JUST STAY BESIDE ME |2

 

Author: S.Y.M

Title: Just Stay beside Me

Length: Series

Genre:  Romantic high school

Rating: G

Cast: Jessica Jung || Kim Myungsoo || Na HaeRyeong BESTie

jessica jung1kim myungsoo2

*

*

*

Love is…i can’t say it..

Jika diantara siswa lain yang datang dan mendukung team basket kebanggan mereka, mungkin Sooyeon lah yang membawa atribut paling lengkap. Ia juga memaksa teman sekelas mereka untuk memakai atribut yang sama dengannya. Namun untuk para gadis dilarang keras untuk berteriak terlalu histeris meneriakkan nama “Myungsoo” di depannya. Nyatanya meskipun terlihat berlebihan dan membuat Myungsoo jengah, team basket mereka tetap menjadi juara di pertandingan persahabatan itu, sekaligus sebagai perpisahan Myungsoo sebelum lepas dari team.

 

” Husby, Myungsoo_ya”. Sooyeon mengerucutkan bibirnya. Ia menggeram kecil ketika melihat beberapa anggota cheerleader yang berdiri tak jauh dr tempat Myungsoo berdiri. Ia tahu jika anngota Cheerleader itu sebagian adalah dongsaengnya dan sebagian lagi dari sekolah lain.

” Aishhh berani-beraninya mereka menatap suamiku  seperti itu”

Sooyeon memutuskan untuk mendekati Myungsoo yang masih penuh keringat itu.

” Husby” Sooyeon menyerahkan botol isotonik dan handuk padanya.

“Kau tidak memberiku lagi seperti kemarin” Park Chanyeol ikut andil dan mengatungkan tangan meminta isotonik dan handuk seperti yang ia berikan pada Myungsoo.

” Shireo! Hanya Myungsoo suamiku”

Sooyeon melengos, begitu juga dengan Chanyeol yang berusaha merebut botol minuman yang sedang diminum Myungsoo. Sooyeon sibuk memperhatikan gadis gadis yang ia lihat tadi. Dengan mengirimkan death glare pada mereka ia berharap mereka bisa berhenti memandangi Myungsoo seolah pameran itu.

” Aishhh apa mereka akan tetap berdiri di sana?” Gerutu Sooyeon.

” Kau tahu di sini bukan hanya Myungsoo yang mereka pandang, aku jamin mereka memandangku yang tampan ini, jangan buat kekacauan dengan mengusir mereka” sumbang Chanyeol.

” Hya! Bukankah itu minuman suamiku? Ishhh”

” Myungsoo membaginya padaku, apa itu artinya q juga suamimu ? ” Chanyeol tergelak tawa, Sooyeon sudah pasti melayangkan pukulannya pada Chanyeol. Ia memang suka menggoda Sooyeon karena pasti menyenangkan melihat Sooyeon yang marah seperti ini.

” Shireo!”

PLETAK

” Awwgghht” Chanyeol menggeram kesakitan.

Selanjutnya Chanyeol menunjukkan kepada Sooyeon gadis gadis yang sedari tadi memandangi Myungsoo, dan kini sudah berjejer di depan Myungsoo.

” Owhhh apa mereka tidak tahu siapa aku? ” Gerutu Sooyeon. Ia meninggalkan Chanyeol dan beralih pada Myungsoo.

Ia berdiri dengan tangan terlipat di samping Myungsoo, bersiap untuk menerkam siapa saja yang berniat ganjen dengan Myungsoo.

” Oppa, selamat atas kemenangannya” ucap salah satu dari mereka.

Myungsoo hanya mengangguk, tanpa memberikan senyumnya. Ia masih sibuk mengelap keringatnya dengan handuk yang diberikan Sooyeon padanya.

” Kyaaa… Dia keren sekali ”

Telinga Sooyeon menajam, walaupun pelan tapi jika itu menyangkut Myungsoo, dia akan tetap siaga. Myungsoo memilih untuk pergi dan mendekati Chanyeol, Sooyeon sudah cukup mengatasi gadis- gadis itu.

” Kalian… kenapa tidak kembalii ke tempat kalian! Jangan terlalu lama memandang suamiku!” Usir Sooyeon yang tentu mendapat cibiran dari gadis- gadis itu.

” Benarkah? Aku pikir dia tidak menyukaimu, dia cukup keren, dan kau pendek, kalian tidak serasi” balas salah satu dari mereka, yang Sooyeon yakini dia bukanlah murid satu sekolahan dengannya, wajar jika ia tidak mengenal Sooyeon.

Sooyeon menggeram kecil, bisa-bisanya ada gadis yang menjelekkannya. Meskipun benar adanya bahwa gadis itu lebih tinggi darinya, tapi tetap saja ia tidak bisa tinggal diam ketika membandingkan ketidakcocokannya pada Myungsoo.

Disisi lain Chanyeol meyakinkan Myungsoo untuk menarik Sooyeon dari tempatnya berdiri. Ia harus menjauh sebelum pertengkaran sengit terjadi. Sooyeon bukanlah tipe orang yang tinggal diam ketika ada yang mengoloknya, dia sendiri korbannya.

” Kau harus mencegahnya Myungsoo_ya”

Myungsoo menoleh dan menatap Sooyeon, ia hanya memastikan gerak-gerik Sooyeon tidak cukup menghawatirkan untuk menerkam orang.

Dan Sooyeon sekarang sudah melemparkan serangan deathglarenya pada gadis itu. Ia ingin segera menjambak rambutnya.

” Aaahh andwe andwe… Aku sudah berjanji tidak pernah berbuat kasar, aku cantik aku terlalu cantik untuk membalasnya, tenang Sooyeon. Dia hanya iri karena Myungsoo adalah suamimu ” Sooyeon memukul mukul pipinya. Ia sudah mempunyai ancang-ancang untuk menyerang gadis itu, namun ia urungkan karena akan sangat memalukan jika ia berbuat hal seperti itu. Ia juga takut Myungsoo akan menjauhinya jika ia berbuat kasar dan memalukan.

” Kau seharusnya tidak boleh berkata tidak sopan seperti itu pada Sunbae mu, asal kalian tahu suamiku tidak akan nyaman jika kalian terus memandangnya. Pergilah! KKa”

Sooyeon memperlembut bahasanya.

” Aku memang tidak satu sekolah denganmu, tapi aku yakin kau hanya mengaku-aku sebagai kekasihnya, Myungsoo terlalu keren untuk gadis sepertimu”

Dan dugaannya salah ketika menganggap mereka akan menurut dengan mudah, gadis itu tetap melawan dan semakin mengolok Sooyeon.

 

Sooyeon memejamkan matanya untuk mengontrol emosinya. Jika ia maju sekarang tempat ini akan menyaksikan aksi memalukannya.

” Kau_ seharusnya kau bisa menjaga bicaramu! Sekolahlah dengan baik, apa kau tidak pernah belajar sopan santun?” Balas Sooyeon.

Namun detik berikutnya ia tidak lagi mendapat balasan dari gadis itu. Mereka sontak terdiam dan Sooyeon merasakan ada tangan yang menarik lengannya.

” Kkaja”

Sooyeon terkejut karena lengannya tiba-tiba saja ditarik, namun detik selanjutnya ia tersenyum puas dan melirik sekilas gadis-gadis itu. Mereka hanya memandang kepergiannya dengan wajah terbatu.

Myungsoo lah yang menariknya pergi. Meskipun hanya mendapat wajah dinginnya, namun setidaknya Myungsoo membuktikan pada gadis-gadis itu kalau dia adalah kekasihnya. Ya .. Setidaknya mereka akan beranggapan seperti itu.

” Gomawoo husby, kau romantis sekali” dan pipi itu mulai memerah semu. Sooyeon mengedipkan matanya berkali-kali.

” Kau sangat memalukan, Chanyeol memintaku untuk membawamu pergi”

Sooyeon menunduk seketika, jawaban macam apa ini? Myungsoo menganggapnya memalukan, dan itu memang memalukan. Berdebat dengan seorang gadis karena Myungsoo.

” Mian_ aku hanya _”

” Ada isotonik lagi? Chanyeol menghabiskannya” Myungsoo memotong kalimat Sooyeon.

Dengan wajah yang kembali berbunga Sooyeon mengangguk cepat dan mengeluarkan sebotol lagi dari tasnya.

Ia tak berhenti tersenyum ketika melihat Myungsoo meneguknya. Baginya itu sangat keren. Ia melupakan kata-kata dingin Myungsoo yang membuatnya malu itu, sekarang ia seperti mendapat baterai baru juga karena Myungsoo.

Myungsoo memperhatikan Sooyeon yang menekan dadanya namun kali ini dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“ Ada apa dengan dadamu?” tanya Myungsoo.

Sooyeon menghentikan aktifitasnya, ia sadar apa yang dikatakan Myungsoo. Selanjutnya ia menyilangkan tangannya menutupi dadanya.

“ A_apa yang kau lihat??” ucapnya dan ia sedikit memiringkan tubuhnya. Ia salah menangkap pertanyaan Myungsoo.

“Heoh… bakka!” Myungsoo mendengus

“ Hya! Aku tahu arti kata itu, kau bilang aku bodoh? Haishhh… menyebalkan” desisnya. Sooyeon melipat kedua lengannya.

“ Kau pikir aku bertanya apa? Kau yang selalu salah paham, kubilang kenapa kau menekan dadamu? Apa sakit? “

Sooyeon terlihat berfikir, selanjutnya ia sadar apa yang membuat ia menekan dadanya. Itu semua karena jantungnya sedang berdetak tidak karuan. Rasanya memang sesak dan itulah kenapa ia menekan dadanya. Ia menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal itu. Kenapa ia berfikir yang lain? Dia memang salah paham.

“ ne… memang jantungku sedikit aneh, mian” jelasnya dengan cengiran khasnya.

“ Berlarilah! Kau malas sekali olahraga, jantungmu akan sedikit normal” Myungsoo meneguk isotonik terakhirnya lalu berlalu meninggalkan Sooyeon.

“Hfuuuuhhh” Sooyeon menghela nafas.

“ Justru karena kau ada di dekatku jantungku jadi tidak normal Kim Myungsoo…” ucapnya lirih.  Ia tersenyum simpul. Selanjutnya Ia mengikuti langkah Myungsoo untuk pergi dari tempat itu.

.

.

.

Sooyeon tersenyum lebar, matanya menyipit, sungguh jika Myungsoo menyadari itu, Sooyeon memang sangat cantik dan ia terlihat manis saat tersenyum.

Disertai sinar matahari yang menembus kaca jendela kelasnya ia tersenyum menyambut kedatangan Myungsoo. Ia yang antusias namun Myungsoo hanya menatapnya tanpa balasan senyum sepertinya.

Selanjutnya ia mengerucutkan bibirnya, Myungsoo memang hanya melewatinya dan duduk di bangkunya begitu saja.

“ Kenapa hidupmu selalu datar Husby… aku lupa bagaimana wajahmu saat tersenyum. Atau aku tidak pernah melihatnya?” gumamnya sendiri. Ia menangkupkan wajahnya pada kedua tangannya, dan matanya masih betah memandang gerak-gerik Myungsoo.

Selanjutnya ia tahu harus berbuat apa. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan. Selesai dengan itu ia meletakkan kembali ponselnya di atas meja dan menunggu balasan dari sang penerima.

Ia terkikik ketika melihat tangan Myungsoo bergerak untuk membuka pesan darinya.

From: .

Apa kau sudah sarapan Husby? Kau mau kopi?

Ingin aku pesankan kopi? Kau ingin kopi apa?

Esspresso? Cappucino?

 

Ting…

Sooyeon segera membuka isi pesan yang diterimanya.

From: Husby Myung

Mana yang harus kujaawab?

 

Sooyeon merengut, ia mengerucutkan bibirnya lalu membalas pesannya

From: .

Baiklah…tidak usah minum kopi pagi ini, mereka bilang jika kau belum sarapan

Perutmu akan sakit, tapi menurutku kopi baik untuk perut buncit.

Jadi apa keputusanmu?”

 

Myungsoo terkekeh, gadis ini memang tidak pernah bisa membuatnya tenang meskipun dipagi hari.

Selanjutnya ia mendapat pesan lain yang masuk ke pemberitahuannya. Sebuah pesan yang membuatnya melebarkan matanya seketika.

Sooyeon memperhatikan dengan seksama apa yang dlihat Myungsoo sehingga ia bisa tersenyum lebar seperti itu. Ia sedikit bisa melihat bahwa Myungsoo sedang pesan yang masuk padanya adalah sebuah Foto. Dan ia tahu foto siapa yang bisa membuat Myungsoo tersenyum seperti itu.

Sooyeon merengut, ia meletakkan kasar ponselnya dan membuat bunyi yang cukup keras di ruang kelas itu. Kegaduhan pun sempat terhenti dan memperhatikan sumber suara itu sejenak, selanjutnya mereka pun kembali pada aktivitas pagi mereka sendiri-sendiri.

Myungsoo menyadari suara keras yang dibuat oleh Sooyeon. Dan ia hanya diam menanggapinya. Ia pasti tahu dan sepeti itulah jika ia merasa jengkel. Namun selanjutnya dia akan kembali menjadi Sooyeon yang cerewet dan penuh semangat. Hal itu tidak butuh waktu lama. Sebenarnya bukan Myungsoo sumber semangat Sooyeon. Namun Sooyeon sendiri yang mempunyai karakter khas seperti itu. Ia mudah sekali merasa bosan dan kesal ketika sesuatu yang dilakukannya tidak membuahkan hasil, namun ia tetap melanjutkan kegiatan itu sampai ia mendapatkan sesuatu dari yang ia lakukan. Ia akan mengerucutkan bibirnya jika ia sedang sebal dan tatapan matanya sulit dimengerti namun ia tetap terlihat lucu. Begitulah dia. Dia selalu percaya diri dan itu yang membuat karakternya begitu kuat. Di mata Myungsoo Sooyeon adalah sosok yang tidak pernah lelah dan selalu mempunyai cara untuk menghibur dirinya sendiri. Ia hampir tidak pernah menunjukkan kesedihannya. Itulah yang Myungsoo tahu dari Sooyeon.

.

.

“ eoh… anyeong” Chanyeol duduk sekenanya di depan Myungsoo dan ia meraup stick keju yang dimakan Myungsoo di Cafetaria sekolah.

Pria jangkung itu sedikit bingung karena tidak mendengar kegaduhan Sooyeon di sekitar Myungsoo. Ia mengedarkan pandangannya dan mencari sosok kelewat cerewet dan riang itu.

“ dimana istrimu?” tanya Chanyeol.

“ Kau merindukannya?”

Chanyeol terkekeh, dia berani menjamin hidup Myungsoo benar-benar sepi tanpa gadis itu. Tentu dia mencari sosok yang selalu membuat gaduh hidup Myungsoo. Atau malah pria datar itu bahagia ketika gadis itu tidak ada.

“ Apa dia sedang marah padamu?” tanyanya, dan ia tetap melanjutkan untuk memakan snack Myungsoo.

“ Apa itu mungkin?”  jawab Myungsoo masih tidak memandang Chanyeol.

Chanyeol mengangguk, dia meneruskan untuk memakan stick keju milik Myungsoo. Memang benar, apa itu mungkin jika Sooyeon marah pada Myungsoo dan tidak ingin bertemu dengan pria datar yang menjadi sahabatnya ini, rasanya tidak mungkin. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya yakin.

“ Apa pulang sekolah ini kau ada acara?” tanya Chanyeol.

Myungsoo tidak menjawab, ia masih fokus pada buku yang ia baca lalu membalik lembarannya. Setelahnya barulah ia meletakkan bukunya dan menjawab pertanyaan Chanyeol.

“ Entahlah, apa rencanamu?”

“ Aku ingin bermain Basket, apa kau mau ikut?”

Myungsoo mengangguk, dan itu sudah cukup untuk menjawab ajakan Chanyeol. Berteman dengan Myungsoo memang membuat Chanyeol lebih hemat dalam berdialog. Begitulah… dia tidak seperti Sooyeon yang akan tetap berbicara seolah sedang berdialog meskipun pada kenyataannya ia sering melakukan monolog jika bersama Myungsoo.

.

.

Sooyeon menggerutu di sepanjang jalannya di lorong menuju kelasnya. Ia harus membantu mencari buku yang ia hilangkan di perpustakaan sekolah bersama sang Librarian. Ia benar-benar ingat jika ia sudah mengembalikan buku itu namun ia harus mengalah dan tetap mencari buku itu diantar rak-rak buku perpustakaan sekolah ia harus menata kembali buku yang berantakan dan meletakkannya pada tempatnya sesuai jenis bukunya. Barulah ia menemukan dimana buku itu berada. Ia menghela nafas kasar, bukan dia yang lupa, namun ada pembaca lain yang salah meletakkan buku itu sehingga buku itu terjatuh diantara sela rak buku. Untung saja matanya cukup jeli untuk mencari, jika tidak ia menjamin bahwa ia menghabiskan satu jam pelajarannya untuk mencari buku itu.

Ia tersenyum lebar ketika melihat punggung dari seseorang yang ia puja berada di depannya. Dengan lari kecil ia mencoba mengejar sosok itu. Namun perlahan langkahnya terhenti ketika ia melihat Gongchan dari arah berlawanan mengajaknya untuk berbincang. Ia mencoba mendekat namun ia terlambat ketika Myungsoo kembali melangkah dan Gongchan juga melangkah dengan arah yang berlawanan dengannya.

Dengan seyum khasnya Gongchan menyapa Sooyeon yang wajahnya kini entah mengeluarkan ekspresi seperti apa. Pagi ini ia tahu jika Myungsoo mendapat pesan dari seseorang yang membuatnya tersenyum lebar. Senyum yang belum pernah ia buat. Dan kini ia melihat Gongchan berbicara sesuatu padanya, apa itu tentang gadis itu? siapa lagi jika bukan Na Haeryeong, kakak Gongchan.

“ anyeong princess Sooyeon, ada apa dengan wajahmu?” tanya Gongchan dengan nada jahilnya.

Sooyeon mendesis pelan, ia merubah ekspresi tak tertebaknya menjadi ekspresi kesal pada Gongchan. Namja ini memang selalu menyebalkan baginya.

“ Apa urusanmu Na Gongchan?”

“ hahaha… aku tahu apa yang kau rasakan, aku sudah mengundangmu untuk datang ke rumahku dan merayakan ulang tahun Haeryeong bersama Myungsoo”

Sooyeon terdiam, tidak ada yang bisa ia katakan. “ Baiklah… aku akan datang ke rumahmu, jika mereka menghabiskan waktu bersama, kau harus menemaniku!”

Gongchan tertawa, ia mengacak rambut Sooyeon.

“ tentu, itulah gunanya teman, jangan pikir aku tidak tahu apa-apa tentang hubungan rumit kalian” dan selanjutnya Gongchan meninggalkan Sooyeon dengan rambut berantakan yang ia timbulkan, mengabaikan teriakan kesal Sooyeon karena rambutnya berantakan.

*

*

Sooyeon kembali menekuk wajahnya karena ia sama sekali tidak bisa bersama Myungsoo hari ini. Saat pagi pun ia sudah dipatahkan dengan pesan lain yang diterima Myungsoo, saat jam makan siang ia disibukkan dengan mencari buku di perpustakaan, dan saat pulang ia harus menemui wali kelasnya di jam terakhir. Ia pun tidak bisa meminta Myungsoo untuk menunggunya, itu tidak mungkin. Hanya sebuah kebetulan atau keajaiban jika Myungsoo berangkat bersamanya ke sekolah dan pulang bersamanya meskipun rumah mereka berdekatan.

Ia kembali teringat dengan foto seseorang di ponsel Myungsoo pagi ini. Foto Na Haeryeong saat tiba di bandara, itu artinya gadis itu sudah ada di seoul saat ini. Dan akhir minggu ini Myungsoo benar-benar akan merayakan ulang tahun bersamanya. Ia menundukkan kepalanya dan menggerutu pelan. Ia sendiri bingung dengan perasaannya yang selalu berubah ubah. Di sisi lain ia tahu jika memang  Haeryeong mempunyai perasaan yang spesial dengan Myungsoo, meskipun ia tahu benar jika keduanya tidak mempunyai sebuah ikatan seperti berpacaran, namun ia tahu jika Myungsoo mencintai Hae ryeong, begitu juga dengan gadis itu. Namun kenapa ia takut? Ia selalu takut dan merasa bersalah, Apa mungkin ia mulai benar-benar mencintai Myungsoo.

Ia sendiri tidak tahu betul dengan perasaannya pada pria datar itu, yang ia tahu ia selalu berbuat apa adanya pada pria itu, ia tidak merasa ia melakukan semua itu dengan memaksakan keadaannya. Namun sensorik dan motoriknya otomatis membuatnya untuk melakukan hal itu semua. Ia hanya perhatian pada Myungsoo namun lebih terlihat seperti seseorang yang tidak kenal lelah untuk mengejar perhatian Myungsoo.

“ Aaaghhhtt, “ ia mengacak rambutnya frustasi.

“ Mian_ mian_mian_ aku tidak bermaksud berjanji dan berusaha mengingkarinya” ucapnya lirih.

Ia pun berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Dari wajahnya  sudah bisa ditebak bahwa Sooyeon benar-benar tidak punya semangat hari ini.

“ Kau mirip orang gila”

Dan suara itu mampu membuatnya  sontak mendongak, selanjutnya ia melempar tatapan tajamnya pada pemilik suara itu. Bagaimana mungkin ia dikatakan mirip orang gila, namun detik berikutnya ia sadar kenapa dia mengatakan itu semua. Ia membiarkan rambutnya berantakan dan berjalan tanpa semangat, namun mungkinkah hanya seperti itu membuatnya mirip orang gila?

“ Husby? Bukankah kau sudah pulang? Kau belum pulang ? apa kau menungguku? Aaaahhh kau tahu aku belum pulang dan kau menungguku bukan? Benarkah begitu? Atau kau ingin mengajakku makan siang?” Sooyeon seperti mendapat baterai lagi ketika tahu siapa yang dilihatnya. Ia melupakan tatapan tajam yang sempat ia layangkan pada orang yang mengatakannya mirip orang gila itu. Jika itu Myungsoo ia kan mudah melupakan kekesalannya. Semua orang berani bertaruh itu.

Ia berlari kecil dan berhenti tepat di depan Myungsoo yang duduk di atas montornya.

“ Kau terlalu percaya diri”

“ Lalu untuk apa kau masih di sini? Kau tidak sedang menungguku? Apa kau menunggu orang lain? Kau menunggu seorang gadis? Eoh??”

Myungsoo mendengus, kenapa ia harus bertemu dengan gadis yang suka sekali melemparnya dengan banyak pertanyaan dalam sekali ucap. Tidak ada gadis lain selain Sooyeoon. Ia bisa jamin itu.

“ Aku menunggu Chanyeol, jangan berisik”

Sooyeon mendesis pelan, ia memicingkan matanya dan menggerutu pelan.

“ Bagaimana mungkin kau lebih tertarik pada Chanyeol, kenapa ia selalu menggoda suamiku? “ gerutunya.

“ Hya! Myungsoo_Ya” teriak Chanyeol dari kejauhan. Pria jangkung itu terlihat berlari ke arah mereka. Dan Sooyeon sudah siap dengan tatapan tajam yang siap menerkam Chanyeol karena berani merebut Myungsoo sepulang sekolah ini.

“ wo wo wo” Chanyeol tahu maksud tatapan Sooyeon dan ia berlari kecil mendekati Myungsoo.

“ Apa yang terjadi? Apa kalian bertengkar? Kalian ingin bercerai?”

Myungsoo mengalihkan wajahnya, dunia seperti sebuah drama jika ia bersama kedua manusia ini.

“ Kau selalu menggodanya Park Chanyeo!!! Kau lupa dia suamiku?”

Chanyeol tertawa, ia memukul pundak Myungsoo dan memaksanya untuk melihat bagaimana ekspresi lucu Sooyeon saat memarahinya.

“ Ini urusan antar pria, jangan salah faham Sooyeon_Ah ” jelas Chanyeol.

“ Aku akan marah padamu jika kau terbukti selingkuh dengan Chanyeol Husby” ancam Sooyeon dan hal itu membuat kedua orang itu terdiam dan detik berikutnya mereka tidak bisa menahan tawa.

Chanyeol yang tertawa paling keras, sedangkan Myungsoo memalingkan wajahnya dan tersenyum kecil. Sooyeon benar-benar gila menurutnya.

“ Kau yakin akan melakukan itu? Kau bisa marah pada suamimu ini? Aku akan bertaruh besar untukmu, kau tidak akan melakukan itu”

Sooyeon terdiam, dia memicingkan matanya tajam dan mengerucutkan bibirnya. Ia memalingkan wajahnya dan berjalan melewati mereka.

“ Hya! Apa kau benar-benar marah?” teriak Chanyeol.

Sooyeon berjalan terus mengabaikan mereka.

“ Apa dia marah Myungsoo_ya?”

Myungsoo hanya mengangkat kedua pundaknya, namun matanya masih menatap kepergian Sooyeon.

“ Hya! Ayolah…aku bisa mati jika dia cemburu padaku Kim Myungsoo” Chanyeol merengek dan menghentakkan kakinya, dia lebih mirip perempuan jika menggerutu seperti itu.

Myungsoo mendengus, ia menatap tajam Chanyeol yang bisa dengan ampuh membuat pria jangkung itu terdiam. Ia tahu arti tatapan tajam Myungsoo.

“ Baiklah… kalian sama-sama menakutkan”

*

*

*

Sooyeon sama sekali tidak menggerakkan ujung bibirnya. Wajahnya masih cemberut, bukan berarti ia sedang cemburu pada Chanyeol, namun ia berfikir jika Myungsoo mungkin sedang mempersiapkan ulang tahun Haeryeong.

“ Itu bukan salahnya, apa aku pantas bersikap seperti ini?” ucapnya lirih.

Selanjutnya ia merogoh sakunya dan mengotak-atik ponselnya. Ia mengirimkan pesan permintaan ma’afnya pada Chanyeol. Mungkin Chanyeol sedang salah paham padanya, bagaimanapun ia mendengar Chanyeol berteriak dan ia tetap meninggalkan mereka tanpa penjelasan. Sungguh konyol jika benar-benar marah hanya karena Chanyeol bersama Myungsoo hari ini. Benar-benar konyol.

Ia mendengus, selanjutnya ia mengarahkan pandangannya ke arah jendela bis. Memandangi jalanan Seoul di sore hari mungkin bisa membuat moodnya kembali baik hari ini. Rasanya pundaknya begitu lelah.

“ Omo!” ia menutup mulutnya. Ia beberapa kali mengedipkan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang sedang ia perhatikan sekarang di luar bus yang ia naiki. Bukan berarti ia sedang memperhatikan Reklame tentang Sale belanja tapi dia menangkap sosok yang selalu membuat Moodboosternya, siapa lagi jika bukan Kim Myungsoo.

“ Husby? Dimana pria jangkung itu? “ gumamnya. Ia kembali memusatkan pandangannya dan merapatkan keningnya di jendela. Memastikan bahwa Myungsoo benar-benar mengendarai montornya tepat di sebelah bus yang ia naiki.

“ Eoh…Kim Myungsoo… aku ingin marah padamu…tapi kenapa kau selalu membuatku tidak bisa marah padamu? Jika seperti ini…bagaimana mungkin aku bisa menjauh darimu??”

Sooyeon mengerucutkan bibirnya setelah melihat Myungsoo mempercepat laju montornya dan kini berada di depan Busnya. Ia tidak lagi melihat ke luar jendela, ia menutup matanya sambil menggerutu pelan.

Mana mungkin Myungsoo sengaja mengikutinya …itu hanya kebetulan.

Ia mencoba menghibur dirinya sendiri, tidak baik jika ia terus-terus an berprasangka pada Myungsoo. Itu sangat buruk untuk jantungnya, karena pasti jantungnya akan berdetak tidak normal lagi.

.

Sooyeon berjalan gontai ketika turun dari busnya, rasanya jalanan sepanjang 1 km menuju rumahnya jadi sangat jauh. Ia memandang sayup seseorang dengan montornya yang berada tidak jauh dari tempatnya turun dari bus. Sejujurnya dari jauh ia sudah tahu siapa orang itu. Namun ia sekali lagi meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat mungkin hanya halusinasinya, jika itu Myungsoo mungkin itu hanya halusinasinya.

Ia pun melewatinya tanpa melihat, ia benar-benar yakin bahwa orang itu bukan Myungsoo.

“ jadi kau hanya melewatiku seperti itu? Kau pikir aku hanya poster berdiri disini?”

Sooyeon terdiam, ia menghentikan langkahnya dan menoleh dengan cepat ke sumber suara itu. Mungkin ini berlebihan, tapi memang ia benar-benar berfikir itu bukan Myungsoo. Bukankah dia ada urusan dengan Chanyeol dan yang ia lihat di bus hanya kebetulan?
“ Husby?” Sooyeon berlari kecil mendekati Myungsoo, wajahnya kini sudah berubah dengan wajah cerianya seperti hari-hari sebelumnya.

Sungguh mudah membuat mood gadis ini menjadi baik, hanya Myungsoo, dan kehadiran namja itu bisa membuatnya benar-benar berubah.

“ Cepat naik!”

Sooyeon terdiam, dia hanya memandang Myungsoo yang sudah memakai helmnya kembali. Namun ia tidak juga beranjak untuk naik ke boncengan montornya.

“ Ppaliwa!”

Dan kali ini, ia cepat-cepat naik ke boncengannya.

.

“Apa kau memang menungguku turun dari bus?” Tanya Sooyeon.

Namun ia tidak mendapat jawaban dari Myungsoo, namja itu masih konsentrasi dengan jalanan di depannya.

“ emhh… aku diundang untuk ke rumah Gongchan minggu ini, apa kau_”

“ Aku sudah tahu”

Sooyeon terdiam, ia memainkan bibirnya lalu memulai pembicaraannya lagi.

“ Kau akan mencari kado bukan? Aku juga ingin mencari kado untuknya”

Myungsoo terdiam, ia tetap melajukan montornya, detik berikutnya ia baru sadar bahwa Myungsoo tidak membawanya pulang ke rumah.

“ Apa itu jalan yang mirip dengan jalan rumah kita? Kenapa jalannya berbeda? Apa kita ketempat lain? Eohh… benar juga, kita ke tempat lain, kita mau kemana Husby? “

Myungsoo tetap diam, dan itu tidak membuat surut semangat Sooyeon untuk tetap berbicara.

“ emmmhhh… baiklah…apa kita akan candle light dinner malam ini heumm??? Jika kau tidak menjawab aku anggap itu iya” Sooyeon tersenyum puas.

“ Diamlah! Kau menggangguku”

Sooyeon kembali tersenyum, ia menggeser duduknya untuk lebih ke belakang. Sehingga ia tidak bisa menyentuh Myungsoo, ia lebih  memilih untuk berpegangan pada badan montor dari pada Myungsoo. Dan itu membuat Myungsoo memelankan laju montornya, ia melihat Sooyeon dari kaca spionnya yang menunduk. Namun kemudian ia menanmbah kecepatan montornya yang otomatis membuat Sooyeon sedikit terpental dan mau tidak mau ia berpegangan pada Myungsoo.

“ Kau memang jahat Kim Myungsoo” gerutu Sooyeon, namun sangat sayang baginya untuk melepaskan pegangannya pada pinggang Myungsoo. Pria datar ini sulit ditebak. Mungkin ia suka melihat Sooyeon dengan wajah cemberutnya. Baginya dia sangat lucu ketika cemberut.

*

*

Sooyeon memilih untuk berjalan di belakang Myungsoo ketika ia tahu kemana Myungsoo membawanya pergi. Bukan candle light dinner seperti yang ia sebutkan sebelumnya, namun Myungsoo menuruti kemauannya yang pertama, yaitu mencari kado untuk Haryeong. Ia berpura-pura celingukan melihat-lihat toko toko yang mereka lewati. Myungsoo memang beberapa kali melihat kearah belakang, untuk memastikan bahwa Sooyeon masih ada di belakangnya. Kebiasaan buruk Sooyeon adalah dia suka sekali menghilang tanpa jejak apalagi ketika ia dihadapkan dengan toko-toko yang mereka lewati saat ini. Sooyeon yang fashionable bukan tidak mungkin akan kepincut dengan baju-baju bagus yang terpampang di etalase toko.  Bukan berarti khawatir, namun sangat menyusahkan. Dan ia tidak akan perduli dengan ponselnya ketika ia sedang sibuk dengan kegiatan belanjanya, itu yang membuatnya susah untuk dicari.

Sooyeon menunduk, ia merutuki dirinya sendiri yang menawarkan diri untuk ikut mencari kado bersama. Ia juga merutuki dirinya yang menerima ajakan Gongchan untuk sama-sama merayakan ulang tahun kakaknya. Bagaimana kalau ia kabur sekarang? Ia sudah membayangkan seperti di drama-drama yang sering ia lihat. Tokoh pria mencari kado bersama sahabat yang mencintainya untuk kekasih sang pria. Lalu gambaran bagaimana perasaan hancurnya sahabat itulah yang sedang ia pikirkan sekarang ini.

BUK

Sooyeon menabrak seseorang di depannya, ia mengusap keningnya dan membungkukkan badannya sebagai permintaan ma’af pada orang itu, tanpa melihatnya.

“ Mian” ucapnya.

“ Kau melamun?”

Sooyeon mendongak, orang yang ditabraknya tidak lain adalah Myungsoo. Selanjutnya ia tersenyum kikuk.

“ Berjalanlah di depanku, aku bisa mengikutimu jika kau berbelok ke toko”

“ Shireo! Aku seperti diawasi olehmu”

“ Berjalan di sebelahku, jika kau menolak, aku tidak akan perduli” ancam Myungsoo

Dan kali ini Sooyeon menurut. Jika ia mengingatnya, berjalan di tempat ramai diluar sekolah seperti ini adalah kali pertama yang ia lakukan bersama Myungsoo. Hal bersama yang ia lakukan diluar sekolah adalah ketika Sooyeon berniat mengacaukan dapur Myungsoo dan mau tidak mau mereka membeli makan di luar rumah karena Ahn Ahjuma mengambil cuti. Ini menakjubkan baginya.

Cukup lama mereka berputar di tempat itu, namun hasilnya nihil, mereka tidak menemukan hadiah untuk Hae ryeong. Jika ada, Myungsoo tidak menyukainya. Dan itu membuat Sooyeon kesal, sangat kesal.

Ia kembali berjalan mengikuti Myungsoo, namun kali ini mereka mencari makanan untuk makan malam mereka. Jika Myungsoo bisa menahan lapar sampai di rumah, namun ia ragu jika hal itu bisa dilakukan oleh Sooyeon. Ia sendiri mendengar suara perut Sooyeon. Dan itu artinya gadis aneh itu harus makan.

Myungsoo berhenti tepat di depannya dan lagi-lagi membuat Sooyeon menabraknya.

“ Aahh”

“ kau selalu saja melamun, Pilihlah, kau ingin makan apa?”

Sooyeon terdiam, dia memandang penjual makanan di tempat itu jengah, makanan mereka serasa tidak menggodanya. Ia menggelengkan kepalanya. Tandanya ia menolak untuk memilih makanan di tempat itu.

“ Baiklah… lagi pula jika kau yang memilih makanan, belum tentu rasanya enak” Myungsoo meninggalkannya, ia membulatkan matanya seketika. Kenapa kata-kata Myungsoo selalu menusuk dan dingin. Ia merengut namun tetap mengikuti langkah Myungsoo yang pada akhirnya berakhir pada penjual Ddeokbokki.

“ Kita makan ini malam ini, pastikan kau sedang tidak diet” Myungsoo memesan semangkok besar ddeokbokki di kedai itu.

Sooyeon mengangguk, lalu ia segera duduk di depan Myungsoo.

Tidak papa, bukan candle light dinner, tapi makan malam bersamamu walau sesederhana ini aku senang.

Sooyeon terus mengembangkan senyumnya. Ia memang sangat lapar, namun entah kenapa ia tidak merasakan lapar itu karena rasa sebalnya setelah memilih begitu banyak barang untuk kado HaRyeong namun tidak ada yang bisa mereka beli. Apa Myungsoo tidak tahu jika dirinya sudah berkorban menahan perasaannya?

“ Kau belum dapat kado untuknya, apa tidak apa-apa?”

Myungsoo terdiam, ia beralih pada ponselnya dan mengetik sebuah pesan yang entah ditujukan kepada siapa.

“ Mian, kau kecewa dengan pilihanku yang tidak sesuai dengan selera Haryeong? Mian…aku akan cari kado ku sendiri besok”

“ Apa kau yakin akan datang ke rumahnya minggu ini?”

Sooyeon terdiam, pertanyaan itu seolah menunjukkan bahwa Sooyeon benar-benar tidak ingin melihat kebersamaan Myungsoo dengan Hae Ryeong. Seolah Myungsoo tahu bagaimana perasaan Sooyeon padanya.

“ Emhh… aku akan bersama Gongchan, itu tidak masalah… kau tahu aku selalu sendirian ketika akhir pekan, aku bingung harus melakukan apa, jadi kupikir karena aku mengenal Hae Ryeong dan Gongchan mengundangku, aku bisa datang kesana bersamamu, Jika kau tidak ingin aku ada bersamamu aku bisa meminta Gongchan untuk menemaniku, ahhh aku yakin Chanyeol juga bisa menemaniku, tapi aku tidak bisa membatalkan janjiku untuk tidak datang ke rumah Gongchan” dan benar, penjelasan itu hanya di tanggapi dingin oleh Myungsoo. Ia pun kini sibuk dengan ddeokbokki yang sudah ada di depannya. Ia laham memakan satu-persatu ddeokbokki nya.

“ Makanlah…suara perutmu menggelikan” balasnya…dan selanjutnya hanya ada kediaman diantara mereka. Seperti sedang berlomba untuk menghabiskan ddeokbokki di mangkuk itu. Mereka hanya konsentrasi pada makanan itu.

“ Apa kau marah? Kau tidak ingin aku ada di pesta ulang tahunnya? Aku akan berangkat sendirian, kau bisa ke rumahnya sendiri, anggap saja kau tidak mengenalku”

Myungsoo menghentikan makannya. Ia meletakkan sumpitnya lalu menatap tajam Sooyeon.

“ Bersenang-senanglah, aku tidak akan perduli”

Sooyeon terdiam, ia pun meletakkan sumpitnya. Entah kenapa kalimat Myungsoo ini mampu menembus hati dan bisa mendorong air di matanya untuk keluar. Ia melihat Myungsoo yang melanjutkan kembali makannya. Namun rasanya ia ingin segera pergi dari tempat itu, ia tidak ingin menangis di hadapan Myungsoo hanya karena hal sepele. Ia tidak ingin terlihat bahwa ia terluka dengan kebersamaan Myungsoo dengan Haryeong meskipun itu belum terjadi.

Dan ia pun tidak mampu menahannya, ia meraih tasnya dan pergi begitu saja dari meja itu. Ia berlari kecil ke luar kedai dan berjalan menuju halte terdekat.

Air matanya tidak bisa ia tahan, ia pun menangis di dalam perjalanannya. Entah kenapa hatinya menjadi sakit. Ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Bahkan tahun tahu sebelumnya ia selalu santai ketika Myungsoo bersama Hae Ryeong. Tidak seperti ini, kalimat dingin yang ia anggap biasa itu,  bisa membuatnya menangis seperti ini. Bukankah ia tahu Myungsoo tidak akan pernah perduli dengannya? Namun kenapa kata-kata itu bisa membuatnya seperti ini?

Itu yang harus ia cari, mungkin ia sudah terlalu menyukai Myungsoo. Kebiasaannya yang selalu bertindak sebagai kekasih Myungsoo membuatnya begitu mencintai namja itu. Bukan karena tidak tahu malu ia melakukan itu. Ia sadar jika Myungsoo memang bukan kekasihnya, Ia juga tahu jika Myungsoo dan Haeryeong bukanlah sepasang kekasih, namun yang membuat langkahnya selalu terpagar adalah, ia tahu kenyataan bahwa Myungsoo dan Haeryeong adalah dua orang yang saling mencintai namun tidak bisa bersama untuk saat ini.

Lalu kenapa ia bisa selalu bersama Myungsoo dan bertindak seolah dia adalah kekasihnya? Bertindak seolah dia adalah penguntitnya? Bahkan bukan sebuah perjanjian yang ia lakukan. Ia hanya merasa ia memang perlu menjaga Myungsoo. Hanya itu. Dan ia sendiri yang pada akhirnya bingung dengan keadaannya sekarang.

.

.

Myungsoo meletakkan kasar sumpitnya setelah kepergian Sooyeon. Ia menunduk … ia tidak bodoh, ia tahu Sooyeon hampir menangis di depannya.

“ Kenapa kau selalu seperti ini Jung Sooyeon? Kau selalu menyusahkan” geramnya.

Ia meraih kasar jaket dan kunci montornya. Ia berlari keluar kedai namun ia tidak menjumpai dimana Sooyeon berada.

“ Hfuh.. ia tidak pandai berlari, tapi kenapa ia cepat sekali menghilang?” gumamnya.

Ia berjalan menuju parkiran montornya, Sesekali ia memperhatikan toko toko yang ia lewati, bisa jadi Sooyeon berbelok ke toko itu, meski hanya untuk bersembunyi.

Namun ia tidak menemukannya sampai ia sampai di tempat ia memarkir montornya.

Myungsoo segera meraih ponselnya setelah ia merasa ponselnya bergetar.

Satu panggilan dari seseorang yang sangat ia kenal. Meski ragu ia tetap mengangkat panggilan itu.

“ Yoboseo”

//” Anyeong”//

Myungsoo menunduk setelah mendengar suara itu, suara yang mungkin sangat ia rindukan. Bukannya ia tidak tahu gadis itu sudah datang ke Seoul, bahkan ia tahu sejak ia berada di bandara.

Selanjutnya Myungsoo tersenyum, bagaimana mungkin ia tidak tersenyum ketika mendapat telepon dari seseorang yang dirindukannya.

“Anyeong ryeong_ah”

//“ Kau bisa ke tempat kita oppa?” //

Myungsoo terdiam, ia melihat jalanan dan ia teringat Sooyeon. Bahkan ia belum menemukannya. Ia terlihat berfikir dan ia tahu apa yang harus ia lakukan.

“ Baiklah… tunggu aku”

Myungsoo mematikan teleponnya, ia mengirim sebuah pesan untuk seseorang dan ia segera melajukan montornya.

“ mian…” ucapnya lirih.

Advertisements

5 thoughts on “JUST STAY BESIDE ME |2

  1. Revan_sicababy says:

    Makin suka sm ffnyz , myungsoo klo udah kehilangan sica baru dia berasa nyahonya kali haha

    Kasian banget si jessica disini tp sifatnya itu ngegemesin bgt klo bgini , gw klo jd myungsoo atau chanyeol bakalan seneng banget godain en bikin dia marah2 😀

  2. N0vi says:

    Udah dilanjut FF-nya dan aku bru bs bca krn beberapa hari ini mles bnget bka internet gegara berta my l0vely sica keluar dan aku berusaha untuk nrima semuanya dan ngedukung jessica /m’f curc0l.
    Myungsoo pasti bkalan nyesel kLO s0oyeon jd cuek sm dia bkalan sepi. Dan kyknya g0ngchan suka dech sm s0oyeon iya gk th0r. ??
    Ditunggu next chapternya. FIGHTING

  3. Jessicool says:

    Mungsoo nieh bkn sica melayang & djatuhkn bgtu sja moga ja sica dket ma cwo lain biar mungsoo ngrasain apa yg sica rasain…
    Smg Trz berkarya dngn maincast jessica ya author krna hnya jessica bias q stu2ny d kpop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s