UNCONDITIONALLY/ CHAPTER 2

Author: S.Y.M

Title: Unconditionally ~Beautiful You

Length: series

Genre: Romantic, Angst

Rating: PG16

Cast:

Jessica Jung

jessica

Lee Min Ho

lee-min-ho_1394576257_af_org

Support Cast:

Go Hara

go hara 2

Lee Da Hae

.

.

 

Sekretaris Soo mengotak- atik ponselnya, sementara Min Ho juga sibuk dengan ponselnya sendiri. Dia mendapat kabar dari pesan yang ia terima, lengkap dengan foto seseorang di bandara. Mungkin ini kejutan kecil baginya, dan juga Min Ho jika ia tidak mengatakannya sekarang. Namun ia sendiri ragu, perlukah ia mengatakannya pada Min Ho kabar ini? Jika menyangkut seseorang ini, ia harus lebih mempersiapkan mental untuk menghadapinya.

“Nona Hara sampai di Seoul hari ini, apa anda sudah bertemu dengannya?” Ini pertanyaan bodoh baginya. Ia sangat tahu apa jawaban direkturnya itu. Mereka pasti belum bertemu.

“Apa aku perlu melakukan itu? Dia akan menemuiku, dia pasti menemuiku” dan itulah jawaban sang direktur, seperti yang ia duga

.

.

Jessica menunggu cukup lama di depan gedung apartemen Min Ho. Ia sudah mencoba untuk masuk ke dalam apartemen, hanya saja ia tidak bisa begitu saja karena ia tidak mempunyai janji dengan Min Ho. Lagi pula Min Ho tidak ada di apartemennya.

Wajahnya berubah cerah ketika ia melihat mobil sport warna merah yang masuk ke area parker apartemen dan ia segera masuk ke gedung apartemen. Kali ini ia bisa mengatakan bahwa ia punya janji dengan Min Ho. Walaupun sebenarnya janji itu sudah terlewat saat Sehun membawanya pergi.

 

“Min Ho_ssi…” Jessica berlari kecil setelah melihat sosok yang ia cari. Ia kembali memastikan bahwa ia tidak terlalu malam untuk datang ke rumah orang. Dan juga ia harus segera kembali ke rumah sakit.

Lee Min Ho yang mendengar seseorang memanggil namanya segera membalik, dan mencari sosok yang memanggil namanya. Sebenarnya ia hafas suara kecil itu. Suara itu adalah milik Jessica. Seperti yang ia duga…namun ia tidak menyangka Jessica akan datang ke tempatnya secepat ini, Ia hanya membayangkan Jessica akan meneleponnya seperti saat itu.

Jessica memperlambat langkahnya ketika ia mendapati sosok cantik yang berjalan dari arah belakang Min Ho berdiri, ia melihat gadis itu memeluk Min Ho dari arah belakang.

Min Ho sedikit terkejut dengan tangan yang tiba-tiba melingkar di dadanya. Firasatnya mengatakan orang yang memeluknya adalah Hara. Itu sangat jelas ketika ia melihat Jessica memutar balik padahal ia tinggal beberapa langkah lagi tepat di depan Min Ho.

“OH…Kau tidak beruntung kali ini Jessica” runtuk Min Ho.

“Anyeong!” sapa gadis itu lembut, tangannya masih melingkar pada Min Ho. Membuat Min Ho kesulitan menekan tombol untuk memasukkan password rumahnya.

“Kau tidak memberiku kesempatan untuk masuk ke rumahku sendiri?”

“Any…aku terlalu rindu, biarkan ini beberapa saat, kau selalu menolakku Oppa!” Hara mengeratkan pelukannya.

Sementara Jessica yang tak jauh dari tempat itu, mengurungkan niatnya untuk menemui Min Ho. Dia sadar diri, meskipun ia sangat ingin meminta ma’af dan tidak ingin membiarkan rasa bersalahnya berlarut, tapi ia tidak mungkin muncul begitu saja di depan dua orang itu. Jika gadis itu adalah kekasih Min Ho. Dia akan semakin membuat Min Ho malu karenanya.

“Baiklah…kenapa kau membuatku berurusan terlalu lama dengan dia Tuhan…” ia mengacak rambutnya dan melangkah pergi dari tempat itu.

Min Ho melirik tempat ia melihat Jessica. Dan ia mendapati seseorang berjalan menjauh dari tempat itu. Jessica pergi dari tempatnya, selanjutnya ia melihat Hara yang masih enggan melepas pelukannya.

Ia menghela nafas, itu sudah pasti dilakukan Jessica ketika melihat ia bersama gadis lain, kenapa terbesit kekecewaan padanya?

“Aku lelah, kau tidak kasihan padaku, hem?” Min Ho melepas perlahan tangan yang melingkar padanya, dan mau tidak mau Hara menurut padanya.

“Baiklah…berjanjilah kau menyambutku malam ini” Hara mendahului Min Ho ketika pintu apartemennya berhasil terbuka.

Lagi-lagi Min Ho hanya menghela nafas.

“Aku hanya punya beberapa botol anggur, jangan berharap ada minuman kesukaanmu, karena aku tidak menyediakan minuman beralkohol tinggi di rumahku” ia melangkah mengikuti Hara yang menelusuri rumahnya dan berakhir pada meja bartendernya.

“Benarkah? Lalu temani aku untuk minum itu malam ini, kita ke bartender professional” Hara melonggarkan dasi Min Ho, dan ia memperhalus kalimat bartender professional yang berarti mereka harus ke Club malam ini.

Min Ho menyeringai, ia baru saja kembali dari Club itu, dan berakhir dengan kejadian memalukan karena Jessica tidak berhasil ia dapatkan malam ini, ia sudah kehilangan minat untuk pergi kemanapun malam ini.

“Minumlah apa yang ku punya, dan aku akan menemanimu sampai kau tertidur” dan itu keputusan Min Ho.

Go Hara, gadis itu menyeringai gembira, ia menhela nafas panjang disertai senyumnya yang sumringah. Ia sungguh beruntung karena Lee Min Ho mau menemaninya.

“itu artinya aku akan tidur di apartemenmu”

“Kau bisa tidur di kamar yang kau inginkan”

“Tentu di kamarmu Oppa”

“ Kau tidak pernah bosan memilih kamarku sebagai tempat tidur mu”

“Karena aku tahu kau tidak akan melepaskan kamarmu begitu saja”

Min Ho terenyum simpul dan hanya menatap datar Hara. Tidakkah ia tahu keadaannya tidak akan seperti itu?

_________UNCONDITIONALLY______

Jessica menunggu di depan loket pembayaran rumah sakit. Ia terlalu pagi untuk datang ke rumah sakit, sementara Da Hae belum juga sadar, ia memilih untuk menunggu di luar kamar. Semalam ia mendapat sedikit bantuan dari rekening Da Hae. Ia beruntung pernah menghafal pin Da Hae sehingga ia bisa mendapat uang dari rekeningnya. Untuk saat ini berterima kasih karena Jung So, mau memberikan hak Da Hae karena telah bekerja untuknya. Uang itu sudah cukup untuk mencicil biaya rumah sakit dan pengobatan Da Hae selama ia di rumah sakit. Setidaknya ia bisa mempunyai beberapa hari untuk mencari sisanya.

Rasanya kantuk tidak mampu menahannya untuk tetap berfikir, semalam ia sudah memutuskan untuk menyerahkan dirinya pada Min Ho. Namun ia beruntung karena lagi-lagi ia gagal melakukan itu. Saat ini PR terbesarnya adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk biaya pengobatan Da Hae, tanpa mengandalkan dirinya yang menggantikan pekerjaan Da Hae sebelumnya. Setelah apa yang ia alami semalam.

Itu artinya dia harus mencari tempat untuk bekerja.

.

.

Jessica masuk ke ruangan itu dengan senyum yang mengembang, sementara para perawat telah selesai membersihkan Da Hae mereka berpamitan untuk keluar dari ruangan.

Kali ini Da Hae sudah semakin menurut, mungkin karena berulang kali ia telah mendapat penanganan dan obat penahan rasa sakit yang diberikan dokter untuknya. Ia sering merasa sakit luar biasa pada kepalanya, dan itu sangat mengganggu emosinya. Wajar jika ia mudah marah dan memberontak pada Jessica.

“Kau semakin terlihat baik-baik saja, apa kau sengaja?” Tanya Jessica, disertai seringaian khasnya yang membuatnya terlihat manis diantara wajah kantuknya pagi itu.

“Kau semakin suka saat aku terlihat semakin buruk?”

“Ayolah…aku tidak seburuk itu, aku tidak terlalu membencimu, aku harus melihatmu tetap hidup eonni” Jessica kembali tersenyum, ia membuka korden jendela kamar itu lebih lebar sehingga terik bisa lebih luas menyinari ruangan itu.

“Kata-katamu begitu menusukku” Da Hae mendesis namun disertai senyum kecil di ujung bibirnya.

Sejujurnya, ia tidak pernah merasa setenang ini ketika melihat Jessica, meskipun ia tahu apa yang gadis itu lakukan kemarin malam.

“itulah kenapa kau harus menurut apa kata dokter”

Gadis itu berlanjut dengan merapikan kamar Da Hae, dengan memindahkan posisi vas Bunga ke tempat lain yang lebih pas.

“Kau…” Da Hae menggantung kalimatnya.

Ia ingin bertanya tentang Jessica yang pergi setelah mendapat telepon dari Jung So yang tak lain adalah bosnya. Namun sepertinya ia begitu berat mendengar pengakuan lain dari Jessica. Sebenarnya ia sendiri tidak ingin mendengar jawaban dari Jessica yang bisa saja membuatnya membatu di tempat itu juga.

“Kau… apa kau benar-benar datang ke tempat itu?”

Jessica berhenti dari aktifitasnya, selanjutnya ia mendekati Da Hae dan duduk di pinggir tempat tidurnya.

“ tentu…bukankah kau tahu aku?” jawab Jessica.

Da Hae terdiam, kalau saja kepalanya tidak sakit jika ia berteriak ataupun bergerak kasar, ia pasti sudah memukul kepala Jessica. Sepertinya bukan hanya kepalanya yang sakit, namun kepala Jessica sudah tidak dapat difungsikan lagi otaknya.

“Kau tidak pernah menurut padaku, seharusnya kau tidak lakukan itu… kau tahu betapa bahayanya itu?”

“Aku bisa mengatasinya, jangan remehkan aku… aku sudah sering mengatakannya”

“Apa terjadi sesuatu yang buruk? Kau tidak melakukan hal gila kan? Seharusnya kau cukup menemani mereka, tidak lebih”

Jessica terkekeh, ia menangkap wajah khawatir dari eonninya dan ia suka melihat itu. Sudah cukup lama Da Hae selalu menyembunyikan perhatiannya pada Jessica.

“Aku senang kau mengkhawatirkanku eonni” balas Jessica dengan senyuman kecil.

“Heoll” desis Da Hae

” Berdo’alah , semoga ada orang baik yang membantu kita”

” Tidak ada orang baik di dunia itu”

” Entahlah… Aku rasa aku akan tetap datang ke dunia itu” Jessica menunduk, selanjutnya ia melempar senyum kecil dan beranjak keluar dari ruangan itu.

 

 

“Kenapa kau melakukan ini?” Ucap Da Hae lirih setelah Jessica benar- benar keluar dari kamar nya.

.

.

.

Lee Min Ho, pria itu merasakan terik yang sukses mengganggu tidurnya. Ia membuka perlahan matanya dan ia sadar ia tidak ada di kamarnya. Perlahan ia duduk dan mengusap punggungnya. Tidur di sofa membuat punggungnya sakit.

Ia melangkah dan membuka pintu kamarnya, masih ada Hara yang tertidur di kamarnya. Dan ia enggan membangunkan gadis itu. Semalam ia benar- benar menolak untuk tidur bersama dengan gadis itu. Bukankah ia sudah mengatakan bahwa Jessica merusak moodnya malam kemarin? Ya, ia benar-benar kehilangan selera untuk segala hal yang ditawarkan seorang wanita padanya. Tidak seperti yang biasa ia lakukan. Entah kenapa ia masih ingin Jessica yang menemaninya dan ia ingin melihat apa saja yang bisa dilakukan gadis itu untuknya. Semakin lama ia tidak mendapatkan Jessica untuk menemani malamnya, semakin ia penasaran dengan gadis itu.

Selanjutnya ia menuju mesin pembuat kopi miliknya, sedikit Americano di pagi hari mungkin bisa membuatnya lebih segar, dan ia harus segera ke kantor.

Hara berjalan perlahan, ia masih sangat mengantuk. Namun ia terbangun setelelah Min Ho membuka pintu kamar dan pergi tanpa membangunkannya, padahal ia berharap Min Ho mau membangunkannya. Ia ingin setidaknya memperoleh pagi yang sedikit lembut dari Min Ho.

Lee Min Ho masih sibuk di dapur kecilnya. Ia menyiapkan roti panggang untuk sarapan pagi ini. Dan itulah yang mengundang Hara untuk menyusulnya ke dapur.

“Kau tidak membangunkanku? “

“Kau tertidur pulas, aku tidak ingin mengganggu tidurmu”

“Setidaknya aku bisa membantu menyiapkan sarapan, aku sudah tidur di kamarmu dan kau tidur di luar, aku merasa sangat buruk”

Min Ho tersenyum, ia sudah selesai dengan segelas susu dan rotinya di nampan yang ia bawa ke meja makan.

“Makanlah, aku harus pergi ke kantor, kau tidak berencana untuk tinggal di tempatku bukan?”

Hara merengut, itu artinya Min Ho memintanya untuk segera pergi dari apartemennya.

“Kau mengusirku Oppa?”

“ Terserah apa pendapatmu, kau baru saja kembali dari Belanda, kau harus menyapa orang tuamu”

“Ara…ara, aku akan segera pergi ” Hara memakan rotinya kasar dan mengundang kekehan kecil dari Min Ho.

.

.

Jessica merasa hidupnya penuh dengan ketidakberuntungan akhir-akhir ini, dimulai dari dia yang harus sementara waktu berhenti dari kuliahnya, dia yang mengetahui penyakit Da Hae dan dia yang harus pusing mencari biaya hidup mereka serta pengobatan Da Hae. Dia memandang gedung tinggi di seberang halte tempatnya menunggu bus, ia baru saja dari apartemen Yuri dan mengatakan bahwa ia tidak bisa mengikuti kuliah seperti dulu lagi, hal itu membuat Yuri semakin frustasi karena mereka sudah berada di tahun akhir dan Jessica memutuskan hal yang sungguh tidak masuk akal bagi Yuri. Gadis itu sudah membujuk agar Jessica mau menceritakan apa yang ia alami sehingga ia harus berhenti kuliah, namun Jessica tetaplah Jessica, gadis itu tetap bungkam. Ia sendiri masih ragu atas apa yang ia lakukan, namun beberapa kali ia melangkah dan akan tetap pada keputusannya sendiri. Ia hanya tidak ingin orang lain mempengaruhinya untuk tidak lagi berusaha terlalu keras untuk eonninya, mengingat bagaimana hubungan mereka selama ini. Dan ia yakin Yuri akan marah besar atas keputusannya yang beberapa kali menggantikan pekerjaan Da Hae sebagai gadis penghibur.

Memandang gedung itu membuatnya berfikir bahwa mungkin saja ia bisa bekerja di tempat itu dan mendapatkan pendapatan tetap untuk biaya hidup mereka. Namun untuk biaya pengobatan Da Hae… ia tidak bisa menunggu lebih lama dan mengandalkan gaji yang ia peroleh nantinya. Ia tidak ingin melihat Da Hae kesakitan. Rasanya ketakutan akan mendekapnya jika ia melihat Da Hae kesakitan.

“Apa di tempat itu bisa menerimaku? Atau mungkin aku bisa mencoba untuk melamar sebagai Office Boy, hanya membersihkan gedung itu aku rasa tidak perlu menggunakan kepintaran ataupun sertifikat ku” Jessica masih terdiam dan sibuk dengan pikirannya, sehingga ia melewati Busnya.

Ia yang sadar itu meruntuk kecil, namun selanjutnya ia mencoba untuk lebih dekat melihat Gedung tinggi dan besar yang mungkin bisa ia harapkan sebagai tempatnya bekerja.

Gadis itu begitu takjub dengan pemandangan yang ia lihat sekarang, banyak pekerja berpakaian rapi yang melewatinya, dan ia hanya terdiam menatap gedung dan orang-orang yang bekerja di tempat itu.

Jessica menghentikan langkahnya ketika ia sadar bahwa pakaian yang ia kenakan tidak cocok untuk masuk ke tempat itu. Ia yakin , ia pasti mendapat penolakan dari penjaga yang berdiri di depan pintu masuk itu.

“Ah…memalukan, “ runtuknya, sepertinya ia harus kembali ke tempat itu dengan pakaian yang lebih pantas sehingga ia tidak terlihat mencurigakan dan bisa mengajukan lamaran sebagai pegawai di tempat itu.

.

.

Min Ho menangkap sosok yang sangat membuatnya harus menoleh dan membuka kaca mobil saat ia memarkir mobilnya di depan kantor. Ia pun menghabiskan waktu yang lama dan memastikan apakah sosok yang ia lihat benar-benar orang yang ia kenal.

Jessica? Dia datang?

“Direktur… apa terjadi sesuatu?” Tanya Sekretaris Soo.

Direkturnya itu keluar dari mobil dan tidak menyapanya, pandangannya diperuntukkan untuk hal lain di tempat itu.

“Ada apa dengan gadis itu?” Tanya Sekretaris Soo lagi namun Min Ho masih enggan menjawabnya.

“Aku tidak ada jadwal penting pagi ini bukan?” tanyanya, namun pandangannya masih tertuju pada Jessica yang sepertinya tidak sadar tengah diperhatikan oleh Min Ho.

“Animnida…hanya jadwal makan siang bersama presiden Park untuk menindak lanjuti kontrak kerjasama kita”

“Baiklah…aku harus pergi pagi ini, jika ada hal penting tolong atasi untuk ku”

Min Ho kembali masuk ke dalam mobilnya setelah melihat Jessica berbalik arah dan meninggalkan tempat itu.

.

.

TINN TINN

Jessica berhenti seketika, ia menepi sementara itu ia membiarkan mobil itu lewat terlebih dahulu. Namun dugaannya salah, mobil itu berhenti tepat di depannya. Ia memperhatikan sosok yang baru saja membuka kaca mobilnya dan betapa terkejutnya dia.

“Tuan..”

“Masuklah”

“Tapi saya_ah..ini masih pagi dan …”

“Cepatlah”

“ ne…” Jessica menuruti Min Ho untuk masuk ke mobilnya, selanjutnya Min Ho bergegas untuk membawanya jauh dari tempat itu.

Jessica terdiam, ia beberapa kali mencuri pandang pada Min Ho yang focus pada jalanan di depannya. Ia ingat malam dimana ia datang ke apartemennya untuk meminta ma’af, namun ia melihat Min Ho bersama gadis lain yang sepertinya tidak sama dengannya ataupun Da Hae, gadis itu terlihat berkelas, pastilah gadis itu kekasih Min Ho. Dan kembali dalam satu mobil dengan Min Ho membuatnya canggung.

“Aku tahu aku tampan, ini juga masih terlalu pagi untuk mu menemuiku, jangan terpesona denganku” kalimat itu sukses membuat Jessica melongo, selanjutnya ia mendesis. Bagaimana mungkin ia begitu percaya diri seperti itu. Bahkan Jessica tidak bermaksud untuk menemuinya.

“Ah…anda salah paham, aku tidak bermaksud menemui anda, aku kebetulan berada di tempat ini, rumah temanku ada di dekat sini” raut wajah Jessica sudah berubah menjadi sedikit sebal. Terkadang Min Ho memang menyebalkan baginya.

Min Ho terdiam, dia tersenyum simpul. Apa yang ia lihat di depan kantor ternyata tidak sama seperti yang ia pikirkan.

“Temanmu bekerja di tempat itu?”

“any.. aku hanya memandangi orang-orang yang bekerja di tempat itu, rasanya memalukan tapi aku ingin bekerja seperti mereka” Jessica menunduk, ia sedikit malu untuk mengungkapkannya pada Min Ho , mengingat apa yang Min Ho tahu tentangnya.

“itu artinya kau tidak akan menggantikan eonnimu lagi?”

“molla_ “ Jessica menggantung kata-katanya.

“ Anda ingin membawaku kemana tuan?”

Min Ho berdehem kecil, ia sendiri tidak tahu kemana mereka akan pergi, ia hanya reflek ingin menemui Jessica ketika melihatnya dan berfikir Jessica memang sedang mencarinya. Namun kenyataanya Jessica tidak mencarinya, dan dialah yang datang pada Jessica.

“ Diamlah… kau hanya perlu menurut”

“ Any any… Min Ho_ssi, mian_ mianhae, tapi saya harus ke rumah sakit hari ini,__ saya akan menemui anda malam ini”

“ Aku bukan orang yang murah hati Jessica_ssi”

“ Aku berjanji, kumohon… aku harus ke rumah sakit, aku harus menemani eonni, malam ini aku akan datang , percayalah” Jessica mengatupkan kedua tangannya.

Namun sepertinya Min Ho tidak mendengarkannya, Min Ho mempercepat laju mobilnya. Sedangkan Jessica tetap memohon agar Min Ho percaya padanya.

“ Baiklah, jika memang anda ingin aku menemanimu hari ini, aku akan melakukannya , untuk membayar janjiku, sekaligus pertemuan terakhir kita, setelah ini aku harap kita tidak bertemu lagi. Aku tidak akan berjanji apapun padamu Min Ho_ssi” ucap Jessica tegas.

Ia memang tidak ingin terus berada dalam posisi seperti ini, berulang kali ia mengatakan ia akan melakukan apa yang diminta oleh Min Ho, namun berulang kali pula ia melanggar apa yang ia janjikan padanya. Ia cukup sadar diri mempermainkan orang penting seperti Min Ho. Jika berbicara tentang uang, ia sudah pasti membutuhkan uang yang bisa saja diberikan Min Ho padanya. Jika ia bisa meyakinkan Min Ho untuk tetap percaya padanya , ia bisa meminta bantuan Min Ho untuk membayar biaya pengobatan Da Hae dan ia bisa menebus jam tangan Sehun yang ia gadaikan. Sebagai gantinya, ia benar-benar menyerahkan dirinya pada Min Ho. Jika itu memang terjadi.

Min Ho mulai memperlambat kecepatan mobilnya, rasanya mengecewakan jika Jessica mau melakukan apa yang ia minta namun malah sebagai pertemuan terakhir mereka. Dilihatnya Jessica yang memandang jalanan lewat kaca mobil disampingnya. Ia berfikir bahwa Jessica marah padanya.

“ Kau membosankan, aku bukan orang yang mudah bergonta-ganti jika sudah memilih gadis yang menemaniku setiap malamnya. Kau harus tahu itu, jika kau mau melakukannya, itu artinya kau akan melakukannya setiap aku meminta”

Mata Jessica melebar seketika, ia menoleh dan menatap Min Ho tajam. Apa itu artinya?

Apa ini? Apa itu artinya aku benar-benar menjadi gadis simpanannya? Hidupku benar-benar hancur nantinya…

 

 

TBC…

 

 

Anyeong….

sepertinya aku lama nggak ngepost FF, aku minta ma’af karena memang bulan ini aku benar-benar sibuk. Dan setiap aku punya ide untuk lanjut FF, waktunya itu lhooo yang nggak ada, akhirnya aku harus benar-benar dapat ide lagi. Mian….

dan ini lanjutan dari Unconditionally, memang seperti drama, dan mungkin akan sangat rumit, sebenarnya semua FF ku berdasarkan ide yang rumit, ma’af lagi jika ada yang kurang dipahami.

Terima kasih sudah membaca….jangan lupa komentarnya ya…

 

muachhh

 

Advertisements

20 thoughts on “UNCONDITIONALLY/ CHAPTER 2

  1. Revan_Sicababy says:

    Serius gw suka bnget sama tulisan lo kaya berasa nonton drama . Dan ceritanya juga ga rumit2 banget , gw tunggu kelanjutannya thor 😀
    Gw disini dapet feel bgt sm minho sica soalny kan ga pernah ada couple mereka jd suka , dan gw penasaran siapa yg dapetin sica , moga2 aja minho haha

  2. Jung Clara says:

    Hara itu spa nya minho???
    Minho pnsaran bgd yak ama sica..sbnr nya gw sgt2 pnsaran sm spa yg bkL ama jessica..heehe..
    Feel nya dper bgd ama minho…

    Tp sica knp gag minjem ama tmen nya ajah..hehhe…kasian hdup mu tp enak d antara pria2 tampan..hehhe..d tnggu nxt nya

  3. jung lee says:

    hai aku new readers 🙂
    cerita nya seru banget aku suka meskipun aku langsung baca part 2 nya –”
    jarang jarang lagian minho di pasangin sama sica , fighting . lanjut nya jangan lama lama ya 🙂

  4. jihan_maomao says:

    Momen MinSica(?) untuk chap ini ^^
    Aku senyam-senyum sendiri bacanya thor, apalagi pas bagian akhir
    “Apa ini? Apa itu artinya aku
    benar-benar menjadi gadis
    simpanannya? Hidupku
    benar-benar hancur
    nantinya…”
    Wkwkwks duh duh duh, rasanya gimanaaa gitu, Sica sama Minho sama-sama terus so sweet deh ihh ^^
    Aku gak sabar nunggu pairing selanjutnya di next chap ^^
    FIGHTING THOR ^o^

  5. N0vi says:

    Aduhhh. . .aku gk tw mau ng0m0ng apa ini kereennn bnget,, ya meskipun agak sbel gara”ada hara tp tetep aja aku senyum”sndri pas bca m0ment kebersamaan minho-sica.
    Dan deng deng itu pas bagian akhir bner”bkin sh0ck sica,minho suka bnget gayanya tetep tegas dan suka maksa. Next ditunggu bingit,, see U. .#b0w

  6. DhaniWKW says:

    huweeee jessica dibawa kemana ituuuu??? disini gaada sehun sm kai ya? trus itu hara siapa nya minho? ahh ini bagus thor! aku penasaran sm next chapnya, semangat yak ngelanjutinnya^^

  7. ryta zza says:

    huaaaa… kayaknya minho mulai tertarik ama sica yah ampe hara aja ga d peduliin tuh.hahaa…

    di tunggu yooo….
    next nya d perpanjang lagi biar aku nya puas. hehee.. soalnya bagus banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s