LOVE YOU [CHAPTER 3]

Author: S.Y.M

Title: LOVE YOU …

Genre: marriage life, Romance, Angst

Length: series

Rating: PG16

Cast: – Jung Sooyeon- Xi Luhan

luhan 2jessica2

Other Cast:

Jia MISS A= kakak Luhan

jia

Jung Yogeun = Gaozhan

yoogeun2013

Note: hy..hy..Chapter 3 sudah rilis dan jangan lupa untuk berkomentar ya…

HAPPY READING!

________________________________LOVE YOU_____________________________

.

.

Sooyeon memandangi pemandangan diluar jendela kaca besar itu, ia hanya memperhatikan laju mobil yang melewati jalanan itu. Sudah beberapa hari ini, ia sering ketempat ini, ketempat dimana ia harus mencium bau obat yang mungkin sudah biasa ia minum walaupun di rumah. Ia membenci obat, namun karena keadaannya yang membuat ia tidak bisa menghindari obat, dan obat pereda rasa sakit adalah favoritnya. Kepalanya sering merasakan sakit yang luar biasa ketika ia secara sengaja memaksakan diri untuk mengingat beberapa hal.

Ia menunggu Luhan yang masih mengurusi administrasinya. Ia masih mengingat ketika ia memaksa ingin melihat tempat sekolah Gaozhan. Disana pertama kalinya ia pergi tanpa sepengetahuan Luhan. Sebenarnya itu sudah berulang kali ia lakukan ketika ia jenuh berada di rumah. Ia hanya berjalan-jalan di sekitar rumah lalu kembali sebelum Luhan sampai di rumah mereka. Dan kemarin, ia bersikeras dan meyakinkan Jia untuk ikut ke sekolah Gaozhan. Dia adalah Mommy nya wajar ia ingin tahu tempat sekolah anaknya, ia hanya berfikir bahwa mungkin sebelum ia hilang ingatan dialah yang selalu mengantarkan Gaozhan ke sekolah, bukan Jia. Mungkin saja ia bisa mengingat sesuatu di tempat itu.

Dan kenyataannya adalah, guru dari Gaozhan tidak satupun yang mengenalnyanya sebagai wali murid. Hal itu membuatnya berfikir bahwa ia tidak pernah  mengantar Gaozhan ke sekolah, atau memang ia tidak pernah menemui guru Gaozhan walaupun hanya sekedar menyapa.

Seperti apakah aku?

“Kau sedang apa?” kehadiran Luhan membuatnya berhenti melamun. Sementara Luhan sudah ada di dekatnya dan ikut memandang ke luar Jendela kaca, sama seperti yang ia lakukan.

“ melihat mobil-mobil itu?” tanya Luhan.

Sooyeon tersenyum, sebenarnya mobil-mobil itu membuatnya takut dan pusing. Ia hanya berfikir dan tidak memperhatikan mobil-mobil itu dengan seksama.

“mereka membuatku pusing”

Luhan tersenyum simpul.

“Kita akan jemput Gao di rumah eomma”

Sooyeon mengangguk, mereka memang menitipkan Gaozhan dirumah neneknya saat mereka chek up ke dokter.

Jia tidak mungkin bisa menemaninya, karena saat ini Jia sedang keluar kota untuk acara Fashion show nya.

.

.

“Halmonim, aku bosan” Gao mendekati neneknya, ia merangkak dan naik dipangkuan neneknya yang sedang merajut itu.

“Aaahhh waeyoo?”

“Tidak ada Mommy, tidak ada Jia ahjumma, tidak ada Dady, dan mainanku ada di rumah”

“Kenapa tidak membawa mainanmu kemari?”

“Ini salah Dady, dia terlambat dan kami harus terburu-buru, aku jadi lupa dengan mainanku.” Gao mengerucutkan bibirnya setiap ia marah. Sedangkan Halmoninya hanya tersenyum, sungguh tidak ada yang takut jika Gaozhan sedang merengek atau pun marah. Ia membuat orang ingin tertawa karena kelucuannya saat marah.

“kau mau membantu nenek merajut?” Ny Xi menunjukkan hasil rajutannya pada Gaozhan, dan mendapat respon negatif dari cucunya itu.

Ia menghela nafas, ia rasa cucunya sudah semakin besar dan tidak akan tertarik dengan hal-hal yang lembut seperti ini. ia sadar jika bocah seusia Gaozhan saat ini akan lebih tertarik pada mainan anak laki-laki ataupun Game Online.

“Itu pekerjaan anak perempuan Halmonim” Gaozhan melipat tangannya di dada.

“Hahaha Ara..ara.. mari kita keluar rumah, kita akan tunggu mereka datang menjemputmu”

“Jinjayoo….”

“Tentu” Ny Xi mengangkat tubuh cucunya yang semakin berat dan menuntunnya keluar rumah, menyambut kedatangan Mommy dan Dady nya.

“cucu Halmoni semakin berat, apa kau makan banyak?”

“Tentu, Mommy sering memasakkan ku makanan, meskipun terkadang masakannya tidak berhasil dan harus Dady yang menggantikannya”

“Ohoohohoho…Mommy mu bisa memasak?”

“Aniyoo…Mommy suka memasak sambil menonton siaran di Televisi”

“Baiklah Halmoni tidak akan tanya lagi”

TIN

TIN

Dan benar, mereka datang sebelum Gaozhan menunggu lama di teras rumah Ny Xi.

Ia langsung berhamburan memeluk Sooyeon.

“Mommy! Ayo kita pulang, aku ingin bermain Game” rengek Gaozhan.

Sooyeon hanya tersenyum dan mengangkat tubuh anaknya itu. Ia mengacak rambut Gaozhan dan membuat Gao kembali menunjukkan ekspresi lucunya lagi, ia mengerucutkan bibirnya karena rambut yang selalu ia tata seenaknya saja di acak oleh Sooyeon.

“Mommy… aku meminta Gel pada Dady agar rambutku rapi seperti Dady, jangan di rusak” protesnya.

Dan tawa mereka pun tak mampu terbendung lagi. Tidak disangka anak sekecil itu sangat cerewet dan perhatian dengan penampilannya.

“Eomma” Luhan mencium singkat kedua pipi eommanya. Disusul dengan Sooyeon yang dipeluk oleh Ny Xi, mereka memang jarang bertemu setelah eommanya tidak lagi memasakkan makanan untuk mereka. Hanya Jia yang sering keluar  masuk rumah mereka tanpa ijin.

“Makan malamlah dulu dirumah” usul Ny Xi

“Sepertinya kami harus segera pulang, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan, dan aku harus mengantar mereka  ke rumah”

“Baiklah, kau harus sering-sering mengajak Sooyeon kesini”
“Ne” Sooyeon mengangguk dan masuk ke dalam mobil, di susul Luhan yang membuka pintu kemudi dan Gaozhan yang berlari ke kursi belakang.

.

.

Luhan memesankan makanan untuk diantarkan ke rumah. Sedangkan dia harus kembali ke kantor karena ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan.

Sooyeon memperhatikan rumahnya, ia mengingat beberapa hari lalu saat ia menonton sebuah acara tentang sepasang suami istri, dan ia menangkap hal aneh di dalam rumahnya. Ia tidak menemukan foto pernikahannya seperti yang ia lihat di televisi. Ia tidak berani menanyakan dimana foto pernikahan mereka, kenapa tidak di dinding atau bahkan di meja rumah mereka. Hanya ada foto Gaozhan saat kecil yang terpajang di meja dekat dapur rumah ini.

Foto pernikahan adalah hal penting, tidak mungkin tidak ada foto itu.

Sooyeon terus mengitari setiap ruangan di rumahnya, ia membiarkan Gaozhan bermain dengan Gamenya, ia hanya menyiapkan beberapa kotak susu untuk Gaozhan ketika ia merasa haus. Selanjutnya ia sibuk menjelajahi isi rumahnya. Termasuk saat ini ia berdiri di depan ruang kerja Luhan yang bahkan jarang sekali ia dekati.

Luhan lebih memilih tidur di ruang ini daripada tidur bersamanya. Bukankah mereka suami istri? Mungkin sejak Sooyeon hilang ingatan Luhan tidak pernah tidur satu kamar dengannya, itulah yang selama ini dipikirkan Sooyeon.

“Mungkin dia menyimpannya di sini” Sooyeon melangkah ragu, namun ia sendiri tidak inggin menghentikan keingintahuannya dengan foto pernikahan mereka.

Tangannya meraih daun pintu di depannya dan yang membuatnya kecewa adalah, ruangan itu terkunci dengan pasword, yang mungkin hanya Luhan yang tahu.

”Tempat apa ini? kenapa harus ada pasword?” Sooyeon bedecak kesal. Mereka hanya tinggal bertiga dan kenapa ruangan kerjanya harus berpasword. Apa begitu banyak dokumen rahasia di tempat itu?

Sooyeon mengacak rambutnya kesal. Ia paling benci ketika rasa penasarannya sudah di ujung kepalanya dan ia tidak bisa memecahkan rasa penasarannya. Baginya itu sangat melelahkan.

“Apa aku harus menanyakannya sendiri? Aahhh bagaimana jika Luhan malah menertawakanku? “

“Siapa yang menertawakanmu?”

Dan sontak Sooyeon ingin memuntahkan isi perutnya karena terkejut ketika Luhan tiba-tiba ada di belakangnya.

Sooyeon menggaruk tengkuknya. Ia tidak tahu harus berkata apa, yang ada dipikirannya kali ini adalah, apakah Luhan mendengar semuanya? Tentang rasa penasarannya

“Aku memanggilmu berulang kali dan kau tidak menjawab, Apa Gao di kamarnya?”

“Hem” Sooyeon mengangguk

“ Kau sudah makan?”

“Hem” Sooyeon kembali mengangguk

“Sedang apa kau disini? Kau tidak istirahat?”

“Hem” Sooyeon kembali mengangguk.

Luhan menatapnya datar, ada yang dipikirkan oleh Sooyeon dan itu membuatnya terdiam seperti ini.

“Apa kau sakit?”

“Any” Sooyeon menggelengkan kepalanya.

“Lalu?”

“Tidak ada”

“ Baiklah,” Luhan mendekati pintu ruang kerjanya, dan benar… pintu itu benar-benar ia pasword.

Kali ini Luhan memasukkan paswordnya untuk masuk ke dalam ruangan itu.

Setelah berhasil masuk ke dalam ia kembali menengok Sooyeon yang masih berdiri di tempat yang sama.

“Sedang apa? Kau tidak ingin masuk?” tawar Luhan.

Sontak Sooyeon mendongak, apa dia tidak salah dengar? Luhan memperbolehkannya masuk ke ruangan itu. Dengan semangat ia masuk ke dalamnya.

Dan benar, betapa kagumnya Sooyeon dengan ruangan yang luas dan dihiasi oleh 3 rak tinggi dengan banyak buku yang ada namun tidak memnuhi rak itu. Di tengahnya terdapat meja dan benda-benda milik Luhan. Di sana juga terdapat banyak dokumen yang berserakan di meja.

“Kau berusaha mengingat tempat ini?”  Luhan memberinya segelas air. Ruangannya dilengkapi dengan lemari es kecil. Pantas Luhan sangat betah di dalam ruang kerjanya.

“Aku tidak ingat apa-apa”  Sooyeon mengedarkan pandangannya, ia menangkap ada kamar tidur di balik rak tinggi ruangan itu. Lengkap dengan tempat tidur king size, lemari pakaian dan perabotan lainnya.

“Kau sering tidur di tempat ini?”

“Tempat tidurku adalah mejaku” Luhan menunjuk pada meja kerjanya bukan tempat tidur king size miliknya. Luhan sangat suka bekerja.

Sooyeon mengangguk kecil. Detik berikutnya ia ingat kenapa ia ada disini.

“Apa urusanmu sudah selesai? Apa banyak masalah di kantor?”

“Hanya tanda-tangan dokumen penting dan Sekretaris Hwang tidak bisa mengantarkannya kepadaku. Aku harus mempelajarinya dulu dengan data yang ku punya. Baru aku bisa menandatanganinya”

“Oh..”

Ruangan itu kembali hening, Sooyeon tidak tahu harus berbicara apalagi. Tidak dipungkiri ia pun sering bingung dengan sikap Luhan yang terkadang dingin namun juga sangat perhatian saat merawatnya. Ia jarang mengajaknya bicara hal-hal yang penting, ia hanya mengajaknya bicara jika menanyakan tentang Gaozhan dan apa kegiatan Sooyeon seharian dirumah. Selanjutnya ia akan kembali mengurung diri di ruangan ini sampai esok hari mereka bertemu di meja makan.

“Ada yang ingin kau bicarakan?”

“Ah..emm”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, sedang apa kau di depan ruang ini?”

Sooyeon terdiam, ia masih berperang dengan otak dan rasa penasarannya. kau hanya bertanya Sooyeon, batinnya.

“Aku hanya penasaran dengan ruangan ini, kenapa kau jarang tidur di kamar dengan ku namun setelah aku tahu kamar ini mempunyai pasword aku jadi ragu, pasti di dalam sini banyak dokumen penting, tapi setelah aku tahu bagaimana ruangan ini, aku jadi memaklumi kenapa kau suka di ruangan ini”

Luhan tersenyum, ia meraih gelas air minum yang telah kosong dari tangan Sooyeon.

“Kenapa kau menpaswordnya? Apa aku dulu tahu paswordnya? Apa aku sering ke ruangan ini?”

“Kau berbohong, kau belum menjawab dengan benar, apa yang membuatmu keruangan ini?”

Sooyeon tersentak, Luhan selalu tahu jika ia berbohong. Ia hanya menghela nafas, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya?

Harus. Hanya bertanya, apa itu sulit?

“Ah..sebenarnya aku hanya sedang mencari dimana kau meletakkan foto pernikahan kita, aku tidak pernah melihat foto itu” Sooyeon menatap lekat mata Luhan, dan kini giliran Luhan lah yang terkejut dengan pertanyaan Sooyeon.

Bakka

Ia mengumpat dalam hati, betapa bodohnya dia yang tidak memajang foto pernikahan mereka, ia lupa jika suatu saat Sooyeon pasti menanyakan foto pernikahan mereka.

Sooyeon masih menunggu jawaban Luhan, sedangkan Luhan terlihat berfikir. Mungkin ia berfikir dimana ia meletakkan foto pernikahan mereka.

“Luhan?”

“Aku pikir disinilah kau menyimpan foto pernikahan kita”

Luhan mendekati Sooyeon. Ia mendorong tubuh Sooyeon dan merapat di dinding. Membuat Sooyeon menghindari kontak mata dengan Luhan, ia tidak terbiasa dengan kontak yang sangat dekat dengan Luhan. Itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang dan tidak normal seperti biasanya.

“K_kkau juga belum menjawab pertanyaanku, kenapa_?”

“Kau bertanya apakah kau tahu pasword ruangan ini? jawabannya tidak, hanya aku yang tahu”

“Lalu, foto pernikahan kita? Aku ingin lihat..bukankah setiap pasangan suami istri mempunyainya”

“dan kau tahu kenapa aku mempasword ruangan ini, karena disini tempat kita bercinta, kau tahu ruangan ini kedap suara, jadi ketika kau sedang mengeluarkan suaramu, tidak akan ada yang tahu kegiatan kita di dalam sini. Dan kenapa hanya aku yang tahu paswordnya, itu agar kau tidak bisa keluar begitu saja ketika masuk ke ruangan ini, hanya aku yang memperbolehkanmu keluar dari ruangan ini jika kau sudah ada di dalam sini bersamaku, kau harus menghabiskan waktu bersamaku selama yang aku mau ” Luhan semakin mendorongnya ke dinding, kini hanya 5cm jaraknya dengan Luhan, dan Luhan semakin mendekatkan wajahnya pada Sooyeon, tangan kirinya sudah melingkar di pinggang rampingnya. Ia tidak memperdulikan pertanyaan Sooyeon dan gerakan sedikit memberontak dari Sooyeon.

Sedangkan karena tenaganya kalah besar dengan Luhan, kini Sooyeon hanya membatu, bukan itu jawaban yang ia inginkan, tapi benarkah harus ada ruangan khusus untuk mereka melakukan itu? Di ruangan ini? lalu Foto pernikahan mereka?

“Apa kau ingin melakukannya?” Luhan berbisik, suara yang begitu dekat dengan telinga Sooyeon itu membuatnya merinding, jantungnya pun berdegup kencang, bukankah wajar untuk pasangan suami istri? Namun kali ini hatinya menolak, benar-benar menolak, ia tidak ingin melakukan apapun itu dengan Luhan.

“Any…tidak…aku hanya bertanya apa kau menyimpannya disini?”

“aku akan mengatakannya setelah ini”

Luhan memeluknya, tanpa memberi ruang untuk Sooyeon memberontak. Ia mendorong Sooyeon sampai akhirnya  tubuh Sooyeon terdorong ke tempat tidur king size itu.

“Ma_mau apa kau Luhan?”

“bukankah kita suami istri? Kau tidak ingin memberikan Gaozhan adik? Dia pasti suka”

Luhan menyeringai, kali ini bukan wajah dingin yang ia lihat, namun wajah menyeramkan yang seolah ingin menerkam Sooyeon.

Sooyeon  berusaha berdiri namun Luhan menahannya.

“Any…Luhan, aku tidak ingin melakukannya, jangan gila” Sooyeon menepis tangan Luhan.

Detik berikutnya Luhan tersenyum sinis. Ia menatap tajam Sooyeon. Lalu dengan cepat mencium bibirnya. Cukup lama ia mencium bibir Sooyeon, itu ciuman antara suami istri dan pertama kali yang diberikan Luhan pada Sooyeon setelah ia sadar dari koma, namun tidak membuat Sooyeon ikut larut dalam permainan Luhan. Karena lelah dan tidak mendapat balasan dari Sooyeon Luhan melepaskan ciuman itu. Sooyeon segera menghirup oksigen yang sudah habis karena Luhan. begitupun Luhan, nafasnya tersengal dan dimatanya sekarang tersirat kemarahan.

“Apa kau menjadi gila karena ingatanmu yang hilang itu? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan foto pernikahan kita?” kali ini Luhan sedikti membentaknya.

“Aku hanya,  hanya merasakan hal aneh, jika aku istrimu, kenapa tetangga tidak mengenalku? Kenapa mereka hanya mengenalmu dan Gaozhan, mereka juga mengenal Jia dan Eomma, tapi tidak mengenalku, apa aku tidak pernah keluar rumah? Atau begitu angkuhkah aku sehingga orang-orang tidak mengenalku? Apa aku tidak pernah mengantar Gaozhan ke sekolah? Bahkan gurunya pun tidak mengenalku , itu membuatku merasa … seolah-olah aku orang lain dan bukan istrimu, aku hanya ingin tahu foto pernikahan kita, itu saja”

“Kau harus melihat saat ini, Gao memanggilmu Mommy, Jia menyayangimu seperti adiknya sendiri, dan eomma yang menganggapmu seperti anaknya sendiri, tidakkah itu cukup??”

“A_aakku” Sooyeon menitihkan air mata, kali ini ia merasa bodoh di depan Luhan.

“Tidurlah, aku tidak ingin kau semakin sakit, kau terlalu keras untuk memulihkan ingatanmu” Luhan menjauh dari tubuh Sooyeon yang sempat ia tahan.

Luhan mengangkat Sooyeon ala bridal, kali ini Sooyeon hanya menurut, mungkin benar yang dikatakan Luhan, semua itu hanya muncul dalam pikirannya saja.

Ia hanya berusaha terlalu keras untuk memulihkan ingatannya.

______________________________

Suasana canggung sekarang ada di meja makan, Gaozhan yang sibuk dengan telor dadar dan susu di gelasnya, Luhan yang sibuk dengan koran dan secangkir kopinya, Sooyeon yang sibuk hanya sekilas duduk di meja makan, memberikan sandwich untuk Jia dan Luhan lalu kembali ke dapur. Kini giliran Jia yang menatap mereka satu persatu.

“Apa terjadi sesuatu? Apa sesunyi ini setiap pagi?” Tanya Jia

“Tidak, kenapa tidak menjelaskan kenapa kau ada di rumahku sepagi ini?” jawab Luhan, namun ia masih sibuk dengan Koran yang ia baca dan membolak baliknya, tanpa sedikitpun menatap Jia.

“Kau ini… bersikap lembutlah pada kakakmu Luhan, tentu karena aku merindukan keponakanku dan adikku yang cantik ituuu” Jia mencubit singkat pipi Gaozhan, niatnya ingin memeluk Sooyeon surut ketika melihat Luhan mentapnya datar dan jengah.

“Kau datang pada jam 3 pagi dan membuatku merelakan waktu tidurku. Membuat kami menemanimu dan sekarang kau ada di meja untuk sarapan bersama kami, kau membuat pagiku sedikit buruk hari ini”

Jia tersenyum kecut, ia ingin melempar piring yang ada di depannya ini pada Luhan. Entah kenapa adiknya itu tidak pernah bosan membuatnya gemas dan ingin menendangnya, ingin menarik rambutnya, ingin melemparnya,… itu semua yang ia ingin lakukan pada Luhan.

“ Hya!! Xi Luhan… kau tidak kasihan dengan kakakmu ini? Aku baru saja dari luar kota dan aku piker dirumahmulah yang terdekat, aku tidak ingin pulang kerumah karena tidak ingin mengganggu tidur eomma” jelasnya dan suaranya yang dibuat semakin memelas.

“tidakkah kau memegang kunci rumah?”

“tidak setelah aku sering keluar malam ke Club malam bersama teman-teman, eomma mencabut kunci yang kubawa” Jia menghela nafas panjang, ia memainkan kedua jarimanisnya dan ia benturkan satu sama lain. Persis seperti gadis remaja yang memelas pada kekasihnya.

“Itu salahmu” Luhan membuat ekspresi melas yang dibuat-buat itu menjadi ekspresi jengah dan ingin menendang Luhan segera.

“tapi aku hanya istirahat disini…” Jia merengek, persis seperti anak kecil. Ia sangat kesal dengan Luhan.

“Kau bisa menginap di hotel”

“Kau ini benar-benar”

PLETAK

Dan yapzz…. Jia secepat kilat mendekati Luhan dan memukul kepalanya, menyentil keningnya dan menginjak kakinya. Keinginannya terkabul juga akhirnya.

“AGgght.. Aishhh… “ Luhan menggerang kesakitan. Dan Jia berdecak pinggang dengan tatapan horror yang ia tujukan pada Luhan.

Sooyeon terkikik geli, begitu juga dengan Gaozhan. Ia seperti melihat perkelahian kakak beradik seperti yang sering ia lihat bersama teman-temannya di sekolah.

“Kalian seperti temanku” kata Gaozhan dan Sooyeon semakin tertawa.

Sooyeon mengatupkan kedua bibirnya ketika mendapat tatapan tajam dari Luhan dan Jia.

Oh tidak, dua orang ini sangat seram jika marah

“Aku tidak tertawa” ucap Sooyeon dengan tangan yang terangkat membentuk huruf V.

Ia berlari kecil dan mengangkat tubuh kecil Gaozhan.

“Ne…. kami tidak tertawa, tapi kalian sangat lucu, kami jadi ingin tertawa, jadi kami tertawa ” ucap Gaozhan dengan polosnya. Bukankah itu sama artinya mereka tertawa.

Jia mendengus, ia kembali ke mejanya, ia baru ingat bahwa ia hanya bertamu di rumah ini, jika ia membuat  Luhan marah, Luhan akan semakin melarangnya untuk datang kerumahnya.

Luhan memimun kopi yang masih setengah cangkir itu, ia sudah mulai tenang ketika Jia kembali ke tempatnya. Jia sudah kembali jinak. 

“Apa rencanamu pagi ini eonni?” Sooyeon membantu Gaozhan membereskan piringnya.

“Emhhh entahlah… aku ingin mengunjungi temanku, dia akan menikah dan aku yang diminta untuk mendesign baju pengantinnya” Jia pun menyeruput Kopi Americano miliknya.

Mendengarnya, seketika tangan Sooyeon berhenti bergerak, ia terlihat berfikir, lalu detik berikutnya ia kembali membereskan piring di meja makan.

Jelas, Luhan tahu gerak gerik aneh Sooyeon. Mendengar kata pesta pernikahan dan gaun pengantin, mengingatkannya pada kejadian tadi malam.Saat Sooyeon menanyakan dimana foto pernikahan mereka, dan mendengar Jia yang mendesign baju pernikahan temannya, pasti Sooyeon juga berfikir bahwa Jia lah yang mendesign baju pernikahannya juga. Mungkin saja.

Sooyeon masih terdiam dan membawa piring-piring kotor itu ke pantry. Hanya menaruhnya dan ia kembali ke meja makan.

Luhan masih memperhatikan Sooyeon, sedangkan Jia.. ia pun merasa aneh dengan sikap Sooyoen yang tiba-tiba berubah.

“Ehem..emhh… Sooyeon_ah, apa kau baik-baik saja? Kau ingin ikut denganku ke rumah temanku? Kau pasti ingin jalan-jalan… hfuuuhhh setidaknya kau harus sering-sering melihat dunia luar, jika Luhan tidak ada waktu untuk mengantarkanmu, aku akan senang hati mengantarmu berkeliling kota semaaaaauuuummmuuuu” ucap Jia penuh semangat, tangannya pun ikut bicara dengan membentuk gambar lingkaran yang besar.

Sooyeon tersenyum , lalu ia beralih ke Luhan yang hanya menanggapinya datar. Kedua matanya menangkap tatapan Luhan. Mereka saling mengikat pandangan mereka. Melihat Luhan yang seperti ini membuatnya ingat bagaimana menyeramkannya wajah Luhan semalam. Namun ia juga sangat ingin bertanya pada Jia, apakah Jia juga mendesign baju untuknya?

Ayo… bertanyalah… bertanyalah dan kau akan mendapat jawabannya.

Jia menatap mereka bergantian, lalu ia menatap Gaozhan, kepalanya mendongak menanyakan pada Gaozhan, apakah terjadi sesuatu?

Sedangkan anak kecil itu, hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya.

“Ahjumma,,, itu urusan orang dewasa, mana mungkin aku tahu” ucap Gaozhan dan spontan membuat Jia melemas karena malu. Terlihat sekali bahwa ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Mommy dan Dadynya.

Dan bersamaan dengan itu Luhan melepas tatapannya pada Sooyeon, ia beralih pada Koran yang ia pegang.

“eonni, apa eonni juga mendesign baju pengantinku?” dan benar, pertanyaan itu keluar juga dari bibir mungil Sooyeon.

Jia berhenti meneguk Americanonya, ia terdiam.. detik berikutnya ia tersenyum pada Sooyeon. Ia menatap Luhan yang seakan tidak perduli dengan pertanyaan Sooyeon padanya.

“Tentu saja, aku yang mendesign baju pengantin untuk mu” jawab Jia.

Luhan hanya menggerakkan bibirnya sehingga sedikit terangkat, ia tersenyum tipis mendengar jawaban Jia.

“Kau ingin melihatnya? Gaun mu adalah gaun terbaaaikk yang pernah kubuat, karena aku membuatnya dengan peeenuh cinta, dan aku menyimpannya di lemari kaca agar setiap client ku tertarik akan keindahan gaun itu. Owhhh kau pasti sangat cantik mengenakan gaun itu”  tangan Jia mengatup sempurna di bawah dagunya, ia memejamkan matanya seperti membayangkan betapa indahnya gaun pengantin itu.

Penjelasan Jia membuat Luhan ingin menelan kertas Koran yang ia pegang, selalu berlebihan dan terlalu bersemangat.

“Jangan terlalu percaya, dia terlalu berlebihan” Luhan melipat korannya dan menghabiskan sisa kopinya.

“Hya! Tidak bisakah sedikit memuji kakak mu ini?” Jia mengernyit.

“ aku memujimu, kau berlebihan, dan itu kenyataan”

“Aishhh….” Jia sudah siap memukul kepala Luhan lagi namun Luhan berhasil menghindar dan menggendong tubuh Gaozhan.

“Coba saja kalau berani, “ Luhan menjulurkan lidahnya. Jia hanya bisa menghentakkan kakinya geram, mana mungkin ia memukul Luhan sedangkan ada Gaozhan dalam pelukannya.

“Sudahlah… aku akan mengantar mereka keluar, kita lanjutkan setelah ini eonni”

Jia mengangguk, namun dimatanya masih penuh dendam untuk memukul Luhan..

.

.

Sooyeon selesai merapikan seragam Gaozhan dan ia sudah masuk kedalam mobil. Luhan menghampirinya setelah menutup bagasi mobil. Sooyeon mengerjap ketika tiba-tiba saja Luhan ada di depannya. Ia sedikit mundur, ia masih trauma dengan kejadian semalam.

“Wae? Kau masih penasaran dengan foto pernikahan kita?”

Sooyeon menunduk tak menjawab.

“berhenti memikirkan hal kecil yang tidak penting seperti itu, bukankah Jia sudah bercerita yang berlebihan tentang gaunmu itu”

Tidak penting? Bahkan karena itu aku merasa tidak nyaman dan aneh

Sooyeon masih terdiam. Ia tidak berani menatap Luhan, ia takut Luhan tiba-tiba menciumnya seperti semalam.

Bukankah dia suamiku? Tidak-tidak.. jangan berfikir macam-macam Sooyeon.

“yang terpenting adalah kesehatanmu, jika kau ingin segera memulihkan ingatanmu, jangan membuat berat hal kecil seperti ini”

Sooyeon mengangguk kecil, mungkin Luhan benar, hal itu sangatlah tidak penting, mungkin saja foto itu tertinggal di rumah eommanya atau mungkin mereka lupa menyimpan foto itu karena pindah rumah. Atau…ah.. Sooyeon masih memikirkan beberapa alasan kenapa Luhan tidak bisa menunjukkan foto itu.

“tatap wajah ku ”

Ia merasakan Luhan menghela nafas, mungkin ia sedikit marah karena Sooyeon. Kali ini Sooyeon menurutinya.

“pasangkan dasiku” Luhan memberikan dasi merah yang ia pegang pada Sooyeon.

Oh.. Tuhan dadaku terasa sesak. Bukankah ini wajar

Sooyeon meraih dasi itu, ia tersenyum. Sebenarnya ia malu karena ia sudah berfikir macam-macam pada Luhan. Ia memang takut Luhan menciumnya tiba-tiba, sedangkan ia takut Gaozhan melihatnya, ia masih terlalu kecil untuk melihat hal seperti itu.

Tidak butuh waktu lama, ia selesai memasangkan dasinya. Namun yang membuatnya salah tingkah adalah, Luhan tak berkedip menatapnya. Sedangkan Sooyeon berusaha meredam gemuruh di dadanya.

“Gaozhan menunggumu” Sooyeon kembali menunduk.

Ia merasakan nafas Luhan, ia tersenyum karena Sooyeon yang tiba-tiba canggung.

“Masih ada satu prosesi lagi” Luhan menyentuh dagu Sooyeon dan mendongakkan wajahnya. Sedangkan tangan kirinya menyentuh bibirnya. Itu tandanya Luhan meminta Sooyeon menciumnya.

Sooyeon membelalak tidak percaya, sontak ia menggelengkan kepalanya, tandanya ia menolak prosesi yang dimaksud Luhan.

“Ini permintaan Gao, ia bertanya kenapa Mommynya tidak pernah mencium dadynya” Luhan menunjuk kea rah mobil dan benar, Gaozhan sudah mendongak keluar pintu mobil.

“Hurry up please, “ rengek Gaozhan.

“aku tidak akan pergi sebelum prosesi itu kau penuhi Sooyeon”  ucap Luhan dan masih dengan wajah dinginnya.

Sooyeon menghela nafas, yang benar saja, Luhan mengancamnya, Gaozhan akan terlambat jika ia tidak menuruti permintaan Luhan, ia tahu Luhan sangat keras kepala.

Dia suamimu, kenapa kau canggung? Kau harus bersikap sebagai istri yang baik, mungkin saja kau mengingat sesuatu ketika melakukan ini. Ayolah Sooyeon ..

Sooyeon berjinjit, ia menyamakan tingginya dengan Luhan dan

Chu

Dia mencium singkat bibir Luhan dan berlari menjauh.

“Hati-hati dijalan” ucapnya dan tak lupa melambaikan tangannya, bermaksud agar Luhan segera pergi ke mobilnya.

Luhan tersenyum, dan kali ini Sooyeon kembali termenung, kenapa seolah-olah senyum itu menyihirnya untuk tersenyum juga.

Senyum dengan aura yang berbeda dari Luhan. Dan ia segera masuk ke dalam rumah sebelum ia pingsan karena terpesona dengan aura baik Luhan pagi ini.

.

.

Luhan segera memutar laju mobilnya dan keluar dari halaman rumah. Ia sendiri bingung kenapa melakukan hal seperti itu pada Sooyeon. Bukankah baru saja ia mempermainkan istrinya itu. Ia tidak biasa bersikap jahil seperti tadi pada Sooyeon.

“Dady”

“Eumm?”

“ Kau mencintai Mommy?”

Luhan menoleh dan menatap putranya itu dengan heran. Ada apa dengan anak kecil ini?

“Wae?  Kenapa tiba-tiba seperti ini?”

Gaozhan hanya menyeringai, ia tahu pertanyaannya aneh untuk anak kecil seusianya.

“Dady mencintai Mommy” ucapnya kemudian. Lalu ia memalingkan wajahnya, menatap lurus jalanan di depannya.

Luhan hanya terdiam, ia tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putranya itu, itu bukan pertanyaan, apa itu juga pernyataan? atau sebuah do’a? Luhan bahkan belum menjawab pertanyaannya.

 

“Aku mencintainya?..tidak.. Aku hanya tidak ingin ia tersakiti”

____________________________________LOVE YOU__________________________

TBC

PREVIEW NEXT CHAPTER…

 

“Aku bermimpi dimana saat aku kecelakaan, kepalaku sakit, dan hatiku juga sakit, bahkan aku meneteskan air mata, bisa kau jelaskan itu padaku?”

“Jung Sooyeon, namamu Jung Sooyeon?”

 

“Luhan adalah suamiku, dan aku mempunyai seorang putra bernama Gaozhan, aku mempunyai kakak ipar yang sangat baik bernama Jia, dia seorang designer, dan Ny Xi, ibu Luhan. mereka dari keluarga China yang tinggal lama di korea, bahkan nama anakku pun mereka ambil dari bahasa China”

“Benarkah? Lalu, apa kau mengingat siapa aku?”

 .

.

“Jangan dengarkah orang lain, cukup dengarkan aku seorang”

 .

“Bisakah aku mempercayaimu setelah apa yang terlintas di otakku? Bisakah? Dapatkah kau menjamin bahwa yang kau katakan itu benar? Rasanya hatiku menolak bahwa kau berkata benar “

“Apa yang kau ingat?”

 

“Apa perdulimu?”

 

“Katakan, apa yang kau ingat?”

 

“Shireo! Kau orang jahat”

daannn…..ttaraaa kenapa malah Love You yang aku publish??? soalnya aku ngerasa chapter ini masih pendek, aku pengen buat yang panjaanngggg tapi lagi-lagi keburu posting sajoo…

untuk Chapter selanjutnya dari More Than… aku harus sepenuhnya konsentrasi untuk mereka…kekekekeke.

sabarya….

gomawooo untuk para riders, yang selalu comment…thanks a lot… kalian itu penyemangatku untuk ngelanjutin ff ku. akan lebih baik jika para silent riders berubah menjadi riders yang aktif comment. Gag repot kog kalau cuma comment.

_Xie xie_

Advertisements

14 thoughts on “LOVE YOU [CHAPTER 3]

  1. Jung Clara says:

    Luhan u seenak nya ajah cium2 eonnie gw..heehehe…pnsaran bgd sbnr nya ama luhan…knp bsa ya jd dy yg ngrwat sooyeon…ah pnsaran thor…jgn lma2 atuh post nya…klw bsa agk pnjang dkit..hehehe….

  2. hyerin67 says:

    Sebelumnya mian aku langsung comment disini ya 🙂
    Banyak bgt tanda tanya di ff ini …. knp luhan ga liatin foto pernikahan mereka? Knp sifat luhan kadang” dingin dan kadang” perhatian? Ada apa sebenernya???
    Ditunggu next chap nya ^^

  3. PiaChu says:

    Jessica harusnya curiga lebih dalam(?)
    Luhan koq serem/?
    Aku yakin pasti Luhan bukan suaminya Jessicaaa ><
    Ditunggu chap selanjutnya thor!

  4. N0vi says:

    Wahh,, luhan yad0ng amat ya dichap ini tp s0oyeon agak canggung gtu tp kyknya keduanya emang sling mencintai. Aku suka gmn auth0r bkin karakter luhan yg dingin tp tetep jail jd ada greget gtu pas bca dan gk ketinggalan tinggah lucu Gaozhan cute bngettt. . .pk0knya auth0r yg terbaik. Gak sbar nunggu next chapternya. FIGHTING

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s