MORE THAN…(PART V)

MORE THAN…

Author: S.Y.M

Title: More Than…

Lengt: Chaptered

Rating: G

Genre: Romantic, friendship

Main Cast:  -L Myungsoo- Jessica Jung.

Other Cast: Yong Guk, Young Jae, Jin, Ren, Himchan, Lee Ki Kwang

Note: Sebenarnya ini masih terlalu pendek untuk dibilang sebuah chapter… heheheh tapi juga terlalu panjang untuk Prolog. Aku bawa yang Part V dari More Than…

Aku mengalami sedikit perubahan dari rencana jalan ceritanya, tapi tetap tujuannya sama.

Sorry for typo and don’t forget to comment, Enjoy it.

PART V

DON’T STOP ME, I LOVE YOU

________________________________

“Aku mencintai nya, ya… aku mencintainya… begitu bodoh kah aku jika aku tidak bisa memilikinya?”

                “Aku selalu mengingat janjimu, janji untuk selalu menyayangiku dan menikahiku setelah aku dewasa”

“Dia mencintai orang lain, dia mencintainya”

                “Tidak cukupkah hal itu membuatmu tetap mempertahankan ku?”

“Aku mencintaimu, sungguh menyayangimu, apa yang bisa kuperbuat jika aku harus menyakiti banyak pihak dengan keputusanku? Ma’afkan aku Sooyeon”

                “Kau bisa meninggalkanku sendiri, tidak ada pertanyaan tentang cinta diantara kita, hapus segala hal tentang cinta dalam persahabatan kita, tidak ada dunia cinta yang bisa kita bicarakan”

                “Aku kecewa, namun apa yang harus aku kecewakan? Apa aku harus menyalahkanmu? Harus menyalahkanku? Menyalahkan semua hal yang terjadi padaku? Menyalahkan takdirku? Semuanya … aku harus bagaimana?”

____________________________________________________________________


3 years lates…

Masalah besar menghalangiku.

“Haraboji meninggal, kau harus menghadiri pemakaman, tinggalkan sekolahmu dan kami akan mengatur semuanya. Soal ujian masukmu ke universitas, kita bicarakan setelah pemakaman selesai”

Penjelasan itu menutup seluruh peperangan dalam hati dan pikiran Myungsoo pagi itu. Sungguh siapa yang menginginkan kejadian tak terduga ini. Seumur hidup seharusnya ia lebih memikirkan tentang kejadian gila yang tak terduga akan menghampirinya.

Apa yang bisa ia lakukan ketika baru 3 jam ia membenamkan seluruh kelelahannya dan juga seluruh perasaan tak karuannya pada Jessica, ia dikagetkan dengan kematian Kakeknya. Sungguh jika ia bisa mementingkan ke-egoisannya bahwa ia tidak perduli dengan semua yang terjadi di keluarganya. Namun sungguh miris jika tega tidak menghadiri pemakaman kakeknya sendiri.

“Kita berangkat pukul 5 pagi, ada waktu 1 jam untuk mempersiapkan semuanya” wanita paruh baya itu menutup pintu kamar putra semata wayangnya, Myungsoo. Bahkan eommanya masih menggunakan gaun pesta, ia baru saja pulang dari penjamuan tamu dari salah satu pabrik yang ia bawahi.

Myungsoo melirik letak ponselnya, namun sayang eommanya lebih cerdik sehingga ia pergi sekaligus membawa ponsel milik Myungsoo

SIAL

Ya.. sungguh sial nasibnya, sekarang yang ada dipikirannya hanyalah Jessica. Bagaimana ia bisa menghubungi Jessica, bagaimana jika Jessica menunggunya dan tetap menunggunya sampai ia datang di tempat itu?

Ia baru saja melewati belokan gang , tempat Jessica selalu menunggunya. Seperti berharap ada bintang jatuh yang mengabulkan permintaannya, melihat tempat itu … ia berharap bisa bertemu Jessica dan mengatakan semua hal yang perlu diketahui Jessica. Ia mempunyai firasat buruk saat nanti ia tiba di Jepang. Sayangnya…hal itu tidak pernah terjadi. Siapa yang perduli dengan segala hal yang ada di otaknya sekarang? Eommanya tidak akan mengerti, tidak akan mengerti.

Myungsoo mengacak rambutnya frustasi.

“Sooyeon_ah…saranghaeo”

.

.

Myungsoo melirik eommanya yang terdiam memandangi jalanan yang ada di depannya. Sedikit keberuntungan yang mungkin bisa ia manfaatkan, jalanan macet karena ada kecelakaan jalanan dan apa yang ia pikirkan sekarang adalah, keluar dari mobil dan mencari bantuan.

Mobil berjalan sangat lambat, dan sekarang gerak mobil pun berhenti .

SEKARANG

Myungsoo membuka kunci mobil dan keluar dari mobil itu. Sontak Eommanya berteriak, seluruh perhatianpun tertuju padanya, seolah-olah Myungsoo adalah tawanan yang sedang kabur atau malah seorang pencuri yang sedang diteriaki maling oleh wanita paruh baya yang tak lain adalah eommanya sendiri.

“Cepat kejar dia” Ny Kim memerintahkan beberapa pengawalnya untuk mengejar Myungsoo yang kini sedang berusaha menghindari mobil-mobil yang berhenti itu.

Apa perdulinya dengan semua pengawal itu, ia harus segera mencari bantuan, ke tempat Yong Guk adalah satu-satunya tujuannya. Ia terus melewati mobil mobil itu, sesekali ia harus meloncat melewati   bagian depan mobil. Ia tidak mungkin melawan eommanya, namun jika ia mengatakan yang sebenarnya ia tidak mungkin mendapat ijin. Ayolah…hanya ingin meminta bantuan pada Yong Guk, dan ia harus dikejar-kejar seperti seorang penjahat.

Detik berikutnya ia bisa keluar dari kemacetan itu, selanjutnya ia harus segera ke stasiun untuk menemui Yong Guk. Setidaknya hanya mereka yang membantunya.

BUK

Myungsoo tersungkur ketika salah satu dari pengawal eommanya berhasil meraihnya. ia tidak ingin membuang waktunya untuk berkelahi dengan para pria besar itu, ia bangkit dan berusaha untuk menjaga jarak larinya dengan para pengawal itu.

“Dia masih terus berlari Nyonya” terdengar salah satu dari mereka menghubungi Ny Kim.

“Tangkap dia, apapun yang terjadi, tidak perduli kalian harus memukulnya, dia harus ikut denganku ke Jepang”

“Baik Nyonya”

Tanpa perduli apapun Myungsoo terus berlari, sebentar lagi ia bisa menemukan Yong Guk.

BUK

BUK

BUK

Beberapa pukulan kembali mendarat padanya, ia beberapakali tersungkur. Ya.. kali ini ia harus melawan jika ia sudah dihadang oleh 5 pengawal sekaligus.

Myungsoo berdiri sempoyongan, ia melihat satu persatu pria besar itu yang berbaris di depannya, siap melawannya namun tak ada satupun yang berani memulai.

“AAAAHHH SIAL”

BUK

Ia memukul satu pengawal itu, lalu di susul dengan pria besar lain yang juga berusaha menaklukkannya.

BUK

BRAK

Myungsoo kembali terlempar ke dinding. Ia mampu merobohkan 3 dari pengawal itu, dan 2 diantaranya kini masih siap untuk menangkapnya.

BRUK…

Ia tersungkur, kakinya terkena pukulan keras dengan besi, benda yang dibawa oleh salah satu pengawal itu. Sungguh ngilu rasanya, dan tidak mungkin ia nekat melarikan diri lagi.

Kedua pengawal itu mendekatinya, berniat membawanya kembali ke mobil dan berangkat ke bandara.

“Tunggu, kalian pikir aku akan lari? Aku akan menghadiri pemakaman itu”

Kedua pengawal itu menghentikan langkahnya, Myungsoo menelan salivanya, ia sudah kehabisan tenaga untuk melawan, ia harus mencari cara yang lebih pintar agar ia bisa bertemu dengan Yong Guk dan lainnya.

“Aku janji, aku akan menghadiri pemakaman itu, aku akan ke bandara. Kalian bisa membantuku?” Myungsoo memaksakan senyumnya ditengah bibir yang sedikit memar itu.

“Aku harus bertemu dengan beberapa orang, uhk.. setelah urusanku selesai… kalian bisa membawaku ke bandara”

Seakan ragu dengan apa yang dikatakan majikannya itu, mereka tetap siaga dan mendekatinya.

“Lagi pula aku sudah tidak mampu melawan lagi” Myungsoo berusaha berdiri. Ia merambat pada dinding. Sedangkan kedua pengawal itu bersiap untuk melawannya lagi.

“Sudah kubilang aku tidak akan melawan, kalian cukup berjalan di belakangku, awasi aku…. mereka tak jauh dari sini”

Myungsoo diam menunggu persetujuan dari 2 pria besar ditambah dengan ketiga pengawal yang sudah mulai merangkak bangun.

“aku berjanji” Myungsoo meyakinkan mereka, dan kini ia bisa sedikit tenang untuk bertemu dengan Yong Guk dan lainnya.

.

.

.

Yong Guk segera berdiri ketika ia melihat sosok yang sedikit meringkuk kesakitan berjalan gontai ke arahnya.

“Kim Myungsoo” Jin menangkap sosok itu, dia adalah Myungsoo.

Yong Guk, Jin, Ren dan Himchan, mereka kini tengah siap menyerang siapa saja yang ada di belakang Myungsoo, mereka yakin orang orang berjas hitam itulah yang membuat Myungsoo seperti itu.

“Hyung!” Myungsoo berusaha tersenyum menyapa teman-temannya.

“Siapa yang membuatmu seperti ini?” Himchan segera merangkul pundak temannya itu, menggiringnya untuk lebih dekat dan duduk diantara mereka.

“Apa mereka? “

Myungsoo mengangguk lemah, “Kalian tidak perlu membalasnya, mereka adalah pengawalku, aku perlu bantuan kalian”

Sontak mereka menatap Myungsoo tajam, BANTUAN?

Aku merasakan hal buruk akan terjadi padaku, kumohon kalian membantuku”

Ke-empat orang itu mengangguk mantap meski sejuta pertanyaan muncul di masing masing namja itu.

.

.

___________________________________________________

.

Jessica tak habis pikir, berapa tahun ia berteman dengan Myungsoo, tak sedikitpun ia mau menginjakkan kakinya ke rumah Myungsoo. Ia tahu Keluarga seperti apa yang dimiliki Myungsoo. Keluarga kaya dan untuk waktu yang entah berapa lama, ia sangat menghindari keluarga-keluarga kaya seperti keluarga Myungsoo. Ia tahu bagaimana rasanya berteman dengan seorang dengan keluarga Kaya dengan banyak perusahaan  dan industri yang dibawahi mereka. Ia sangat bersyukur Myungsoo berbeda, ia mampu menutupi siapa dirinya saat bersama dengannya. Dan kali ini, Myungsoo menghilang tanpa alasan yang bisa ia terima. Myungsoo meninggalkannya, tanpa meninggalkan sepatah katapun padanya.  Sedangkan ia sangat ingin menanyakan kenapa Myungsoo menciumnya, kenapa ia menciumnya malam itu namun sekarang Myungsoo meninggalkannya?

Belum cukup Myungsoo yang tiba-tiba menghilang, kini ia harus menerima kenyataan pahit, Lee Ki Kwang harus kembali ke Amerika, ia mengingkari janjinya yang akan tinggal lama di Korea dan menjalani kehidupannya seperti dulu, melindungi dan berada disamping Jessica.

Lagi-lagi janji hanyalah janji. Myungsoo pergi dan Lee Ki Kwang juga meninggalkannya, Eommanya menelantarkannya, dan apa yang diperdulikan Ayahnya yang ada di Amerika padanya. Sungguh malang nasib  seorang Jessica kali ini. Ia benar-benar harus menjalani semuanya sendiri. Benar- benar merasa sendiri.

“Kau tidak sendiri, kau tidak menganggap kami?” Young Jae merangkul pundak Jessica.

Dan kini mereka berlimalah yang selalu menjaga Jessica, Yong Guk, Yong Jae, Himchan, Ren dan Jin. Namun rasanya sangat berbeda jika tidak ada Myungsoo diantara mereka. Dia sangat merindukan sahabatnya itu. Namun apa yang bisa ia perbuat, ketika Yong Guk menjelaskan tentang kepergian Myungsoo yang begitu mendadak. Ia pernah mengalami itu sebelumnya, keluarga kaya memang seperti itu, nasib Myungsoo tidak berbeda jauh dengan Lee Ki Kwang, kali ini ia mengalami kejadian yang berulang dan sama.

Mereka sengaja datang untuk mengantarkan Jessica ke Kampus, ya… kali ini ia melewati ujian masuk sendirian, tidak ada Myungsoo seperti yang mereka janjikan sebelumnya. Meskipun Lee Ki Kwanglah yang membantunya untuk masuk ke Universitas ini, siapa yang mampu dengan biaya yang cukup besar di salah satu universitas terbaik dan bergengsi di Kota ini. Dengan Fakultas dan jurusan yang ia ambil, kali ini Jessica berharap besar bisa merubah nasibnya.

Jessica tersenyum tipis, ia mengingat betapa kecewanya dia dengan kepergian Myungsoo dan Lee Ki Kwang, 2 orang yang telah mengisi hari-harinya dengan segala perhatian dan kebaikan mereka. Detik berikutnya Jessica tersenyum riang. Ia mampu mengubah senyumnya secepat itu. Ia tidak mungkin memperlihatkan ketidak semangatannya dengan hidupnya kali ini karena tidak ada Myungsoo maupun Lee Ki Kwang yang nyatanya tidak mampu menepati janjinya.

“Gomawoo …..” Jessica tersenyum, memperlihatkan senyum yang sangat manis… senyum termanis yang pernah ia punya. Namun tidak dengan ketulusannya.

“ Kita harus merayakan sesuatu” Jin mengambil alih tas dan buku yang ada di tangan Jessica.

“Kita harus merayakan pekerjaan barumu”

Jessica melirik Himchan dengan tatapan  tajam dan detik berikutnya ia tertawa.

“Baiklah, tapi tidak untuk minuman beralkohol atau yang lainnya”

“WAEEE??? “ Ren berteriak paling semangat, jika minuman beralkohol telah ditolak untuk daftar menunya.

“Kau masih dibawah umur anak kecil” Jessica mendesis pelan.

“Soju… kumohon” Ren bergelayut manja pada lengan Yong Guk, namun Yong Guk segera menghindarinya, ia berganti pada Jessica namun juga ditepis oleh lengan Young Jae.

“Kau bukan peminum yang baik, aku tidak ingin mendorong gerobak untuk kalian” Jessica  meninggalkan ke-5 namja itu, dan mereka bergantian menatap, … mencari siapa diantara mereka yang sangat buruk dalam minum minuman beralkohol. Detik berikutnya mereka sadar, tidak ada yang lebih buruk dari Jessica untuk urusan minum-minuman beralkohol. Jessica mengecohkan mereka.

“Hya… kau membicarakan dirimu sendiri Sica” teriak Yong Guk.

Namun Jessica terus berlalu meninggalkan ke-5 namja itu.

___________________________________________________

2 years latest

Tokyo, Japan

 

To: Myungsoo, Kim

Lee Ki Kwang Kembali, dan terjadi sesuatu pada Jessica,kau tidak ingin kembali?

.

.

Laki-laki itu sedang memandang lurus segala sesuatu yang ada didepannya , mungkin sudah tak lagi ia hiraukan, menjalani beberapa pertemuan, membicarakan tentang perusahaan, membicarakan beberapa hal yang mungkin bisa membuatnya mati muda. Ia benar-benar belum siap dengan semua hal yang ada di depannya. Masa depan yang diatur oleh kedua orang tuanya, ah… ia tidak menyalahkan itu, ia memang terlahir sebagai anak tunggal, siapa lagi yang akan meneruskan perusahaan keluarganya jika bukan dia.

Menghadiri pemakaman sang kakek, adalah awal ia terpenjara dalam kuasa Eomma dan Appanya, hal buruk benar-benar terjadi padanya.

Ia terus berteriak , teriakan dalam hatinya, teriakan yang selalu tercekat di ujung tenggorokannya, ia seperti ingin mengulum segala kertas yang kini ada di hadapannya.

Ia menutup lap top di depannya setelah ia mengecek e-mail masuk di smartphone miliknya, ia tidak mungkin membuka e-mail pribadinya di laptop yang tersedia. Ia tidak mungkin menggunakan fasilitas yang di sediakan oleh ibunya untuk mencari tahu keadaan Jessica di Korea.

Myungsoo kembali menenggelamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya. Rasanya 1 tahun menjalani kehidupan tanpa ada Jessica, seperti sebuah robot. Ia memang sedang berperan sebagai robot. Menggantikan posisi Direktur untuk semetara waktu, namun itu tak membuat ibunya menyerah,  ibunya berharap ia bisa meyakinkan seluruh orang bahwa ia telah siap menjalankan sebuah perusahaan.

To: Young Jae

Kau tahu, aku sungguh merindukan kalian.

To: Myungsoo, Kim

Kau pembohong, kau hanya merindukan Jessica. Hahahaha…. Cepat selesaikan urusanmu, dan kembalilah,… kami sudah berusaha semampu kami untuk membuatnya tetap ceria. Hanya saja sepertinya… hal buruk terus menimpanya. Setidakknya kau ada di sampingnya. Jangan bertindak gegabah dan bodoh. Kau harus mencari cara terbaik untuk kembali.

Myungsoo memasukkan smarphonenya ke saku jas ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya.

“Ny Kim ingin bertemu” sosok cantik yang diketahui sebagai sekretarisnya itu segera melenggang pergi setelah ia menyampaikan pesan ibunya. Myungsoo tidak mengangkat telepon yang ditujukan padanya hari ini. Itu membuat sekretarisnya itu harus keluar masuk ruangan untuk memberitahukan beberapa hal penting padanya.

Myungsoo menyeringai, sebuah ide muncul di kepalanya. Ia mengingat sekali beberapa kekacauan yang dibuatnya. Itu bisa menjadikannya alasan kuat untuk kembali ke Korea dan melanjutkan kuliahnya. Ia benar-benar berharap ibunya datang dan membahas hal-hal tersebut.

Ia berdiri dan mengancingkan satu kancing bajunya, lalu ia beranjak menjauhi meja kerjanya, ia harus membicarakan semua rencananya pada ibunya.

_________________________________________________

Seoul

Pria itu tersenyum penuh kemenangan, setelah ia kembali menginjakkan kaki ke Korea, setelah hampir 1 setengah tahun ia berada jauh di Jepang. Sekarang yang ada di otaknya adalah bertemu dengan Jessica. Dan mungkin ia harus memberinya banyak penjelasan.

“Tunggu!, mereka mengatakan, Sooyeon pasti marah besar kepadaku, “ Myungsoo mengingat  bagaimana ia meninggalkan Jessica tanpa pesan, wajar jika Jessica marah besar padanya. Hal itu membuat semangatnya patah seketika. Apa lagi yang membuatnya begitu bersemangat kembali ke Korea, hanya Jessica alasannya. Namun jika Jessica marah padanya, bahkan jika ia membencinya, apalagi yang harus ia lakukan?

“Hyung” jin menepuk pundaknya. Ia sengaja datang untuk menjemputnya. Myungsoo sengaja tidak memperbolehkan pengacaranya untuk menyambut kedatangannya. Ia hanya perlu ke tempat teman-temannya untuk melepas semua bebannya.

“Aku tidak ingat jika aku memintamu untuk menjemputku”

Kalimat itu sontak membuat Jin ingin meninju Myungsoo saat itu juga, mengingat di tempat ini ia bisa saja di giring oleh petugas keamanan jika membuat keributan.

“berhenti memancingku untuk memukul wajah datarmu itu” kata Jin sedikit mendesis.

Myungsoo tersenyum sinis lalu mengambil alih koper yang di sentuh Jin.

“Apa semuanya baik-baik saja?” Myungsoo berjalan mendahuluinya.

“Aku tidak tahu harus mengatakannya seperti apa, tidak mungkin semuanya baik-baik saja jika Jessica sedang tidak baik”

Myungsoo menatap tajam Seokjin, atau biasa ia panggil Jin itu. Jadi benar, hal buruk terjadi pada Jessica.

Jin memutar matanya , ia sudah membayangkan ini sebelumnya, Myungsoo sangat sensitif jika berhubungan dengan Jessica, namun apa yang bisa ia katakan, ia harus mengatakan semuanya. Jessica benar-benar kacau beberapa bulan ini.

“Akan aku ceritakan nanti” Jin kembali meraih koper dan tas Myungsoo, ia tahu Myungsoo tidak lelah, anggap saja itu formalitas karena menjadi penjemput Myungsoo di bandara.

TBC

Advertisements

8 thoughts on “MORE THAN…(PART V)

  1. N0vi says:

    Aish. .aku lg asik”bca tp udah tbc. . . Emangnya msalah apa kyaknya serius bget. . . Disini emang bnyk yg mzih misterius krn wktunya jg udah beda,jd 2 thn itu apa aja yg trjadi? Next please cpt dlnjut ya th0r aku pnsaran bget. FIGHTING. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s