BEAUTIFUL YOU ~ SEQUEL / sehun~jessica/ part 1


sehunjessica snsd10

OH SEHUN AND JESSICA (Part 1)

Author: S.Y.M

Title: Beautiful You

Length: Oneshot (Sequel)

Genre: Romantic, Angst

Rating: PG16

Cast:

Jessica Jung

Oh Sehun

Lee Min Ho

Kim Jong In

Lee Da Hae aka Jung Da Hae

Note: Hy Hy… author come back… dan nggak perlu cuap banyak… selamat membaca dan silahkan comment nya untuk tambah semangat ku…

_______________________________________________

1ST MEETING

.

.

.

Lee Min Ho tak berhenti melihat jam tangannya. Ia sama sekali tidak bisa mengirimkan pesan atau pun menelepon Jessica. Ia bermaksud membatalkan pertemuan mereka.

Ia paling benci meeting mendadak jika ada kunjungan dari Ayahnya yang tak lain adalah Presdire dari perusahaan Induk. Dan ia paling benci jika ia harus bersikap sebagai anak baik di depan Abojinya, meskipun sebenarnya sang Aboji tahu kebiasaan putra kebanggaannya itu.

Tn Lee, tahu kegelisahan anaknya yang sudah tidak nyaman dengan meeting direksi dadakan ini. Namun ia harus bersikap profesional. Ini bukan saatnya dia bermain-main dengan wanita seperti biasanya.

“ Aku merasa tidak enak hati, mengganggu waktu bermainmu”  ucap Tn Lee pada Min Ho.

Putranya itu, pasti akan menemani Abojinya sampai ia kembali ke tempatnya.

Lee Min Ho, namja itu hanya tersenyum. Apa yang bisa ia katakan, jika ia memikirkan tentang janjinya dengan Jessica. Sedangkan Jessica hanyalah seorang gadis penghibur, seperti yang ia lihat kemarin.

Tn Lee seakan tahu apa yang dipikirkan putranya itu. Ia memang tidak banyak bicara. Ia juga bukan tipe penurut. Namun putranya itu adalah seorang yang profesional dalam hal yang ia kerjakan.

“ Baiklah, kita akan bicarakan system baru besok”

Min Ho membungkukkan separuh badannya, dan Tn Lee berlalu dari nya setelah masuk ke dalam mobil.

“ Apa yang akan anda lakukan?” tanya sekretaris Soo .

Namun namja tinggi itu tak menjawab. Ia segera meminta ponselnya yang ia titipkan sekretaris Soo selama meeting tadi.

Namun yang ia cari tidak ada di ponselnya. Jessica sama sekali tidak mengirimkan pesan ataupun meneleponnya seperti saat itu.

“ Apa yang terjadi Direktur?” tanya sekretaris Soo lagi,

Ekspresi direkturnya itu terlalu mudah untuk ia baca. Jika biasanya direkturnya itu bersikap cool, namun kali ini ia sedikit khawatir setelah mengecek ponsel dan beberapa kali melihat jam di tangannya.

“ Berikan kunci mobilku”  pintanya.

Sekretaris Soo segera memberikan kunci mobilnya, dan ia sedikit ragu tujuan Min Ho kali ini. Tidak biasanya ia terburu-buru seperti ini, jika memang ia ke Club malam, ia tidak akan seperti ini.

_____________________________________BEAUTIFUL YOU______________

Sudah dua setengah jam dari waktu yang ia tentukan untuk bertemu Jessica. Namun saat ini ia benar-benar tidak menemukan Jessica di tempat itu.

Ia menghabiskan waktu setengah jam untuk menunggu sampai ia menemukan Jessica. Namun sepertinya nihil. Jessica tidak mungkin ada di tempat itu.

Lee Min Ho tersenyum sinis. Ia meneguk segelas Wine yang ia pesan. Setelah itu ia mengumpat kecil.

Bagaimana mungkin ia berbuat seperti hanya karena ia ingin memastikan Jessica. Seharusnya tidak masalah jika ia tidak menemui Jessica. Ia tidak perlu seperti tadi yang terburu-buru mencari Jessica hanya karena ia terlambat datang.

“ Dia mempermainkanku? “ Mungkin saja Jessica tidak datang, jika ia datang ia pasti menghubungi dan memberika kabar padanya. Buktinya tidak ada pesan dari Jessica.

“ Dia benar-benar mempermainkanku? Heuh.. ini tidak bisa terjadi” ia meletakkan gelas winenya dengan kasar.

Ia beranjak pergi dari tempat itu, bahkan beberapa wanita yang menahannya untuk tetap tinggal ia hiraukan. Ia sudah tidak berminat lagi menghabiskan waktu di tempat itu hanya karena ia tidak menemukan sosok Jessica di tempat itu.

___________________________________________BEAUTIFUL YOU_______________

.

.

Lagi-lagi Jessica harus memohon pada Kim Jong In untuk tidak mengantarkannya sampai ke rumahnya. Lagi pula ia harus berjalan kaki untuk sampai di rumahnya. Kendaraan hanya bisa terparkir sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia tinggal di tempat gang sempit.

“ Anda harus bejalan kaki, dan menaiki beberapa tangga itu untuk sampai di rumahku”

“ Hanya itu?” tanya Jong In.

Jessica memutar matanya, ia harus seperti apa lagi untuk Jong In?

“ Apa anda juga akan mengantarkanku sampai di depan pintu rumahku?  “

“ Apa tidak boleh? Kau sudah terlalu jauh untuk membuatku datang ke tempat seperti ini, sangat tanggung jika aku tidak tahu tepatnya rumahmu”

Jessica terdiam, mungkin ia juga sedikit geram. Ia mengangguk kecil, yang artinya menyetujui Jong In untuk ikut ke rumahnya. Ia hanya ingi mengucapkan terima kasih karena Jong In mau memberikan uang atas nama Da Hae, walaupun malam ini ia tidak melakukan apapun untuk Jong In.

“Kau sangat polos, dan lucu” Jong In tertawa, dan sontak membuat Jessica bingung.

Apanya yang lucu?

“ Turunlah, aku tidak akan mengantarmu sampai depan pintu rumahmu, aku tidak ingin membuang waktuku seperti itu” ucap Jong In kemudian.

Jessica meredupkan ekspresi wajahnya. Bagaimana mungkin ia bertemu dengan orang seperti Jong In ini? Ia selalu seenaknya. Ia juga sangat berbahaya, menurutnya.

Selanjutnya Jessica turun dari mobil Jong In. Ia membungkukkan badannya dan menunggu sampai Jong In benar-benar meninggalkan tempat itu.

Jessica berjalan gontai menuju rumahnya. Sungguh lelah, meskipun tidak banyak yang ia kerjakan hari ini. Namun jantungnya terus bekerja keras. Kehidupan seperti apa ini? Inikah kehidupan Da Hae yang tidak pernah ia tahu secara dalam?

Jika ia mengambil jalan seperti kakaknya itu. Ia harus mengorbankan segalanya. Segala keyakinannya. Segala yang ia pertahankan. Dan segala rasa malu yang ia tanggung nantinya.

Jessica memandang rumahnya yang masih terlihat gelap karena lampu rumahnya yang belum menyala.

Mungkin kemarin Da Hae sadar. Setelah pingsan beberapa jam dan memaksa untuk keluar rumah. Namun beruntung Jessica tidak perlu mengibarkan bendera perang untuk memaksa kakaknya agar menurut dan tinggal di rumah. Karena Da Hae kembali lemah. Keadaannya benar-benar tidak bisa di duga.

Dengan langkah kecil, Jessica menggeser pintu kamar Da Hae. Dan spontan ia lempar tas yang ia bawa ke lantai setelah melihat keadaan Da Hae yang semakin memburuk.

Da Hae tak lagi ada di tempat tidurnya. Kemungkinan besar adalah, ia pingsan saat akan beranjak dari tempat tidurnya.

“ Eonni?… Eonni? ….Da Hae ya?” Jessica terus menggoyang tubuh Da Hae.

Namun sepertinya Da Hae benar-benar kritis. Ia tidak mungkin merawat Da Hae di rumah.

Jessica segera mencari ponselnya. Ia harus meminta bantuan secepatnya.

.

.

.

Mungkin Jessica bisa sedikit bernafas lega saat ini. Ia tidak terlalu terlambat untuk membawa kakaknya ke rumah sakit. Setidaknya apapun yang terjadi, di rumah sakit ini, bisa meminimalkan kemungkinan buruk yang terjadi pada Da Hae.

Ia harus dirawat, sementara para petugas memeriksa hasil lab Da Hae. Jessica tidak tahu pasti, apa yang sebenarnya di derita oleh kakaknya itu. Mereka memang tinggal satu atap. Meskipun tidak seakrab kakak adik pada umumnya. Ia tidak mau menampik bahwa kehidupannya semua ada pada Da Hae. Jika tidak ada Da Hae, ia tidak akan bisa bertahan sampai saat ini.

Da Hae bukan tipe orang yang akan menceritakan apa yang di deritanya. Apalagi jika itu adalah Jessica. Dia tidak akan pernah mengatakan apapun itu pada Jessica. Da Hae mempunyai kebencian pada Jessica, yang Jessica sendiri tidak tahu apa alasannya.

Namun dari semua sikap tidak bersahabatnya, ia sangat tahu bahwa Da Hae menyayanginya. Jangan tanya lagi, Da Hae tidak akan mengakuinya.

.

.

Jessica berjalan gontai ke kamar rawat Da Hae, ia baru saja melakukan prosedur administarasi Rumah Sakit. Setelahnya ia mengunjungi Da Hae yang baru saja sadar dari pingsannya.

Ia terdiam cukup lama di pintu kamar itu. Dan benar, Da Hae sama sekali tak mau menoleh ke arahnya, meskipun ia tahu adik perempuan satu-satunya itu datang. Jessica sudah membayangkan ini sebelumnya.

“ Aku tidak bisa membawakan makanan kesukaanmu, karena ini di rumah sakit dan kau berada dalam perawatan”

“Inilah yang aku benci dari tempat ini. Ini tidak berguna, kau tau itu “ Da Hae mengalihkan padangannya.

Jessica tersenyum simpul. Kakaknya lebih kekanakan jika seperti ini.

“ Kau harus menurut sementara menunggu hasil lab mu” Jessica meletakkan buah-buahan yang ia beli.

“Sejak kapan kau mengatur semua yang terjadi padaku? “ Kini Da Hae beralih dan menatap tajam pada Jessica.

Jessica hanya bisa membuang nafasnya. Ia merutuki kakaknya yang tidak pernah bersikap baik meskipun dalam keadaan sakit seperti ini.

“Jika aku bisa mengulang waktu, aku akan lakukan sesuai keinginanmu”

“ Membiarkanmu di rumah dan melihatmu mati secara perlahan” imbuh Jessica tak kalah dingin.

Da Hae mengumpat kecil.

Hal ini sangat biasa untuk keduanya. Tidak ada pembicaraan hangat, yang ada hanya pembicaraan dingin dan sangat frontal.

“Hasilnya akan keluar paling lambat besok pagi, dokter sudah mempunyai kemungkinan penyakit apa yang kau derita, namun untuk lebih tepatnya kita harus menunggu hasil lab nanti “

“Lalu kau tahu apa penyakitku?”Tanya Da Hae.

“Dokter tidak mungkin mengatakannya sebelum hasil lab keluar”

“Ini percuma, aku ingin pulang, berada disini benar-benar membuang waktu” Da Hae mencoba mengangkat tubuhnya, namun tak begitu kuat sehingga ia kembali tersandar di tempat tidunya. Namun ia tak menyerah begitu saja. Tangannya melepas selang selang yang melilit tangan dan hidungnya.

Jessica membuang nafas kasar

“Kau tidak hanya sendiri membuang waktumu disini. Aku juga membuang waktuku di sini karena menjagamu, jadi jangan memperbesar masalah kecil ini. Kau hanya cukup menurut, jika hasil itu tidak membahayakan, kau bisa pulang ke rumah”

“Apa perduliku? Hasil itu keluar, dan apapun yang terjadi pada hasil itu, aku tetap tidak perduli” Kini Da Hae sudah berhasl melepas selang infusnya.

Ia kembali mencoba untuk bangkit, meski harus merangkak, ia berhasil untuk turun dari tempat tidurnya.

“Kau semakin menunjukkan bahwa kau takut menerima hasil lab mu sendiri, aku juga tidak perduli apapun yang terjadi padamu. Apapun itu, aku tidak ingin dianggap sebagai adik yang tidak tahu diri karena membiarkanmu mati begitu saja. Setidaknya kau bisa mengingat kebaikanku kali ini eonni” Jessica menarik paksa Da Hae yang mulai merambat di dinding.

Mau tak mau Da Hae harus mengalah. Ia tahu sifat adiknya itu. Ia tidak akan kehabisan cara untuk melawan dirinya.

Ia sendiri tahu apa yang terjadi padanya, namun ia tidak ingin Jessica tahu keadaan yang sebenarnya. Namun kali ini, ia harus siap, apapun yang akan dilakukan Jessica setelah tahu penyakit apa yang ia derita. Ya… Jessica akan tahu hal yang disembunyikannya selama ini.

“Kau sangat manis saat menurut, eonni” Jessica mengeluarkan smikrnya.

Dan tak lama kemudian para perawat datang dan mengambil alih dirinya.

Selanjutnya Da Hae tak mengingat lagi, ia sudah dibawah pengaruh infus karena ini waktunya untuk istirahat.

.

.

.

Jessica teringat pada Lee Min Ho . Entahlah… ia begitu tidak enak saat meninggalkan Club sebelum bertemu Min Ho. Meskipun ia beranggapan bahwa Min Ho mungkin mempermainkannya. Namun entah apa yang ia pikirkan, kali ini ia berfikir, mungkin saja Min Ho datang dan ia terlalu cepat untuk menyimpulkan Min Ho mempermainkannya dan pergi dengan pria lain.

Cukup lama Jessica memandang ponselnya. Ia sedikit ragu untuk menyentuh tombol hijau di ponselnya. Haruskan ia menelepon Lee Min Ho saat ini?

“Baiklah… aku menyerah, aku harus minta ma’af , apapun tanggapannya” Jessica memutuskan untuk menyentuh tombol hijau itu.

.

.

Lee Min Ho side

Min Ho melirik nomor yang kini muncul di ponselnya. Nomor baru yang ia hafal itu adalah milik Jessica. Entah apa yang membuat ujung bibirnya terangkat, dia tersenyum kecil setelah tahu Jessica menghubunginya.

Tanpa perduli dengan Sekretaris Soo yang sedang menjelaskan Proposal ajuan padanya. Ia segera menjawab panggilan itu.

“Yoboseo” tangan Lee Min Ho terangkat sebelah, dan seketika Sekeretaris Soo menghentikan penjelasannya.

.

.

“Min Ho_ssi” ucap Jessica lirih. Ia begitu canggung untuk memulai percakapannya.

//“Wae?”//

“ Saya minta ma’af karena tidak menungu sampai anda datang, ada sesuatu yang terjadi dan saya meninggalkan tempat itu “ Ia tidak bisa terlalu basa-basi untuk mengungkap tujuannya.

“…”

“Apa anda marah? Min Ho_ssi?”

“’…”

Jessica mengacak rambutnya frustasi, Min Ho tidak menanggapi permintaan ma’afnya, ia befikir keras apa yang harus ia lakukan.  Apapun itu, hatinya tetap mengganjal jika ia mengingkari janjinya. Sementara Lee Min Ho meminta untuk bertemu namun itu belum terwujud.

“Saya akan menggantinya, saya akan menemui anda jika anda mau”

//” Kau pikir aku mempunyai cukup waktu untuk hal seperti itu? kau terlalu percaya diri… Kau pikir aku tidak bisa bersenang-senang hanya karena kau tidak menemuiku? Kau pikir siapa dirimu?” // Jawab Min Ho akhirnya.

“ Saya tahu anda sudah berfikir bahwa saya sama halnya dengan wanita-wanita anda, hanya saja … saya tidak bisa jika tidak menepati janji saya. Anda sudah berbaik hati untuk tidak mengatakan apapun pada orang itu, dan anda meminta untuk bertemu lagi. Itu artinya selama saya belum menemui anda dan menuruti kemauan anda, saya masih mempunyai hutang pada anda”

.

.

Min Ho Side

“ Saya tahu anda sudah berfikir bahwa saya sama halnya dengan wanita-wanita anda, hanya saja … saya tidak bisa jika tidak menepati janji saya. Anda sudah berbaik hati untuk tidak mengatakan apapun pada orang itu, dan anda meminta untuk bertemu lagi. Itu artinya selama saya belum menemui anda dan menuruti kemauan anda, saya masih mempunyai hutang pada anda”

Lee Min Ho tersenyum mendengar jawaban Jessica. Kenapa ia bisa sepenasaran ini dengan gadis itu?

Bukankah ini bagus? Itu artinya Jessica pasti menemuinya.

Min Ho masih menunggu, apa lagi yang akan dikatakan Jessica.

Baiklah…lupakan, semoga kita tidak bertemu lagi. Saya akan membayarnya dengan hal lain… “

Tut…tut…tut…

Lee Min Ho, melebarkan matanya. Ia sontak melihat ponselnya yang sudah kembali ke wallpaper awal. Jessica berani menutup teleponnya begitu saja. Dan bodohnya… kalimat itu tidak seperti yang dibayangkan Lee Min Ho.

Sekarang, apa yang bisa dilakukan Min Ho? Ia tidak mungkin meminta Jessica untuk menemuinya. Tidak mungkin. Ia harus berfikir lagi.

___________________________________________BEAUTIFUL YOU__________________________

Jessica mengumpat kecil setelah menutup teleponnya untuk Min Ho, ia merutuki dirinya yang lagi-lagi bertemu dengan orang aneh. Lee Min Ho terlalu sombong baginya. Apa salahnya ia meminta ma’af dan ingin menepati janji yang telah ia ucapkan sendiri. Disisi lain, ia tidak  ingin jika Min Ho menghubungi kakaknya lagi. Karena ia yakin, Da Hae mempunyai penyakit yang serius.

“Aih… kau bodoh Jessica, Min Ho_ssi adalah orang penting dan dia sangat kaya. Lihat dirimu! Sudah jelas dia bersikap seperti itu padamu” detik berikutnya Jessica menghibur dirinya sendiri, bahkan menyadarkan dirinya sendiri dengan keadaan yang sebenarnya.

Ia menutup matanya cukup lama, ia berharap tidak akan berurusan dengan Lee Min Ho ataupun Kim Jong In setelah semunya bisa ia jelaskan. Ia benar-benar berharap akan hal itu.

Jessica memijit keningnya, jika boleh jujur, dia sangat khawatir dengan keadaan Da Hae, namun karena sikap Da Hae yang masih kasar meskipun keadaannya seperti itu, membuatnya juga tidak mau kalah untuk bersikap kasar. Ia sendiri bosan dengan kehidupan sosialnya dengan saudara perempuannya itu. Apa lagi yang harus ia perbuat?

Belum cukup dengan Da Hae yang selalu keras kepala, ia benar-benar mempunyai firasat akan ada hal besar yang terjadi pada hidupnya, dimulai saat ia memutuskan untuk menggantikan pekerjaan Da Hae malam itu. Ia tidak bodoh, ia pasti memikirkan jika saja ia tetap bungkam dengan keadaan kakaknya pada orang itu, itu artinya ia akan selalu menggantikan Da Hae untuk melakukan pekerjaannya. Lalu apa jadinya jika orang itu menemui Da Hae? Dirinyalah yang akan terancam. Ia harus mencari cara lain, dan memastikan Da Hae tidak terlibat hal besar yang bisa membuatnya kesulitan untuk lepas dari pekerjaannya itu.

Jessica membuka matanya setelah cukup lama memijat keningnya, dan memikirkan banyak hal yang akan terjadi nantinya. Ia terlalu memikirkan sesuatu dengan berat. Namun ia juga tidak salah karena itu hanya kemungkinan yang ia pikirkan dan ia harus putuskan segalnya. Ia harus.

Selanjutnya Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan membawa pakaian ganti. Ia mempunyai firasat, ia akan lama di rumah sakit.

“ Jangan menganggapku bodoh Jung Da Hae” Ucap Jessica , tangannya mengepal ringan.

.

.

.

_____________________________________________BEAUTIFUL YOU_________________________________

Jessica menatap nanar hasil pemeriksaan lab untuk Da Hae. Sungguh apa yang ia lihat, ia ingin itu semua adalah mimpi. Hanya mimpi buruknya. Dia berharap ini mimpi buruk karena ia telah mengalami hal-hal tak terduga beberapa hari ini.

“Jessica_ssi, kami harus melakukan tindakan yang lebih intensif, kami harap anda menyetujuinya. Kita akan bicarakan proses penyembuhannya”

Kalimat dokter itu membuyarkan semua harapannya, harapan bahwa ia hanya bermimpi. Namun ini adalah kenyataan. Sekarang apa yang harus ia katakan? Nasib kakaknya begitu malang.

Ia tidak tanggung-tanggung dengan penyakitnya sendiri. Mustahil jika selama ini ia tidak merasakan sakit. Ia pasti merasakan sakit sebelumnya.

Jessica mengangguk sebagai tanda persetujuan. Mungkin hanya dia yang setuju untuk perawatan Da Hae, dan tidak untuk Da Hae. Mustahil baginya untuk menerima semua ini. Ia tidak akan mau mendapat perawatan rumah sakit.

.

.

Dilihatnya Da Hae yang mulai terbangun, sudah 3 jam ia larut dalam obat bius yang diberikan perawat setelah perdebatan kecil tadi. Dan kali ini mungkin mereka akan berdebat lagi.

“Kau sudah tenang?” Jessica menghampirinya. Ia menarik kursi di sebelah tempat tidur itu lalu mendudukinya.

“Aku tidak menyukai wajah innocentmu Jung Jessica”

Jessica tersenyum simpul, bahkan obat bius itu tidak mampu sedikitnya mengurangi mude Da Hae untuk tidak bersikap kasar.

“Aku juga membenci  wajahmu, kecuali saat kau tersenyum” balas Jessica.

Da Hae mengumpat kecil. Lalu memalingkan wajahnya. Ia tak ingin lama-lama memandang wajah Jessica.

“Aku membawa hasil pemeriksaan lab untuk mu, tapi kau harus berjanji , kau mau di rawat untuk sementara di rumah sakit ini. “ Jelas Jessica, ia bertaruh ini adalah pertama kalinya ia berbicara sangat lembut pada Da Hae.

Sedangkan Da Hae, ia sudah sangat pasrah. Semua yang ia sembunyikan telah diketahui Jessica. Dan kali ini ia yakin Jessica akan mulai mengatur hidupnya. Dan ia paling benci ketika melihat Jessica berusaha keras untuk biaya perawatannya kelak.

Ia tahu, jika ia nantinya ia akan menghabiskan banyak uang untuk biaya penyembuhannya. Semua orang tahu bagaimana keadaan ekonominya. Jadi wajar jika ia masalah biaya rumah sakit adalah satu hal yang sangat berat baginya.

“Aku akan urus biaya administrasinya. Masih ada beberapa prosedur pemeriksaan lagi yang harus kau jalani. Bagaimana mungkin kau sebodoh ini membiarkan penyakitmu semakin tumbuh dan parah. Aku tahu kau sudah tahu lama tentang keadaanmu ini. Kau mencoba terus membodohiku eonni? “

“…”

“Baiklah… kau memang tidak pernah menganggapku saudara”

“Katakan saja pada dokter, aku menolak untuk dirawat di rumah sakit ini. Kau yang bodoh karena ini akan menghabiskan banyak uang, kau pikir kau bisa dengan mudah mendapatkannya?”

Jessica terdiam, ia hanya membalas tatapan tajam Da Hae dengan tatapan datarnya. Ia memang sudah berfikir tentang uang yang ia gunakan nantinya. Tapi baginya membiarkan Da Hae begitu cepat berakhir dengan penyakitnya akan membuatnya gila mendadak. Itu sama halnya dengan membunuh kakaknya secara perlahan. Apapun itu ia akan usahakan. Ia sendiri yang telah berjanji pada dirinya.

“ Jangan berfikir aku akan menurut padamu” Jessica menutup perdebatan mereka, lalu ia segera keluar dari ruangan itu.

Ia harus bergegas ke bagian administrasi untuk mengurus semuanya. Menebus resep dokter yang ia bawa, dan semua biaya untuk merawat Da Hae sampai ia pulih.

“JESSICA!”

“ugh… JESS__SICA Ugh” teriak Da Hae dengan menahan sakit di kepalanya.

Jessica terhenti, ia menahan langkahnya yang baru saja keluar ruangan. Sampai akhirnya ia benar-benar mendengar Da Hae telah keluar dari ruangannya dan hendak menyusulnya.

“Eonni?” buru-buru Jessica menangkap tubuh eonninya itu yang hampir saja ambruk.

“Kubilang jangan lakukan itu, kau tidak akan mampu membayarnya” ucapnya dengan sedikit rintihan karena sakit yang ia tahan.

“ Kau tahu aku bukan orang yang mudah kau cegah”

“Aku akan bunuh diri,___ya.. a_ku akan bu_nuh ddi_ri …Ugh_ dan semuanya akan berakhir, dari pada hidup seperti ini, aku akan lakukan itu”

Jessica membuka lebar matanya. Ia melepaskan tangannya yang menahan tubuh Da Hae, sontak Da Hae mulai merosot dan tersimpuh di lantai.

Jessica melangkan mundur. Ia benar-benar kecewa dengan kakaknya. Bagaimana mungkin ia memilih untuk bunuh diri dari pada hidupnya?

“Apa kau pikir, kau hidup sendiri di dunia ini? Aku tahu kau membenciku dari dulu. Kau tidak memikirkan bagaimana aku jika kau mati HEUH? Lebih baik kau tetap membenciku dan tinggal bersamaku “ Jessica mulai terisak. Ia mungkin sering menangis, tapi tak sedikitpun ia mau menunjukkannya pada Da Hae.

Namun kali ini Da Hae benar-benar membuatnya kalah, ia benar-benar sensitif dengan keadaan Da Hae. Ia benar-benar tertekan dengan keadaan yang menimpa Da Hae.

“Heuh… aku akan berakhir dengan penyakitku ini, kau tahu ini bukan hal yang mudah untuk disembuhkan, percuma saja kau melakukan semuanya, aku akan mati dalam waktu dekat  ini”

“Haljima… Haljima…”  tangis Jessica sudah menjadi.

“Jangan katakan itu lagi. Aku berani melawanmu dan memaksamu untuk menyembuhkan penyakitmu, ingat itu!” Jessica tak perduli lagi, ia segera berlari meninggalkan Da Hae yang masih bersimpuh di lantai.

Jessica akan menandatangani semua prosedur untuk penyembuhan Da Hae. Semuanya… dan ia aka n  memikirkan biayanya nanti.

++++++++++++++ disisi lain++++++++++++++++

Seorang namja yang baru saja keluar dari ruangannya. Ia memegangi kening dan bibirnya yang bengkak karena pukulan keras yang ia dapat dari pertengkarannya pagi tadi.

Pagi buta ia harus bertarung dengan orang-orang dibawah sadar karena mereka mengganggunya. Lebih tepatnya ia juga dibawah sadar saat bertengkar dengan orang-orang itu, akibatnya… seperti inilah dia. Ia hampir berurusan dengan polisi, namun syukurlah … ia mempunyai cukup orang untuk mengurusnya.

BRUK

“Apa kau pikir, kau hidup sendiri di dunia ini? Aku tahu kau membenciku dari dulu. Kau tidak memikirkan bagaimana aku jika kau mati HEUH? Lebih baik kau tetap membenciku dan tinggal bersamaku “

Ia terhenti setelah melihat 2 yoja yang sepertinya sedang memperdebatkan sesuatu. Terlihat salah satu dari mereka yang merosot ke lantai, dan satu lainnya mulai menangis dan membentak.

Ia bisa dengar dengan jelas apa yang dikatakan dengan yeoja yang mengangis itu. Ia semakin mendekat karena hal itu menarik perhatiannya. Bukan karena ia ingin tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi ia menangkap sosok yang sangat ia kenal, ia menangkap sosok wanita yang sedang tersimpuh lemah di lantai.

“ Yeoja itu?….” Ia menggantung kalimatnya.

Ia ingat betul, karena ia sering melihat sosok itu di beberapa tempat hiburan malam yang sering ia datangi. Apalagi ia juga pernah terlibat satu malam bersamanya. Ia pernah bersamanya dan menghabiskan waktu bersama.

“Jangan katakan itu lagi. Aku berani melawanmu dan memaksamu untuk menyembuhkan penyakitmu, ingat itu!”

Ia melihat salah satu dari mereka meninggalkan tempat itu, kini ia hanya melihat yeoja yang ia kenal bernama Da Hae itu terisak setelah gadis itu pergi. Ia terisa, dan berusaha untuk berdiri.

.

.

Da Hae meraba dinding di belakangnya, mencari tumpuhan untuk bisa berdiri. Namun sialnya… isakan tangisnya seolah membuatnya semakin lemah untuk berdiri.

“Gwenchana?” seseorang dengan sigap meraih tangannya dan membantunya untuk berdiri.

Da Hae sontak melihat ke orang itu, dan ia cukup hafal dengan seseorang yang baru saja menolongnya. Seseorang yang pernah terlibat dengannya waktu itu. Ia menghafalnya… karena ia cukup tampan dan masih sangat muda, ia juga terkenal karena ia putra dari Group elite di kota ini.

“Oh Sehun?” ucap Da Hae lirih, namun sangat terdengar di telinga Sehun.

Ya… namja itu bernama Sehun, putra dari Group Oh.

“Kupikir kau melupakanku, … kita ke tempatmu” Sehun membantu Da Hae berjalan ke tempatnya. Dan tak lama kemudian beberapa perawat datang dan mengambil alih Da Hae.

Sementara itu, Sehun segera beranjak pergi, karena ia juga harus mengurus biaya administrasinya sendiri.

Advertisements

12 thoughts on “BEAUTIFUL YOU ~ SEQUEL / sehun~jessica/ part 1

  1. Jung Clara says:

    Wew…ini ntr jd awl bertmu ama sehun yak???sehun msh kcil udh nakal..hahhaha…emg skit apa thor???kok gag d ksh tw???
    Thor..klw bsa update my jgn lma2 ya..hehehe..d tnggu nxt ny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s