LOVE YOU…(Chapter 1)

luhan2jessica snsd

Author: S.Y.M

Title: LOVE YOU …

Length: marriage life, Romance, Angst.

Genre: G

Cast: – Jung Sooyeon- Xi Luhan

Other Cast:

Jia MISS A= kakak Luhan

Yogeun = Gaozhan

 Note: aku bawa FF baru, ini percobaan tapi panjaaangggg… Castnya Luhan loooohh, untuk FF Princess aku ragu bisa langutin atau tidak, kalau ini bagus aku lanjutin deh… jadi please Coment ya… butuh semangat nih. 🙂 .

Untuk More Than… nya, tunggu beberap minggu mungkin bisa selesaiin part selanjutnya.

Happy Reading

_______________________________________

 

“Aku tidak akan memaafkan penghianatanmu ini Jessica! Kau mengecewakan Aboji!”

“jweosonghamnida Aboji, jweosonghamnida…” gadis itu bersimpuh, ia membungkukkan separuh tubuhnya yang sedang bersimpuh itu, ia meminta maaf kepada sosok yang sangat ia hormati di depannya ini.

“Kau boleh pergi dan jangan harapkan apapun dari ku, semua yang kau peroleh dari perusahaan jangan pernah kau menyentuhnya sedikitpun”

Jessica berhenti terisak, sudah cukup baginya memelas seperti ini, jika ia tidak diinginkan, tidak masalah baginya untuk meninggalkan rumah dan perusahaannya, hanya saja ia sangat tidak rela jika perusahaan Abojinya itu dipimpin oleh Eommanya, tidak… ia tidak pernah memanggil wanita itu dengan sebutan terhormat itu. selamanya ia tidak pernah menganggap wanita pendamping Abojinya saat ini adalah Eommanya.

“Baiklah,” Jessica berdiri, ia mengusap kasar air mata yang membasahi wajahnya itu. Di tempat yang hanya ada dia dan Abojinya itu, ia mengeluarkan kunci mobil dan seluruh isi dompetnya, melepas sepatu bootnya dan melepas jaket mantelnya.

“Apa aku harus melepas pakaianku juga? Ini juga dari mu!” Jessica menggigit bibir bawahnya. Sungguh ia akan berkata kasar jika seperti ini. Dia putrinya dan dia diperlakukan sangat tidak adil.

Abojinya memalingkan wajahnya, Jessica tersenyum tipis, mana mungkin ia bertindak bodoh dengan melepas seluruh pakaiannya.

“Aku anggap Aboji meminjamiku dengan pakaian ini, hanya ini yang tidak bisa aku lepas, aku akan membayarnya nanti… ah tentu saja … aku tidak bisa memastikan kapan itu terjadi, kaos simple ini kenapa harganya sangat mahal, aku masih mengingat nomor rekeningku, dan aku akan mentransfernya ke rekeningku, kuharap Aboji tetap mengaktifkan rekening itu!” Jessica tersenyum getir,ia melirik sekilas pintu ruang baca itu yang sedikit terbuka, ia tahu ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.

“ Perlukah aku mengucapkan salam perpisahan? Aboji tidak ingin melihatku untuk yang terakhir kalinya? Mungkin saja setelah ini Aboji tidak akan melihatku lagi… Aboji..Aboji kumohon!” tangis itu kembali pecah. Seperti apapun Abojinya tetaplah orangtuanya. Tentu ia sangat mencintai Abojinya itu. hanya saja, mungkin dia adalah putri yang sangat tidak berguna baginya. Ia terlalu banyak menentang dan menuntut. Ia juga terlalu sombong dan angkuh untuk mengakui ketidakmampuannya untuk melawan kuasa Abojinya.

Jessica memejamkan matanya, berusaha sekuat mungkin menenangkan hatinya, rasanya hatinya sudah ditusuk tusuk dan kepalanya pusing karena tangisannya yang tak juga dihiraukan oleh sang Aboji. Ia menarik nafas dalam. Tidak… Tidak sepantasnya ia menangis. Ia lupa jika ia tidak boleh menangis untuk hal seperti ini. Di usir adalah hal yang paling sering ia jalani selama ini. Hanya saja saat ini segalanya mungkin sudah berakhir untuknya. Tidak ada lagi tempat yang bisa ia datangi.

“Baiklah, aku pergi…jaga diri Aboji baik-baik…aku akan merindukan aboji!” akhirnya hanya kata itu sebagai ucapan perpisahannya .

.

.

BRAK

BRAK

.

“Presdire meninggal dan Dewan direksi akan segera menentukan penerusnya. Kali ini akan diadakan Pleno pertama sebagai penentuan kandidat. Dan aku rasa kau tetap menjadi kandidat sebagai penerus Presdire”

‘Tidak ini tidak boleh terjadi”

.

.

“Kau adalah wanita terangkuh dan tersombong yang pernah aku temui”

“NONA AWAS!”

“JESSICA!”

.

.

.

“JEASIN Grup Resmi di pengang penuh oleh Ny Rachel”  

“Berakhirlah kau Jessica!”

.

.

“Kemungkinan besar dia kehilangan sebagian memorinya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan ingat semuanya, ini hanya bersifat sementara, namun akan berdampak sangat lama jika dia tidak ingin kembali mengingat masa lalunya, jika kau menghendaki ia mengingat semuanya, tolong bantu dia… Syarafnya sedikit mengalami kerusakan, mungkin ia akan mengalami Alzheimer di usia muda, namun dampak paling besar yang bisa terjadi adalah penyumbatan darah di syaraf otaknya, jika itu terjadi dia benar-benar kehilangan semua memori tentang dirinya.” Mungkin penjelasan rumit itu cukup untuk menjelaskan keadaan sang pasien yang sudah 1 minggu ini koma.

Pria itu cukup menjawab semua penjelasan sang dokter dengan senyum dan anggukan kecil. Ia mengerti, dan ia tahu harus berbuat apa pada dia.

.

.

.

“Pastikan dia tidak mengingat siapa dirinya lagi!”

_____________________________________

 

Perlahan mata itu terbuka, sayup sayup ia menerawang apa yang ada di hadapannya saat ini, kepalanya sedikit pusing dan begitu berat, begitu juga matanya yang sepertinya masih sangat melekat, sepertinya sudah lama ia tidak membukan mata itu. belum jelas apa yang ada di hadapannya saat ini , namun sudah tergambar wajah seseorang dan ia tidak ingat siapa-siapa orang yang harus ia lihat pertama kali.

Ia sudah membuka matanya, ia mengedipkan matanya berulang kali untuk memperjelas pandangannya. Dan … kini ia sudah dikerumuni beberapa orang disekitar tempat tidurnya, ia melihat sosok yang pertama kali ia lihat karena dialah yang ada dalam jangkauannya sekarang.

Seorang pria dengan wajah yang lumayan..emm tampan, dialah yang pertama kali ia lihat.

“Sooyeon_ah!” seseorang memeluknya dengan erat dari arah samping tempat tidurnya, tunggu.. ini bukan tempat tidur dan ini bukan kamar. Ia mulai mencium bau obat yang menyerbak di tempat ini dan lihat, selang infuse yang membelit hidung dan tangannya. Oh tidak… dia ada dirumah sakit saat ini dan mereka… apa mereka keluarganya?

Dia yang dipanggil Sooyeon itu menggerakkan tangannya perlahan. Rasanya berat karena lilitan infuse ditambah lagi dengan pelukan seorang yang kurang jelas wajahnya ini, sebenarnya ia tidak mampu mengingat siapa mereka untuk saat ini.

“ Jia! Jangan lakukan itu, Sooyeon baru saja sadar!” seseorang wanita paruh baya menarik pundak yeoja bernama Jia itu untuk menjauh dari tubuh Sooyeon.

Gadis itu, gadis yang  baru saja sadar dari tidur panjangnya, ia berusaha tersenyum ketika wanita paruh baya itu tersenyum padanya.

Ini gila, aku tidak bisa mengingat apa-apa

“Aku akan panggilkan dokter”

Pria tampan itu segera beranjak dan menekan tombol di sudut ruangan dekat pintu untuk memanggil dokter ke ruang itu.

“ Kami sangat menunggu saat  ini Sooyeon_ah”

Dia yang dipanggil Jia itu, siapa dia? Apa namaku Sooyeon?

“Aaaah…. Dimana anak kecil itu, dia pasti sangat senang melihatmu sudah sadar” lanjutnya, ia celingukan mencari sosok yang ia maksud, betapa hebohnya dia karena kesadaran Sooyeon, ia juga terlihat sedikit menitikkan air mata di ujung kelopak matanya itu. Sedangkan wanita paruh baya it uterus tersenyum dan mengelus puncak kepalanya.

Ah baiklah, aku bernama Sooyeon.

“ Aku meminta mereka mengantar Gaozhan pulang ke rumah, ia harus tidur siang” jawab pria itu.

“Aish… kau ini Ayah yang kejam, seharusnya dia melihat Sooyeon sadar seperti ini” omel Jia.

“Ma’af menunggu terlalu lama, biarkan kami memeriksanya” sang dokter pun sigap memeriksa kesehatan Sooyeon dan  mereka diminta untuk memberi ruang kepada Sooyeon untuk sedikit rilex. Ia baru saja terbangun dari tidur panjangnya dan ia butuh beberapa ketenangan untuk mengumpulkan seluruh tenaganya.

.

.

Mata itu kembali memaksa untuk terbuka. Ia merasakan selang infuse yang masih melilitnya, namun kali ini sedikit lebih ringan, kepalanya tak seberat saat pertama kali ia membuka mata.

Ia berusaha untuk sedikit menggerakkan tubuhnya dengan mengangkat sedikit tubuhnya agar lebih tinggi dan ia bisa melihat siapa yang duduk di sofa ruangan itu.

CKLEK…

Sial

Ia tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri. Akibatnya suara tempat tidurnya itu membuat seorang yang sedang bersandar dikursi itu terbangun. Ia melihat keadaan Sooyeon dan segera ia membantunya.

“Seperti ini?” pria itu mengangkat tubuh Sooyeon dan meninggikan posisi bantalnya agar ia bisa duduk.

“Aku panggilkan dokter”

“Tidak, aku tidakn ingin tidur lagi, kepalaku pusing”

“Hanya memeriksa keadaanmu”

Sooyeon.. gadis itu menatap pria yang saat ini ada di dekatnya, pria yang sama seperti yang ia lihat kemarin sebelum tertidur, terakhir kali ia juga melakukan hal yang sama ketika ia sadar, memanggil dokter dan setelah itu ia kembali memaksa matanya untuk terbuka.

“Aku pastikan kau tidak akan tertidur” jawabnya lalu ia memencet tombol di ujung pintu kamarnya.

Dan benar, tak lama setelah itu sang dokter dan beberapa asistenya pun datang dan memeriksa keadaannya.

“Keadaanmu membaik Nyonya” kata sang dokter setelah urusannya selesai, tak lupa ia mencatat semua hasil pemeriksaany.

“Aku akan membiarkanmu sedikit bersantai, mereka semua merindukanmu” sambung sang dokter dan di balas dengan senyuman kecil dari Sooyeon.

Dia bilang aku Nyonya? Apa setua itu?

Dokte itupun tersenyum pada pria tadi dan menepuk pundaknya. Dan mereka meninggalkannya di ruangan itu.

“Sedikit lebih tenang?” Namja itu membantu Sooyeon terduduk seperti sebelum ia diperiksa oleh dokter.

Tak begitu lama Pria itu kembali ke sofa tempatnya berbaring sebelum Sooyeon sadar. Kini Sooyeon bisa melihat, apa saja yang ada di ruangan itu. Termasuk anak laki-laki kecil yang kini tengah tertidur pulas di pangkuan pria itu.

Sooyeon menatapnya sendu. ia ingin bertanya, hanya saja tenggorokannya mendadak kering. Ia sangat bingung dengan ini. Siapa mereka? Siapa mereka? Siapa mereka? Hanya itu yang ada di otaknya. Dan apa yang terjadi padanya? Untuk kesekian kalinya ia tidak mampu mengingat.

“Apa kau perlu sesuatu?” tanya pria itu lagi.

Bahkan aku tidak tahu harus memanggil dia siapa.

Sooyeon mengangguk, ia menyentuh tenggorokannya, tanpa ia berkatapun itu sudah menandakan bahwa ia haus.

Aku butuh sedikit pelumas untuk bertanya.

Pria itu memindah tubuh kecil anak laki-laki yang tidur di pangkuannya, agar bisa mengambilkan minuman untuk Sooyeon.

”Emh…” anak kecil itu tebangun. Sungguh matanya yang lebar membuatnya sangat lucu ketika bangun tidur. Ia mendongak dan pria yang menjadi tempat tidurnya itu tersenyum.

“Kau sudah bangun?” sebuah senyuman keluar di pipi itu. Senyuman yang berbeda seperti yang ia lihat sebelumnya. Kali ini ia lebih tulus tersenyum, selebihnya ia hanya berekspresi datar saat berbicara dengan Sooyeon.

“Yes Dad!” anak kecil itu beralih melihat ke tempat Sooyeon, matanya berbinar melihat Sooyeon yang kini juga sedang memandanginya. Sangat bisa di tebak ekspresi apa yang ia tunjukkan saat ini. Bahagia… ya bahabia sekali karena Sooyeon sudah sadar dari tidur panjangnya.

“Mommy! “ ia memekik kecil, lalu kemudian buru-buru turun dari sofa dan berlari kecil ke tempat Sooyeon.

Mommy? Tunggu.. Mommy? Siapa Mommy?

Sooyeon mengerutkan keningnya, anak kecil itu berlari kearahnya dan menyebutnya Mommy?

Ia berusaha untuk naik ke tempat tidur itu, namun karena tubuh kecilnya ia harus bersabar sampai Pria itu mau membantunya untuk naik ke tempat tidur Sooyeon.

“Biarkan Mommy meminum airnya” Pria itu memberikan segelas air putih setelah Sooyeon meneguk separuh isi gelasnya Pria itu pun mengangkat tubuh mungil anak kecil itu.

Dan HAP, kini anak kecil itu berada di pelukan Sooyeon, ia memeluk tubuh lemahnya erat. Tidak akan terasa karena yang memeluknya adalah anak kecil.

Sooyeon masih terdiam, anak kecil itu memanggilnya Mommy dan berarti dia adalah ibunya.

“Neomu Bogoshipoo Mommy!” ucapnya dengan aksennya yang lucu.

“kau tidak ingin membiarkan Mommy bernafas? Lihat dia kesulitan berrnafas”

“Ne…Daddy.. apa Daddy tidak ingin memeluk Mommy?”

Daddy? OH tidak,… dia memanggilku Mommy dan memanggil Pria ini Daddy? Itu artinya pria ini…

Sooyeon menatap Pria itu. Sorot matanya menuntut sebuah penjelasan. Namun ia tidak mendapat penjelasan.

“Daddy akan mengantarkanmu ke depan, Jia sudah menunggumu, kau harus Istirahat, dan kita kesini lagi besok”

“Biarkan bibi Jia kesini, dia pasti ingin melihat Mommy” rajuknya.

CKLEK

“Apa maksudmu memintaku menunggu di depan rumah sakit? Kau pikir aku tidak bisa masuk ke kamar ini?” seorang yeoja dengan pakaian nyentrik masuk dengan paksan ruangan itu.

Pria itu mendengus pelan. Kenapa semua orang sangat ingin bertemu Sooyeon?

“Baklah, kau bisa bertemu dengannya sebentar saja, setelah itu bawalah Gaozhan bersamamu. Sooyeon harus istirahat”

Sooyeon mendelik, istirahat lagi? Baiklah mungkin ini lebih baik.. ia butuh waktu banyak untuk memahami semua yang ada di sekitarnya.

“Luhan_ah” yeoja bernama Jia itu memelas.

“Daddy… aku ingin bicara banyak dengan Mommy”

“Kau akan melakukannya besok” Daddynya mengangkat tubuh mungilnya lalu menuntunya mendekat pada Jia. Sedangkan yeoja yang diminta membawa Gaozhan itu merengut.

“Kita akan menghabiskan waktu besok Sooyeon_ah! Bye-bye” Jia mengangkat tubuh mungil Gaozhan yang sangat enggan meninggalkan Sooyeon.

“Mommy… “ rengekan kecil itu berlalu sampai mereka berdua menutu pintu kamar itu.

Hfuh…

Luhan…Luhan…Luhan…jadi pria ini bernama Luhan? Dan dia…

Pria bernama Luhan itu mendekati Sooyeon. Mulut itu tetap bungkam, ia tidak ingin bersuara karena kebingungannya.

“Aku akan meninggalkanmu istirahat jika kau mau” ucapnya, dan kali ini ekspresinya kembali datar. Aura dingin menyelimutinya.

“Chogio..kau ..aku..” Sooyeon menggantung kalimatnya.

“Kau bingung?”

Sooyeon mengangguk, sungguh ia sangat bingung. Ia tidak akan cepat sembuh jika tidak ada penjelasan sedikitpun yang ia dengar.

Luhan mengambil nafas dalam. Ia harus memulai dari mana?

“Apa yang ingin kau tanyakan?” Luhan menarik sebuah kursi lalu kemudian duduk di samping tempat tidur Sooyeon.

“Jelaskan dari awal”

“Baiklah, kau kecelakaan dan kau Koma hampir 2 bulan ini, itulah kenapa mereka semuanya sangat ingin bertemu denganmu”

“Siapa mereka, dan siapa kamu?” akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir mungilnya.

Luhan sedikit menunduk, ia kembali mengambil nafas dalam, sedikit terlihat keberatan untuk menjelaskan semuanya pada Sooyeon. Tidak mungkin ia tidak tahu apa yang terjadi pada Sooyeon. Ia tahu jika Sooyeon tidak mampu mengingatnya, mengingat Gaozhan, Jia, ibunya dan semua yang ia lalui.

“Apa yang ingin kau ketahui?”

Dia… aneh… cukup jelaskan saja Ayolah…

“Kau jelaskan semuanya, siapa mereka? Siapa dirimu, siapa aku, bagaimana aku dan apa yang terjadi padaku, jangan berbelit-belit”

“Baiklah, Aku Luhan, dan kau adalah Sooyeon, Aku suamimu dan kau adalah istriku, Gaozhan adalah anak kita, Jia adalah kakakku yang sangat menyukaimu, dan ibuku yang hari ini tidak datang menjengukmu. Mereka adalah orang yang kau temui kemarin dan hari ini.

“Kecelakaan itu membuatmu hilang ingatan.”

Sooyeon bersandar pada bantalnya, tubuhnya terasa lemas. Ia tidak bisa mengekspresikan bagaimana perasaannya. Lega ataukan sedih, ia lega karena apa dan sedih karena apa, karena tetap saja semua terasa hambar baginya. Ia bingung harus memulai dari mana.

“Tidak usah memaksakan ingatanmu, kita bisa memulainya dari awal” Luhan membenahi selimut Sooyeon, ie membenahi bantalnya agar Sooyeoon bisa tertidur. Lalu luhan mengelus singkat puncak kepalanya.

“Tidurlah”

“Kau terus memintaku tidur, sudah kubilang kepalaku pusing, seharusnya kau senang dan menemani istrimu yang baru sadar dari koma ini. Bukankah begitu seharusnya jika kau suamiku?” protes Sooyeon.

Kenapa aku mengatakan itu? Bahkan aku tidak bisa merasakan apa-apa saat ia di dekatku.

Luhan terhenyak. Dia memang merasa canggung dengan Sooyeon.

“Lalu, kau ingin aku melakukan apa? “

“duduklah dan ceritakan semuanya”

Luhan terdiam sesaat, ia menatap Sooyeon, tatapan mereka bertemu, ia melihat dalam manik mata istrinya itu. Matanya berbicara dengannya. Ia memang ingin tahu semuanya. Mata itu menuntutnya untuk menurut. Dan akhirnya ia menurut, ia duduk dan mulai dengan menjelaskan orang-orang yang akan ia temui nanti.

______________________________________

Selama 1 minggu pasca ia sadar dari koma panjangnya, ia harus tinggal di rumah sakit, ia mulai terbiasa dengan tingkah manja Gaozhan, yang ia ketahui adalah putranya bersama Luhan. Jia yang selalu berbicara banyak hal kepadanya. Dan Ibu mertuanya yang sangat lembut kepadanya. Meskipun kebingungan masih melanda otaknya, setidaknya ia merasa nyaman berada di antara mereka. Ia berperang dengan perasaannya yang selalu memberontak dengan keadaannya saat ini.

Aku bisa menjalaninya dan ingatan ini … aku harap masa lalu ku tidak lah buruk sehngga aku tidak akan menyesal jika aku mengingat masa laluku. Dan jika masa lalu ku begitu bahagia, aku ingin mengingatnya, benar-benar ingin mengingatnya.

Hari ini, Sooyeon telah sampai di rumahnya bersama keluarga Luhan. Selama ini ia tidak pernah mendengar cerita tentang keluarganya sendiri, hanya ada keluarga Luhan yang ada di sekitarnya. Luhan mengatakan bahwa Ayah dan Ibunya sudah meninggal lalu Luhan tidak tahu persis siapa saja kerabatnya. Luhan meyakinkan bahwa keluarga Sooyeon hanyalah Luhan, Gaozhan dan keluarga Luhan. Dan terakhir kali Sooyeon ingin bertanya lebih tentang keluarga Sooyeon, Luhan memintanya untuk tidak bertanya lagi. Dan harus menuruti apa kata suaminya itu.

“Mommy… aku punya permainan baru yang aku simpan di kamar, Oh.. aku lupa jika mainanku tertinggal di kamar Daddy. Aku harus mengambilnya” Gaozhan yang dari tadi menggenggam tangan Sooyeon menarik narik tangannya. Ia ingin membisikkan sesuatu pada Sooyeon.

“Mommy tahu kan kalau Daddy itu cerewet” bisik Gaozhan dan Sooyeon hanya terkekeh mendengarnya.

Cerewet? Tersenyum saja jarang… gumamnya

“Aku harus mengambilnya sebelum Daddy, dia pasti marah dan tidak membelikanku mainan lagi”

Sooyeon mengangguk kecil, lalu putra kecilnya itu berlari menuju kamar Daddynya yang ada di lantai atas, Sooyeon melirik sekilas Luhan. Ia tahu jika Gaozhan tengah mengambil mainannya yang tertinggal di kamarnya.

Sooyeon meletakkan tas kecilnya, Ibu mertuanya memanggil seluruh asisten rumah tangganya untuk membantunya membereskan barang barang Sooyeon, sedang Jia… dia buru-buru pergi setelah mencium pipi Sooyeon dan memastikan Sooyeon telah sampai di rumahnya dengan selamat. Memang sedikit berlebihan, karena walaupun ia tidak ikut mengantar kepulangan Sooyeon masih ada Luhan dan ibunya yang membantunya berkemas.

“Aku harus pergi,  temanku pasti sudah marah besar… ah biarkan saja! Sampai bertemu lagi Sooyeon_ah, aku akan sering ke rumahmu” Jia berlari kecil keluar dari pintu rumah, sedangkan klakson di luar rumah itu sudah berulang kali berbunyi membuat Jia harus segera pergi. Sooyeon yakin Jia masih enggan meninggalkannya.

Drrrtttdrrrttt

“Yoboseo” Luhan mengangkat panggilan teleponnya

“____”

“Kau ini, bahkan belum ada 1 menit kau keluar dari rumahku”

Sooyeon terkekeh pelan, suara Jia disana terdengar nyaring bahkan saat di telepon.

jaga istrimu baik-baik, aku akan mengecek setiap kali aku datang kerumahmu”

”tidak perlu serepot itu”

“_______________”

”Hemh.. aku mengerti, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, ada 2 pria tampan yang menjaganya, apa itu belum cukup?”

“_______”

“baiklah, cepat selesaikan pekerjaanmu “

Ttuuuttt tutt

Luhan menutup sambungan teleponnya. Ia menghela nafas panjang, lalu beralih menatap Sooyeon yang tengah duduk di sofa.

“Kau tidak ingin ke kamarmu?” tanya Luhan yang juga duduk di sofa depannya.

“berhenti memintaku untuk istirahat, aku pikir aku akan terus sakit jika aku beristirahat terus”

“tidak ada orang sakit yang semakin sakit jika terus beristirahat”

“Aku merasa tidak enak istirahat terus, sudah cukup di rumah sakit, aku harus bergerak!”

“Kau bisa melakukannya nanti saat kau benar-benar pulih”

“Aku sudah tidak apa-apa, hanya ingatanku yang bermasalah, fisikku tidak apa-apa”

“Baiklah” Luhan mengalah. Sedangkan Sooyeon tersenyum. 1 minggu mengenal sosok Luhan, yang menjadi suaminya ini, sedikit banyak ia mulai memahami karakter suaminya itu. Kadang ia sedikit takut bahwa sikapnya akan berbeda jauh dari dirinya sebelum hilang ingatan, ia harus mulai dari awal mengingat satu-persatu kesukaan Luhan, karakter Luhan, apa saja yang membuatnya marah dan ia harus tahu bagaimana merawat Gaozhan dengan baik. Melihat Gaozhan yang sudah sebesar itu, pastilah ia sudah lama menjalani kehidupan rumah tangga dengan Luhan. Namun kenapa selama 1 minggu ini ia kurang merasakan Chemistry yang kuat antara ia dan Luhan. Suaminya itu begitu dingin dan ia suka sekali mengalah, ia memang suka menuruti kemauan Sooyeon, namun ia tidak pernah menunjukkan ekspresi lain selain ekspresi datarnya itu. Apa Luhan memang seperti itu?

“Kau… apakah secerewet yang dikatakan Gaozhan?”

Luhan menoleh, ia menatap Sooyeon. Membuat yeoja itu berfikir bahwa pertanyaannya telah menyinggung Luhan.

“Dia mengatakan itu?”

“Dia hanya takut kau tidak membelikannya mainan lagi”

“Dia harus belajar disiplin sejak kecil”

“Baiklah” kini giliran Sooyeon yang mengatakan kalimat itu.

Luhan terkekeh mendengarnya, lalu dilanjutkan dengan senyum yang mengembang dipipinya. Sooyeon yang melihat itu hanya mengerutkan keningnya, sekaligus kagum karena baru kali ini ia melihat senyum Luhan yang manis seperti itu.

“Kenapa? Ada yang lucu?” tanya Sooyeon.

“Kau harus sering tersenyum, aku akan menyusul pahlawan kecil itu” Luhan beranjak dari Sofa dan berlari kecil menaiki anak tangga menyusul Gaozhan.

Tersenyum ya….seharusnya kata-kata itu untukmu..

Sooyeon mengerucutkan bibirnya, kalimat terakhir Luhan seolah –olah dirinyalah yang tidak pernah tersenyum.

_____________________________________________

Cukup kau ingat aku suamimu, Gaozhan adalah putramu. Selainnya tentang dirimu jangan pernah kau tanyakan itu.

Sooyeon sedang menyelesaikan ddeokbokkinya di dapur, Gaozhan pergi ke sekolah dan Luhan bekerja, ia tidak tinggal satu rumah dengan Ibu mertuanya, namun ibu mertuanya itu sering sekali datang kerumahnya dan membawakan makanan untuknya. Ia tidak ingat ia bisa memasak atau tidak sebelum ia hilang ingatan, terakhir kali saat ia mencoba untuk memasak untuk makan malam, berakhir dengan kekacauan kecil di dapurnya. Karena keran bocor dan telur yang ia masak gosong. Luhan dan Gaozhan hanya menatap telur itu dengan jengah. Dan akhirnya Luhan harus memesan makanan Delivery untuk makan malam saat itu. Mendengar itu ibunya semakin sering datang kerumahnya dan membawakan banyak makanan untukknya sampai makan malam tiba, ia hanya tinggal memanaskannya saja, namun itupun tidak bertahan lama ketika Luhan memarahi ibunya karena terlalu sering memasak untuknya. Karena ibunya sering memasakkan makan malam untuknya dan Sooyeon Jia makin sering berkunjung kerumahnya dan membuat rumah itu seramai taman bermain. Ia terus berbicara dengan Gaozhan dan Sooyeon. Akibatnya dia yang ingin istirahat sepulang kerja harus tertunda sampai Jia mau meninggalkan rumahnya.

Dan sekarang Sooyeon sedang berkonsentrasi dengan tayangan televisi di depannya. Ia sengaja memindah letak televisi itu menjadi dekat dengan dapur, jika ia punya Smartphone ia tidak perlu repot-repot memindah televisi itu ke ruang dapur. Untung teleisi di kamar tamu tidak sebesar televisi di ruang tengah. Sepertinya ia perlu lama dengan televisi itu setiap ia menyiapkan makan malam.

“Finish” ia tersenyum bangga melihat masakannya yang tengah masak di dapam panci.

“ddeokbokki ala Sooyeon” Sooyeon tersenyum kecil . ia memindah hasil masakannya itu kedalam mangkok besar lalu kemudian ia masukkan ke lemari untuk ia panaskan agar ia tidak terlalu lama memanaskannya nanti.

Ia beralih ke ruang tengah untuk menonton acara televisi kesukaannya. Ia merasa bosan karena Gaozhan tidak ada di rumah hari ini. Seharusnya sepulan sekolah Gaozhan sudah bermain dengannya di rumah. Namun hari ini Gaozhan bersama Jia. Jia menemani Gaozhan yang ingin bermain di taman kota, sambil berjelajah memburu mainan. Jika saja ia bisa menyetir ia akan mengantar Gaozhan bermain dan berkeliling. Ia menyesal karena tidak mau diajak Jia bersamanya. Ia beralasan siapa yang akan menyiapkan makan malam nanti jika ia ikut dengan Jia.

Ah tunggu. Menyetir? Bahkan kau tidak ingat daerah-daerah yang kau tuju Sooyeon

Sooyeon tersenyum miris, ia lupa jika ia tengah lupa akan dirinya sendiri. Kemungkinan besar ia juga lupa ia bisa menyetir atau tidak, ia hafal atau tidak jalanan di kota ini.

“Aku ingin jalan-jalan” ucapnya. Dan entah ia tidak berani mengatakan itu pada Luhan. Ia takut meminta banyak pada Luhan, selama ini Luhan terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin karena ia yang dirawat di rumah sakit Luhan terlalu banyak ijin dari kantornya dan menunda banyak pekerjaannya.

“tidak ada salahnya jika aku keluar sebentar” Sooyeon mematikan televisinya, ia mengambil jaket yang tergantung di dinding dan melangkah keluar rumahnya.

Ia melihat sekelilingnya. Rasanya… dunia ini begitu indah, kenapa ia melewatkan hari-harinya hanya di dalam rumah?

Sooyeon tersenyum girang, ia membuka pintu pagar rumahnya. Sesekali ia melihat mobil yang melewati jalan depan rumahnya, ternyata diluar rumahnya tidak sesunyi yang ia pikirkan.

“Kenapa aku tidak pernah memikirkan ini?” gumamnya. Lalu ia dengan santai melangkahkan kakinya melewati beberapa rumah di kompleks itu, langit sore memang sangat indah dengan angin yang semilir seperti ini.

Sooyeon membungkuk pada orang-orang yang ia lewati, mereka tetangganya dan ia yakin mereka sudah saling kenal sebelumnya.

Sooyeon memperlambat langkahnya, setelah melewati beberapa rumah dan menyapa beberapa tetangganya, ia merasa ada yang aneh dengan mereka. Mereka seperti tidak mengenalnya. Apa Sooyeon yang dulu tidak pernah menyapa tetangganya? Atau dia tidak pernah keluar dari rumah itu? Atau malah dia dulunya adalah wanita karir yan sangat sibuk sehingga tidak sempat bergaul dengan tetangganya.

“Chogio! “ seseorang yang ada di belakangnya menyapanya.

Sooyeon berhenti, karena hanya dia yang ada di jalan itu. Ia membungkuk ketika melihat ada wanita paruh baya yang menyapanya.

“Anyeonghaseo Ahjumma” sapanya sopan

“Agassi orang baru? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya? Apa kau yang tinggal di rumah besar itu?” Ahjumma itu menunjuk kearah rumahnya.

Sooyeon tersenyum, ia bingung harus menjawab apa. Apa dia dan Luhan baru saja pindah rumah? Kenapa Ahjumma ini mengatakan itu?

“Benarkah? “

“Ah… atau mungkin Agassi yang tidak pernah keluar rumah, aku sedikit ingat jika di rumah itu sering terlihat laki-laki tampan dengan anak kecil, sering juga keluar masuk wanita cantik dan seorang paruh baya yang mungkin ibu laki-laki tampan itu, aku kira wanita cantik yang sering kerumah itu adalah istrinya, tapi siapa Agassi aku tidak pernah melihatmu”

“Oah… Choneun, Sooyeon imnida, mungkin laki-laki tampan yang kau maksud adalah suamiku, dan anak kecil itu adalah putraku, sedangkan wanita cantik itu adalah kakak iparku, dan wanita paruh baya itu tentu adala ibu mertuaku.” Sooyeon memperkenalkan dirinya.

“Begitukah? Ahhh…. Agassi seharusnya sering keluar rumah dan bergaul dengan kami…. kami tahu rumah kami tidak sebagus rumahmu..”

“Aaaahh… baiklah, mungkin saya sangat sibuk waktu itu, namun kali ini saya banyak waktu luang dan ingin menghibur diri sebentar”

“Mampirlah ke kedaiku untuk sekedar makan ramyun dan minum sebentar, bawa juga suamimu”

“Ne.. Ahjumma… Kamsahamnida” Sooyeon membukkukkan setengah badannya , dan setelahnya Ahjumma itu berlalu darinya.

Mereka tidak pernah melihatku sebagai nyonya rumah? Kemana saja aku selama ini?

Sooyeon memutuskan untuk memutar balik arahnya. Ia harus kembali, sebelum Luhan pulang.

.

.

Ia melihat samar, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Dan ia tahu itu mobil suaminya, ia tersenyum dan berlari kecil agar lebih cepat sampai di rumahnya.

Ia menghentikan langkahnya ketika ia tahu Luhan keluar dari pagar rumahnya, ia melihat wajah Luhan yang khawatir ketika keluar dari pagar rumahnya, dan kekhawatirannya memudar ketika melihat Sooyeon yang berjalan kearahnya.

Luhan berlari kecil dan menarik tangan Sooyeon untuk masuk kedalam rumah, Gaozhan yang menunggunya di depan rumahpun tanpa bertanya banyak mengikuti kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah.

Sooyeon merasa sikap Luhan aneh kali ini.

“Dari mana?” tanya Luhan, ia mulai merenggangkan genggamannya pada pergelangan tangan Sooyeon.

“Sakit Lu” ucapnya lirih, Luhan yang menyadari itu segera melepaskannya.

“Dari mana? Kau sendirian? “

“Aku merasa bosan lalu aku berjalan-jalan sebentar keluar rumah, Wae?”

“apa terjadi sesuatu?”

“Tidak, aku hanya menyapa tetangga”

Luhan menatapnya tajam, sulit diartikan arti tatapannya.

“Mommy…. Mommy !” Gaozhan merengek. Ia meloncat loncat kecil meraih pintu lemari es.

“Wae?” Sooyeon beralih pada Gaozhan dan meninggalkan Luhan dengan segala kekhawatirannya.

“Lain kali jangan lakukan itu, setidaknya kau harus bersama seseorang ketika keluar rumah” Luhan melepas jaznya, dan mendekati Sooyeon yang tengah memanaskan makan malamnya.

Sooyeon menarik dasi Luhan, dan melonggarkan dasi itu.

“Duduklah dan jangan ganggu aku di dapur, aku hanya memanaskan makanan, perlukah kau sekhawatir itu?” Sooyeon menatap Luhan dengan tatapan yang sebisa mungkin terlihat manis dimata Luhan.

Luhan mendengus, ia menuruti Sooyeon untuk duduk di meja makan bersama Gaozhan.

“Kalian serasi  sekali” celetuk Gaozhan. Sedetik kemudian anak kecil itu menutup rapa bibirnya, ia melihat Luhan yang tengah menatapnya dengan tatapan sedikit horor.

Sooyeon yang mendengar itu hanya tersenyum.

‘Kalau kami tidak serasi tidak mungkin kami memiliki putra setampan dirimu Gao” Sooyeon sudah selesai memanaskan makanannya , setelah selesai menyiapkannya di meja makan ia mencubit kecil hidung putranya itu.

Jika seperti ini, sepertinya ia tidak ingat lagi dengan keinginannya untuk mengingat masalalunya.

“Mommy memang tercantik” Sooyeon tersenyum mendapat pelukan hangat Gaozhan.

Sedangkan Luhan menatap mereka dingin.

.

.

.

“Semoga kau bahagia Sooyeon_ah” Luhan menatap kedua makhluk itu dengan senyum kecil yang mengembang di pipinya.

TBC..

Advertisements

15 thoughts on “LOVE YOU…(Chapter 1)

  1. Shanty says:

    wah ff bru lgi, pnasrn, sooyeon emang kpn nikh sma luhan, ato luhan ada maksud tersembunyi, trz gaozan itu bnran anknya luhan sma sica, apa bnr mreka udh nikah, aaaa pnasran lanjut thor, jgn lama2 aku tunggu, keep wraiting 🙂

  2. N0vi says:

    Auth0r FF ini kereeen bget pk0knya hrus dilanjut!!. . .
    Bca awal cerita aku ngerasa kyk nice guy tp FF ini agak beda dan misteri dr cast-nya itu bkin aku smkin penasaran, siapa sbnernya luhan trus knpa jessica kclakaan dan bnarkah sica istrinya luhan???
    Feelnya dpt bget pk0knya daebak. . . . Next cpt ya th0r hehe . FIGHTING.

  3. Jung Clara says:

    Kya nya luhan bohong deh ama jessica…bnr gag..hehehe…pnsaran thor…aq hrap ingtan sic balik..hehehe…lanjutin thor ff princess nya…aq pnsaran ama crta itu..jgn lma2 ya lnjut nya

  4. Lala dila says:

    Gue tau nih .
    Si jessica kan dibuang ama keluarganya terus ditabrak sengaja terus keluarga luhan itu sepertinya punya hutang budi ama mamah tiri jessica dan akhirya dia yg ngerawat selagi jessica amnesia .
    Yah q sedikit mikir” ksna .
    Hahahhahahah

  5. PiaChu says:

    Penasaran kenapa koq bisa gitu’-‘
    Jessica bingung banget kelihatannyaa’-‘
    Luhan misterius banget waaa><
    Dadah/? thor saya mau comment chap 2 /gakpenting/

  6. cameliashinkyo says:

    Penasaran banget ama ffnya><
    Kenapa Sica bisa kecelakaan trus lupa ingatan ?
    Apa Sica beneran istri Luhan sekaligus ibu dari Gaozhan ?
    Ini masih misterius banget
    Dilanjut ya chingu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s