JUST STAY BESIDE ME| 3

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Chaptered

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo || Na HaeRyeong BESTie

jessica jung1kim myungsoo

hae ryeong

*

*

*

Everything is your smile…Everything is you…I Know…I realy do …

Note:

Jangan lupa berkomentar!!! Selamat membaca… ma’af kalau ada Typo…:)

.

.

Hening, itulah yang terjadi diantara keduanya. Namun wajah bahagia jelas tergambar pada gadis itu. Na Haeryeong, dan Kim Myungsoo yang duduk di sampingnya. Sudah beberapa menit berlalu namun mereka tetap pada keheningan mereka. Beberapa kali Myungsoo menghela nafas. Malam sudah semakin dingin, sebenarnya ia khawatir dengan gadis di sebelahnya ini, tidak baik untuknya terlalu lama di luar rumah.

“bagaimana keadaanmu?”

Hae Ryeong tersenyum, ia segera menoleh pada Myungsoo, akhirnya ia mendengar suara namja ini.

“ Baik, bagaimana denganmu?”

“Seperti yang kau lihat”

Hae Ryeong terkekeh, jawaban itu masih sama, selalu sama.

“ Kau selalu seperti ini, apa kau tetap menjadi batu jika bersamaku? Bukankah seharusnya aku jadi putri yang menyelamatkanmu dan merubahmu menjadi manusia?”

Myungsoo terkekeh, ia memberikan senyumnya malam ini. Selanjutnya ia mengacak rambut Hae Ryeong. Dan membuat gadis itu menahan tangan Myungsoo.

“ Berhenti melakukannya, aku baru saja merawatnya”

“ Ara..”

“ ma’af aku tidak menjemputmu di bandara”

Hae Ryeong tersenyum, lalu membenahi duduknya agar bisa melihat Myungsoo lebih leluasa.

“ Gongchan menjemputku, sekarang aku sudah di hadapanmu, dan kau datang ke tempat ini, saat kau datang aku tahu kau masih memiliki perasaan yang sama denganku. Hanya itu…aku rasa kekhawatiranku berkurang…”

Myungsoo terdiam, lalu ia menunduk dan tersenyum simpul.

“ Ne..aku akan datang selama aku bisa melakukannya, seperti itulah…”

“ Kau tetap datang, itu artinya kau tetap mencintaiku, nado saranghae…kau tahu jawaban itu tetap sama”

Myungsoo kembali terdiam, ia tahu , bukankah itu jawaban dari pertanyaannya 2 tahun yang lalu? Bahkan ia sudah menjawabnya beberapa kali. Dan ia tidak memberikan jawaban lebih atas itu. Myungsoo bukan orang yang pandai menunjukkan perasaannya.

“ Pulanglah, dia (sopir) sudah menunggumu”

Haeryeong menggeleng, ia menunjukkan pada Myungsoo apa yang terjadi. Dan Myungsoo tahu bahwa tidak ada mobil yang menunggunya. Itu artinya dia lah yang harus mengantarkan Hae Ryeong sampai di rumahnya.

Myungsoo tersenyum, ia tahu Hae Ryeong yang merencanakan hal ini, ia ingin lebih lama bersama dengan Myungsoo malam ini.

“ As your wish…” jawab Myungsoo.

Dan kebahagian benar-benar bersinar di wajah Hae Ryeong.

.

.

Park Chanyeol, ini pertama kalinya ia melihat mata sendu Sooyeon. Gadis yang penuh keriangan itu baru saja menangis dan ia mempunyai keberuntungan karena bisa melihat sosok Sooyeon saat keriangannya hilang dan menjadi sendu. Namun gadis itu tetap terlihat lucu meskipun ia sedang menangis. Seharusnya ia mengabadikannya dan ia bisa serahkan itu ke teman-teman sekolahnya.

Ia menggerutu kecil, Ia meninggalkan makan malamnya karena mendapat pesan dari Myungsoo. Mencari Sooyeon dan memastikan gadis aneh ini sampai di rumah. Cukup memperhatikan dari kejauhan dan jangan mendekatinya. Itulah pesan Myungsoo. Ia sempat berfikir bahwa mungkin Myungsoo cemburu jika ia berdekatan dengan Sooyeon tanpa dirinya, namun ia juga berfikir bahwa tidak mungkin Myungsoo si pria datar itu menaruh kecemburuan pada Sooyeon. Sangat tidak mungkin. Dan saat ini ia tahu kenapa Myungsoo memintanya hanya untuk mengawasi. Ia adalah sahabat yang sangat memikirkan keselamatannya ketika seorang Sooyeon sedang dalam bad moodnya. Ia tahu ia bisa saja mendapat amukan Sooyeon jika ia berani menunjukan dirinya di hadapannya. Gadis itu mungkin tidak akan terduga ketika ia sedang bad mood.

“ Apa yang kau lakukan disini?”

“ OMO!” Chanyeol melompat dari atas montornya, suara tiba-tiba itu mengagetkannya.

“ Hya! Na Gongchan! Kau mengagetkanku”

Gongchan terkekeh, lalu ia memperhatikan object yang juga sedang di awasi oleh Chanyeol.

“ Kau mengawasinya? Ada apa dengannya?” Gongchan pun ikut memperhatikan Sooyeon dari kejauhan, ia tahu jika gadis itu sedang bad mood saat ini, bahkan bis yang beberapa kali lewat di halte itu ia abaikan. Ia masih duduk dan terdiam di tempat itu.

“ Entahlah… sepertinya dia bertengkar dengan suaminya. Siapa lagi yang bisa membuatnya seperti itu” Chanyeol menyesap minuman gingseng sachetnya.

“ Antar dia pulang, bukankah kita harus ke sekolah besok? Apa kau ingin dia sakit dengan hanya berdiri di sini?”

Chanyeol mengangguk pelan, benar juga. Satu-satunya yang membuatnya berdiri dari kejauhan adalah karena Myungsoo memintanya untuk mengawasinya dan memastikan gadis itu sampai di rumahnya.

“ Benar juga, ia sudah melewati 2 bus , apa dia tidak ingin pulang?”

Dan mereka pun mendekati gadis itu.

Sooyeon yang sadar dengan kedatangan kedua pengganggu itu segera membasuh sisa air mata di pipinya. Ia pun segera melemparkan deathglarenya pada kedua pengganggu itu.

“ Aku akan menuntut suamimu, jika malam ini wajahku babak belur karenamu” Celoteh Chanyeol.

Gadis itupun merengut, ia teringat dengan Myungsoo yang membuatnya menangis malam ini. Bahkan ia tidak mencarinya. Seharusnya ia bertanggung jawab, karena seharusnya ia sudah berada di rumahnya jika ia tidak ikut dengan Myungsoo mencari kado untuk Haeryeong.

“ Pulanglah! Jangan memperdalam hal sepele, kau cengeng sekali” sumbang Gongchan, namun selanjutnya ia malah mendapat tatapan tajam dari Sooyeon.

“ Hya!  Aku akan ceraikan Husby”

Kedua namja itu terdiam, dan lagi-lagi pernyataan Sooyeon membuat mereka tidak bisa menahan tawa mereka. Keduanya tertawa keras dan membuat Sooyeon semakin geram, apa yang salah dengan perkataanya?

“ Hya! Jangan menertawakanku! Kalian pikir aku bercanda?” protes Sooyeon, ia menghentakkan kaki berulang kali, mirip sekali dengan anak TK yang tidak mendapat jatah permennya.

“ Apa itu mungkin? Aku bisa bertaruh jika itu mungkin, dan aku jamin kau tidak akan melakukan itu” Chanyeol menahan perutnya.

“ Aku akan ikut bertaruh “ Sumbang Gongchan, ia menghentikan tawanya ketika melihat Sooyeon yang mulai bertingkah aneh. Ia sama-sekali tidak membalas, namun kali ini ia terlihat menggaruk kulitnya.

Sooyeon menggaruk-garuk kulitnya. Dan tak butuh waktu lama membuat kulitnya memerah. Apa yang terjadi pada Sooyeon?

Gongchan menarik lengan Canyeol dan memintanya untuk berhenti tertawa, ia menunjukkan Sooyeon yang terus menggaruk kulitnya yang mulai memerah rata.

“ A_Apa yang terjadi Sooyeon_ah?”

“ Aku lupa membawa jaket” jawabnya.

Tak lama kemudian, sebuah mini bus berhenti di halte itu, Sooyeon menolak tawaran Chanyeol untuk mengantarnya pulang. Kulitnya akan semakin memerah jika membiarkan diri terkena dingin dan angin.

“ Apa tidak apa-apa?” tanya mereka bersamaan.

“ Gwenchana, aku tidak bisa terkena angin malam, jika aku pulang bersama kalian kulitku bisa semakin merah. Aku harus segera naik bus, jangan katakan apapun pada Husby… jangan mengikutiku atau kalian akan mati besok di sekolah“ ancamnya, lalu Sooyeon berlari kecil dan segera naik ke mini busnya.

 

Apa yang bisa dilakukan oleh kedua namja itu ketika Sooyeon sudah mengeluarkan ancamannya. Setidaknya dengan ini Sooyeon sudah mau pulang ke rumahnya. Tugas Chanyeol selesai sampai disini. Ia harus segera menghubungi Myungsoo. Dan ia bisa pulang ke rumah, selama Sooyeon mengatakan ia baik-baik saja, ia harap ia akan baik-baik saja.

“ Baiklah… semoga dia baik-baik saja, kita harus pulang dan jangan katakan apapun pada suaminya, atau ancamannya bisa terjadi” Chanyeol mengangkat bahunya, ia sudah membayangkan betapa marahnya Sooyeon dan ia bisa mendengar suara dolpinnya besok jika ia melanggar kesepakatannya malam ini.

Gongchan tersenyum simpul, ia membiarkan Chanyeol berlalu bersama montornya. Dan ia pun harus segera pulang ke rumahnya. Sebenarnya ia tahu jika Myungsoo mungkin berada di rumahnya malam ini. Ia tahu jika Hae Ryeong bertemu dengan Myungsoo malam ini, dan dengan pesan yang dikirim Myungsoolah ia juga mengawasi Sooyeon dan memastikan keadaannya.

.

.

Myungsoo menghentikan montornya ketika melihat Gongchan berjalan dari kejauhan. Ia menunggu sampai Gongchan mau berhenti di depannya. Namun sepertinya Gongchan hanya melewatinya begitu saja. Membuatnya harus turun dari montornya dan menghentikan langkah Gongchan.

“ Heuh…apa noonaku sudah tidur?” tanyanya.

Myungsoo memalingkan wajahnya, “ Apa kau bertemu dengannya?”

Gongchan terkekeh, ia melepaskan tangan Myungsoo yang menahan lengannya.

“ Apa kau tahu dia alergi dingin? “

Myungsoo terdiam, ia memang tidak melihat Sooyeon memakai jaket. Itu artinya memang Sooyeon sedang alergi.

“ Aku ingin istirahat, kau membuatku meninggalkan filmku saat menerima pesanmu”

“ Gomawo!”

Gongchan melambaikan tangannya, tidak menjawab ataupun melihat kepergian Myungsoo.

“ Kenapa sangat susah untuk kalian heuh?” gumamnya kemudian, ia melihat bahwa Myungsoo semakin menjauh dari tempatnya. Lalu ia terkekeh, ia tahu bagaimana rumitnya keadaan orang-orang itu, termasuk noonanya.

.

.

.

Sooyeon sedikit terlambat pagi ini, karena alerginya yang kambuh kemarin malam, ia pun terlambat bangun. Bekas merah pun masih terlihat di kulitnya. Ia merutuki dirinya yang tidak membawa jaket saat ke sekolah kemarin. Meskipun ini sering terjadi namun ia harus tetap membawa jaket, tidak hanya dingin ia pun juga alergi dengan tempat-tempat kotor terutawa debu, kulitnya akan memerah jika alerginya kambuh.

Ia berlarian dan terburu-buru menutup pintu rumahnya. Bahkan ia tidak sempat untuk memikirkan Myungsoo pagi ini. Jika biasanya dia akan berhamburan dan menunggu Myungsoo sampai keluar dari rumahnya dan berharap bisa berangkat bersama, namun kali ini ia sama sekali tidak memikirkan itu. Ia tidak sempat sarapan, atau berniat untuk membantu Ahn Ahjuma membuat sarapan untuk Myungsoo.

Ia melebarkan matanya ketika melihat sosok yang berdiri di depan rumahnya, beberapa kali ia mengedipkan matanya. Ia seperti melihat malaikat tampan di depannya pagi ini. Apa dia sengaja datang untuk menyapanya? Meskipun itu hanya ilustrasi, namun setidaknya semangatnya sudah kembali pagi ini. Bahkan ia lupa jika kemarin ia sempat menangis karena namja datar itu.

“ Bbakka!”

Sooyeon merengut, dia membatalkan asumsinya bahwa sosok di depannya ini adalah malaikat ilustrasi dari Myungsoo. Melainkan sosok asli Kim Myungsoo dengan kalimat dingin dan menyebalkannya.

“ Hya! Kubilang aku tahu artinya, jangan mengataiku seperti itu Kim Myungsoo!” protes Sooyeon.

Myungsoo mendengus, lebih tepatnya ia menghela nafas lega. Melihat Sooyeon berteriak seperti ini, itu artinya Sooyeon sudah kembali seperti biasa.

Sooyeon melengos, ia mengerucutkan bibirnya dan berdecak pinggang menatap tajam Myungsoo.

Sedangkan Myungsoo memperhatikan kulit putih Sooyeon yang terlihat memerah, sudah pasti itu bekas alerginya tadi malam.

“ Kau melupakan jaketmu lagi? Itu sebabnya alergimu kambuh? “ tanya Myungsoo.

Sooyeon mengubah ekspresi wajahnya, ia beralih menatap tangannya bergantian, benar… ia melupakan jaketnya lagi pagi ini. Itu sebabnya Myungsoo tahu jika ia alergi kemarin malam.

“ Pria jangkung itu yang memberi tahumu?”

“ Jangan bodoh, cepat pakai jaketmu! Aku tidak mau kau menyusahkan Ahn Ahjuma jika alergimu semakin parah” Myungsoo melempar jaket miliknya, dan tepat ditangkap oleh Sooyeon.

Sooyeon tersenyum, wajahnya memerah. Ia merasakan perhatian dari sikap dingin Myungsoo pagi ini.

“ Kau menyimpan jaketku Husby? Eoh…aku sempat berfikir untuk menceraikanmu…tapi pagi ini..kau membuatku tidak bisa melakukannya” ucapnya dengan tingkah anehnya seperti biasa.

“ Kau yang lupa membawanya pulang ketika ke rumahku, Ahn Ahjumma yang menyimpannya, Cepat pakai dan naiklah” Ajak Myungsoo.

Ia berjalan menuju montornya dan Sooyeon pun mengikutinya. Apakah itu artinya Myungsoo memang sengaja menunggunya?

Entahlah…apapun itu, pagi iini kemarahan Sooyeon tiba-tiba hilang karena Myungsoo. Wajah semu merah terlihat bersamaan dengan kulitnya yang alergi.

Namun selanjutnya ia terdiam, ia menggerutu pelan. Ia mengumpat pada Myungsoo yang selalu membuatnya tidak bisa benar-benar marah padanya.

Kau memang jahat Kim Myungsoo. Jangan memperlakukanku seperti ini… Oh Tuhan…

*

*

Park Chanyeol, pria jangkung itu bisa menjamin pipi Sooyeon sekarang lebih mirip seperti tomat. Ia pun ikut tertawa ketika melihat tingkah gadis aneh  itu ketika bersama Myungsoo. Seharusnya Myungsoo bisa memperlakukannya seperti itu, sehingga tidak ada lagi Sooyeon yang berteriak kemana-mana. Melemparkan death glarenya kapanpun dan bertingkah seolah dalam drama yang ia buat sendiri.

Chanyeol melambai pada Myungsoo ketika ia selesai memarkir montornya, kedua makhluk itu pun mendekati Chanyeol dan berjalan ke dalam kelas bersama.

“ Kudengar ada yang ingin menceraikan suaminya, Kim Myungsoo apa kau tahu itu ?”

Myungsoo menoleh, ia memberikan wajah datarnya dan mengangkat pundaknya.

“ Benarkah? Syukurlah…mungkin istrinya sedang tertarik dengan pria lain”

“ Emh…mungkin saja, apa perlu kita mendoakan semoga perceraiannya berjalan lancar?” imbuh Chanyeol.

“ Hya! Kalian membicarakanku? Park Chanyeol kau mencoba merayu suamiku lagi? Heuh?? Aku tidak akan menceraikannya! Kau dengar itu” Sooyeon berdecak pinggang dan berulang kali memukul pundak Chanyeol, ia juga tak lupa untuk meraih kepala Chanyeol meskipun perlu meloncat untuk mencapainya.

“ Myungsoo_ya, selamatkan aku dari istrimu ini!” teriakan itu hanya ditanggapi senyum simpul oleh Myungsoo.

langkah mereka terhenti ketika Myungsoo berhenti. Ada sesuatu yang membuatnya berhenti. Dan itu adalah Na Haeryeong. Ya, gadis itu datang ke sekolah Myungsoo.

Sedangkan Gongchan tersenyum riang dan berdiri di belakang Haeryeong, noonanya. Ia segera mendekati Sooyeon dan Chanyeol di belakang Myungsoo. Bisa kita lihat  bagaimana ekspresi Sooyeon sekarang. Terkejut? Mungkin seharusnya ia tidak terkejut, lebih tepatnya ia tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika melihat kedua makhluk itu bertemu. Ia harus bersikap seolah tidak tahu apa-apa dan segera pergi menuju ke kelas.

“ Anyeong, Na Gongchan!” sapa Sooyeon, ia tersenyum riang menyambut Gongchan yang datang kepadanya. Lebih tepatnya ia mencari alasan untuk segera pergi sebelum Haeryeong mengajaknya bicara.

Chanyeol menoleh kaget, ia tahu bahwa Sooyeon adalah manusia anti Gongchan, namun sungguh aneh jika ia bisa menyapa Gongchan dengan manis pagi ini.

“ Apa mungkin karena semalam, kau menjadi baik padanya?” tanyanya lirih.

Sooyeon segera menarik tangan kedua namja itu untuk menjauh dari Myungsoo.

“ Kalian harus mentraktirku sarapan pagi ini, atau aku akan menghajar kalian!! Aku laparr…” Sooyeon memasang wajah melasnya namun masih tetap mengancam.

Ia mengedipkan matanya beberapa kali sebagai isyarat bahwa memang mereka harus membiarkan Myungsoo bersama Hae Ryeong.

Kim Myungsoo menoleh pada ketiga makhluk itu, mereka bertingkah aneh dan kikuk. Mereka terlalu berlebihan baginya, Sooyeon melemparkan senyumnya pada Myungsoo sebelum menyeret kedua orang yang entah sejak kapan menjadi ajudan Sooyeon.

Myungsoo mendengus, Sooyeon memang selalu seperti itu.

Hae Ryeong tersenyum dan mendekati Myungsoo ketika ketiga orang itu sudah menjauh dari  mereka. Ia harus berterima kasih pada Sooyeon yang mengerti keadaannya. Bahkan ia belum sempat menyapa gadis itu.

“ Dia semakin cantik” ucapnya.

Membuat Myungsoo kembali menoleh dan memperhatikan ketiga makhluk yang tadi meninggalkannya, melihat tingkah mereka yang tetap  bertengkar meskipun sudah menjauh darinya.

“ Apa yang kau maksud pria jangkung itu? Atau adikmu sendiri?”

Haeryeong tertawa dan memukul dada Myungsoo. Seharusnya ia tahu siapa yang ia maksud. Hanya saja bukan Myungsoo yang dengan mudah mengakuinya.

“ Kau mengeles di depanku? Berharap aku tidak berfikir bahwa kau memperhatikan gadis lain selain aku?” goda Haeryeong.

Myungsoo terdiam, selanjutnya ia tersenyum melihat Haeryeong tertawa.

“ Apa yang membuatmu ke sekolahku?”

Haeryeong terdiam, ia berjinjit dan mencium singkat pipi Myungsoo, lalu ia menarik tangan Myungsoo dan membawanya kedalam mobilnya. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.

.

.

Disini mungkin hanya Chanyeol yang tidak mengenal Na Haeryong, ia hanya tahu gadis cantik itu adalah noona dari Gongchan. Dan mungkin mengenal Myungsoo, tapi anehnya Sooyeon tidak marah ketika gadis itu berada di dekat Myungsoo. Tidak seperti biasanya yang selalu siaga ketika ada gadis yang ingin mendekati Myungsoo.

“ Sooyeon_ah, apa radarmu mati hari ini? Apa yang salah denganmu? Apa ini karena semalam kau alergi?” Chanyeol menyentuh kening Sooyeon.

“ Apa kau pikir aku sudah gila?” balas Sooyeon tak kalah sengit.

Chanyeol terkekeh, “ Kau sudah gila, dan mungkin lebih gila … kau tidak mengomel ketika gadis itu mendekati Myungsoo, apa radarmu mati karena alergimu semalam? Kau menjadi lunak karena itu?” Tanya Chanyeol antusias, membuat Gongchan tidak bisa menahan tawanya.

Sooyeon terdiam, bahkan ia tidak berhak marah ketika Myungsoo bersama gadis itu.

“ Dia lebih memilih kita, apa itu artinya kita lebih menarik dari Myungsoo? Sudah kuduga kau akan bosan dengan pria datar itu” sambung Gongchan dan sukses membuatnya mendapat suapan dari Sooyeon.

“ Berhenti bicara! Kalian merusak moodku pagi ini!” Sooyeon meninggalkan mejanya di cafetaria, meraih tasnya dan segera masuk ke kelas karena sebentar lagi bel sekolah berbunyi.

Kedua namja itu hanya mendengus, “ Kenapa kita harus berhadapan dengan gadis aneh seperti dia? Seharusnya kita tidak terlibat dengannya, bukankah sudah benar-benar terbukti yang merubah moodnya adalah suaminya itu?” gerutu Chanyeol.

Gongchan mengangguk, membenarkan pernyataan Chanyeol. Sooyeon seperti itu hanya karena Myungsoo. Bukan yang lain.

.

.

Sooyeon memperlambat langkahnya ketika melihat seseorang sedang berdiri di depan rumahnya. Ia melirik rumah Myungsoo. Sepertinya sosok itu salah rumah, itulah yang ada dipikirannya.

“ Anyeong!” sapa Haeryeong.

Ya, sosok itu adalah Na Haeryeong, suatu hal yang aneh jika gadis ini berada di depan rumahnya.

“ Apa yang kau lakukan di depan rumahku?” tanya Sooyeon, kepala Sooyeon mendongak melihat pintu rumah Myungsoo.

Haeryeong tahu jika Sooyeon sedang bingung karena kedatangannya.

“ Aku memang menunggumu, bagaimana kabarmu?”

Sooyeon tersenyum riang, itu sudah cukup menjawab pertanyaannya. Dan itu membuatnya untuk membalas senyum riangnya.

“ Kau tahu, kau membuatku bersemangat. Melihatmu yang selalu gembira membuatku juga ingin melakukannya” sambung Haeryeong dan itu sukses membuat Sooyeon tersenyum kikuk, ia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal itu.

“ Aku hanya mencintai hari-hari ku saja, dan aku mencintai  semua yang kulakukan, hanya itu saja”

“ e’emh.. aku bahagia bisa melihatmu lagi, aku juga bahagia bisa melihat Myungsoo, itu cukup membuatku gembira”

Sooyeon mengangguk, selanjutnya ia melihat Myungsoo keluar dari rumahnya. Ia pun terdiam melihat Haeryeong yang sedang mengobrol bersama Sooyeon.

“ Aah, apa kau mempunyai janji dengannya? “

Hae Ryeong mengangguk, selanjutnya Sooyeon melambai pada Myungsoo dan menunjuk pada Hae Ryeong, itu artinya Hae Ryeong memang sedang mencari Myungsoo.

“ Aku akan masuk ke rumah, sampai jumpa… terima kasih telah menyapaku” Sooyeon membungkukkan badannya, lalu melambaikan tangannya sebelum ia masuk ke dalam rumahnya.

Ia memang ingin segera masuk ke dalam rumahnya. Sebelum dadanya semakin bergemuruh. Ia butuh udara lebih. Terlihat sekali nafasnya tersengal dan ia bersandar pada pintu rumahnya.

.

Myungsoo melihat Sooyeon yang segera masuk ke dalam rumahnya. Ia hafal dengan segala tingkah Sooyeon. Bahkan ia bisa melihat apa yang dilakukan Sooyeon setelahnya. Ia sudah cukup hafal dengan gerak gerik gadis aneh itu.

Hae Ryeong tersenyum padanya. Dan ia menyambutnya dengan senyum hangatnya.

“ Kita mau kemana hari ini?” Tanya Hae Ryeong.

“ As Your Wish” dan itulah jawaban Myungsoo, Sungguh beruntung karena Hae Ryeong bisa memiliki waktu Myungsoo hari ini, kemanapun dia memintanya.

Dengan girang Hae Ryeong menarik tangan Myungsoo menuju montornya.

.

Sooyeon mengintip kepergian mereka dibalik jendelanya. Ia mengerucutkan bibirnya lalu tersenyum. Ia merasa seperti orang jahat jika seperti ini. Atau mungkin seorang pengecut yang tidak berani mengakui bahwa dia memang mencintai Myungsoo.

Ia memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Beristirahat hari ini mungkin cukup bisa menenangkannya. Besok adalah hari ulang tahun Haeryeong. Dan ia tidak perduli lagi dengan apa yang dilakukan Myungsoo di hari itu. Hari ini cukup membuatnya kesakitan. Dan ia sendiri masih tidak menyadari, kenapa seperti itu.

*

*

Tok

Tok

Tok

Sooyeon membuka matanya perlahan, suara ketukan pintu itu membangunkannya. Ia segera melonjak ketika sadar bahwa suara itu tidak berasal dari pintu depan rumahnya, melainkan kamarnya. Bukankah ia mengunci pintu rumahnya tadi? Lalu siapa yang mengetuk pintu kamarnya? Kim Myungsoo tidak mungkin melakukannya.

Dengan langkah ragu ia membuka pintu kamarnya. Mengingat banyak sekali kejadian perampokan di rumah akhir-akhir ini di berita, membuatnya paranoit sendiri ketika berada di rumah.

Ia mengintip pintu kamarnya. Dan segera ia membuka pintu itu dengan lebar ketika mengetahui siapa yang di depannya.

“ Ahn Ahjumma” gadis itu tersenyum riang, tangannya masih mengelus dadanya, sebagai tanda kelegaannya.

“ Eohh…Sooyeon_ah,kau tahu kemana tn muda pergi? Dia meninggalkan ponselnya”

Sooyeon melongo, ia memandang ponsel Myungsoo yang diberikan Ahn Ahjumma padanya.

“ Dia bersama Na Haeryeong, temannya, jangan khawatir Ahn Ahjumma”

“ Ohh Syukurlah, ia terlihat tidak sehat . Ia juga menolak untuk minum obat, dan tidak memakan bekalnya , aku sangat khawatir”

Sooyeon mengangguk, ia menggumam kecil. Mungkin karena kehadiran Hae Ryeong membuatnya tidak perduli dengan rasa sakit dan lapar. Apa seperti itu jika seseorang yang sedang jatuh cinta?

“ Mungkin dia sedang jatuh cinta” jawab Sooyeon.

“ Aigooo….dia jatuh cinta padamu? Bukankah kau mengaku sebagai kekasihnya?” Ahn Ahjumma memukul kepala Sooyeon. Membuatnya meringis dan memijat kepalanya.

“ Aku bukan kekasihnya, aku istrinya” goda Sooyeon dan malah mendapat cubitan pada pipinya.

“ Apa kau sudah makan? Makanlah…aku memasak makanan kesukaanmu”

Sooyeon berlonjak kegirangan. Ia meraih ponselnya dan memasukkan ponselnya  bersama ponsel Myungsoo ke saku jaketnya. Ia sudah siap untuk menghabiskan makanan Ahn Ahjumma di rumah Myungsoo. .

.

.

Sooyeon mulai khawatir dengan Myungsoo. Ini sudah cukup malam dan ia belum kembali. Ahhh mungkin terlaluu berlebihan, tapi ia tidak membawa ponselnya . Biasanya ia menghubungi Ahn Ahjumma jika ia meninggalkan rumah. Kali ini yang semakin membuatnya tidak tenang adalah melihat betapa khawatirnya Ahn Ahjumma, mengingat ceritanya tadi siang. Myungsoo terlihat tidak enak badan.

Ia pun tidak bisa menahan dirinya untuk mencari keberadaan Myungsoo. Tidak mungkin juga untukknya menanyakan Myungsoo pada Hae ryeong. Ia tidak bisa melakukan itu.

Ia berjalan di jalanan dekat rumah mereka. Ia menunggu Myungsoo, dengan masih membawa ponsel Myungsoo, ia berharap Myungsoo segera meneleponnya. Atau paling tidak dia bisa memastikan dimana ponselnya jika ia sadar telah lupa membawanya.

Titt titt titt tittt…

Ia merasakan benda itu bergetar di sakunya, dengan segera ia melihat panggilan masuk di ponsel Myungsoo. Namun yang membuatnya ragu adalah, nomor itu milik Na Hae Ryeong. Apa perlu dia mengangkatnya? Bagaimana jika ia meneleponnya karena ingin memastikan apakah Myungsoo sudah sampai di rumahnya setelah mengantarnya pulang? Jika saja ia tidak tahu bahwa ponsel itu tertinggal dan berada padanya.

Atau mungkin itu Myungsoo yang ingin memastikan ponselnya? Namun sayangnya ketika ia sudah memutuskan untuk mengangkatnya, panggilan itu sudah mati. Ia mengerucutkan bibirnya. Mungkin ia terlalu lama berfikir.

Selanjutnya ia mendapat panggilan dari nomor asing yang mungkin telepon dari telepon umum. Dengan ragu pula ia mengangkatnya. Kali ini ia tidak perlu berfikir macam-macam karena telepon itu pada ponselnya. Bukan ponsel Myungsoo.

“ Yoboseo!”

\\” Yoboseo!” \\

Sooyeon terdiam, ia menutup mulutnya ketika mendengar pemilik suara yang meneleponnya. Ia memandang layar ponselnya, lalu memasangkan kembali pada telinganya.

“ Husby” ucapnya tertahan, dadanya tiba-tiba bergemuruh. Ia jarang sekali mendapat telepon dari Myungsoo . Dan inilah akibatnya jika ia mendapat telepon darinya.

\\” Apa yang kau lakukan?” \\

Sooyeon terdiam, matanya membuka lebar. Dan ia masih menahan teriakannya saat itu. ia ingin berteriak kegirangan. Kenapa suara dingin itu malah terdengar keren di telinganya. Betapa ia sangat menggilai namja itu.

“ Sedang…emmm santai”

\\” Dimana ponselku?” \\

Sooyeon merengut, ia baru sadar jika Myungsoo memang meneleponnya hanya untuk memastikan ponselnya. Bukan yang lain.

“ Ada padaku, akan kuberikan, Ahn Ahjumma yang memberikannya padaku”

\\” Baiklah…”\\ tutt…tut…tut…

Sooyeon mendengus kasar, dan hanya itu obrolan mereka dalam teleponnya. Hanya itu dan membuat Sooyeon benar-benar ingin mengumpat pada Myungsoo. Namun apa guna ketika Myungsoo membuatnya benar-benar tersipu dan selalu lupa dengan kekesalannya. Ia ingin melempar ponsel yang kini di pegangnya. Ponsel milik Myungsoo.

.

.

Dan benar, bahkan Sooyeon pun rela menunggu Myungsoo sampai ia datang ke rumahnya. Hanya karena Ahn Ahjumma khawatir dengan keadaannya.

Ia beberapa kali berkeliling di jalan yang sama. Sampai akhirnya ia menemukan sosok yang ditunggunya tengah berdiri di depannya.

Ia mendongak ketika merasa ada seseorang yang berhenti di depannya.  Dan itu adalah orang yang tengah ia tunggu. Ia memerekah ketika melihatnya, ia pun menjadi salah tingkah.

“ Eoh… kau sudah pulang, dimana montormu? , aku tidak mendengar suara montor ?” Sooyeon celingukan mencari montor Myungsoo. Seingatnya mereka pergi menggunakan montor Myungsoo,

Myungsoo menunjuk dengan kepalanya, dimana ia memarkir montornya, dan tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“ Ahn Ahjumma akan bangun jika mendengar suara montorku”

Sooyeon mengangguk, ia tersenyum dengan kekehan kecilnya. Memang benar, Ahn Ahjumma sangat hafal dengan suara montor Myungsoo. Bahkan ketika ia sudah tertidur, suara kecil montor Myungsoo bisa membangunkannya. Ia tahu jika Myungsoo tidak mungkin tega menghidupkan mesin montornya sampai rumahnya jika malam begini. Ia tidak ingin membangunkan Ahn Ahjumma yang kelelahan.

“ Ia mencemaskanmu, kau melupakan ponselmu, dan ia mengatakan kau terlihat sedang tidak enak badan dan belum makan. Itulah kenapa ponselmu ada padaku, mian…” Sooyeon menyerahkan ponsel Myungsoo.

“ Mian…” ucap Sooyeon lagi.

Myungsoo mendengus, lalu meraih ponsel itu. Kenapa harus minta ma’af? Gumamnya. Namun ia masih mendapat wajah ceria dari Sooyeon. Terkadang gadis aneh ini bersikap canggung, namun juga terkadang penuh percaya diri di depan Myungsoo. Namun itu semua adalah murni darinya. Ia tidak pernah terlihat bahwa apa yang dilakukannya pada Myungsoo adalah kepaksaan. Dia yang seperti ini adalah dia yang apa adanya. Namun sikap buruknya adalah, ia bahkan selalu ceria meskipun ia sedang bersedih. Tidak banyak yang ia bagikan. Namun Myungsoo bisa mengetahuinya hanya dengan melihat Sooyeon. Apa yang terjadi pada gadis itu Myungsoo hampir bisa membaca seluruhnya.

“ Tidak perlu secanggung itu, bahkan kau sering merekam suaramu di ponselku”

Sooyeon membukan mulutnya lebar, ia memang melakukannya. Bahkan ia hobi melakukannya. Merekam suaranya di ponsel, dan tentunyapada ponsel Myungsoo. Ia tidak pernah membuka aplikasi lain selain voice record pada ponsel Myungsoo. Semoga Myungsoo tidak memeriksa Voice recordnya, karena hari ini pun ia merekam suranya di ponsel Myungsoo.

Ia meringis lalu membalikkan badannya.

“ Kkaja” ucapnya lalu  berlari kecil mendahului Myungsoo.

Myungsoo tersenyum simpul, ia tahu jika Sooyeon mungkin sudah merekam suaranya di ponselnya hari ini, seperti yang biasa ia lakukan. Atau jika tidak, ia akan mengirim voice recordnya lewan instans message dan memaksa Myungsoo untuk menyimpannya. Itulah Sooyeon. Dan hanya Sooyeon yang melakukan itu.

Selanjutnya ia pun mengikuti langkah Sooyeon kembali ke rumah mereka masing-masing.

.

Sooyeon terlihat ragu untuk masuk ke rumahnya, ia memperhatikan Myungsoo yang melewatinya dan berrjalan menuju rumahnya yang satu halaman dengannya. Ia sepeti ingin mengatakan sesuatu.  Itulah yang ditangkap Myungsoo ketika melewatinya.

Myungsoo pun memutuskan untuk berhenti dan berbalik.

“ Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Myungsoo.

Membuat Sooyeon tersentak, bagaimana ia bisa tahu apa yang dipikirkannya? Gumamnya.

Sooyeon tersenyum kikuk ia memang ingin bertanya sesuatu pada Myungsoo.

“ Apa besok kau ke rumahnya? “ tanyanya dengan suara ragu dan lirih.

Ia menunggu jawaban Myungsoo yang hanya menatapnya datar. Hal yang paling dibencinya. Tatapan datar itu.

“ Wae?” tanya Myungsoo.

Sooyeon mengatupkan bibirnya, lalu menjilat bibir bawahnya. Ia mengambil nafas dalam lalu mengeluarkannya.

“ Any…aku juga akan ke rumahnya, eoh… aku tidak bermaksud untuk bersamamu, sungguh, aku bisa berangkat sendiri ke sana”

Myungsoo masih menatapnya datar, cukup lama ia menatap Sooyeon , melihat tingkah kikuk Sooyeon.

“ Eoh…terserah “ Myungsoo berbalik dan kembali melangkah menuju pintu rumahnya.

Jawaban itu sontak membuat Sooyeon serasa terpental. Selalu seperti itu, selalu selalu dan selalu. Sooyeon menjadi geram sendiri dibuatnya. Ia mendengus kesal, ia ingin mengakui kalau ia benar-benar merasa sedih dan cemburu. Tapi ia tidak mau mengakuinya, tidak…benar-benar tidak. Ia tidak boleh merasa seperti itu.

Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya. Seharusnya ia istirahat malam ini, besok ia akan berhadapan dengan sesuatu yang mungkin bisa membuat jantungnya kembali tidak normal dan nyeri yang berlebihan. Ia pasti akan mengalami itu.

*

*

Gongchan tertawa melihat kedatangan Sooyeon. Ia terlihat lesu, meskipun ia tampil cantik hari ini.

“ Kau benar-benar bersiap untuk kencan denganku noona?” goda Gongchan.

Selanjutnya ia mendapat tatapan tajam dari Sooyeon. Lalu ia celingukan mencari sosok yang memiliki acara tersebut. Anehnya ia hanya menemukan banyak orang dewasa yang hadir di acara ini . Bukan gadis-gadis seusianya yang seharusnya mengikuti pesta ini.

“ Eum? Pangeran istana ini ada di depanmu? Siapa lagi yang kau cari?” Gongchan mengikuti arah pandang Sooyeon yang celingukan.

“ Bukankah kau mengundangku untuk merayakan ulang tahun noonamu?”

Gongchan tersenyum, dan dari senyum itu Sooyeon bisa menebak ada sesuatu yang sedang disembunyikan Gongchan padanya.

Sooyeon memicingkan matanya, menatap tajam Gongchan dan mengancam keselamatannya hari ini, entah besok.

“ wo wo wo… kau seperti akan memangsaku” goda Gongchan.

“ Katakan apa yang terjadi, aku harus memberikan kadoku ini padanya, atau dia sedang bersama Myungsoo? Ppalliwaa!!” Sooyeon mendekati Gongchan dan masih dengan tatapan tajamnya, membuat Gongchan harus mundur selangkah dari tempatnya.

“ emh… Aku tidak bermaksud untuk membohongimu, rencana awal memang seperti itu, bahkan pesta ini sudah dipersiapkan dari jauh hari untuk pertemuan bisnis keluarga,dan  pesta teman-teman noonaku, aku tidak tahu pasti apa yang harus ia urus di sana, tapi noonaku sore ini sudah pergi ke tempatnya”

Sooyeon membuka matanya lebar, ia terbatu, bukan bahagia karena itu artinya Myungsoo tidak bersama Hae Ryeong hari ini, bukan juga marah karena Gongchan membohonginya. Yang ia pikirkan adalah bagaimana dengan Myungsoo? Apa dia tahu sebelumnya? Apa dia tahu bahwa Haeryeong akan kembali secepat ini dan mereka tidak sempat merayakan ulang tahunnya bersama? Apa Myungsoo sudah memberikan kadonya pada Hae Ryeong? Lalu … di mana dia sekarang?

Sooyeon menunduk, di dalam otaknya sudah tergambar wajah kecewa dan mungkin Myungsoo sedang bersedih. Tiba-tiba saja orang yang dicintainya pergi di saat ia sudah mempersiapkan untuk merayakan ulang tahun bersama.

“ Kau kecewa? Baiklah…bukankah aku sudah berjanji untuk mengantarmu kemanapun kau mau hari ini?” Gongchan menundukkan kepalanya, ia mensejajarkan wajahnya dan melihat wajah Sooyeon lebih dekat. Ekspresi gadis itu terlihat aneh.

Sooyeon mendongak

“ Aku ingin pulang”

Gongchan tediam, selanjutnya ia tersenyum simpul. Ia tahu ekspresi aneh itu adalah bentuk kekhawatirannya pada Myungsoo.

“ Sayang sekali kau sudah berdandan cantik dan kau hanya meminta pulang? Kau yakin tidak ingin berkencan dengan ku hari ini Sooyeon_ah?”

Sooyeon mengambil nafas dalam, ia tidak bisa lebih lama lagi di rumah Gongchan. Ia ingin segera mencari keberadaan Myungsoo.

“ Aku akan pulang sendiri, sampai jumpa. Kau  bisa memberikan ini ketika Hae Ryeong kembali ke seoul” Sooyeon memberikan kadonya pada Gongchan dan ia berlari kecil keluar dari kerumunan pesta itu.

Gongchan mendengus, ia mengusap rambutnya.

“ Kalian ini…benar benar” gerutunya.

.

.

Sooyeon mendengus setelah sampai di rumah Myungsoo dan hanya bertemu dengan Ahn Ahjumma. Kim Myungsoo tidak ada di rumahnya. Lalu dimana dia? Ia berfikir keras di mana kira-kira ia bisa menemukan Myungsoo. Sedangkan ia tidak terlalu tahu tempat-tempat yang biasa didatangi Myungsoo ketika ia sedang sedih karena Hae Ryeong.

Sooyeon melirik jam tangannya. Dan ia baru sadar tanggal berapa sekarang. Ia memukul kepalanya, kenapa ia sampai lupa peringatan apa hari ini, ini bukan hanya ulang tahun Hae Ryeong. Namun ada peringatan lain yang mungkin adalah tempat di mana ia bisa menemukan Myungsoo sekarang.

Ia pun memutuskan untuk pergi ke tempat itu. Ia tidak yakin namun firasatnya mengatakan Myungsoo ada di tempat itu.

.

.

Sooyeon terlambat, ia tidak mendapati seorang pun di tempat ini. Ia mengatur nafasnya. Lalu  bersandar pada kursi yang tersedia di tempat itu. Bahkan ia tidak memperhatikan bagaimana ia berdandan hari ini dan kakinya yang mulai terasa perih karena lecet. Ia memijit pelan kakinya dan kembali mengatur nafasnya. Ia mengibaskan tangannya pada gaunnya, meluruskan kakinya dan memperhatikan betapa kakinya terlihat buruk kali ini karena ia memaksakan diri untuk berjalan jauh dan berlarian menggunakan high heels nya.

“ Dia tidak ada, firasatku salah” gumamnya kecewa.

Ia tidak mungkin lagi mencari Myungsoo sedangkan sekarang sudah cukup malam dan mungkin ia sudah lelah untuk menebak lagi tempat yang biasa didatangi Kim Myungsoo. Ia harus beristirahan sebentar lalu segera pulang ke rumahnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Myungsoo di tempat itu.

“ Aku pikir kau hantu penunggu tempat ini”

Sooyeon menoleh cepat ke sumber suara itu, selanjutnya ia mengedipkan matanya berulang kali. Bagaimana mungkin, apa ini kebetulan? Apa firasatnya benar? Saat ini Kim Myungsoo sedang berjalan ke arahnya dan dia terlihat baik-baik saja. Apa dia yang terlalu berlebihan dan kakinya kali ini adalah korban dari kecemasannya yang berlebihan.

Ia memejamkan matanya singkat. Bahkan ia tidak percaya ia bisa se khawatir itu dengan keadaan Myungsoo setelah berita yang dikatakan Gongchan. Ia baru sadar bahwa ia memang terlalu berlebihan.

“ Apa kau mengikutiku Husby? Bagaimana kau bisa tiba-tiba di sini?” tanya Sooyeon dengan nafas yang masih tersengal.

“ Bukankah pertanyaan itu seharusnya untukmu? Dasar penguntit” Myungsoo duduk di sebelahnya.

Sooyeon tercekat, ia menggaruk kepalanya . Memang, dialah yang mencari Myungsoo. Dan mungkin memang Myungsoo sedang ada di tempat ini, hanya saja dia duluan yang sampai di tempat itu.

“ Ah_” Sooyeon menoleh cepat setelah merasakan dingin di pipinya. Myungsoo sengaja menempelkan minuman dinginnya di pipinya.

“ Ini” Myungsoo memberikan isotonik padanya.

“ Aku haus…aku ingin yang dingin itu” Sooyeon menunjuk minuman dingin yang ditempelkan Myungsoo pada pipinya namun bukan itu yang diberikan padanya.

“ Kau akan sakit jika setelah olahraga meminum air dingin ini”

“ Kau pikir aku sedang olah raga? Dengan gaun seperti ini?” protes Sooyeon, ia mengumpat kecil dan meraih kasar minuman yang diberikan Myungsoo padanya.

“ Kau berkeringat, nafasmu tersengal, kau tidak olah raga?”

Sooyeon menahan nafasnya, lalu mengeluarkannya kasar.

Aku khawatir dan aku mencarimu Kim Myungsoo!!!!

Itulah yang ingin ia teriakkan pada pria datar ini.

“ Apa yang kau lakukan di tempat ini?” Tanya Myungsoo.

Sooyeon terdiam, melihat Myungsoo yang terlihat biasa tidak seperti yang ia bayangkan membuatnya ragu bahwa ia memang khawatir dan mencarinya ke tempat ini.

“ Aku sedang olah raga” jawab Sooyeon asal, ia sadar jawaban itu mungkin terlalu konyol dan sangat terlihat jika ia sedang berbohong.

Myungsoo tersenyum karena Sooyeon memang tidak bisa berbohong. Tidakkah ia sadar itu? Seharusnya Sooyeon melihat bagaimana Myungsoo tersenyum karenanya. Dia sibuk dengan pikirannya dan mengalihkan pandangannya karena ia sadar bahwa jawabannya salah.

“ Kau tidak pandai berbohong”

Sooyeon mengatupkan bibirnya, selanjutnya ia menatap Myungsoo. Dari sini ia melihat tatapan lurus Myungsoo pada taman di depannya.

“ Mian…aku memang mencari mu, emh… aku_aku tidak bermaksud untuk mengganggumu ..mi_mian” jelasnya.

“ Sudahlah…aku tahu, Gongchan memberitahuku sebelum aku datang ke rumahnya”

Sooyeon melemas, jadi memang Gongchan sengaja membuatnya datang ke rumahnya. Selamanya Gongchan memang menyebalkan.

“ eoh… “ Sooyeon mengalihkan pandangannya. Sebenarnya ia malu saat ini.

“ Dasar penguntit”

” Hya! Aku tidak seperti itu, kau pikir aku sama seperti penggemar-penggemarmu itu?” Protes Sooyeon.

“ Benarkah?”

“ Aku hanya berfikir mungkin kau ke tempat ini, ini adalah tempatku pertama kali bertemu denganmu, dan saat itu kau_” Sooyeon menghentikan kalimatnya. Ia kembali mengatupkan bibirnya.

“ Wae? “

“ Any_ “

“ Mendekatlah!” Myungsoo melamaikan tangannya, meminta Sooyeon untuk mendekat padanya.

Sooyeon menoleh cepat, dia tahu maksud Myungsoo memintanya untuk mendekat. Ia menggeleng cepat menolaknya seraya menutup keningnya.

Myungsoo mendengus, memang jika Sooyeon mengingat kejadian di tempat ini, Myungsoo akan memukul keningnya. Seperti seorang guru yang menghukum muridnya.

Selanjutnya Myungsoolah yang menarik tangan Sooyeon, membuat gadis itu bergeser dari tempatnya dan kini ia bisa berdekatan dengan Myungsoo, terasa kakinya terbentur kaki Myungsoo. Itu artinya mereka benar-benar dekat. Sedangkan Sooyeon masih menutup matanya dan melindungi keningnya dengan tangannya.

Myungsoo tersenyum , kenapa mengerjai gadis ini begitu menyenangkan? Pantas jika Gongchan dan Chanyeol tidak bosan mengerjai dan memancing kemarahan gadis ini. Dia selalu terlihat lucu bahkan ketika ia sedang marah.

Tangan Myungsoo menarik tangan yang digunakan Sooyeon untuk menutup keningnya.

“ Andwaee….aku tidak mengatakannya, kenapa harus memukul keningku” rengeknya dengan mata yang masih tertutup.

“ Diamlah…dan menurutlah”

Tangan Sooyeon berhasil ditarik oleh Myungsoo, namun dengan cepat ia menutupinya dengan tangan kirinya. Dan itupun dengan cepat ditarik oleh Myungsoo. Akhirnya ia menyerah. Myungsoo tersenyum menang melihatnya.

“ Buka matamu”

Sooyeon menggeleng cepat, ia mencoba memelas. Namun ia tahu itu tidak akan berhasil.

“ Buka sekarang, atau_”

“ Ne…” Sooyeon dengan cepat membuka matanya, ia mengedipkannya berkali-kali karena begitu ia membuka matanya, wajah Myungsoo sangat dekat dengannya. Ia sontak memundurkan kepalanya. Sialnya kedua tangannya ditahan oleh Myungsoo, ia ingin menjauh saat itu juga, jantungnya benar-benar tidak karuan, dan ia akan malu jika Myungsoo mendengar degup jantungnya yang keras saat ini.

Myungsoo masih tersenyum melihat tingkah lucu Sooyeon. Selanjutnya ia melepaskan tangannya, lalu menunjuk pelan keningnya.

“ kau selalu berlebihan”

Myungsoo mengambil sebuah tas di bawah tempat duduk itu, kemudian memberikannya pada Sooyeon.

Sooyeon meraihnya dengan ragu, ia melihat isi tas itu. Dan ia tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Benda itu persis seperti benda yang ia inginkan saat mencari kado bersama untuk Hae Ryeong. Apa benda itu yang nantinya diberikan Myungsoo pada Haeryeong?

“ Kau ingin meminta pendapatku?”

“ Bakka”

“ Hya!” protesnya

“ Itu untukmu”

Sooyeon melongo, ia menutup mulutnya dengan cepat, namun kemudian ia menyadarkan dirinya, mungkin ini awalnya untuk Haeryeong lalu ia berikan padanya karena ia tidak bertemu Hae Ryeong hari ini.

“ Kau memberikan ini padaku karena Hae Reyong tidak ada?”

“ benda itu bukan gayanya”

Sooyeon mengatup, memang benar, benda yang ada dalam tas ini memang apa yang ia inginkan. Untuk masalah style ia tahu jika style nya dan Hae Ryeong sangat berbeda.

“ Ini untukku?” Sooyeon memeluk ta situ dan menatap Myungsoo antusias.

Myungsoo menunduk, ia tidak ingin membahas lebih tentang itu. Ia berdiri dari duduknya.

“ Aku lapar!” ucapnya dan ia melangkah pergi.

Sooyeon pun ikut berdiri, ia mengangguk semangat dan berlarian kecil mengikuti Myungsoo. Ia sedikit meringis karena lecet di kakinya. Namun rasanya hari ini semuanya terobati karena Myungsoo. Ia benar-benar tidak menyangka jika ia mendapat hadiah ini dari Myungsoo.

Aku tidak tahu… mungkin hari ini aku sedih, hari ini aku bahagia…dan aku tidak tahu bagaimana hari-hariku selanjutnya…hanya saja ketika melihatmu dan mendapat perhatianmu…itu mungkin akan sulit bagiku…sungguh sulit jika nantinya aku menyerah…Jangan melakukan lebih…ku mohon….

TBC…

Advertisements

9 thoughts on “JUST STAY BESIDE ME| 3

  1. Jessicool says:

    Myungsoo bner2 bsa bkn mood jessica brubah drastis tp ntah mengapa ko q ksihan ma jessica yaaa ga tega gtu moga ja nnt da yg mengalihkan duniany dr myungsoo biar myungso mrsa kehilangan gtu hehe dtnggu kelanjutanny

  2. Revan_sicababy says:

    Ahh jessica lo lucu bnget si gw jadi makin gemes sm lo haha

    Gw semakin suka sm ceritanya . . Myungsoo suka atau gmana si sm sica . Krna dia slalu bsa peka gtu sm sica .. Dan gw penasaran emng gmna cerita prtama kali myungsica ktemu ampe sica takut nyebutinnya ntar di sentil keningnya .. Ahh ditunggu kelanjutannya , ini makin seruu .

  3. N0vi says:

    Aduh ngegemezin bget ya tingkahnya sooyeon mw mrah mw enggak tetep aja lucu. . .
    Hyaaa. .sneng bget krn disni bs lht sisi lain myungso meskipun dia jutek+dingin bget tp tetep perhatian sm s0oyeon.
    Berhrap myungso bkal suka sm s0oyeon,.pengen bget lht myungso cemburu klo s0oyeon dket sm cw0k laen#ngarep
    auth0r keep writing and Fighting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s