk, Ia masih diam dan mengarahkan handycamnya pada Myungsoo. Setelah cukup lama merasakan kediaman Sooyeon, Myungsoo menoleh dan kali ini wajahnya terlihat jelas dari Handycam itu.

“ Wae yo?”

Sooyeon tersadar, ia segera mematikan Handycamnya. Lalu beralih pada hal di depannya.

“ Kau tetap yang paling menyebalkan manusia datar” umpat Sooyeon lalu berlari ke rumah Myungsoo.

Ia ingin menyapa Ahn Ahjumma dan merekamnya. Keinginannya sejak lama adalah merekam aksi Ahn Ahjumma di dapurnya. Dan berajar memasak darinya. Setidaknya kemahirannya yang terakhir itu bisa lebh naik tingkat.

Myungsoo terkekeh, ia tersenyum, lalu mengikuti Sooyeon dan masuk ke dalam rumah. Ia tahu pasti kemana tujuan pertama Sooyeon, tidak lain adalahh Ahn Ahjumma.

Myungsoo duduk di mejanya lalu meminum kopi yang disediakan Ahn Ahjumma. Sedangkan Sooyeon tengah sibuk merekam aksi Ahn Ahjumma yang sedang menyiapkan makanan.

“ Aigo…Sooyeon_ah… hentikan itu, aku sedang memasak”

“ Ayolah …aku ingin merekam caramu memasak, aku ingin belajar memasak darimu” rengek Sooyeon.

Ahn Ahjumma melirik Myungsoo yang terlihat anteng-anteng saja sedangkan gadis di depannya ini selalu bertingkah sesuka hatinya.

“ Waegeurae? Kenapa denganmu?” tanya Ahn Ahjumma.

“ Any…aku ingin tidak makan masakanmu, aku ingin memakan masakanku.” Sooyeon merengut, ia memeluk Ahn Ahjumma dari belakang.

“ Aigooo…kau bisa memasak, kau hanya perlu lebih telaten lagi “ Ahn Ahjumma mengelus kepalanya. Sungguh hangat untuknya.

Ahn Ahjumma adalah kepala rumah tangga di rumah Myungsoo. Myungsoo memang hanya perlu Ahn Ahjumma menemaninya, ia tidak perlu pembantu rumah tangga yang banyak seperti sebelumnya. Dan dia sekaligus seseorang yang juga menyayangi Sooyeon. Seseorang yang bisa memanjakan Sooyeon seperti putrinya sendiri, mengingat Sooyeon tinggal sendiri di Seoul.

“ Turutilah kemauannya Ahn Ahjumma, dia hanya sedang bahagia karena handycam yang baru dibelinya, mungkin besok atau lusa dia sudah melupakan Handycam itu”

Sooyeon merengut, dia beralih dan duduk kasar di depan Myungsoo.

“ Hya! Aku benar-benar kesal padamu hari ini Husby, ah any…Kim Myungsoo!Kau benar-benar menyebalkan hari ini”

Myungsoo menatap Sooyeon datar, namun cukup lama dan tidak beralih, membuat gadis itu menjadi kikuk karena tatapan itu.

“ Apa kau sedang PMS? “

Sooyeon melebarkan matanya lalu spontan memukul pundak Myungsoo dengan tangannya.

“ Hya! Jangan tanya seperti itu di depan seorang gadis! Kau tahu itu memalukan”

“ Apa itu benar?”

“ Aku pulang! Aku benar-benar marah padamu Husby, kau dengar itu, jangan menahanku untuk pulang ke rumahku”

“ Aku tidak menahanmu, kau datang dan pergi di rumah ini sesuai keinginanmu”

Sooyeon merengut, ia memicingkan matanya lalu menendang kaki Myungsoo. Dia memang seperti itu jika sedang kesal. Menendang, dan tidak perduli jika itu Myungsoo karena hari ini dia marah pada Myungsoo.

“ Baiklah….aku tidak akan menyapamu besok! Jangan mencariku Ara!!” ancamnya.

Myungsoo diam dan tidak menghiraukannya. Membuat Sooyeon semakin geram.

“ Jangan mencariku Ara!! Besok di sekolah kau akan kesepian karena tidak ada aku”

“ Besok adalah hari minggu Jung Sooyeon” sanggah Myungsoo.

Sooyeon terdiam, ya… ia baru ingat bahwa besok adalah hari minggu. Oh…bodohnya dia yang mengancam namun tetap gagal dan mendapat tanggapan dingin dari Myungsoo. Dan di hari senin ia pasti kembali seperti biasanya, ia tidak bisa lama untuk marah pada Myungsoo. Kenapa Namja itu selalu tahu bagaimana mencairkan kemarahannya? Dia menyebalkan.

Perlahan dia mundur dan pergi dari rumah Myungsoo. Ia sedikit malu karena ulahnya.

.

.

Dan benar, minggu pagi ini Sooyeon sengaja bangun lebih pagi, ia bersiap untuk berjalan-jalan pagi di sekitar tempat tinggalnya. Tidak untuk lari pagi, ia masih membenci berlari walaupun sebenarnya ia sedikit membutuhkan kemampuan itu jika ia terlambat ke sekolah. Baginya olahraga lari hanya cukup ia lakukan di sekolah. Mungkin nanti ia akan berlari, tapi sedikit.

“ Olahraga tanpa Husby lebih menyenangkan karena aku tidak perlu berlari karena mengejarnya, dia selalu membuatku berlari “ ucapnya. Ia berdecak pinggang, ia sudah siap dengan pakaian olahraga dan jaketnya.

Ia melihat ke rumah Myungsoo yang masih terkunci rapat dan tidak ada tanda akan ada orang yang keluar dari rumah itu.

“ Baiklah…akan lebih baik jika aku berjalan-jalan, aku masih marah denganmu Husby, kau lihat aku tidak memperhatikanmu!” Sooyeon menunjuk rumah Myungsoo dengan jarinya.

Dia mengambil nafas dalam, menghirup udara pagi yang menyegarkan ini. Lalu memulai untuk berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya.

.

.

Sooyeon tergiur untuk jalan-jalan lebih jauh dari tempat tinggalnya, dan kali ini ia memutuskan untuk beristirahat di sekitar sungai han. Sedangkan waktu sudah terik, ia memutuskan untuk beristirahat selama 10 menit di tempat itu.

“ Hahhh….kenapa di sini sangat ramai? “ Sooyeon mengibaskan tangannya , ia mulai mengeluarkan keringat, meskipun ia tidak berolah raga berat hari ini.

Ia mengedarkan pandangannya, menikmati lalu lalang orang-orang di sekitarnya, sesekali ia tersenyum riang melihat anak-anak kecil berlarian di sekitarnya. Ia sangat menyukai anak kecil. Bahkan ia menggoda mereka dengan memainkan rambut mereka yang berdekatan dengannya, melambaikan tangannya menyapa anak-anak itu walaupun dia tidak mengenalnya, begitulah dia.

Namun entah kenapa ekspresi Sooyeon berubah seketika, tatapannya kini lurus pada salah seorang di tempat itu, yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Selanjutnya dia spontan berbalik dan menyembunyikan wajahnya. Bukan karena ia sedang bersembunyi darinya atau karena ia mendapat hukuman dari Appanya. Ia hanya terkejut dan meyakinkan diri, kenapa ada orang itu di tempat ini.

“Semoga dia tidak mengenalku, dia akan mengganggu hidupku” gumamnya.

Buru-buru ia pergi dari tempat itu seraya menutup wajahnya dengan tangan. Ia berlari untuk lebih cepat menjauh dari tempat itu.

.

.

Sooyeon mengatur nafas lalu mengelap wajahnya, ia kini berhenti tepat di depan rumahnya. Namun ia enggan masuk ke rumahnya. Ia menoleh ke belakang , seolah ada seseorang yang mengikutinya, namun ia sadar bahwa ia berlebihan. Dia bukan buronan. Selanjutnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah Myungsoo. Tidak perduli jika Myungsoo ada di rumahnya atau tidak, ia akan menemani Ahn Ahjumma.

Brak

Ia terlalu keras menutup pintu rumah Myungsoo. Ia bersandar pada daun pintu itu, masih mengatur nafasnya.

“ Aihhh…kenapa aku berlari lagi? Hfuhhh…kau selalu kubutuhkan disaat seperti ini, tapi jangan harap aku menyukaimu” gumamnya sendiri.

Selanjutnya ia menelusuri rumah Myungsoo, mencari sosok Ahn Ahjumma namun sayangnya ia tidak menemukannya. Ia hanya menemukan dapur yang sedikit berantakan dan kotor.

“ Aneh, apa Ahn Ahjumma tidak ada di rumah? Apa mereka sedang tidak ada di rumah?” Sooyeon memutuskan untuk ke kamar Myungsoo.

Ia sudah mengeluarkan kunci kamar Myungsoo, ia memang selalu membawa kunci duplikat itu. Itulah sebabnya ia bisa masuk seenaknya ke kamar Myungsoo.

Perlahan ia menarik gagang pintu kamar itu, ia menghela nafas karena pintu itu tidak terkunci, dan ia masuk ke dalamnya.

“ Husby….Myungsoo_ya, Kim Myungsooo!!!” teriaknya.

Ah…dia menganggu tidurku.

Sooyeon terkikik, Myungsoo masih anteng di tempat tidurnya. Ia sedikit mengubah posisi tidurnya, mungkin karena Sooyeon berteriak di dalam kamarnya.

“ Kau tidak bangun? Apa suaraku kurang keras?” Sooyeon duduk di pinggiran tempat tidur itu.

Ia memperhatikan detail wajah Myungsoo saat ia sedang tidur. Ia berulang kali tersenyum karena bentuk wajah Myungsoo yang baginya sempurna.

“Kau bukan yang paling tampan, jadi jangan percaya diri saat aku melihatmu seperti ini” ucapnya sendiri.

Ia sedikit terkejut saat Myungsoo bergerak, ia sempat mengira Myungsoo terbangun, namun ternyata tidak, ia menghela nafas.

“ Ahh…seharusnya aku membawa Handycam, kau lihat, aku akan merekammu saat tidur akan ku tunjukkan wajah jelekmu saat tidur” Sooyeon menatap evil pada Myungsoo.

“ Ah…andwae andwae, walaupun seperti ini pasti fans-fansmu kegirangan, Ahhh itu tidak boleh terjadi, bagaimana kalau kau sedikit berdandan?” Sooyeon terkikik, di dalam otaknya sudah tersimpan ide licik untuk mengerjai Myungsoo.

Setidaknya ia ingin memberi pelajaran pada sikap menyebalkan Myungsoo. Ia mencari spidol di meja belajar Myungsoo. Ia ingin setidaknya melukis wajah Myungsoo menggunakan spidol itu.

Sooyeon naik ke tempat tidur Myungsoo agar bisa melukis wajahnya saat ia sedang tidur.

“ Kita lihat,,, bagaimana wajahmu setelah ini? Apa kau akan terlihat dingin dan datar ketika kau malu?” Sooyeon kembali tersenyum licik. Dia sudah berani bertaruh aksinya kali ini akan berhasil. Ia akan mengambil foto dengan ponselnya.

“ Kita mulai” Sooyeon perlahan mengarahkan ujung spidolnya di mulai dari kening Myungsoo.

Ia sangat hati-hati sebelum ujung spidol itu benar-benar menyentuh kulit Myungsoo, sebelum aksinya ketahuan karena Myungsoo terbangun.

“ Ah?” Sooyeon terkejut karena Myungsoo menarik tangannya yang ia gunakan untuk menyangga tubuhnya.

Membuatnya tersungkur tepat di samping Myungsoo, untunglah wajahnya terbentur tempat tidur yang empuk itu. Ia meringis lalu buru-buru mendongak, dan kini ia bisa lihat Myungsoo telah menatapnya.

Ia tersenyum kikuk, lalu menyembunyikan tangannya yang membawa spidol itu.

“ Apa yang kau lakukan?”

Sooyeon menatap ke arah lain, ia terlihat gugup. Aksinya ketahuan lebih awal oleh Myungsoo.

“ Aku ingin membangunkanmu, ini sudah siang dan kemana Ahn Ahjumma?” itu alasan Sooyeon.

Myungsoo melirik tangan yang disembunyikan Sooyeon. Sooyeon yang tahu akan hal itu segera melempar spidol yang ia bawa. Mengundang tatapan aneh dari Myungsoo.

“ Kau mau menggambar di wajahku?”

“ Ah…any_any” Sooyeon menyilangkan wajahnya. Namun ia tetap mendapat tatapan dingin Myungsoo.

“ ne…aku akan menggambar wajahmu dan memfotonya, karena kau menyebalkan” jelas Sooyeon. Ia mengerucutkan bibirnya. Terlihat sangan lucu.

“ Ahn Ahjumma sedang cuti hari ini” Myungsoo kembali menarik selimutnya.

Sedangkan Sooyeon masih dalam posisinya. Duduk di dekat Myungsoo yang sedang berbaring.

“ Kau tidak ingin bangun? Mau kubantu bersihkan rumah? Rumahmu kotor,”

“ Bersihkan saja sendiri” Myungsoo memejamkan matanya kembali lalu menarik selimutnya.

“ Hya! Kkaja ireona!! Aku lelah,,,, kau seharusnya membantuku, ini rumahmu!”  Sooyeon menarik selimut Myungsoo dan menarik tangan namja itu.

Namun tenaga Sooyeon tidak cukup kuat, Myungsoo sengaja menahannya sehingga Sooyeonlah yang terpental dan terbentur badan tempat tidur Myungsoo. Benturan yang cukup keras namun untung itu bukan benda yang keras.

“ Aw” rintihnya singkat, ia mengelus-elus kepalanya. Sedangkan ia menatap tajam Myungsoo. Namja itu benar-benar menyebalkan.

Perlahan Myungsoo  menarik tangan kanan Sooyeon yang masih memegang tangan Myungsoo. Gadis itu merosot dan Myungsoo membaringkannya pada bantal di sebelahnya.

“ Neomu appo?” tanya Myungsoo.

Sooyeon mengerucutkan bibirnya dan tidak membalas pertanyaan Myungsoo.

Ishhh bahkan dari pertanyaan itu kau masih menunjukkan wajah dinginmu Kim Myungsoo??!!

Myungsoo yang terbangun karena Sooyeon tebentur, ia melihat Sooyeon yang masih mengelus-elus belakang kepalanya. Meskipun itu bukan benda keras, namun cukup terasa sakit saat ini.

Myungsoo menarik tangan Sooyeon yang ia gunakan untuk mengusap belakang kepalanya. Lalu menarik selimutnya untuk Sooyeon.

“ Tidurlah, agar tidak pusing” ucapnya.

Sooyeon terdiam, ia beberapa kali mengedipkan matanya karena bingung. Ia tidak pernah tidur di tempat tidur Myungsoo sebelumnya. Ia hanya berkunjung, mengganggu Myungsoo dan menariknya keluar dari kamar. Tidak seperti ini.

Ia terkejut karena Myungsoo malah kembali berbaring dan tepat di sebelahnya, ia juga menarik selimut yang sama dengannya.

“ A_a… sebaiknya aku bangun”

“ Tetaplah berbaring, kau akan pusing, tunggu sampai sakitmu reda, kau terbentur cukup keras” Myungsoo menahan tangan Sooyeon dari balik selimutnya tanpa bangun.

Sooyeon benar-benar membulatkan matanya, ia sangat gugup dan terkena gangguan jantung lagi. Bahkan saat ini Myungsoo sedang menatapnya. Mereka berbaring bersama dan saling menatap.

“ Any_ any…ini tidak benar” Sooyeon tetap ingin bangun.

Namun kali ini bukan tangan Myungsoo yang menahan, namun kaki Myungsoo yang malah ia tumpangkan di kaki Sooyeon. Membuat jantung Sooyeon semakin tak karuan.

“ Haahhh…kau mencoba berfikir yadong?”

“ Hya!!” teriak Sooyeon, namun selanjutnya ia merasa sakit di kepalanya, berteriak membuat kepalanya yang terbentur menjadi terasa sakit.

“ kau mengganggu tidurku, biarkan aku tidur selama 5 menit setelah pusing mu hilang akan kuberi kepalamu es batu”

Sooyeon terdiam, ia merengut,bisa-bisanya Myungsoo berfikiran untuk kembali tidur setelah membuatnya terbentur seperti ini.

“ Kenapa kau tidak bangun saja?!” teriak Sooyeon.

“ Aku ingin tidur, lagi pula ini kamarku”

“ Kalau begitu aku yang bangun”

“ usssdddd, diamlah, menurutlah seperti biasanya” Myungsoo meletakkan jarinya pada bibir Sooyeon. Dan spontan membuatnya terdiam.

Ia melihat Myungsoo mulai memejamkan matanya. Ia gugup kali ini, benar-benar gugup. Bahkan kaki Myungsoo tidak beralih dari atas kakinya. Tangan Myungsoo berada tepat di sebelahnya. Ia ingin berdo’a pada Tuhan agar waktu ini cepat berlalu. Ia sedang menahan nafas karena gugupnya. Melihat detail wajah Myungsoo seperti ini membuatnya ingin segera menutup matanya. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan ini.

5 menit berlalu, Myungsoo menepati janjinya, ia membuka matanya dan pandangan pertamanya jelas tertuju pada Sooyeon yang tengah tertidur, ia terkekeh karena Sooyeon mudah sekali tidur. Bahkan awalnya karena tidak nyaman tidur bersebelahan dengannya, namun nyatanya saat ini Sooyeon tertidur juga. Ia memang mudah tidur di mana saja.

Myungsoo membenahi tangannya, kini tangannya ia gunakan untuk menyangga kepalanya. Sedangkan diluar sana cahaya semakin terik, membuat kamarnya pun juga terang karena cahaya itu. cahaya yang masuk lewat sela-sela ventilasi kamarnya jatuh mengenai Sooyeon, namun itu tidak cukup untuk membuatnya bangun. Kebanyakan orang tidak akan nyaman ketika ada cahaya yang jatuh padanya. Namun berbeda jika itu Sooyeon, gadis dengan sleeping habbit ini tidak mempan dengan itu, walaupun pada dasarnya ia mudah bangun. Cukup lama Myungsoo memandangi wajah polos yang tertidur itu.

Gadis yang dipandanginya ini masih sama seperti yang ia jumpai 3 tahun lalu, bahkan di tahun sebelumnya ketika pertama kali ia bertemu dengannya, 4 tahun lalu. Dia masih sama, masih banyak bicara, masih periang, tidak pernah ada dendam padaya, bahkan Myungsoo sendiri bingung, apakah dia tidak pernah sakit hati? Terbuat dari apa hati gadis di depannya ini? Dia tidak pernah menunjukkan kesedihannya bahkan selama mereka tinggal berdekatan, begitu banyak mereka berinteraksi, dia tidak pernah menunjukkan kesedihan padanya.  Dia merasa tidak adil karena hanya Sooyeon yang tahu kisah masa lalunya. Sedangkan ia tidak pernah tahu kehidupan Sooyeon sebelumnya. Jika ia mau ia harus menguping saat Sooyeon bercerita pada teman-teman matinya, ia lebih suka bercerita pada benda mati.

Myungsoo mengambil nafas dalam. Dari semua sifat periang Sooyeon, dari sikap lucu dan protektiv nya karena banyak gadis yang mendekatinya. Dari sikap dramatiknya, dari sifat polosnya saat marah, dan dari semua perlakuannya yang sama sekali tidak membuat gadis ini jera. Hanya dia dan Hae Ryeong yang  mampu bertahan dengan kedinginannya. HaeRyeong memiliki sifat lembut dan seorang gadis murni terwujud padanya. Sedangkan Sooyeon adalah seorang gadis periang yang penyayang. Tidak dipungkiri dia sangat hafal bagaimana sifat Sooyeon, bahkan ia lebih tahu sifat Sooyeon dari pada Hae Ryeong, karena selama ini Hae Ryeong tidak ada untuknya, dia memilih untuk tinggal jauh dan belajar di luar negeri disaat yang tidak tepat. Ia menyayangi gadis itu, bahkan tanpa paksaan ia tetap menemuinya saat dia kembali ke Seoul, walaupun Hae Ryeong lama meninggalkannya. Namun untuk Sooyeon, dia tidak bisa berbuat banyak untuknya, baginya Sooyeon adalah gadis terkuat yang pernah ia temui. Dia tidak memungkiri bahwa harinya pasti akan sepi tanpa Sooyeon yang selalu membuat masalah dengannya. Bahkan jika Sooyeon diam, itu adalah masalah besar untuknya. Jangan sampai hal itu terjadi.

“ Mian_ karena aku memintamu untuk tetap di sisiku, kau berada di sini sendiri”  Myungsoo menyisir rambut Sooyeon lalu mencium keningnya lembut.

“Gomawo” ucapnya lirih.

Ia tersenyum, seperti dugaannya, Sooyeon tidak akan terbangun, ia benar-benar tertidur pulas. Perlahan ia turun dari tempat tidurnya, ia harus membereskan rumahnya dan membuat makanan makan siang mereka. Ia yakin Sooyeon belum sarapan, dan dia mungkin akan menghabiskan waktu yang lama untuk bermain di dunia mimpinya.

*

*

Hari ini hati Sooyeon kembali bersemangat seperti biasanya, bukankah dia selalu bersemangat? Kemarin dia tertidur cukup lama di rumah Myungsoo. Sialnya Myungsoo tidak membangunkannya, membuatnya malu sendiri. Karena dia butuh waktu yang lama untuk tidur, wajar itu terjadi karena dia berlarian kemarin karena menghindari seseorang. Myungsoo juga menepati janjinya untuk menyeka kepala Sooyeon dengan es batu, meskipun itu dia sendiri yang melakukannya, Myungsoo hanya menyiapkannya. Namun sebagai gantinya, ia makan masakan Myungsoo sampai puas. Meskipun tidak seenak masakan Ahn Ahjumma, setidaknya perutnya terjamin jia bersama Myungsoo. Oh ayolah…Myungsoo hanya memasak masakan instan dan bumbu racikan yang telah tersedia.

Sooyeon melangkah dengan riang, tidak lupa ia menggerakkan bibirnya untuk menyanyikan sesuatu. Sebenarnya tidak ada yang spesial hari ini, hanya saja ia merasa ia harus bahagia hari ini.

“I’m barbie girl, in the barbie world…life in plastic, it’s fantastic” ia bernyanyi dengan lirih, namun masih terdengar, didukung suaranya yang kecil dan melengking, membuat lagu itu terdengar riang dan centil. Dia sangat lucu memperagakan bagaimana tarian barbie nya.

Gongchan yang berjalan tak jauh darinya tak bisa menahan tawanya. Ia berlari menyusul gadis aneh itu.

“ Anyeong Barbie” sapanya.

Sooyeon terdiam, ia menghentikan nyanyiannya.

“tidak bisakah kau memanggilku Sunbae?”

“ Wae?? “

“ Kau satu tingkat di bawahku Na Gongchan”

“ Baiklah, Sooyeon noona, apa itu lebih baik? Itu terdengar romantis”

Sooyeon memicingkan matanya. Selanjutnya tangannya sampai pada kepala namja itu.

“ Aahg”

“ Jangan bersikap romantis denganku mendahului Husby” Sooyeon melengos, ia melanjutkan langkahnya menuju kelas.

“Eoh…baiklah…Suamimu itu memang yang terbaik, dia pria yang super datar” Gongchan mengikuti Sooyeon di belakangnya.

Sooyeon tersenyum ketika melihat punggung Myungsoo. Ia berlari kecil mengejar Myungsoo dan ingin masuk ke kelas bersama.

Akhir-akhir ini ia sedikit berkurang mempunyai waktu untuk berceloteh banyak pada Myungsoo karena mereka telah mendekati ujian akhir, mereka disibukkan dengan jam tambahan pelajaran. Dan Sooyeon konsentrasi untuk itu.

“ Husby…” pangil Sooyeon.

Namun entah kenapa Sooyeon malah berbelok setelah memanggil Myungsoo. Sooyeon melihat sesuatu di depan Myungsoo yang membuatnya berbelok ke ruangan lain.

Myungsoo yang merasa aneh karena setelah mendengar suara Sooyeon, gadis itu tidak juga sampai di dekatnya seperti biasa. Akhirnya ia menoleh dan tidak melihat keberadaan Sooyeon. Ia mengangkat kedua bahunya, ia yakin mendengar suara cempreng itu memanggilnya. Entahlah…

.

.

Sooyeon terpaksa harus berbelok ke kelas lain. Ia sembunyi di balik pintu kelas itu dan mengintip keadaan di luar. Kedatangannya di kelas itu membuat isi ruangan itu terdiam, Sooyeon yang tahu keberadaannya mengganggu segera minta ma’af dan meminta waktu sebentar untuk bersembunyi.

Ia menunggu cukup lama menunggu orang yang dilihatnya lewat dan barulah dia bisa pergi ke kelasnya.

“ Kenapa dia berada di sini?” gumamnya.

Setelah lama menunggu, mungkin ia memang harus segera kembali ke kelasnya, semoga saja ia tidak bertemu dengan orang itu. Dia perlahan membuka pintu kelas itu dan keluar dengan mata yang masih waspada dengan lingkungannya.

Setelah melihat itu aman, dia segera berlari menuju kelasnya.

Sayangnya ia terpaksa harus mengerem lajunya karena tiba-tiba Myungsoo muncul di depannya.

“ Hya! Ahh”

Myungsoo menahan Sooyeon dengan lengannya. Ia menangkap Sooyeon yang menghindar karena tidak ingin menabraknya.

“ Kau sedang olah raga? Kau berlari sekarang?” tanya Myungsoo.

Namun pertanyaan itu tidak di balas cepat oleh Sooyeon, ia melirik sekitar lalu tersenyum kikuk di depan Myungsoo.

“ Aku takut terlambat, dan aku berlari”

Myungsoo menatapnya dingin, sungguh tatapan yang dibenci Sooyeon.

“ Kau seperti buronan” Myungsoo melepaskan tangannya yang masih melingkar di pinggang Sooyeon.

“ Any_any, kkaja! Kita ke kelas” Sooyeon berjalan lebih dulu.

Myungsoo terkekeh, ia tahu yang sebenarnya. Sooyeon tengah berbohong padanya. Ada gelagat aneh pada gadis itu.

.

Sungguh Sooyeon tidak bisa habis pikir dengan kebetulan yang menimpanya kali ini. Kemarin dia melihat orang itu di dekat sungai Han, lalu kenapa ia harus melihatnya di tempat ini, di sekolahnya. Ini benar-benar konyol baginya, Dia seperti hidup di drama.

Chanyeol menatap Sooyeon dan Myungsoo bergantian, Myungsoo yang diam seperti biasanya. Sedangkan Sooyeon hanya mengaduk lalu meminum es nya. Tanpa berceloteh seperti biasanya. Tatapannya juga tidak bisa diartikan. Dia hanya beberapa kali merengut, lalu kembali meminum esnya.

Chanyeol menyenggol lengan Myungsoo.

“ Apa dia sakit?” tanya Chanyeol

“ Apa dia bertengkar denganmu?” tanya Chanyeol lagi sebelum mendapat jawaban dari Myungsoo.

“ Apa dia sedang ada masalah?” tanya Chanyeol lagi.

Chanyeol yang sadar pertanyaannya terlalu berlebihan menatap Myungsoo dengan cengiran khasnya. Ia mendapati tatapan dingin Myungsoo yang menurutnya seakan ingin melemparnya karena terlalu banyak bertanya.

“ Jangan cemburu padaku, aku hanya sedikit aneh melihatnya yang pendiam”
“ Diamlah, dan jangan bertanya, dia baik-baik saja” Myungsoo kembali pada bukunya.

Chanyeol mendengus, sungguh tersiksa bersama kedua orang ini. Namun hanya merekalah teman yang paling menyenangkan baginya. Jika tidak, ia memilih untuk tidak berteman dengan orang-orang ini. Gadis yang riang kelewat batas, dan anak laki-laki yang super datar.

Mata Sooyeon melebar, ia benar-benar melihat orang itu lagi. Dia terlihat gugup, tanpa berkata apapun dia berdiri dan pergi begitu saja dari cafetaria.

Chanyeol pun tersadar dan menatap Sooyeon aneh, namun tidak dengan Myungsoo. Chanyeol yakin Myungsoo adalah orang paling tidak peka yang pernah ia temui. Ia mendengus, ia tidak boleh berbicara apapun , jika tidak Myungsoo bisa saja menendangnya karena merasa terganggu dengan celotehannya.

.

.

Sooyeon memutuskan untuk ke lokernya. Ia mengambil beberapa buku dan kembali ke kelas lebih awal. Namun sepertinya dia terlalu lama menghindar sehingga kali ini ia terlambat untuk menghindar lagi.

“ Hi Jung Sooyeon, How are you?”

Sooyeon terdiam, ia segera menutup lokernya lalu menoleh pada sumber suara itu. Ah akhirnya dia menemukannya, terlambat untuknya menghindar lagi.

“ Ah…Hallo … Henry” sapa Sooyeon, dia tersenyum kikuk .

“Mr Jung told me, you’ve staying here for a long time , How Are you?”

“ Eoh.. I’m fine, What about you? What are you doing here?”

“ I teached , I’m a teacher here”

Sooyeon menhela nafas, bukankah itu artinya dia akan bertemu dengan orang ini dalam waktu yang lama.

“ Tn Jung bercerita banyak tentang mu sebelum aku ke Seoul, Kau tidak pernah pulang 3 tahun terakhir ini?”

Sooyeon menyilakkan rambut pada telinganya, ia begitu canggung bertemu orang ini.

“ Ah ne, Hangulmu cukup bagus,apa kau_”

“ Ah sebenarnya aku menggantikan temanku yang kini sedang pertukaran guru di Australia, dia memintaku untuk menggantikannya sementara waktu”

“ Ah…kelas dimulai, aku harus mengajar, Aku akan berkunjung ke rumahmu malam ini, jangan pergi keluar rumah “ laki-laki bernama Henry itu mengacak rambut Sooyeon singkat lalu pergi ke kelas yang ia ajar.

Sooyeon menghela nafas lalu mendongak, jika seperti ini ia menjadi lebih diawasi, dan laporan kepada Ayahnya di Amerika akan semakin detail. Walaupun ia tidak memutus kontak secara langsung pada orang tuanya itu, namun ia telah berjanji untuk lebih mandiri dan menyelesaikan semuanya sendiri. Jika ada Henry di Seoul…ia merasa dia akan dipaksa kembali ke Amerika.

“ You wanna me to come back as soon as possible dad?” gumamnya.

Sooyeon memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Namun sialnya langkahnya terhenti karena ia melihat Myungsoo tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia melebarkan matanya, lalu dengan cepat ia mengubah suasana canggung darinya. Ia harus bersikap biasa, karena ia tidak menceritakan sesuatu pada Myungsoo.

“ Husby, apa kau menungguku? Kau ingin kita ke kelas bersama? Kau romantis sekali” Begitulah Sooyeon yang mengubah suasana seolah tidak terjadi apa-apa dan bersikap biasanya.

Myungsoo diam, dia tidak menjawab apapun. Melihat tidak ada tanggapan, Sooyeon memutuskan untuk berjalan lebih dulu, ia hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang terus berbohong pada Myungsoo hari ini.

Myungsoo menatap Sooyeon dari belakang selama berjalan ke kelas. Mungkin Sooyeon tidak sadar jika ia melihat apa yang terjadi sebelumnya. Dan tidak ada komentar darinya, jika Sooyeon tidak bercerita padanya, sedangkan ia begitu penasaran apa yang disembunyikan Sooyeon, ia selalu penasaran. Namun yang ia lakukan adalah menunggu, sedangkan saat ini Sooyeon sudah sangat jarang pergi ke taman itu, mereka berdua sangat jarang pergi ke taman itu.

*

*

*

Sooyeon merasa harinya begitu melelahkan hari ini. Ia masih menghindari agar tidak bertemu langsung dengan Henry selama di sekolah. Bahkan ia sengaja untuk keluar kelas lebih cepat dan lupa dengan rutinitasnya yang menunggu Myungsoo. Ah dia baru ingat ketika ia sudah sampai di depan gerbang sekolah.

Namun sialnya apa yang ia hindari, adalah orang yang berulang kali ia temui hari ini.

Henry dengan senyum sumringahnya muncul di depannya. Dengan mobil putihnya dia melambai pada Sooyeon. Dia tidak bisa berhenti tersenyum melihat ekspresi Sooyeon yang terlihat Shock itu.

Melihat Sooyeon yang berjalan lambat ke arahnya, ia pun tidak sabaran. Lantas ia sendiri yang menarik tangan Sooyeon agar cepat sampai di mobilnya.

“ Sejak kapan kau jadi lambat seperti ini? “ Henry menaruh tangannya di atas kepala Sooyeon.

“ Bahkan sampai sekarang kau tidak meninggi?”

“ Hya!” protes Sooyeon

Henry tertawa, Ini lah Sooyeon yang ia kenal, dia suka sekali bernada tinggi ketika protes dan tidak terima dengan sesuatu yang terlontar untuknya.

“ Kau tidak berubah Sooyeon_ah” Henry mengacak rambut Sooyeon.

“ Berhenti mengacak rambutku seperti ini, aku bukan anak kecil lagi”

“ No W a y , come on! Kita jalan-jalan hari ini”

“ Kau bilang malam ini”

“ Anygotteun, neomu bogoshippo! You Have to” Henry menariknya dan membukakan pintu untuk Sooyeon.

Sooyeon mendengus lalu masuk ke dalam mobilnya.

“ Kenapa Bahasa Hangulmu semakin baik? Aku curiga kau sudah lama berada di Korea” cibirnya.

.

Myungsoo melepas helmnya. Sedangkan Chanyeol pun terpaksa berhenti dan membuka helmnya, melihat ke arah yang sama dengan sahabatnya itu. Dia melebarkan matanya, lalu kembali melihat Myungsoo. Bahkan ekspresi itu masih dingin, hanya saja ia tidak mengedipkan matanya saat melihat sosok di depan sana.

Selanjutnya dia memakai kembali helmnya dan melajukan montornya, Chanyeol hanya mendengus dan mengangkan pundaknya. Terkadang dia bingung dengan sahabatnya itu. Dia bingung dengan berbagai sikapnya pada Sooyeon.

.

.

Myungsoo menjatuhkan tubuhnya setelah cukup lama bermain basket bersama Chanyeol. Ia menelentangkan tangannya lalu mengatur nafasnya. Disusul dengan Chanyeol dan melakukan hal yang sama.

“ Waeyo? Apa karena Istrimu bersama pria lain hari ini? “

Myungsoo menoleh, ia menatap sahabatnya itu. Sedangkan Chanyeol masih menatap lurus langit di atasnya. Myungsoo menghela nafas panjang.

“ Ayolah…permainanmu buruk hari ini, kau tertinggal banyak poin denganku” imbuh Chanyeol.

Myungsoo masih diam. Ia pun beralih pada langit di atasnya, lalu memejamkan matanya. Chanyeol terkekeh, sebenarnya ia sangat ingin melihat ekspresi lain dari Myungsoo selain wajah dingin dan datarnya itu. Sebagai teman yang selama 3 tahun ini saling mengenal, sungguh bodoh jika ia tidak hafal karakteristik dari teman-temannya ini. Myungsoo dan Sooyeon sama-sama memiliki karakter kuat dan unik. Dia sendiri tidak pernah tahu kapan Sooyeon bisa menangis dan sangat bersedih selain omelan lucu dan ekspresi marah dan lucunya karena Myungsoo. Baginya Sooyeon hanya bisa menunjukkan kebahagiaannya, dia manusia yang hampir tidak terdeteksi masalah rumit selain kepribadiannya yang unik itu. Sedangkan lelaki di sampingnya ini hampir tidak terdeteksi kapan dia sangat bahagia atau sangat sedih. Apa yang bisa ia lihat dari wajah dingin, kalimat dingin, dan segala dengan kedinginannya. Namun yang bisa Chanyeol rasakan adalah, Myungsoo selalu perduli dengan Sooyeon, entah gadis itu ada di sekitarnya ataupun sedang jauh darinya. Entah dia langsung yang mengatasinya ataupun saat ia meminta bantuan Chanyeol untuk mengatasi Sooyeon. Bersama Myungsoo dia harus menunggu waktu yang lama untuk membuatnya mengatakan bahwa dia perduli dengan Sooyeon, setelah itu dia bisa tahu apa yang dirasakan Myungsoo pada Sooyeon.

“ Heohh….jika saja aku menemukan orang lain yang lebih aneh dari kalian, kalian akan aku tinggalkan” Chanyeol duduk, dan melempar bola basketnya.

Myungsoo yang mendengarnya hanya tersenyum simpul. Lalu ia bangun dan duduk di sampingnya.

Ia bisa melihat Chanyeol menunduk dan memejamkan matanya.

“ Apa yang kau lakukan?” Tanya myungsoo.

“ Aku berdo’a pada Tuhan agar kau segera menyerah “ jawab Chanyeol.

“ Mwo?”

Chanyeol tersenyum, ia berdiri dan berlari memungut bola basket yang ia lempar tadi.

“ Lawan aku satu babak lagi, jika aku mengalahkanmu kali ini aku anggap Sooyeon memang sedang menari-nari di pikiranmu!” teriak Chanyeol

Myungsoo terkekeh, ia berdiri dan menerima tantangan Chanyeol. Memang benar jika kali Sooyeon benar-benar membuatnya penasaran sehingga ia tidak begitu konsentrasi dengan permainannya. Namun ia ingin membuktikan, akankah itu begitu mempengaruhinya? Ia ingin membuktikan jika Sooyeon tidak terlalu berpengaruh dengannya. Jika ia salah…ia memang harus mengakuinya.

*

*

Sooyeon kalah telak dengan apa yang diketahui Henry tentangnya selama ia di Seoul. Ia hanya terdiam dan menunduk. Ia seolah sedang mendapat hukuman dari Henry sekarang. Sebenarnya dia merasa bersalah, karena saat itu dia meninggalkan Henry begitu saja. Hendry bukan orang lain baginya, ia seperti Oppanya. Ia begitu dekat dengannya. Ia adalah guru piano sekaligus Violinnya. Namun saat itu ia mengecewakannya dengan tetap tinggal di Korea. Ia absen dari drama musical yang akan mereka lakukan bersama.

“ Awalnya aku memahami kau absen dari latihan karena kau harus ikut ke Seoul bersama Ayahmu, tapi setelah itu, aku tidak bisa menerima alasanmu untuk tetap tinggal di Seoul. Apa karena anak itu kau tinggal di sini? Kau meninggalkan latihanmu selama ini, meninggalkan kesempatan musicalmu yang pertama kali, kau meninggalkan impianmu dan bertahan di tempat ini tanpa kedua orang tuamu hanya karena anak laki-laki itu?” Henry menatap tajam Sooyeon , gadis di depannya ini hanya terdiam dan menunduk.

“ enough, ayolah”

“ Kau terlalu berjiwa social” cibir Henry.

“ okey anggaplah seperti itu, You know me”

“ Baiklah…aku akan habiskan waktu yang panjang di Seoul, kita bisa bermain Violin di sekolah jika kau mau bermain lagi, aku yakin beberapa tahun ini kau tidak memainkannya”

Sooyeon tersenyum. Dia menarik Henry untuk segera pergi dari rumahnya.

“ Aku harus sekolah besok, pulanglah…jangan berniat tidur di rumahku!” usir Sooyeon.

Henry terkekeh, ia mengacak rambut Sooyeon seperti biasanya. Dia sangat menyayangi gadis kecilnya ini.

“ Aku menyayangimu , bye bye” Henry melambaikan tangannya.

Sooyeon mencibir pelan, seraya melambaikan tangannya.

“ Haaahhhh dia tidak tahu arti lain dari kalimat itu jika ia ucapkan di sini” Sooyeon mendengus pelan.

Ia menunggu sampai mobil Henry benar-benar telah jauh dari sekitar rumahnya. Ia begitu lelah, sampai ia tidak sempat berganti baju, ia masih memakai rok sekolahnya.

Hfuuh…lagi, dia menghela nafas panjang. Bertemu dengan Henry di Seoul adalah hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pikirannya sedang terpacu pada Ayahnya di Amerika, ia curiga jika Ayahnya menyampaikan misi tersembunyi untuk Henry. Dia sudah di akhir sekolah menengahnya. Kemungkinan bahwa ia ditarik ke Amerika saat ia kuliah adalah hal yang sedang ia pikirkan sekarang. Ia takut Henry mengacaukan apa yang ia lakukan selama di Seoul. Dia takut Henry mengacaukan kedekatannya pada Myungsoo. Dia takut nantinya dia akan menyerah saat ia benar-benar mencintai Myungsoo. Dia takut jika nantinya Haeryeong benar-benar kembali ke Seoul dan disitulah saat dia tidak bisa mengabil perhatian penuh dari Myungsoo, dia akan menyerah. Baginya Haeryeong mungkin sudah cukup untuk melengkapi kebahagiaan Myungsoo yang hilang.

.

.

Myungsoo melihatnya. Ia melihat  bagaimana kedekatan dua orang itu. Ia terdiam dan menunggu sampai pria itu pergi dari rumah Sooyeon. Ia menunduk, dia tidak bisa menjawab segala pertanyaan di otaknya kali ini. Tantangan Chanyeol gagal ia jalani. Ia tetap kalah banyak poin dari Chanyeol. Apa itu artinya ia terganggu dengan Sooyeon hari ini? Sebelumnya Chanyeol cukup kesulitan untuk mengalahkannya, hari ini ia membuktikan bahwa Myungsoo benar-benar terganggu dengan Sooyeon. Ia terganggu karena ia benar-benar penasaran dengan apa yang dilakukan Sooyeon dengan pria asing itu.

Ia masih terdiam menatap Sooyeon, gadis itu tak juga beranjak dari tempatnya berdiri. Dia tahu Sooyeon sedang sibuk dengan pikirannya. Cukup lama ia hanya diam memandang Sooyeon. Selanjutnya ia mendengus karena mendapati Sooyeon telah menggaruk-nggaruk lengannya. Dan jika itu sudah terjadi maka alergi Sooyeon kambuh. Kulitnya akan memerah, sementara dia terus menggaruk dan tidak juga beranjak masuk ke dalam rumah.

“ Haaahhh” Sooyeon menggerutu. Ia memandangi lengannya yang mulai memerah, ia juga menghentakkan kakinya yang juga merasa gatal.

Myungsoo mendekatinya, namun Sooyeon tetap tidak sadar keberadaan Myungsoo di belakangnya. Tanpa berkata apapun Myungsoo meletakkan jaket pada pundak Sooyeon. Membuat Sooyeon sontak melonjak dan menghindar. Ia segera menoleh pada seseorang di belakangnya,  ia sembat terbatu beberapa saat karena yang ia lihat kali ini benar-benar Myungsoo.

“ Husby?” Sooyeon mengedipkan matanya berkali-laki. Lalu ia membenahi jaket yang hanya diletakkan Myungsoo pada pundaknya.

Sooyeon menangkap gerak bibir Myungsoo yang akan mengatakan sesuatu.

“ AAA haljima, jangan katakan Bakka padaku, aku tahu aku salah karena tidak membawa jaket lagi hari ini, sudah kubilang aku tidak bodoh pada baasa Jepang” Sooyeon membungkam bibir Myungsoo dengan tangannya. Seakan tahu kata apa yang akan dilontarkan Myungsoo padanya.

Myungsoo dengan cepat menyingkirkan tangan kecil itu.

“ Kau selalu percaya diri, aku tidak akan mengatakan itu”

Sooyeon membuka matanya lebar lalu menutup mulutnya. Ia mendesis pelan karena ia telah salah sangka pada Myungsoo.

“ Masuklah” ucapnya lirih.

Sooyeon menunduk, ia mengangguk dengan malas dan melangkah ke arah pintu.

Myungsoo mengikuti arah langkah Sooyeon, namun sebelum Sooyeon masuk ke dalam rumahnya. Myungsoo menarik tangannya.

“ Maksudku masuklah ke rumahhku”

Sooyeon membuka matanya lebar, ia menahhan senyumnya lalu mencibir Myungsoo.

“ Kau mau menebus kesalahanmu pada kepalaku? Jangan menyogokku, aku masih belum berniat mema’afkanmu “ Sooyeon memalingkan wajahnya.

Myungsoo mendengus, tanpa perduli dengan Sooyeon. Ia menarik tangan itu untuk ikut dengannya.

“ Hya!! “ Teriak Sooyeon.

“ Diamlah dan menurutla seperti biasa!”

Sooyeon terdiam, dia menuruti Myungsoo, tidak ada salahnya jika itu benar-benar Ahn Ahjumma yang memintanya untuk datang.

.

.

Sooyeon merasa Myungsoo benar-benar mempermainkannya kali ini. Dia sama sekali tidak tahu dimana Ahn Ahjumma yang menunggunya. Dia hanya dipaksa untuk duduk di meja makan dengan satu panci Ddeokbokki di depannya. Sooyeon melirik tajam Myungsoo yang sedang menyiapkan minuman untuknya.

“ Hya Kim Myungsoo! Kau  bilang Ahn Ahjumma menungguku, dimana dia?”

Myungsoo terkekeh, ia selesai dengan minumannya lalu membawanya di meja makan.

“ Benarkah? Apa aku mengatakan itu padamu?” Myungsoo meletakkan kopi Sooyeon di depannya.

Sooyeon mendesis, ia ingin memukul wajah sosok di depannya ini. Bagaimana mungkin dia bisa menunjukkan wajah datar tanpa bersalahnya dan tidak mengakui bahwa dia memang mengatakan Ahn Ahjumma menunggunya.

Myungsoo membuka tutup panci yang berisi penuh ddeokbokki itu lalu menggesernya lebi dekat pada Sooyeon.

“ Dia memasakkan ini, dan kau harus menghabiskannya…bersamaku”

Sooyeon melongo, sontak ia memegang perutnya lalu berusaha beralasan pada Myungsoo.

“ Aaagghtt perutku,,, tiba-tiba sakit, apa aku terlalu kenyang hari ini, aihhhht” Sooyeon berakting seolah perutnya benar-benar sakit.

“ Dia aka sedih jika makanannya tersisa” balas Myungsoo dan ia yakin Sooyeon akan menurut padanya. Dia tahu gadis itu tidak akan membiarkan orang lain bersedi karenanya, terutama jika itu Ahn Ahjumma.

Sooyeon mendongak, ia menatap melas Myungsoo yang ia yakini tidak akan mempan untuk meruntuhkannya. Ia beralih pada Ddeokbokki yang sungguh banyak itu. Ia mendengus lalu mengambil sendoknya.

Myungsoo tersenyum, senyum yang tidak disadari Sooyeon. Senyum yang membuat wajahnya memerah karena ia menahannya agar tidak  bersuara. Sedangkan Sooyeon sedang memkan satu persatu Ddeokbokkinya.

“ Apa kita perlu memberikannya pada orang lain? Kau tidak kasihan padaku? Aku sedang berdiet” jelas Sooyeon, ia masih saja beralasan walaupun masakan itu sedang ia makan.

Myungsoo masih tersenyum melihat bagaimana ekspresi wajah Sooyeon saat ini. Dia benar-benar lucu. Selanjutnya ia hanya terdiam dan menatap gerak gerik Sooyeon dan segala ekspresi wajanya karena terlalu banyak Ddeokbokki yang harus ia habiskan. Ia menatap sendu pada gadis itu. Banyak yang sedang ia pikirkan saat ini, dan hari entah kenapa ia bisa melakukan hal bodoh dengan membohongi Sooyeon. Ahn Ahjumma masih mengambil cutinya, memang dia yang membeli banyak Ddeokbokki agar Sooyeon bisa makan bersama di rumahnya. Entah kenapa tanpa ada suara Sooyeon hari ini membuatnya begitu terganggu. Bukankah otaknya sedang bermasalah hari ini?

“ Apa Ahn Ahjumma sangat lelah hari ini? Apa dia memasak dan terburu-buru pergi?” tanya Sooyeon. Ia masih terus mengunyah walaupun pasa awalnya ia mengaku bahwa perutnya sangat kenyang.

“ Any… Wae?”

“ Ini seperti bukan masakan Ahn Ahjumma”

Myungsoo terdiam, ia berhenti memakan ddeokbokkinya. Ia mendengus pelan, dia benar-benar bertindak bodoh hari ini. Ia lupa jika Sooyeon adalah penggemar berat masakan Ahn Ahjumma, wajar jika ia hafal bagaimana rasa khas masakannya.

“ Ehem…benarkah?”

Sooyeon mengangguk, ia mengambil minumannya lalu meneguknya sampai setengahnya.

“ Tapi ini juga terasa enak, hanya saja tidak seperti masakannya biasanya” Sooyeon melanjutkan kegiatannya.

Myungsoo berdehem kecil lalu meneguk minumannya. Dia menatap Sooyeon yang masih semangat dengan ddeokbokkinya.

Ia tersenyum simpul melihat bagaimana Sooyeon memakan makanannya. Gadis itu berambisi untuk menghabiskannya sampai-sampai ia tidak sadar jika Myungsoo tengah memperhatikannya. Namja itu mendengus pelan ketika sadar kulit Sooyeon semakin memerah sampai pada lehernya dan hampir ke wajahnya. Ia beranjak pelan dari tempatanya lalu memanaskan air untuk Sooyeon. Ia yakin Sooyeon tidak hanya alergi dengan angin ataupun debu.

“ Hya! Husby…kau tidak membantuku menghabiskan ini?”  protes Sooyeon yang baru sadar Myungsoo beranjak dari meja makan.

“ Melihatmu makan seperti itu membuatku kenyang”

Sooyeon merengut, dia meletakkan sendoknya lalu meneguk sisa minumannya.

“ Shireo! Kau harus menghabiskan sisaku” ucapnya. Dia melipat kedua tangannya di meja.

Myungsoo terkekeh, ia telah selesai memanaskan air lalu meletakkannya di baki dan membawanya ke meja makan. Ia melirik singkat sisa ddeokbokki di panic itu. Sooyeon makan cukup banyak , masih tersisa sedikit untuknya.

Lalu ia menarik tangan Sooyeon dan membawa baki air hangatnya.

“ Wae?” Tanya Sooyeon.

Myungsoo tak menjawabnya, ia memeras handuk yang ia basahi dengan air hangat itu. Lalu meletakkannya pada lengan Sooyeon yang memerah.

Sooyeon tersentak, ia mengedipkan mata berkali-kali. Ia mengingat-ingat, dan berusaha berfikir apa yang terjadi pada Myungsoo hari ini. Sementara jantungnya mengalami kekacauan lagi. Ia terbatu melihat Myungsoo menyeka lengannya yang memerah karena alergi. Sementara Myungsoo tak bersuara sedikitpun, ia hanya diam dan menyeka lengan bahkan kaki Sooyeon yang juga memerah. Kulitnya memang akan memerah seluruhnya saat ia terkena angina dingin ataupun debu. Sementara dia tidak bisa berhenti untuk terus menggaruknya, tak jarang kulitnya terluka karena ia tidak tahan dan terus menggaruknya.

“ Mian_ aku tidak bermaksud merepotkanmu” ucap Sooyeon lirih.

Myungsoo tetap diam, dia membasahi handuk , memeras lalu menyeka, dan seperti it uterus tanpa menanggapi Sooyeon.

“ Aku bisa melakukannya sendiri,” imbuh Sooyeon.

“ Kau tidak pernah melakukannya, saat alergimu kambuh kau hanya menggaruknya dan diam saja”

Sooyeon merengut, yang dikatakan Myungsoo memang benar. Sungguh dia sudah sangat terbiasa dengan alerginya ini, sehingga ia mengabaikannya.

“ Ini tidak buruk, mungkin besok siang kulitku kembali normal”

Myungsoo mendengus, Ia kembali memeras handuknya setelah selesai dengan kaki Sooyeon ia beralih ke lehernya. Sooyeon sempat menghindar karena terkejut, namun Myungsoo menarik tangannya agar Sooyeon tidak menghindar.

“ Diam, dan menurutlah “ Myungsoo meletakkan handuk hangatnya di leher Sooyeon.

Sooyeon spontan menoleh, ia tidak berani menatap langsung Myungsoo. Jantungnya sedang tidak normal.  Ia tidak mau pipinya yang mungkin memerah saat ini terlihat Myungsoo.

“ Selesai” ucap Myungsoo.

Sooyeon menghela nafas, ia hampir menahan nafasnya karena Myungsoo menyeka lehernya. Myungsoo membereskan handuk dan air hangatnya lalu membawanya ke dapur, sementara ia meminta Sooyeon untuk tidak beranjak dari sofa. Sebelumnya Myungsoo menggeledah tas Sooyeon dan menemukan obat alergi Sooyeon yang masih terlihat utuh walaupun kenyataannya Sooyeon sering mengalami alergi.

“ Kau tidak pernah meminum obatmu? Vitaminmu juga utuh” Myungsoo mengeluarkan obat dan vitamin Sooyeon.

Sooyeon terkejut.

“ Kau menggeledah tasku Husby?”

Myungsoo tak menjawab.

“ Aku tidak suka obat, aku lebih suka Ice Cream..” rengeknya, ia tahu Myungsoo akan memintanya untuk minum obat.

“ Bbakka”

“ Hya!” teriak Sooyeon.

“ Minum obatmu, atau jangan datang ke rumahku” ancam Myungsoo

Sooyeon merengut, dia mengambil kasar obatnya lalu meminumnya. Dia menatap Myungsoo tajam dan tetap mengerucutkan bibirnya.

“ Kejam” cibir Sooyeon.

“ Aku akan bereskan ini, setelah itu aku antar kau pulang”

“ Aku bisa pulang sendiri”

“ Diamlah…atau_”

“ Ara…ara!” Sooyeon memotong ancaman Myungsoo, ia tahu Myungsoo memang selalu mengeluarkan kalimat yang membuatnya menurut padanya.

.

.

Tak butuh waktu lama untuk Sooyeon bisa tertidur, Myungsoo hanya membereskan dapur dan meja makan lalu membuatkan minuman hangat untuk Sooyeon, namun setelah ia kembali ke ruang tamu Sooyeon sudah tertidur di sofa. Mungkin itu efek dari obat yang diminumnya .

Myungsoo mendengus, Sooyeon memang selalu tidur dimana saja jika ia sudah mengantuk dan ia tidak perduli itu. Ia tidak mungkin membangunkannya dan memintanya untuk pulang, sedangkan menggendong Sooyeon sampai di rumahnya juga tidak mungkin baginya. Membawanya ke kamarnya juga akan membuat Sooyeon berteriak besok pagi.

Ia memutuskan untuk membiarkan Sooyeon tidur di sofa dan membawakannya selimut, sementara dia juga menemaninya tidur di Sofa ruang tamunya. Besok pagi Ahn Ahjumma pasti sudah kembali dan mengurus sarapan pagi untuk mereka.

Myungsoo meluruskan kaki Sooyeon dan memasangkan selimut padanya. Ia tersenyum melihat wajah polos Sooyeon saat tidur, kecantikan hatinya selalu terpancar saat ia tidur. Sooyeon memang gadis paling baik yang pernah ia temui. Ia tidak tahu harus berbuat apa pada Sooyeon. Dia manusia yang paling mengerti bagaimana dirinya. Namun dirinya sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk Sooyeon.

Ia menyisir lembut rambut Sooyeon lalu mencium keningnya. Entah kenapa ia memang suka melakukannya seperti ini. Sooyeon tidak pernah sadar akan hal itu. Bagi Sooyeon Myungsoo tetap manusia dingin yang berasal dari Antartika. Dia mungkin salah satu dari para Eskimo. Myungsoo terkekeh mengingat bagaimana Sooyeon selalu menggerutu tentang kedinginannya.

“ Selamat malam, Sooyeon_ah” ucapnya lembut, lalu ia beranjak pada Sofa lain dan menghempaskan tubuhnya untuk beristirahat juga.

TBC…

Advertisements

9 thoughts on “Just Stay Beside Me| Four

  1. Jessicool says:

    Da pemain bru nieh bru sehari liat sooyeon ma cwo lain dah bkn myungsoo penasaran & ga konsen pa lg kl henry tnggal lm di seoul.., jd mkn penasaran dtnggu kelanjutanny

  2. N0vi says:

    Hahaha. . .aku gk bs berhenti tertawa bca tingkahnya s0oyeon cuteeee bnget. . .
    Dan seneng bnget krn ada orang ketiga dr myungsica yaitu henry yg bkal ngebuat myungs0o cmburu abis. . . Dan seneng bnget lht sisi lain myungsoo yg care bnget sm s0oyeon,,sweet bnget. . .
    Next chapternya jgn lma”ya th0r habisnya aku ngefans bnget sm FF ini/nah loh
    jd pengennya bca mulu. . .
    Btw Fighting th0r. . .!!

  3. destriani says:

    Sica kepingin iseng eh maalah ketawuan.ky y myungsoo g ngerti arti y cinta deh coz dh lma d tnggal pcr y.henry gnggu nih

  4. Revan_sicababy says:

    Ahhh tanpa sadar myungsoo udah ada rasa sm sooyeon , ahhhh sooyeon lo tuh makin kesini bikin gw gemessss . Ayooloh myung ada cowo yg bakal ngambil sooyeon dari lo , jadi lo harus jaga baik , jangan smpai menyesal , kurang2angin lah tingkah kdinginanmu , hahha
    Oke Lanjut thor 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s