PRINCESS [CHAPTER 2] FULL VER.

luhan jessica8 mungsoo daehyun2 sungjae

Author: S.Y.M

Title:   Princess

Main Cast: Jessica Jung-Xi Luhan-Kim Myungso0 (L)-Jung Daehyun-Yook Sungjae

Length: Chaptered

Genre: Fantasy, Romantic

Rating: G, PG17

Note: Aku buat versi panjang nya Chapter 2 , jadi untuk Chapter 2 short ver. yang pernah aku publis aku gabungin lagi disini. Warning Typo, dan cerita yang kurang nyambung (mungkin). untuk kata bercetak miring adalah kalimat yang ada di pikiran Sooyeon.

________________________________________________________Princess

Sooyeon terus menatap saluran telepon yang ada di meja kiri tempat tidurnya. Setelah selesai sarapan Myungsoo, Daehyun dan Sungjae pergi ke sekolah mereka masing-masing. Sedang Luhan, ia berada di ruangannya untuk mengerjakan pekerjaannya.

Kau bisa menggunakan telepon itu jika kau memerlukan sesuatu 

Begitulah pesan Luhan dan sebagai gantinya Sooyeon dikurung di kamar itu.

Sooyeon beranjak dan menyentuh saluran telepon itu, ia menekan beberapa angka di tombol itu , ia menggigit bibir bawahnya, berharap lebih untuk jawaban dari nomor yang ia tuju. Ia akan meminta bantuan untuk keluar dari tempat ini.

Ma’af nomor yang anda tuju tidak terdaftar

AGGHHHT, SIAL!

Sooyeon mengacak rambutnya kesal, sebenarnya ia berada di mana? Apa ia berada di luar daerahnya?

KRIIING  KRIIING KRIIING

Sooyeon terkejut dengan suara telepon yang tiba-tiba berbunyi itu. Ada yang menelepon nya. Dengan ragu ia meraih gagang telepon itu , ia sudah berfikir macam macam mengenai penelepon itu.

//”Apa kau berusaha menelepon seseorang yang kau kenal Sooyeon_ssi?”// Tanya penelepon itu.

Sooyeon terdiam, Luhan selalu tahu apa yang ia kerjakan, sebenarnya siapa dia?

//”Sambungan telepon itu hanya terbatas di rumah ini saja, asal kau tahu, jadi jangan bertingkah Sooyeon_ssi!//” tambahnya, lebih mirip sebagai ancaman untuk Sooyeon. Dan itu artinya ia benar-benar diculik oleh Luhan.

__________________________________________Princess

Sooyeon membenamkan diri di selimut tebal kamar itu, ia  baru menyadari jika kamar ini adalah kamar Luhan, karna aromanya sama jika berdekatan dengan Luhan. Ia sangat membenci namja itu, ingin sekali membakar kamar ini sebagai pelajaran baginya, tapi niat itu segera ia urungkan, ah…. Dia terkunci di ruangan ini, jika ia membakar ruangan ini sama halnya dengan bunuh diri. Ia tidak menjamin Luhan akan menolongnya nanti.

Ia mempererat gulatan selimut itu ditubuhnya, pipinya menggembung tanda ia sedang kesal.

CKLEK.

 

Sooyeon membuka matanya, namun ia masih tidak ingin bergerak dari posisinya. Ia tahu jika itu adalah Luhan. Ia menutup matanya, berpura-pura tidur agar namja itu berhenti mengganggunya.

Melihat Sooyeon yang bersembunyi dibalik selimut, Luhan tahu jika ia tidak benar-benar tidur, ia tersenyum lalu berjalan perlahan mendekati Sooyeon. Lama ia berdiri memandangi gadis itu, dapat dirasakan oleh Sooyeon kehadiran Luhan yang tepat berdiri memandanginya, jika ia tidak ingat kalau ia berpura-pura tidur ia sudah mendorong namja itu hingga jatuh.

Luhan mulai beranjak dan membuka korden jendela kamar itu, jendela yang sebelumnya dibuka oleh Sooyeon namun sayang, cahaya matahari yang ia cari tidak ia temukan lewat jendela itu.

Namun kali ini berbeda, sontak cahaya keluar dari jendela itu. Y a jendela itu telah dibuka oleh Luhan, memang harus Luhan yang membuka jendela itu, karna ternyata jendela berlapis itu bisa dibuka dan mempunyai lapisan kaca yang bisa membuat kita melihat pemandangan luar dengan leluasa, bahkan akan terlihat bahwa tidak ada penghalang kaca untuk melihat itu semua.

Sooyeon merasakan ada cahaya yang masuk ke ruangan itu. Ia bisa merasakan hangatnya cahaya itu, dan itu artinya ia bisa merasakan cahaya matahari lagi.

Luhan kembali mendekati Sooyeon, memberikannya cahaya matahari ternyata tidak cukup untuk membuatnya bangun dari tidur pura-puranya. Ia duduk di pinggir tempat tidur itu, perlahan tangannya bergerak untuk merapikan rambut Sooyeon, Luhan merapikan rambutnya agar ia bisa melihat dengan jelas wajah Sooyeon . Sooyeon merasakan sentuhan tangan Luhan, dan itu membuatnya seperti tersengat listrik, ada apa dengan Luhan? Tuhan tolong aku!!! Batinnya.

Luhan tersenyum lalu tangannya beralih ke wajah Sooyeon , ia menekan kening yeoja itu. Sedikit lama ia bertahan di kening Sooyeon, dan setelah beberapa lama ia meletakkan tangannya di kening itu Sooyeon membuka matanya lebar. Mata itu menyiratkan rasa terkejut seakan ia baru saja mendapati suatu kenyataan yang membuatnya seperti itu.

“Kau sudah bangun Sooyeon_ssi?” Tanya Luhan lembut, ia tersenyum kepada Sooyeon. Di rumah ini hanya LUhan lah yang paling murah senyum. Hanya Luhan yang terus memberikan senyuman kepadanya.

Sooyeon  menatapnya heran, namun beberapa detik kemudian tatapan itu tidak bisa diartikan oleh Luhan, terkejut? Shock? Sedih? Marah? Kali ini Luhan tidak bisa membacanya.

“Kau ingin melihat matahari pagi bersamaku? Aku membangunkanmu lebih pagi agar kita bisa melihat matahari bersama sebelum sarapan nanti, !” tambah Luhan.

Sooyeon menatap jendela kamar itu yang terbuka, ia sempat dibuat kagum dengan keindahan keadaan diluar kamar ini. Namun ia teringat dengan apa yang baru saja ia lihat tadi, kejadian saat tangan Luhan menyentuh keningnya, namun sayangnya itu belum cukup untuk membuatnya mengingat sesuatu yang terjadi padanya, lalu? Nomor siapa yang ia hubungi tadi? Kenapa ia bisa mengingat nomor itu? Nomor itu otomatis keluar dari pikirannya , andai saja ia bisa tersambung dengan nomor itu ia pasti akan tahu  apa yang terjadi sebenarnya. Sooyeon beralih menatap Luhan.

“Aku beri waktu …” Luhan berhenti karna tangan Sooyeon terangkat, ia menunjukkan kelima jarinya yang artinya

5 menit untuk membersihkan diri, Aaaght,,,,menyebalkan sekali batin Sooyeon meneruskan kalimat Luhan, ia menggembungkan pipinya tanda bahwa Sooyeon sudah sangat kesal dengan kalimat itu. Mana mungkin seorang yeoja diberi waktu 5 menit untuk bersih diri. Apa dia pikir dia ini angsa?

Luhan terkekeh, ia berdiri dan melihat Sooyeon beranjak dari tempat tidur itu menuju ke kamar mandi.

Dan seperti sebelumnya Luhan menunggu Sooyeon sampai menit ke lima, dan anehnya Sooyeon selalu tepat waktu di menit kelimanya. Entah apa yang ia lakukan untuk bersih diri. Yang jelas dari awal ia sudah takut untuk melawan Luhan. Dari Luhan yang selalu tahu apa yang ada dipikiran Sooyeon saja sudah membuatnya takut dan sebal kepada Luhan, ia tidak mau terlibat banyak masalah dengannya. Ia hanya ingin bersikap baik dan bisa dengan mudah meminta Luhan untuk mengirimnya lagi ke rumahnya.

Sooyeon  melihat Luhan yang sedang  memperhatikan pemandangan diluar jendela itu, perlahan ia juga melangkah mendekati Luhan, ia tidak ingin sama sekali memanggil namanya, ia yakin Luhan menyadari kehadirannya karna ini sudah lebih dari menit kelimanya.

Luhan menoleh kearah Sooyeon yang telah berdiri di belakangnya, sungguh Sooyeon juga ingin melihat pemandangan itu, hanya saja ia tidak mau mendekati Luhan.

Luhan memperhatikan Sooyeon dari atas sampai ke bawah, memang tidak ada perubahan yang mencolok dari Sooyeon meskipun ia sudah berbesih diri, hanya wajah dan rambutnya saja yang basah, mungkin ia hanya mencuci muka dan sikat giginya, tanpa mandi. Itu yang ada dipikiran Luhan.

“Hemh,,, kau tidak ganti pakaianmu?”  Luhan masih memperhatikan pakaian yang dikenakan Sooyeon. Pakaian yang sama seperti kemarin.

Sooyeon mengernyit Aish… KAU TIDAK MEMBERIKU PAKAIAN! Teriak nya namun hanya terdengar dipikirannya.

‘Kau tidak mempunyai pakaian ganti? Seharusnya kau bilang!”

Stupid! Bagaimana mungkin aku membuat persiapan saat diculik? Sooyeon memalingkan wajahnya kesal, kenapa Luhan menanyakan hal bodoh seperti itu? Dia mengurungnya dikamar ini dan tidak bisa menghubungi orang-orang yang ia kenal.

”Baiklah! Tidak usah sampai semarah itu, aku hanya ingin bertanya! “ Luhan beranjak, ia mendekati lemari pakaiannya dan memilih satu dari gantungan pakaian di lemarinya.

“Ini ! kau bisa memakainya!” Luhan menyodorkan sebuah kaos grey miliknya.

“Untuk celana,… ma’af kami semua disini laki-laki, pasti tidak akan cocok jika kau pakai!”

Sooyeon meraih kaos itu, ia ragu memakai pakaian Luhan, ia tidak pernah memakai pakaian seorang laki-laki sebelumnya. Sedetik kemudian ia melirik tajam ke Luhan. Ia bermaksud mengusir Luhan dari kamar itu agar ia bisa mengganti pakaiannya.

“aku tidak akan keluar jika tidak bersamamu, gantilah ke kamar mandi!” ujarnya.

Sooyeon mendengus, ia terus merutuki dirinya sendiri yang selalu memaki Luhan dalam hati. Dan itu sungguh percuma karna Luhan selalu bisa membaca pikirannya.

_______________________________________________Princes

Sooyeon membuka matanya lebar, ia menghirup dalam  udara pagi. Kesejukan ini jarang sekali ia temukan , ia sangat suka ketenangan, dan disini ia mendapatkan aura ketenagan dari pemandangan indah yang diberikan Luhan kepadanya.

Berkali kali Sooyeon mengambil nafas lalu menghembuskannya, di depannya terdapat pepohonan rindang dan tinggi, namun ia tetap bisa menatap langit luas jika ia berbalik kebelakang, di belakangnya ada hamparan rumput dan beberapa tumbuhan kecil disekitarnya , dia bisa melihat langit luas yang begitu biru dipagi hari.

“Kau menyukainya?” Tanya Luhan.

Seketika wajah Sooyeon berubah, ia lupa jika ia bersama Luhan ditempat itu, sejenak keindahan tempat itu membuatnya lupa dengan kekesalannya pada Luhan. Sooyeon menjadi diam dia sudah tidak ingin merutuki Luhan karna pasti Luhan akan tahu isi pikirannya.

“Apa sudah cukup kau merasakan udara tempat ini? Atau kau ingin aku lebih mendekatkanmu dengan cahaya matahari?”

Sooyeon hanya merunduk, ia memajukan bibirnya dan menggembungkan pipinya.

“Baiklah, sepertinya ini sudah cukup, waktu kita tinggal 15 menit sebelu m jam sarapan pagi, aku harus memastikan ke-3 anak itu tidak terlambat!”

Sooyeon menoleh kearahnya, dari ekspresinya ia pasti meminta untuk lebih lama lagi karna ia merasa belum puas melihat pemandangan itu.

Luhan menghela nafas, ekspresi Sooyeon yang seperti itu sedikit membuatnya iba dan ingin tertawa, ekspresi yang lucu.

“Ara. Ara! 10 menit lagi!” ucapnya dan disambut dengan senyum riang oleh Sooyeon.

Luhan mengerjap melihat senyum tulus Sooyeon,  baru kali ini ia melihat senyuman tulus Sooyeon, dia tersenyum hanya karna ia mempunyai waktu lebih untuk melihat pemandangan ini. Sooyeon sedikit menjauh dari tempatnya berdiri, ia berlonjak lonjak senang karna cahaya matahari sudah semakin tinggi dan mengenai tubuhnya. Manusia memang sangat membutuhkan cahaya itu. Dan sunggingan senyum pun selalu menghiasi pipi Luhan.

Luhan melihat Sooyeon  dari tempat nya berdiri. Melihat Sooyeon yang tidak menyadarinya ia berinisiatif untuk melakukan sesuatu pada Sooyeon. Luhan kembali mendekat, kali ini ia lebih dekat dibelakang Sooyeon, ia meraih tangan Sooyeon yang tergenggam di depan dagunya. Sontak Sooyeon terkejut karna tangan Luhan tiba-tiba menyentuhnya, ia ingin menoleh namun Luhan menahannya.

“tetap saja menatap lurus kedepan, pejamkan matamu dan rilexkan tubuhmu, jangan terlalu tegang jika ada didekatku, aku tidak akan menyakitimu!”

Sooyeon menelan ludah dan ia hanya bisa menuruti kata-kata Luhan. Luhan terseyum melihat Sooyeon yang sudah tidak berniat untuk memberontak lagi. Lalu ia merentangkan tangan Sooyeon bersama tangannya.

“Hiruplah udara ini, dan rasakan kemurniannya!”

Sooyeon menurut, ia menarik nafas dalam, dan ia dapat merasakan kehangatan dan kenyamanan. Ia masih merasakan tangan Luhan yang menuntun tangan nya, ia juga masih merasakan hangatnya tubuh Luhan yang memang berada di belakangnya. Namun perlahan ia merasakan tangan luhan tak lagi menggenggam jemarinya, tangan Luhan turun menelusuri lengannya lalu pinggangnya, ia melingkarkan tangannya diperut Sooyeon lalu ia juga dapat merasakan dagu Luhan di pundaknya, ia tidak berani untuk memberontak, entah apa yang menahan tubuhnya untuk memberontak pada Luhan, seperti ada aura yang menahannya sehingga Luhan bisa dengan mudah menyentuhnya, ia hanya takut jika Luhan menyakitinya.

“Udara ini memang memberikan kebebasan padamu Sooyeon_ssi! Namun tidak untuk kebebasanmu dari ku!”

______________________________________________Princess

“Udara ini memang memberikan kebebasan padamu Sooyeon_ssi! Namun tidak untuk kebebasanmu dari ku!”

Kata kata itu masih terdengar jelas ditelinga Sooyeon, bahkan saat dia duduk bersama ketiga saudara Luhan di meja makan. Mereka sedang menikmati sarapan mereka, seperti hari kemarin mungkin hari ini ia juga akan dikurung di kamar Luhan. Memang setelah memeluk Sooyeon  selama 10 menit ia bisa merasakan hangatnya tubuh Luhan yang memeluknya, namun tidak untuk perasaan takut karna kalimat Luhan itu.

Dalam waktu 5 menit Luhan mampu membawanya sampai di ruang makan ini sudah menunjukkan jika Luhan mempunyai keahlian lain selain membaca pikirannya. Ditambah lagi sentuhan tangan Luhan yang memberinya sedikit gambaran tentang apa yang terjadi padanya sebelum ia sampai di rumah ini. Sooyeon sengaja memperlambat untuk menghabiskan makanannya, ia bisa melihat jika Sungjae sudah beranjak dari kursinya dan berpamitan pada Gegenya  untuk pergi ke sekolah, disusul dengan Daehyun yang sedikit melirik Sooyeon sebelum meninggalkan mejanya, untuk Myungsoo sepertinya dia masih ingin berlama-lama di meja makannya. Sooyeon tidak mengambil pusing hal itu, ia ingin mempunyai kesempatan untuk berfikir lebih banyak tentang gambaran itu.

Sooyeon memainkan sendok nya, masih ada 3 kali suapan dipiringnya, namun ia masih enggan untuk menghabiskannya. Ia dapat merasakan tatapan Myungsoo yang membuatnya ingin meninju mata itu. Ia tidak ingin melihat orang yang ada didepannya ini, dan akhirnya matanya tertuju pada Luhan yang sudah menyelesaikan makanannya dan melanjutkannya dengan meminum kopi dicangkirnya.

“Kau tidak ke sekolah?” Tanya Luhan, dan jelas itu ditujukan pada Myungsoo.

“Aku tidak ada kelas, lagi pula aku harus istirahat dirumah” jelas Myungsoo seraya meminum susunya.

Luhan beralih menatap Sooyeon, wajah serius yang ia berikan pada Myungsoo seketika berubah dengan senyuman untuk Sooyeon.

“Kau ingin sesuatu Sooyeon_ssi?” Tanya Luhan lembut. Jika Sooyeon berani mengumpat ia sudah mengatakan jika wajah itu palsu, Luhan tidak pernah tulus tersenyum pada Sooyeon.

“Bicaralah… kau tidak pernah berbicara selama bersamaku! Jangan membuatku terus membaca pikiranmu, aku sedang tidak dalam mude ku untuk meladeni pikiran pikiranmu!” tambah Luhan. Jika kata-kata Luhan sudah sedikit kasar bagi Sooyeon , itu artinya Luhan sudah mulai marah pada Sooyeon.

Memang, Sooyeon tidak pernah berbicara selama ia ada di rumah ini, Luhan selalu tahu apa yang ia pikirkan, itulah kenapa Sooyeon malas untuk mengeluarkan suaranya, ia marah karna ia tidak bisa mengingat , dan ia marah karna ia bersama orang-orang asing yang tidak menjelaskan sedikitpun kejadian yang sebenarnya padanya.

“emm…” Sooyeon hampir mengeluarkan suaranya, beberapa hari tidak berbicara memang membuat tenggorokannya begitu kering, ia meraih segelas air putih dan meminumnya untuk memberikan  sedikit pelumas pada tenggorokannya.

Luhan dan Myungsoo masih menunggu dengan apa yang  akan dikatakan Sooyeon . Berulang kali Sooyeon menggerakkan bibirnya, namun tetap saja ia tidak mengatakan apapun.

Aku ingin keluar dari rumah ini, tempat ini asing bagiku! Kalian orang-orang aneh

Akhirnya Sooyeon kembali berkata dengan pikirannya, dan Luhan kembali harus menggunakan kekuatannya untuk membaca pikiran Sooyeon. Sooyeon  tahu jika Luhan pasti membaca pikirannya, ia masih tidak ingin berbicara dengan Luhan atau satu orang pun dirumah ini, mereka semua orang asing baginya apalagi jika ia merasa jika Luhan menculiknya. Itu membuatnya enggan untuk berbicara pada orang yang menculiknya itu.

“Apa dia belum bisa mengingat sesuatu? Kau belum menjelaskan sesuatu padanya?” Myungsoo angkat bicara. Sontak Luhan menatapnya tajam, Seolah Myungsoo baru saja mengatakan hal yang salah pada Sooyeon.

“Dia memang lambat, seharusnya dia bisa dengan cepat memahami jika ia sudah tidak lagi dilingkungannya” tambah Myungsoo dan membuat Luhan semakin menatapnya tajam.

“Gege! Ja_”

“Aaw!”

Myungsoo menghentikan kalimatnya ketika melihat Luhan sudah menarik tangan Sooyeon dan membawanya pergi dari meja makan mereka. Myungsoo hanya bisa diam menatap Gegenya membawa Sooyeon dengan paksa untuk kembali dikurung di kamarnya. Ia tidak ingin bertengkar dengan Luhan hanya karna membela Sooyeon yang tak kunjung mengingat sesuatu.

_______________________________________________________________Princess

BRAK

 

Pintu itu tertutup dengan keras dan Sooyeon terhempas di tempat tidur itu. Sooyeon menatap Luhan takut, selama ini Luhan selalu ramah padanya, meskipun terkadang kata-katanya mengancam tapi Luhan bukanlah orang yang terlihat kasar.

“Kau  tidak menghargai kami disini? Setidaknya bicaralah pada kami! Jika kau ingin teriak, teriak lah! Jika kau ingin memaki, maki lah ! jangan terus kau menggunakan pikiranmu itu! “

Sooyeon  duduk di pinggiran tempat tidur itu dan hanya bisa menunduk. Ia tidak menyangka jika kediamannya membuat Luhan marah, itu salah Luhan, kenapa Luhan selalu tahu isi pikiran Sooyeon, itulah kenapa Sooyeon tidak pernah mau mengeluarkan suaranya.

“Kau pikir mudah membaca pikiranmu? Huh?! Itu menguras tenagaku!” imbuh Luhan.

Kini Luhan mendekati Sooyeon, namun Sooyeon malah menjauh , Sooyeon berdiri ketika Luhan akan duduk disampingnya.

“Kau takut? Aku membuatmu takut sehingga kau menjauh? “ Luhan masih mendekati Sooyeon yang terus melangkah mundur menghindari Luhan.

“Aku perlu tahu apa yang kau inginkan, jadi katakan sesuatu, aku ingin mendengar suaramu Sooyeon_ssi!”

Sooyeon semakin mundur dan kini langkahnya tertahan pada dinding yang ada dibelakangnya, ia ingin berteriak minta tolong, namun nama siapa yang akan ia panggil? Ia ingin berteriak namun tenggorokannya sudah terlanjur kering untuk mengeluarkan suara. Ia juga tidak tahu kenapa ia sampai tidak bisa mengeluarkan suaranya jika ia sedang marah. Sikap Luhan yang membuatnya takut sekaligus marah membuat Sooyeon membenci Luhan dan tidak mau mengeluarkan suaranya. Sooyeon juga bingung akan hal itu.

Sooyeon hanya merapat pada dinding kamar Luhan, dan membuat Luhan dengan mudah meraih tangan Sooyeon dan menghimpit gadis itu.

“Aku akan membuatmu bicara!”

Luhan membungkam bibir Sooyeon dengan bibirnya, sontak Sooyeon memberontak dan memukul pundak Luhan agar Luhan melepaskan tautan bibirnya.

“ANDWAE!” Teriak Sooyeon  dan berhasil mendorong Luhan , ya.. kali ini Sooyeon mampu berteriak karna Luhan menciumnya dengan paksa.

“Aku hanya ingin pergi dari tempat ini, aku ingin keluar dari tempat ini, ini asing bagiku! Aku tidak mampu mengingat apapun, kumohon… kembalikan aku ke tempatku! Kumohon ! Jeball!” pinta Sooyeon.

Sooyeon menangis, ia memohon pada Luhan agar tidak berbuat lebih padanya, jika Luhan tidak menjelaskan keadaan yang sebenarnya, lalu untuk apa ia ada dirumah ini? Jika ia diculik kenapa ia tidak meminta tebusan? Jika memang ia mengenal Luhan sebelumnya.. kenapa Luhan tidak menjelaskan sesuatu?

Luhan masih terdiam, ia mendekati Sooyeon yang terus memintanya untuk keluar dari rumah ini. Kali ini Luhan kembali meraih tangan Sooyeon dan kembali membungkam bibir Sooyeon dengan bibirnya.

“mphhhp” Sooyeon berusaha melepas tautan bibirnya, ia memukul-mukul dada Luhan.Namun sayang Luhan tetap membungkam bibir Sooyoen dengan bibirnya, menciumi bibir Sooyeon dan sesekali melumat lembut bibir tipis itu, pukulan Sooyeon tak berpengaruh pada Luhan, kali ini Sooyeon menyerah, tenaganya seolah terkuras habis dan ia pasrah dalam ciuman Luhan, ia menutup matanya dan kali ini ia bisa melihat beberapa hal. Sementara Luhan masih terus menciumi bibirnya, ia bisa merasakan jika Luhan juga berusaha untuk membuka sedikit ingatan Sooyeon.

_______________________________________________________________________Princess

Luhan melepaskan tautan bibirnya, ia masih menghimpit Sooyeon, Luhan  mengatur nafasnya karna ciuman Luhan cukup lama pada Sooyeon. Luhan sedikit menjauh dan memberi ruang pada Sooyeon untuk bernafas juga.

“Kau sudah mengingatnya? Kau sudah tahu kenapa alasan ku membawamu ke tempat ini?” Tanya Luhan, nadanya begitu dingin dan sedikit tersengal karna nafasnya tidak beraturan, tidak seperti biasanya.

Sooyeon tersimpuh, ya.. ia mengingat kejadian sebelum ia sampai di tempat ini, ia mengingat kenapa pergelangannya terluka, ia mengingat gambaran yang diberikan Luhan saat ia menyentuh keningnya, ia mengigat semua saat Luhan menciumnya.

“Aku di culik?” ucap Sooyeon  lirih.

“Ya, dan jika kau berfikir kami yang menculik mu itu salah besar! Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi memang Kamiah yang menyelamatkanmu dari orang-orang itu! Jadi kumohon menurutlah dengan kami, jangan meminta untuk kembali ke tempat asalmu, karna mereka akan menangkapmu lagi, itu berbahaya untuk mu! “

“Tapi.. kenapa? Kenapa mereka ingin menyakitiku? Aku tidak mengenal mereka, aku tidak punya urusan dengan mereka!”

“Aku tidak ingin menjelaskan itu sekarang, tapi perlu kau tahu.. . kau akan aman bersama kami jika kau menurut pada kami, jangan membuatku menggunakan kekuatan ku untuk membaca pikiranmu karna itu sulit untuk ku! “

“ANDWAE!” teriak Sooyeon.

“AKU TIDAK PERCAYA PADAMU XI LUHAN! Kau membohongiku, kau bisa membaca pikiranku, kau bisa memperlihatkanku dengan semua itu? Apa itu masuk akal? Aku hanya seorang Jung Sooyeon aku gadis biasa, jangan mencoba untuk menipuku dengan alasan seperti itu! Kumohon cepat lepaskan aku dan aku tidak akan menuntutmu, aku yakin aku mempunyai keluarga yang akan khawatir tanpa keberadaan ku, apa kau tidak memikirkan itu? Apa yang kau inginkan dari ku HEUH?” Sooyeon berteriak frustasi, ia menenggelamkan wajahnya di balik lengan yang memeluk kedua kakinya.

“Sooyeon_ssi!” Luhan mendekati Sooyeon, ia sangat tahu bagaimana masa lalu Sooyeon, dengan gambaran yang ia tunjukkan itu ternyata belum cukup untuk membuat Sooyeon percaya bagaimana masa lalunya.

“Kumohon lepaskan aku, aku tidak ingin berada disini, aku ingin bersama keluargaku!” isak Sooyeon, ia masih menyembunyikan wajahnya.

“MENJAUHLAH XI LUHAN!” Bentak Sooyeon saat ia merasakan tangan Luhan menyentuh rambutnya.

“KUBILANG MENJAUH, AKU SUDAH MUAK DENGAN SIKAP BAIK MU YANG PALSU ITU! KAU ORANG JAHAT KAN? KAU PASTI ORANG JAHAT! “ Sooyeon semakin berteriak.

Luhan hanya diam, ia tahu jika keadaannya akan seperti ini, Sooyeon akan terus meminta untuk kembali ke tempatnya sebelumnya jika ia tidak juga menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Gambaran saat Sooyeon hampir dibunuh oleh orang-orang suruhan itu belum cukup untuk membuat Sooyeon percaya bahwa Luhan dan saudara-saudaranya lah yang menolongnya. Jika ia menceritakan semuanya, ia yakin Sooyeon akan menolak untuk bersamanya di rumah ini. Sedangkan dia dan ketiga saudaranya membutuhkannya untuk bersama mereka.

BRAK

Seseorang membuka kasar pintu itu, suara teriakan Sooyeon yang sangat keras mengundangnya untuk datang ke kamar ini.

“SOOYEON NOONA!”   Sontak namja itu mendekati Sooyeon. Sedangkan Luhan ia masih terdiam melihat Sooyeon yang memberontak. Ia tidak pernah menghadapi hal ini sebelumnya, apalagi jika seorang Sooyeon yang memberontaknya.

“Biarkan aku yang mengatasinya!” ucap namja itu yang berhasil mendekati Sooyeon tanpa ada perlawanan dari Sooyeon.

“Ka_au juga menj_auh! a_ku tidak me_ngenalmu!” ucapnya  terisak.

“Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu! Aku akan membantumu untuk mengingat semuanya noona!’ ucap namja itu lembut dan mengarahkan Sooyeon dalam pelukannya.

_____________________________________Princess

TBC..

 

 

 

Hfuh…. aku mati-matian mencuri waktu untuk melanjutkan ff iseng ku ini, sungguh ini ff iseng yang aku unggah di blog, tapi syukurlah … dari coment yang ada itu membuat ku untuk bertanggung jawab  menyelesaikan apa yang aku tulis karna banyak sekali fanfic-fanfic yang aku buat dan tidak ada kelanjutannya di komputer ku. Terimakasih untuk riders dan please beri aku masukan karna cukup sulit dan lama untuk ku bisa  berpindah dari pengarang bebas pembuat cerpen sedih dan cerita fact ke fanfiction. Untuk poster di atas, aku tahu aku payah dalam hal itu.

 

 

Advertisements

12 thoughts on “PRINCESS [CHAPTER 2] FULL VER.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s