UNCONDITIONALLY/ Chapter 4

Author: S.Y.M

Title: UNCONDITIONALLY

Length: Series

Genre: Romantic, Angst

Rating: G

Cast:

Jessica Jung||Lee Min Ho|| Kim Jong In|| Oh Sehun

jessica1kai2

Support Cast:

Lee Da Hae

Note: Hai lagi… aduh.. aku kog sepertinya ngebut gini posting FF nya. hehehe aku emang lagi ngebut, jadi ma’af banget kalau jadi abal-abal dan semakin Gaje. Soalnya aku takut kedepannya bakalan jarang posting FF karena pindahan.

Semoga kalian tidak kecewa ya.. Kali ini pairingnya adalah Kaisica, dan sedikit Hunsica. Lee Min Ho nya nggak ada di chapter ini.

SELAMAT MEMBACA 🙂

*

*

*

.

__Banyak orang yang beranggapan salah tentang seseorang. Jangan melihat orang hanya sekilas jika kau ingin orang lain memahamimu_

.

.

Jessica terdiam, Kim Jong In pria yang kini sedang melajukan mobil  yang ia tumpangi ini juga terdiam. Suasana canggung telah ia buat selama perjalanan, dan untungnya ia tidak perlu terlalu lama di tempat itu. Jessica sudah tahu kemana Jong In akan membawanya pergi.

“ Apa kau sudah makan?”

Jessica menunduk, ia bahkan lupa kalau ia harus makan. Ia melupakannya karena ia terlalu pusing hari ini.

“ Apa perlu kita makan malam dulu? “

Jessica masih tidak menjawab, sebenarnya ia enggan mengeluarkan suaranya, karena mungkin jika ia bersuara, suara paraulah yang akan terdengar. Ia ingin menangis kali ini.

“ Apa aku berbuat salah?” Kim Jong In ikut menunduk dan  memandang wajah Jessica.

Ya.. aku yang berbuat salah karena terlibat denganmu

“ Perhatikan saja jalanan di depan Jong In_ssi”

Kim Jong In terdiam, ia menghela nafas dan kembali memusatkan perhatian ke jalanan di depannya.

Tak begitu lama kemudian ia membelokkan mobilnya, dan memarkirnya di depan restoran Eropa.

Jessica mendongak, ia melihat Jong In yang melepas sabuk pengaman. Namun dengan cepat ia menahannya. Jong In sedikit terkejut karena tiba-tiba tangan mungil Jessica menyentuh tangannya, ia menahan tangan Jong In yang akan membuka sabuk pengaman mobilnya.

“ Aku tidak ingin makan apapun” ucap Jessica.

Jong In menurut, namun ia yakin Jessica terlihat belum makan sama sekali.

“ Jangan menyiksa dirimu sendiri Jessica_ssi, kau harus makan sesuatu” ucapnya dan ia kembali memasang sabuk pengamannya.

“ Aku akan memasak di rumahmu”

Kim Jong In menoleh seketika, ia ingin tertawa namun ia menahannya, dan akhirnya hanya ukiran senyum yang ada di wajahnya. Sekarang, ada gadis yang ia ajak dinner romantis di restoran Eropa, malah memilih untuk memasak di rumahnya.

“ Baiklah, pastikan kau tidak meracuniku dan kabur dariku” Jong In kembali menghidupkan mesin mobilnya.

Jessica meliriknya tajam, sadar akan hal itu Jong In segera mengemudikan mobilnya dan kembali berfokus pada jalanan di depannya.

.

.

.

Jessica mengikuti langkah Jong In dan masuk ke dalam apartemennya. Sejak sampai di gedung ini, sebenarnya Jong In terus memperhatikan Jessica. Ia tahu gadis itu sekarang masih menolak dengan apa yang ia tawarkan tadi. Dan ia tahu apa yang terbesit di dalam pikiran gadis itu. Ia memahaminya. Jessica berjalan dan ia tahu pikirannya sedang tidak ada di tempat ini. Ia memikirkan hal lain.

“ Dimana dapurmu?” Tanya Jessica.

Kim Jong In mendekat dan hendak melepas jaket mantel yang dikenakan Jessica dan menaruh tasnya di meja. Bahkan Jessica lupa melepas jaketnya. Sekilas ia dapat melihat tatapan kosong Jessica.

Jessica sedikit mundur ketika sadar Jong In melepas tali jaketnya yang ada di pinggang.

“ Gwenchana, kau terlalu takut denganku, aku hanya melepas jaketmu, di tempatku sudah cukup hangat”

Jessica terdiam, ia menahan tangan Jong In dan memilih untuk melepaskan jaketnya sendiri. Jong In hanya menghela nafas, kemudian ia meraih jaket Jessica dan menggantungkannya. Sebenarnya ia khawatir dengan keadaan Jessica.

.

.

Kim Jong In, pria itu memperhatikan Jessica yang  sedang membuatkan makan malam untuknya. Apa yang terjadi padanya sebenarnya membuatnya bingung. Melihat Jessica seperti ini membuatnya sedikit damai dan ia lupa dengan tujuannya untuk bersenang-senang seperti sebelum ia datang ke Club.

Ia tidak pernah diperlakukan seperti ini dengan seorang gadis penghibur, ia melupakan Jessica sebagai seorang gadis penghibur dan ia sudah membayarnya. Ia benar-benar lupa untuk saat ini.

Jessica tersenyum dan menghampirinya di meja makan. Ia meletakkan 2 piring masakan daging yang dibuatnya dan ia mulai duduk di kursi itu.

“ Apa aku boleh memakannya?” Tanya Jessica.

Jong In tertawa “ seharusnya aku yang bertanya, apa kau tidak memasukkan racun dalam makanan ini?”

Jessica mencibir, lalu ia melahap potongan daging yang sudah ia iris.

“ Kita akan keracunan bersama, jika memang aku memasukkan racun pada makanan ini” ucapnya jengkel dan dibalas kekehan Jong In.

“ Kau akan semakin lama berurusan denganku jika benar itu terjadi” balas Jong In.

.

.

Jessica selesai dengan makanannya, dan ia juga selesai membereskan sedikit kekacauan di dapur Jong In saat ia memasak. Selanjutnya ia sedikit ragu untuk mendekati Jong In yang kini sudah menunggunya di ruang tamu.

Ia melangkah pelan, ia melihat Jong In tersenyum padanya namun ia tidak sanggup untuk membalas senyuman itu. Ia menekan dadanya yang bergemuruh karena gugup. Tidakkah kalian tahu ketakutan sudah menghinggapinya? Ya… dadanya bergemuruh karena ia takut pada Jong In. Ia takut karena tidak ada pilihan lain untuknya. Ia ingin kabur, namun jika itu terjadi ia akan mengacaukan semuanya.

“ Duduklah Jessica_ssi” Jong In menunjuk tempat di depannya. Ia juga sudah menyiapkan sebotol minuman beralkohol untuk menemani malam mereka.

Jessica mengambil nafas dalam, ia menguatkan hatinya dan menuruti apa yang diminta Jong In. Ia duduk dan kini ia bisa melihat wajah Jong In yang terus tersenyum kepadanya.

Kau beruntung karena ada pria muda, tampan dan kaya yang mau membayarmu mahal, bahkan dia membayar senilai hutang eonnimu, Kau akan terkena masalah besar jika sampai ia kecewa denganmu.

Kalimat itu terlontar dari seorang wanita yang menamparnya sebelum Jong In pergi membawanya keluar dari Club. Ia sungguh beruntung karena Jong In mau membayar uang yang mungkin kecil baginya, namun ia sendiri kewalahan untuk membayarnya. Ia berhutang budi pada sosok di depannya saat ini. Betapa berat hatinya, dan ia harus membalasnya dengan cara seperti ini.

“ Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Jessica.

Seperti dugaan Jong In, salah satu  yang membuatnya tertarik pada Jessica adalah sifatnya yang seakan menantang dirinya untuk berbuat lebih.

“ Tentu kau harus menuruti semua permintaanku Jessica_ssi” jawab Jong In.

Jessica terdiam, sebenarnya ia masih mencari cara untuk mengulur ulur waktu, agar ia bisa siap menghadapi malam ini, nyatanya ia belum berhasil. Ia mengedarkan pandangannya disudut ruangan itu, dan ia melihat papan permainan kecil dan terbesit ide di kepalanya.

“ Apa aku boleh mengajukan sesuatu?”

“ Apapun itu”

“ Kau tahu aku _ any_ aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya dan aku terpaksa karena kau membayar pada Jung So. Aku sulit melakukannya, namun aku yakin kau tidak akan mema’afkanku jika aku menolakmu”

“ Kau bicara apa Jessica_ssi?”

“ Dengarkan aku, a_aku ingin membuat suatu permainan”

Kim Jong In mengangkat sebelah alisnya, lalu ia terkekeh dan ia mengangguk sebagai tanda persetujuan dengan hal yang diminta Jessica.

“ Kita akan lakukan Dart Game itu, Siapa yang melempar anak panah kearah Dartboard dan mendapat nilai lebih kecil dia akan mendapat hukuman”

Sebenarnya Jong In sedikit ragu, namun pada akhirnya ia mengiyakan permintaan Jessica. Permainan itu sangat mudah baginya. Sepertinya Jessica salah menantangnya.

Jessica menghela nafas karena Jong In menyetujui permainannya, ia sendiri ragu apakah ia bisa melakukan itu, ia hanya sering melakukannya saat ia sedang marah namun ia yakin jika ia bisa melempar dengan benar.

“ lalu apa hukumannya”

“ Setiap lemparan siapa yang mendapat nilai lebih kecil akan melakukan apapun yang diminta oleh nilai yang lebih tinggi”

Jong In tersenyum, dan ia kembali mengangguk.

“ Lalu aku akan menentukan hukumanku untukmu setiap nilaimu lebih kecil”

Jessica meneguk salivanya, ia harus mengiayakannya.

“ Kau harus meminun ini dan melepas pakaianmu setiap nilaiku lebih tinggi “

Jessica melebarkan matanya, selanjutnya ia menunduk, ia ingin protes dan tidak terima dengan hukuman itu, namun pada akhirnya itu akan terjadi malam ini.

“ Eotte?” Tanya Jong In, ia masih menantikan jawaban Jessica. Bukankah ia megatakan Jessica salah menantangnya? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Jessica?

Dengan gerakan kecil Jessica mengangguk, tandanya ia setuju. Dan ia berdiri untuk memulai lebih dulu melempar anak panahnya, Jong In mengikutinya dari belakang.

Kini Jessica sudah mulai mengayunkan tangannya. Ia melempar anak panahnya ke Dartboard. Dan raut wajah tegangnya sedikit surut ketika ia tahu angka yang ia dapat di Dartboard, anah panahnya mendarat di angka 7. Kim Jong In hanya tersenyum, angka yang cukup tinggi untuk dilampaui. Ia tidak menyangka Jessica bisa melempar dengan baik di lemparan pertamanya. Jessica mempersilahkan Jong In untuk memulai permainannya.

HAP

Jessica menutup matanya, ia baru saja melihat di angka mana lemparan Jong In mendarat, dan itu melebihi angkanya, artinya ia kalah pada lemparan pertamanya.

“ Eotte? Aku lebih unggul” Jong In menyeringai, sedangkan Jessica sudah mengerutkan keningnya.

“ Baiklah…  apa hukumanku?”

“ Aku punya sebotol minuman untuk dihabiskan, kau bisa melakukannya?”

Jessica melirik botol minuman yang terletak di meja, ia mendengus, mana mungkin ia menghabiskan satu botol itu?

“ Minum satu gelas penuh, aku tidak akan membiarkanmu meneguk satu botol minuman itu sendirian, alkoholnya terlalu tinggi untukmu” cegah Jong In sebelum Jessica melakukan hal bodoh itu.

Tangan Jong In terhenti ketika Jessica meraih gelas yang ia pegang, Jessica sendiri yang akan menuangkan minuman itu ke dalam gelas.

Sedikit mengejutkan karena Jessica menuangkannya di gelas penuh, dan Jong In mulai khawatir ketika Jessica mampu meminumnya dalam sekali angkat.

“ Gwenchana?” Tanya Jong In, tangannya memegang pundak Jessica yang hampir kehilangan keseimbangannya.

Ia tahu Jessica tidak pernah minum dengan kadar tinggi sebelumnya, wajar jika ia dan tubuhnya akan kaget. Dia terlalu terburu-buru.

Jessica menjauhkan tangan Jong In, ia mengangguk sebagai tanda ia baik-baik saja. Lalu ia meraih satu anak panah lagi untuk melanjutkan gilirannya.

Tak…

Jessica mendapat angka yang lebih rendah dari sebelumnya, dan itu sukses membuatnya frustasi. Ia melihat Jong In yang Nampak tenang dan mampu mengendalikan permainan itu. Semoga angkanya lebih kecil.

Tak…

Sang dewi memihaknya, do’anya untuk lemparan kali ini dikabulkan, Angka yang diperoleh Jong In tidak lebih tinggi darinya. Dan ia bisa meminta sesuatu pada Jong In.

“ Lalu apa hukumanku?”

“ Kau harus membebaskanku” ucap Jessica.

“ Shireo! Kau curang! Bahkan kau belum melempar lemparan terakhirmu, seharusnya permintaan itu kau simpan hingga permainan ini berakhir”

Jessica terdiam, permintaannya memang terlalu terburu-buru. Terlihat sekali ia enggan untuk melanjutkan mala mini bersama Jong In.

“ Baiklah… setidaknya bebaskan aku untuk malam ini, aku tidak ingin melakukan apapun denganmu kecuali menemaimu, hanya menemanimu” pintanya.

Kim Jong In terkekeh, ia berdehem kecil lalu memberikan anak panah untuk lemparan ke-tiganya.

“ Aku akan turuti itu jika kali ini kau kembali mendapat angka lebih tinggi”

Jessica menyanggupinya, ia terlalu percaya diri karena ia bisa melempar dengan baik.

Tak…

Angka yang lebih tinggi, ia berada di angka 8, dan Jong In segera melempar anak panahnya.

Tak…

“ eotte?” Jong In tersenyum, dan Jessica menutup matanya. Ia menggerutu kesal karena kali ini Jong In lebih tinggi darinya.

“ Minum satu gelas lagi dan lepas salah satu pakaianmu” pinta Jong In.

“ Mwo?!” mata itu membulat sempurna,

Ia memperhatikan pakaiannya, dan malam ini ia memakai dress panjang selutut dan stocking berwarna kulit. Lalu apa yang harus ia lepas?

“ Aku yang menang” Jong In tersenyum puas.

Jessica membuang muka, ia meraih botol minuman dan meminumnya kasar, selanjutnya ia melepas stocking panjangnya.

“ Lemparan ke-4”

Dan ia berdoa, ia bisa mencapai titik tengan dari Dartboard itu. Harus.

Tak…

Angka mendekati sempurna, ia mendapat angka 9 saat ini dan ia harus lebih berhati-hati dengan Jong In. ia tidak mau menanggalkan pakaiannya jika kali ini Jong In lebih tinggi. Tidak , jangan sampai.

Tak…

Di angka yang sama. Dan Jong In kembali tersenyum padanya.

“ Kita Seri, eotte? Apakah harus ke lemparan ke-5?” tawar Jong In.

Jessica mengangguk, sebenarnya ia juga sudah terpengaruh oleh alcohol yang diminumnya. Ia meraih anak panah yang diberikan Jong In untuk lemparan terakhirnya. Sesekali ia cegukan, dan kepalanya mulai pusing. Ia memusatkan konsentrasinya pada titik tengah Dartboard. Ia tidak boleh meleset.

Tak…

Jessica menutup matanya. Ia yakin bukan titik tengah yang ia dapatkan, namun angka lebih kecil dari itu. Sialnya dugaannya benar. Ia masih bertahan di titik angka 9. Dan kini giliran Jong In yang melempar.

“ Berdo’alah sesuatu Jessica_ssi” goda Jong In. Selanjutnya ia melempar panahnya.

Tak…

sempurna

Angka sempurnya karena Jong In mampu berada di titik paling tengah Dartboart itu. Jessica mengumpat kecil. Ia memegangi belakang kepalanya dan sedikit menarik rambutnya sendiri.

Sial…

“ Lakukan seperti yang kita sepakati “ pinta Jong In.

Jessica mengambil nafas dalam. Ia begitu malu pada dirinya sendiri, kenapa ia berada di posisi seperti ini? Kenapa ia mengambil jalan seperti ini? Kenapa ? kenapa?

Ia mulai dengan melepas stocking yang ia pakai, sesekali ia melirik Jong In yang sedang memperhatikan kegiatannya.

Sebenarnya Jong In sendiri tidak menyangka jika Jessica begitu berani melakukan hal itu. Seharusnya Jessica tidak berjanji apapun padanya. Dia tipe gadis yang akan menepati janjinya, dia benar-benar tipe gadis penantang yang bisa membuatnya semakin tertantang padanya.

Ting_tong_

Kegiatan Jessica terhenti, ia masih melepas sebelah stockingnya, Jong In pun segera menuju ke pintu rumahnya, dilihatnya dalam monitor siapa yang datang menemuinya mala mini, ia tidak ingat jika mempunyai janji dengan orang lain selain Jessica.

anyeong!!!”  suara itu terdengar cukup jelas, terlihat seorang gadis yang melambaikan tangan di monitor itu, dan Jong In segera melirik Jessica yang masih terdiam di tempatnya.

Klek..

Pintu itu terbuka, bukan Jong In yang membukanya, melainkan gadis itu.

“ Anyeong.. Kim Jong In! aku tidak menyangka password rumahmu masih sama, aku tidak sengaja menekannya” Gadis itu memeluk Kim Jong In, sedangkan Kim Jong In masih terdiam. Kedatangan gadis itu membuatnya terkejut, ia benar-benar tidak menduganya.

Jessica yang menyaksikan itu segera menyembunyikan stockingnya di balik bantal kursi di sebelahnya. Ia gugup sekaligus marah, entahlah… ia merasa malu dan juga tidak terima karena Kim Jong In tidak hanya mengundangnya, namun juga ada gadis lain yang ia undang.

“ Jin Ah noona” ucap Jong In lirih.

Gadis bernama Jin Ah itu melepaskan pelukannya, dan kali ini ia baru menyadari ada gadis lain di tempat itu. Tatapannya seketika menjadi datar, sedangkan Jessica yang merasa tidak nyaman segera menghampiri Jong In.

“ Aku harus pergi Jong In_ssi” Jessica membungkukkan badannya dan segera menyisir ke pintu yang masih terbuka itu.

Kim Jong In tak menanggapinya, ia hanya menatap Jessica dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebenarnya ia ingin mengantarkan Jessica dan meminta ma’af padanya karena malam ini kacau olehnya. Namun gadis di depannya kini membuatnya harus diam dan membiarkan Jessica berlalu begitu saja.

“ Kau masih sering melakukannya?” Tanya Jin Ah.

Kim Jong In hanya tersenyum, ia menuju ke meja lain di ruangan itu. Dan mengambilkan sebotol minuman untuk Jin Ah.

“ eotte? Aku tertangkap basah bersama gadis lain oleh mu, apa kau marah sekarang?” kata Jong In seraya menuangkan minuman di gelasnya.

Gadis itu hanya tersenyum simpul, “ Aku tahu kau hanya bermain-main dengannya, aku tahu kau hanya mencintaiku” selanjutnya ia meminum wiskey yang dituangkan Jong In.

Menangapi hal itu Jong In hanya terkekeh. Ia memalingkan wajahnya dan menangkap sebuah benda di bawah meja tempatnya bersama Jessica tadi.

Ia mendongak dan mengumpat kecil ketika ia juga mendapati jaket Jessica yang masih tergantung di tempatnya. Jessica meninggalkan sepatu dan jaketnya, dan itu sukses akan membuat tidur Jong In menjadi buruk malam ini. Manamungkin ia tega membayangkan gadis itu kedinginan tanpa jaket dan sepatunya. Sedangkan ia juga tidak mungkin pergi menyusulnya selama Jin Ah ada di tempatnya.

*

*

*

“ Dia pikir dia siapa? Kenapa dia mengundang gadis lain sedangkan aku bersamanya, aishhhh…. Dia memang terlihat bukan namja yang baik” Jessica terus menggerutu.

Ia memijit pergelangan dan telapak kakinya. Ia  juga begitu bodoh karena meninggalkan sepatu dan jaketnya di rumah Jong In. Mungkin karena ia sedikit terpengaruh alcohol yang diminumnya tadi, sekarang ia pun sudah terlalu malam untuk kembali ke rumah sakit. Ia melihat anak tangga yang masih panjang jika ia ingin sampai di rumahnya. Ia bersandar pada dinding dan meluruskan kakinya dengan duduk di anak tangga itu. Dia menggumam kecil, kenapa pula ia harus menggerutu ketika Jong In membawa gadis lain selain dirinya, bukankah malam ini ia kembali selamat? Malam ini ia masih terbebas dengan dosa besar yang hampir ia lakukan? Oh…langkahnya saja sudah merupakan dosa baginya. Ia harus banyak berterima kasih dengan keadaannya yang masih selamat setiap malamnya.

“ Dia memberikan password itu padanya, apa mungkin dia kekasihnya?” ia kembali bergumam. Selanjutnya ia menggelengkan kepalanya.

“ Jessica… kenapa masih memikirkan gadis itu dan Jong In?” ia memukul kepalanya sendiri.

Detik selanjutnya ia kembali termenung, meski Jong In selalu menggodanya. Namun namja itu sudah begitu baik membantunya, tidak ada alasan lain selain membalas kebaikannya yang mau membayarkan hutang Da Hae. Hanya saja mungkin caranya yang salah. Ia juga sangat salah dalam mengambil langkah. Namun apa ada cara lain? Jika saja ia mau bernego dengan Jong In, dan andai saja Jong In adalah orang mudah untuk diajak kerjasama. Ia mempunyai rencana untuk membayarnya dengan uang dengan jumlah yang sama.

Oh tidak… ia juga berjanji hal yang sama pada Oh Sehun, anak kecil itu. Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya. Ini sudah lewat 5 hari dari yang ia janjikan. Ia tidak berharap banyak kebaikan dari pria itu. Oh Sehun pasti akan mencarinya untuk menagih janjinya.

“Owhh… sampai kapan kau akan terus begini Jessicaaa!!! Kenapa kau terus membuat masalah? Kenapa kau baru menyadarinya???” Jessica mengacak rambutnya frustasi.

“ Lee Min Ho, Kim Jong In, Oh Sehun… baiklah…jangan ada lagi,  kau harus hadapi mereka satu persatu” ia menenagkan dirinya sendiri.

Selanjutnya ia dengan sempoyongan berusaha berdiri dan melanjutkan perjalanannya untuk sampai di rumahnya, ia harus istirahat malam ini.

*

*

*

Jessica berlari menelusuri lorong rumah sakit sampai akhirnya ia sampai di ruangan Da Hae. Ia menghela nafas ketika melihat suster sedang merapikan tempat tidurnya, itu artinya Da Hae sedang ada di ruangan lain untuk Therapi. Ia pun segera menyusul kakaknya itu.

Ia sedikit lega karena Da Hae sekarang sedang dalam tahap awal Therapinya, ia harus berterima kasih kepada Dr Park yang sangat baik membantunya. Ya.. ia harus lebih banyak mendapat belas kasihan dari orang-orang sekitarnya untuk membantunya bersama Da Hae. Ia menitipkan pesan kepada asisten Dr Park, Ia mengucapkan terima kasihnya dengan meninggalkan pesan dalam secarik kertas.

Gomawo … aku akan mentraktirmu nanti… tolong jaga eonniku, aku ada urusan. Hatiku tenang jika dia menurut dengan intruksimu”

Seperti itulah yang ia tulis pada kertas itu. Ia berencana untuk ke Perusahaan besar yang ia datangi saat itu. Kali ini ia berpakaian lebih rapi, dan ia juga sudah menyiapkan CV Lamarannya.

“ Apa aku sudah cukup rapi?” Tanya Jessica pada salah satu suster yang melewatinya. Suster itu mengangguk sambil tersenyum. Dia mengatakan bahwa seharusnya ia menata rambutnya, ia harus menggelungnya agar terlihat lebih rapi.

Ia pun menuruti nasehat suster itu. Jika kali ini ia berhasil, setidaknya ia bisa menebus jam milik Oh Sehun dan urusannya dengan satu namja itu selesai. Itulah rencananya.

*

*

*

Jimin menatap Sehun miris, ia sedikit ragu untuk menuruti permintaan Sehun. Sementara Sehun terus meyakinkannya untuk melakukan apa yang ia minta.

“ Atau kau ingin aku membuat kekacauan seperti biasanya? Ayolah… ini sudah menjelang pagi, kau ingin aku melakukannya?” ancam Sehun.

Jimin menghela nafas, dia berfikir Sehun memang selalu gila jika membuat sebuah permintaan. Bahkan tidak dalam pengaruh alcohol pun ia tidak bisa waras dalam berfikir. Bagaimana tidak, Sehun memintanya untuk memukulnya sampai memar, ia meminta Jimin untuk memukulnya walaupun sampai ia tidak bisa berdiri lagi dan memintanya untuk membawa ke rumah sakit. Intinya.. sehun memintanya untuk memukulnya agar ia punya alasan untuk ke rumah sakit.

Jimin mengeratkan genggamannya, dari pada ia membuat kekacauan. Akan lebih baik ia yang memukul Sehun, setidaknya ia hanya berurusan dengan pihak rumah sakit dan tidak berurusan dengan kepolisian lagi.

BUK

BUK

BUK

“ Aaaaght”

“ Gwenchana?”

“ Lakukan dengan serius!! Kenapa pukulanmu sangat lemah!”

BUK

BUK

BUK

“ Ughtthhh”

*

*

*

Jessica mengayunkan kakinya dengan ceria pagi ini, mungkin karena pengaruh percaya dirinya karena ia akan melamar pekerjaan di perusahaan besar yang ia datangi saat itu. Sejenak ia melupakan Kim Jong In dan tanggungan yang dibebannya. Ia ingin berkonsentrasi dan berhasil hari ini. Seperti itulah yang ia pikirkan pagi ini.

Mungkin karena ia sering mondar-mandir di rumah sakit ini, maka  tidak salah jika ia mengenal beberapa suster yang merawat Da Hae dan pastinya adalah petugas administrasi. Ia melewati tempat itu setiap menuju ruangan Da Hae, dan ia juga sering menjanjikan jangka waktu untuk membayar biaya rumah sakit Da Hae, mungkin mereka sangat menghafas Jessica karena itu.

Namun kali ini, langkahnya tercekat setelah melihat seseorang yang melambaikan tangan padanya.

“ Oh Sehun?”  Mata Jessica terbuka lebar, bukan karena tiba-tiba ia bertemu Sehun di rumah sakit ini lagi. Namun karena keadaan Sehun yang sedikit parah. Di wajahnya banyak memar dan berwarna merah, ia juga membalut kepalanya dengan perban. Dan kenapa disaat wajahnya begitu buruk seperti itu Sehun bisa tersenyum padanya?

“ Apa yang terjadi? Apa kau di rampok? Kau dipukuli? Atau kau membuat mereka memukulimu? Ahh… kau memang menjengkelkan, mungkin karena itu mereka memukulimu, apa ini sakit? Aihhh kenapa wajahmu sangat buruk?”

Sehun menatapnya jengah, persis seperti pertemuan awal mereka, Jessica terlalu banyak bertanya tentang keadaan yang menimpanya.

“ Permisi, dia yang membayar tagihan rumah sakitku” tiba-tiba saja Sehun menarik Jessica dan menunjukkan wajahnya pada petugas administrasi.

“ Jessica_ssi, apa hubunganmu dengannya? Apa kau walinya?” Tanya salah satu petugas yang memang mengenal Jessica.

Jessica mengernyit, ia melirik tajam Sehun yang malam melempar Smirk padanya.

“ Ayolah.. aku tidak punya sesuatu untuk digadaikan, kau belum mengembalikan jam ku, jadi kau harus membayar tagihan rumah sakitku noona” Sehun tersenyum simpul.

Jessica memejamkan matanya, bagaimanapun Sehun memang pernah membantunya. Namun kenapa anak kecil ini begitu menyebalkan. Kenapa harus dengan cara seperti ini?

“ Di_dia..ad_”

“Aku namjachingunya” Sehun tersenyum lebar dan detik berikutnya memegang pipinya yang masih bengkak, seharusnya ia tidak perlu banyak tersenyum, namun melakukan hal ini pada Jessica membuatnya bahagia. Ia ingin tertawa keras jika saja pipinya tidak memar.

Jessica mengernyit, ia ingin memukul kepala Sehun namun melihat perban yang melingkar di kepalanya ia mengurungkan niatnya.

“ Jangan mengatakan hal yang aneh anak kecil”

“ Sudah kubilang jangan memanggilku anak kecil, bayarlah! Dan temani aku”

Jessica mendengus. Ini masih pagi dan Sehun merusak moodnya, dan oh tidak… ia harus ke perusahaan itu segera, lalu apa yang harus ia lakukan dengan Sehun?

*

*

*

Sehun tersenyum puas, namun pipinya masih bengkak dan ia tidak bisa tersenyum lebar kali ini. Melihat Jessica yang terus merengut disampingnya membuatnya tak berhenti tersenyum.

“ Aku harus pergi” kata Jessica.

“ Bukankah aku memintamu untuk menemaniku?”

“ Aku tidak bisa, ini masih pagi dan aku punya kegiatan sendiri”

“ Kau menolakku? “

Jessica menatap Sehun, dan entah sejak kapan Sehun sudah memasang wajah melas padanya. Membuat Jessica kembali memalingkan wajahnya. Wajah babak belur Sehun saja sudah membuatnya iba, apalagi wajah melas yang ia pampang sekarang.

“ Apa kau tidak bisa membantuku kali ini saja? Tidak ada yang merawatku , kau tahu aku seperti ini. Tangan kananku tidak bisa digerakkan, aku sendirian lalu…”

“ Kau tidak punya asisten rumah tangga?”

“ Any… itulah sebabnya aku memintamu untuk menemaniku hari ini”

“ Apa kau memintaku karena aku mempunyai hutang padamu? Kau tidak punya teman lain ? Aku harus pergi, kau tahu… aku sedang berusaha melunasi jam itu, aku harus mencari pekerjaan hari ini”  Ucap Jessica sedikit mengomel.

Sehun terdiam, tangan kirinya berusaha mengeluarkan sesuatu di saku celananya.

“ ini peganglah… kali ini aku mema’afkanmu, aku kembalikan ponselmu. Jika kau selesai dengan urusanmu kau harus datang menemuiku. Kau satu-satunya yang aku minta untuk merawatku hari ini. Tidak ada yang akan perduli denganku. Aku akan menganggap hutangmu lunas jika kau mau” Sehun menyerahkan ponsel Jessica padanya.

Jessica masih bingung dengan perubahan sikap Sehun yang malah terlihat menyedihkan, ia mendengar apa yang dikatakan Sehun adalah kejujuran. Ia memang terlihat kesepian. Siapa yang tega melihat keadaannya yang buruk itu sendirian di apartemennya.

Jessica menerima ponselnya, namun Sehun terburu-buru meninggalkannya tanpa mendengar jawaban dari Jessica.

“ Eotte? Apa itu artinya aku harus datang? Dia tidak memberiku kesempatan untuk menjawab”

Jessica meniup poninya dengan keras. Ia mendesis kecil. Bahkan hari ini pun ia tidak bisa bernafas bebas. Setelah menyelesaikan urusannya untuk melamar pekerjaan, dia harus ke apartemen Sehun dan merawatnya yang terlihat menyedihkan itu.

TBC

Advertisements

5 thoughts on “UNCONDITIONALLY/ Chapter 4

  1. jung lee says:

    annyeong , aku udah baca ff kamu yang sebelum nya tapi coment aku gak pernah bisa masuk . mudah mudahan yang ini masuk 🙂
    aku suka cerita nya , apalagi sica direbutin 3 cowo . tapi kaya nya minho mulai suka deh sama sica . di lanjut nya jangan lama lama ya and panjangin lagi dong cerita nya , ini kurang panjang 😀

  2. Revan_sicababy says:

    Passs main anak panah sama jongin gw jadi inget jessica main gtuan ama krystal di J&K yang gagal total ngelemparnya ga pernah berhasil , itu cukup bikin gw ngakak seberapa payah nya dia dalam hal melempar haha

    Tapi weesstt disini gw salut dia jagoo ngelemparnya ampe angka 9 , ahaha
    Urusan nya makin runyem , sehun demi bsa dket ama sica jd rela babak belur . Ceritanya menarik banget dedek farah , lanjoott dah , minho kabarnya gmana tuh haha

  3. Jessicool says:

    Sica lg2 aman gra2 da cwe dtng tp ko sica agak mrah gtu ya jngan2 cmburu lg???Sehun gila bngtz mo brtmu ma sica ja rela dgebukin dlu….. Jd mkn penasaran ma kelanjutanny..,

  4. N0vi says:

    Haduhhh hampir sja jessica pasti tdk terselamatkan kLo gk ada pcrnya j0ngin yg datang. . . .
    Dan itu lucu dech th0r pas sehun nyuruh jimin mukul dia cuman buat dia bs ketemu sica. . .
    Penasaran sm next chapternya yg versi LEE MINHO . . Auth0r FIGHTING. .

  5. choonheessi says:

    hai author, aku readers baru nih 😀
    salken ya…

    sebenernya aku udh baca ff ini dari cp.1 tapi baru bisa komen di chapt4 ini karena kebetulah lagi on pc…
    ffnya bangus banget thor!
    feelnya juga dapet banget,
    cpt5 aku tungu yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s