[chapter 1] BEAUTIFUL DIAMOND

Author: S.Y.M

Title: Beautiful Diamond

Genre: Fantasy, …

Rating: PG 15

Main cast: Jessica aka Jessica

Tiffany aka Tiffany

Sehun aka Lou

Xiumin aka Nao

and other cast

Note: This is my 1st fanfic about Jessica, untuk kelanjutannya…. semoga aku bisa lebih punya banyak waktu untuk mendapatkan inspirasi yang bisa aku tulis…… Aku berdo’a pada Tuhan untuk itu. hehehehe

semoga aku siap dengan beberapa kritikan.

GANBATTE 

_____________________________Beautiful Diamond __________________________

Keindahan dan keabadian itu lah yang dia inginkan….

….

…..

 

Malam itu mereka berlima termasuk Tn Arthur berkumpul di Perpustakaan Tua, seperti biasa, Tiffany akan sibuk dengan Laptop  dan dunia dunia teknologinya, mata yang tertutupi kacamata itu terus berkeliling menelusuri setiap tulisan dan beberapa hal yang ada di Screen Laptopnya , tak lupa suara Keyboard yang terdengar cepat dan entah apa yang ia ketik selama berjam-jam itu.

Berbeda dengan Nao yang sibuk dengan bukunya ia sedang sangat penasaran dengan buku tebal yang direkomendasikan Jessica untuknya, lebih tepatnya Jessica menantangnya untuk memahami dan menyelesaikan buku tebal 500 halaman itu, itu sangat membuatnya kesal karna selama ini ia ingin mengalahkan Jessica dalam menjelajahi berbagai macam buku tebal di perpustakaan ini, karna mereka sama-sama mempunyai kekuatan pada mata mereka, meskipun sebenarnya Jessica masih belum mampu menandingi daya baca Tiffany dan meresapi isi dari buku-buku tebal itu. Setidaknya ia bisa mengalahkan Jessica dan setingkat lebih tinggi diatasnya.

 

Laki-laki itu Lou, ia sedang duduk di kursi paling jauh di ruangan ini, ia hanya bersandar pada kursi kayu itu, ditangannya terdapat sebuah buku, buku yang sangat ia gemari untuk membacanya, namun kali ini ia tidak membacanya, ia sedang memperhatikan satu persatu orang di ruangan itu

Jika ia bisa membaca Tiffany dengan berbagai Key User dan pasword pasword untuk meng Hack sistem keamanan yang entah sistem keamanan negara mana lagi yang ingin ia lumpuhkan , tak perlu ambil pusing dengan itu. Beralih pada seseorang yang duduk dengan tenang dengan bukunya, Nao dengan kata-kata aneh yang terlihat seperti mantra-mantra kuno di bukunya, Tn Arthur dengan berbagai rumus rumus anehnya, entah kenapa ia harus membaca rumus-rumus itu di saat seperti ini, dan satu lagi, gadis yang duduk tak jauh dar Tn Arthur, atau lebih tepatnya di ujung seberang tempatnya duduk, ia tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Gadis itu memejamkan matanya namun ia tahu ia tidak sedang tidur, di telinganya terpasang manis headphone putih namun ia sangat tahu jika kabel headphone itu tak benar-benar terpasang di Ipodenya, ia sedang memikirkan sesuatu, dan sayangnya kekuatan Lou tidak berlaku untuk gadis itu. Gadis itu, Jessica adalah pengecualian untuk kekuatannya yang satu itu, membaca pikiran orang.

 

“Jessie!” begitulah Tn Arthur memanggil Jessica,

Jessica membuka matanya, ia melihat lurus di depannya lalu tersenyum pada Lou, laki-laki yang memandanginya sejak tadi, Lou hanya menatapnya dingin,  ia juga sangat tahu jika Jessica menatapnya seperti itu berarti ia tahu apa yang dikerjakan Lou sedari tadi.

“Ya, Tn Arthur!” Jessica beranjak dari kursinya lalu mendekat ke meja Tn Arthur.

Tn Arthur tersenyum pada Jessica yang mendekat, lalu memutar buku yang ia baca, isi dari halaman itu membuat mata  jessica sedikit melebar.

Melihat Tn Arthur memanggil Jessica, Lou mempunyai firasat bahwa ia akan mendapatkan Informasi tentang gadis itu melalui Tn Arthur dengan apa yang ia tunjukkan, Lou menyipitkan matanya, berusaha untuk berkonsentrasi dan membaca pikiran Tn Arthur.

 

1,2,3….

“SIAL!” unpatnya pelan,

Namun Jessica bisa mendengar itu, Jessica tersenyum penuh kemenangan mendengar umpatan Lou. Tn Arthur yang melihat senyum simpul khas Jessica itu hanya membalasnya dengan senyum miris, lagi-lagi ia dipermainkan oleh gadis ini, pikirannya seenaknya saja dikendalikan oleh Jessica, memang sedikit merepotkan mengasuh ke-4 anak itu, terutama untuk Nao dan Lou, jika Jessica lebih sering diam dan secara diam-diam mempermainkannya berbeda dengan Nao yang sering mengejutkannya dengan perubahan warna matanya, dan itu yang paling menghawatirkannya, jika sampai ia tidak bisa mengendalikan setiap perubahan warna mata itu. Meski ia terlahir dengan bakat alami hanya saja ia harus berlatih mengenai kekuatan-kekuatannya itu. Dan Lou, hemhhh tak banyak komentar tentangnya, hanya saja rasa ingin tahunya lebih tinggi dari keberaniannya, dan itulah yang membuatnya semakin kuat dan berani untuk menghadapi apapun yang terjadi nantinya, ia akan melakukan apapun untuk memenuhi rasa ingin tahunya.

Jessica meminta ijin untuk meninggalkan meja Tn Arthur tapi sebelumnya meninggalkan sebuah pesan pada halaman tersebut kepadanya, Jessica berjalan mendekati Lou, sontak Tiffany dan Nao yang sebelumnya sibuk dengan konsentrasi mereka beralih pada langkah Jessica yang mendekati Lou, dantentunya  wajah kesal Lou  karna kegagalannya yang untuk kesekian kalinya kepada Jessica, mereka memang terkenal dengan perang dinginnya.

 

“Kau masih terus mencobanya?” Tanya Jessica datar.

Lou mengalihkan pandangannya, ia tahu ia sudah kalah kali ini, jika ia mengatakan sesuatu, atau memberikan pembelaan, atau memberikan tantangan , atau apalah itu, malah akan membuat Jessica menertawainya. Kecepatannya masih belum bisa mensejajari Jessica. Bisa saja Jessica dengan cepat mendahuluinya untuk mengendalikan pikirannya, menggunakan kekuatan telephatinya untuk memerintahnya.

 

“ Kau Puas? Baiklah lakukan sesukamu!” jawab Lou akhirnya.

 

Tiffany hanya menggeleng melihat mereka berdua, tidak ada yang bisa menandingi deathglary mereka, tatapan datar mereka, tatapan dingin yang lebih terlihat seperti ingin memakan orang itu, mereka sangat menakutkan.

_________________________Beautiful Diamond________________________

Now….. in Modern Day,

Jerman, 25 Maret 2013….

“Guten Morgen (selamat pagi/jerman)” Gadis itu menjawab ponsel yang terus berbunyi, mengganggu tidur panjangnya,

“Oh ! Wie Geht es?! ( bagaimana kabarmu)?” lanjutnya kemudian, namun masih dengan malas.

“Hoach,,,,, Okey! Die wir dort getrofen (Kita bertemu disana)!” Gadis itu, Jessica ia bangun dari tidurnya, ia berusaha membuka matanya lebar, lalu berjalan sentoyongan ke kamar mandi yang ada dikamar itu, ia membasuh wajahnya dan kini ia bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah bangun tidurnya, sedikir berantakan tapi ia terlihat lebih cantik dengan penampilannya saat ini.

“Guten Morgen German,,, say  lebewohl (God bye)!” ucapnya lalu ia meraih handuk di sampiran kamar mandi itu.

_________________________Beautiful Diamond_________________________

New York, 25 Maret 2013

“Hallo!” Gadis itu mengangkat ponselnya, yang menurutnya berbunyi disaat yang kurang tepat, karna sekarang ia sedang asyik dengan pemburuannya bersama Gagjet Gagjet terbaru yang sedang dalam acara peluncuran hari ini,

“What? Haaachhh Oh My,,,, could we canceled it for 3 days?” protesnya

“…”

“Okey,,, I’ll back as soon as, let me one hour to have fun”

“…”

“I know, I’ll arrive tonight , Bye!”

“ tut..tut..tut, Gadis itu Tiffany menutup handphonenya lalu bergegas untuk menyelesaikan kegiatannya hari ini, ia berjanji untuk menyelesaikannya dalam waktu satu jam kemudian akan segera meninggalkan New York.

_____________________________Beautiful Diamond ____________________

 Beijing, 25 Maret 2013

“Ni Hao! “ sapa Nao pada salah satu pedagang di pasar tradisional, ia sengaja ke pasar untuk membeli ikan Tuna, dan memanggangnya, sudah lama ia tidak memakan ikan tuna bakar, apalagi jika ia bisa mengolahnya dengan resep yang berbeda dan memakannya secara bersamaan, tanpa harus diganggu Lou, baginya ikan Tuna adalah makanan yang tidak bisa ia bagi dengan orang lain.

Drrrt drrt drtt,

“ha?”

“…”

“ Baiklah,, besok aku akan berangkat!”

“…”

“Apa?”  Nao melirik ikan tuna yang ia genggam, hampir saja ia membayarnya lalu membawanya pulang dan memasaknya, itu akan terwujud jika tidak ada telepon itu, akhirnya ia harus menunda untuk memakan ikan Tunanya kali ini, ia harus meninggalkan Beijing segera, saat itu juga.

“ Maafkan aku Tuna! “ Nao mengembalikan ikan segar itu lalu bergegas pergi dari tempat itu, bagaimanapun caranya ia harus pergi sebelum malam tiba.

___________________________Beautiful Diamond_______________________

Seoul 25 Maret 2013 Night,,,

“ I was arrived!” Tiffany menggiring koper hitamnya, memasuki sebuah apartemen yang lumayan ellite dan besar, mungkin ia harus tinggal bersama teman-temannya lagi untuk menempati apartemen ini.

“Hai Tiff!” seseorang muncul di balik pintu itu, membukakan pintu apartemen untuk Tiffany,

“ Hai Nao! Kau sampai lebih dulu!” balas Tiffany dengan sopan, seperti biasa, gadis ini penuh dengan kesopanan, bertolak belakan dengan gadis yang satunya, dan Nao tak mau membahasnya lebih jika tidak ,,, ia akan tahu sendiri akibatnya,

“Kau sedikit berubah! Hahaha tapi tetap lembut,,,!” komentar Nao yang disusul dengan lemparan senyum manis dari Tiffany.

“Terima kasih Nao! Kenapa hanya ada kau disini?”

“Aku kan hanya dari Beijing, tak perlu waktu lama untuk sampai di Seoul!”

“Setidaknya ada yang stand bye di Seoul kan Nao!” Tiffany melepas syal nya lalu berjalan menuju dapur apartemen itu, kebetulan dapur itu di susun seolah mereka sedang ada di bar, dapur yang mirip seperti tempat bartender menyiapkan minuman mereka, tepat di depan dapur itu tersusus beberapa sofa yang memang disusun khusus sebagai tempat berkumpul.

“Baiklah, kau pasti tahu apa yang ia kerjakan !” Nao tahu siapa yang Tiffany maksud, siapalagi kalau bukan Lou, dialah satu-satunya dari ke-empat anak itu yang tinggal di Seoul.

BRUK!

Suara itu menyita perhatian mereka, sesaat kemudian terdengar derap kaki seseorang dan mereka tahu siapa itu, orang yang baru saja mereka bicarakan,

“Kalian membicarakanku?”

Sosok itu berjalan sedikit sempoyongan dengan jaket yang tergantung di pundaknya, dan suara tadi adalah suara ranselnya yang ia lempar sembarangan ke sofa.

“Hoach!” Lou melempar tubuhnya ke sofa, Nao tersenyum lalu mengikuti Lou dan melempar tubuhnya ke sofa.

“Masakkan sesuatu untuk kami Tiff!” pinta Nao,  Tiffany yang sibuk dengan minumannya menoleh ke Nao, Nao menunjukkan senyum menggelikannya, bagi Tiffany, ia tahu itu senyuman permohonan,

“Baiklah, kau memintaku memasak sedang kita baru sampai di sini, tidak ada apapun disini, kecuali sebelumnya ada yang tinggal terlebih dahulu disini, dan juga, sekarang sudah cukup larut untuk membeli makanan,  apa salah satu dari kalian punya kendaraan pribadi? Semacam mobil atau apalah, setidaknya kita tidak perlu berjalan jauh jika nanti supermarket terdekat dari sini tutup!” Omel Tiffany panjang lebar. Kini Nao meringis ngeri, tidak seharusnya ia meminta tolong Tiffany jika dalam keadaan seperti ini, setidaknya ia harus menlogika keadaan sebelum meminta Tiffany untuk melakukan sesuatu.

Lou hanya tersenyum simpul melihan ekspresi Nao dan mendengarkan omelan Tiffany tadi,

“ Masih belum lengkap? Kemana Jessie? “ tanya Lou, satu keluarga mereka belum sampai di apartemen.

“Dia datang dari Jerman, wajar juga jika ia sedikit terlambat,!” jawab Nao

“Tidak ada alasan untuk datang telat, !” balas Lou

“Kalian membicarakanku?” tiba-tiba Jessica muncul di belakang mereka, ia sudah terlihat lebih bersih dibanding teman-temannya, jelas ia sudah sampai lebih dulu dan membersihkan tubuhnya karna perjalanan jauh,

“Ah!! Jessica! “ Tiffany berlari dan memeluknya, Jessica adalah satu-satunya sahabat Tiffany, lebih tepatnya Tiffany adalah satu-satunya teman yang bisa bertahan lama dengan Jessica.

“Kau menemukan tempat yang nyaman untuk istirahat? “  tanya Tiffany.

Jessica tersenyum meliriknya, matanya menyipit.

“Kau bisa memakai kamar itu untuk istirahat, taruh barang-barangmu disana, dan kalian , ! silahkan pilih kamar yang paling strategis untuk kalian, disini ada 4 kamar dan kalian bisa pilih satu untk kalian sendiri, dan juga, ada makanan didalam lemari es!” Jelas Jessica panjang lebar.

*strategis= setidaknya mereka bisa berjaga jaga, dan bersiaga, jika sewaktu-waktu ada serangan, mereka harus tahu lebih dulu.

Meski sedikit aneh, karna Jessica bisa datang lebih dulu dan menyiapkan makanan untuk mereka tapi setidaknya itu adalah sisi lain dari Jessica yang susah di tebak, dan sangat sulit untuk diketahui keberadaanya, ia lebih mirip hantu karna tidak ada yang tercium dari keberadaannya, setidaknya Nao memiliki kemampuan untuk mendengar suara dari kejauhan dan lagi-lagi itu pengecualian untuk Jessica, meskipun terdengar, tidak akan ada deteksi jika itu adalah seorang Jessica, kecuali jika Jessica sengaja membiarkan auranya terbaca oleh Nao, atau kita sebut saja itu GPS Jessica (Aura).

“WAW! Kau memasak untuk kami Jessie?” Nao meloncat gembira dan langsung menuju ke dapur untuk mengeluarkan isi lemari es itu.

“Dia mirip kucing kelaparan, apa di Beijing dia tidak makan? Atau dia sengaja untuk tidak makan karna tak cukup uang?” Gumam Tiffany, dia selalu berkomentar dengan gumaman berisi  pertanyaan pertanyaan konyol, terlalu luas dan complicated, beserta kemungkinan-kemungkinan aneh yang bahkan tidak terlintas sedikitpun, dan semua pasti akan ia jawab dengan sendirinya, satu persatu dari gumamannya itu..

“Bahkan makanan itu tidak terlihat begitu menarik untuk dimakan!” celetuk Lou, menyambung gumaman Tiffany, Jessica meliriknya kesal, Lou tidak akan pernah mudah menghargai karya orang lain terutama Jessica, dasar laki-laki dingin.

_________________________Beautiful Diamond_________________________

Sudah beberapa hari ini mereka menetap di kota Seoul, setelah sebelumnya mereka diminta untuk  berkumpul di satu kota, karna akan ada misi untuk mereka, namun sepertinya sampai beberapa hari ini mereka tidak menemui tanda-tanda akan munculnya musuh mereka.

Jessica keluar dari kamarnya, ia membuka pintu kamarnya perlahan dan mendapati Nao lah satu-satunya penghuni rumah selain dirinya,

“Dimana Tiffany?” tanyanya, ia tidak melihat Tiffany sejak kemarin malam karna ia tidur lebih dulu dan paginya ia bangun terlambat.

“Dia menginap di rumah temannya!” jawab Nao disertai lompatan suksenya melewati sofa

“Teman?” Jessica sedikit mengerutkan keningnya, ia tidak mengingat jika Tiffany memiliki teman di Seoul, sejak kapan?

“Dia dari kota Modern jadi wajar dia punya teman sebelumnya di kota ini!”

Lanjut Nao.

Baiklah mungkin apa yang dikatakan Nao ada benarnya, meski sebenarnya Nao hanya menjawab sekedarnya tanpa tahu cerita sesungguhnya, setidaknya kemungkinan besar yang dimaksud teman itu adalah kenalan baru Tiffany atau mungkin Tiffany sedang menyembunyikan sesuatu. Jessica terdiam, ia menunduk dan berjalan menuju dapur ntuk membuat kopi dan tak berkata-kata lagi, ikatan batinnya pada Tiffany sangatlah kuat, apalagi ia bisa membaca masa lalu Tiffany, mungkin ia tumbuh di Seoul, tapi ia kabur dari kota Romawi kuno sebelum akhirnya ia masuk ke Kota Tua, dia bukan tipe gadis dengan sembarang teman.

Jessica membuat kopinya dan masih sibuk dengan kediamannya, inilah yang paling dibenci Nao saat ia hanya berdua dengan Jessica.

Baginya Jessica adalah oarng paling pelit yang pernah ia kenal, pelit bicara, pelit tersenyum, pelit ekspresi dan pelit aura kehangatan, hanya aura es yang ia keluarkan.

Sedangkan Tiffany adala mesin bicara Jessica. Setidaknya itu yang selalu dikatakan Nao pada mereka, selain itu Jessica adalah mata Tiffany. Entah apa yang terjadi antara mereka, Tiffany tak mempunyai kekuatan khusus ia adalah manusia normal dengan otak jenius diantara mereka ber-4 , dan Nao juga tak habis pikir, bagaimana bisa Tiffany selalu tahu apa yang diinginkan Jessica, menjawab pertanyaaan Jessica jika Jessica tak mau menjawab pertanyaa apapun, mengerti maksud Jessica hanya dengan tatapan mata ataupun gerakan aneh Jessica.

Bahkan dia dan Lou tdak bisa membaca pikiran Jessica. Satu lagi yang membuat Nao kagum serta iri dengan Jessica. Matanya, mata itu memang terlihat normal tapi mempunyai jarak pandang terjauh yang bisa dijangkau manusia hebat sekalipun, kejeliannya dan kekuatan tersembunyinya . Meskipun mereka sama-sama mempunyai kekuatan pada mata, tapi Nao tak sejeli Jessica, matanya berbeda dengan mata mereka, dan itu sumber kekuatannya.

“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Nao yang mulai bosan dengan keheningan ruangan itu.

“Tidak ada!” jawabnya singkat

“Baiklah, !” Nao menghela nafas pasrah.

“Aku akan jalan-jalan , apa kau mau ikut?” ajak Nao, ia berdiri dan membenahi jaketnya.

“Jangan bergerak!” ucap Jessica lirih, ia meletakkan cangkir kopinya.

“Kau juga merasakannya?” Nao tersenyum simpul dan kini mereka sudah siap dengan posisi untuk menyerang.

Nao mundur dan merapat ke tembok, sedang Jessica berdiri lurus di depan pintu.

“Semakin dekat!” ucapnya

“H’EMM!” Nao mengangguk

1..2..3..4..BLAM! BLAM!

Pintu itu terbuka dan Nao sudah melempar tendangannya, begitu pula dengan Jessica.

“LOU!?” pekik Nao, Lou menahan tendangan mereka berdua dan melempar kaki Nao terlebih dahulu, sehingga membuatnya memutar tubunya. Nao sudah kembali berdiri, sekarang tinggal Jessica yang masih dengan posisi kaku tertahan dengan tangan Lou

Mereka saling melempar pandang, namun kali ini Jessica tak sedang berkonsentrasi pada tatapan Lou. Sedang Lou dia memperhatikan setiap detail Jessica yang terlihat berbeda sejak keluar dari Kota Tua, tatanan rambutnya, cara berpakaiannya dan kecantikannya. Itulah kesan yang di sembunyikan Lou , meski tak mengakuinya, ia benar-benar tahu bahwa Jessica semakin cantik.

“Sampai kapan kau menatapku seperti itu?” Kini  Jessica memecah konsentrasi Lou  dengan tatapan datarnya.

“Sorry!’’ kata Lou singkat lalu melempar kaki Jessica.

“Aishh!.. kenapa aku tidak bisa mengenali langkah kakimu?” umpat Nao

“Bukan! Bukan Lou, ada orang lain!” lanjut Jessica, ia masih merasakan ada yang aneh di sekitarnya.

“Baiklah!” Nao memejamkan matanya, ia berusaha untuk menyatukan kekuatan dari energi suara yang Ia dengar, dan menyatukannya pada matanya, sehingga ia mampu melihat siapa orang lain itu.

“2 orang!” ucapnya, ia membuka matanya dan kini mata it sudah berubah warna.

Satu lagi kekuatan Nao, telinganya bisa mendeteksi suara dari jauh dan ia sering menggabungkannya dengan kekuatan matanya.

Jessica melirik Nao, ia kembali melemaskan tubuhnya normal. Lou maju selangkah dan berpindah di depan Jessica. Mereka menyambut kedatangan 2 orang itu.

“11 langkah, 10, 9, 8, 7, 6, 5…” Nao menghitung langkanya

“3,2,1!”

Se_!” 2 orang itu tepat berdiri di depan pintu apartemen mereka. Dan dua orang itu bukan orang yang meereka harapkan, tapi merekalah yang mempunyai langkah kaki itu.

“Kenapa kalian berdiri di depan pintu?” tanya salah satu dari mereka. Mereka adalah Security dan pemilik apartemen sebelah apartemen mereka,

“Selamat pagi Pak!” Balas Nao, ia melempar senyum lebarnya, senyum yang sangat manis dibanding Lou, karna Lou jarang tersenyum

Jessica melangkah mundur, ia menjauh dari pintu dan kembali menghampiri cangkirnya, Biarlah orang-orang itu diurus oleh Nao, dia sangat ahli memikat hati orang dengan wajah imutnya yang terkadang sok innocent itu.

Lou pun mengikuti langkah Jessica, ia hanya menggeleng melihat Jessica yang tidak juga berubah.

“Berikan aku secangkir kopi!” pinta Lou lalu disusul dengan suara tubuhnya yang sengaja ia jatuhkan ke sofa.

__________________________Beautiful Diamond________________________

Tiffany side_

Tiffany berhenti pada kaca toko yang ia lewati. Ia merutuki penampilannya yang sangat lusuh saat itu. Sudah 2 hari ia meninggalkan rumah, itu karena dia terlalu asyik dengan penyelidikannya tentang pertahanan informasi pemerintah saat ini. Dan juga tentang seseorang yang diminta oleh Tn Arthur.

Satu hari sebelum mereka pergi, Tn Arthur memberinya tugas untuk mencari tahu tentang seseorang yang mungkin akan menjadi ancaman terbesar mereka.

“Hoach! Kau tak secantik biasanya Tiff!” gumamnya, ia memajukan bibir bawahnya lalu merapikan tali rambutnya.

“SIAL!” umpatnya, matanya menangkap seorang yang terlihat sedang mengikutinya. Untung saja ia terbiasa dengan Jessica yang selalu jeli dengan orang-orang disekitarnya, sehingga ia sudah sedikit hafal dengan gerak-gerik pengintai.

Ia mulai mundur dan berusaha tetap tenang seolah ia tak mengetahui orang itu. Itu juga yang sering dilakukan Jessica saat bersamanya, menunggu sampai saat yang tepat untuk menyerang. Hanya saja ia takut Jessica akan marah jika ia menyerang orang itu dengan gegabah.

Dengan gerakan kecil ia mulai merogoh sakunya, berusaha memberi pesan pada teman-temannya. Dan ia terus berjalan entah kemana, yang ia pikirkan jangan sampai ia mengikutinya sampai ke apartemen.

______________________Beautifu Diamond____________________________

Tit…tit…tit…

Satu pesan yang diterima Nao.

From:  MyTiff

_Aku diikiti, tolong aku!”_

 

Nao mendongak, ia melihat Lou yang juga mendapat pesan yang sama. Berbeda dengan Jessica yang tak menyentuh ponselnya, ia masih sibuk dengan acara televisi yang ia tonton.

“Jess!”

“Ikuti saja GPS yang dipasang Tiffany! Aku akan menyusul, !” ucapnya tenang. Dia sudah mengetahui pesan dari Tiffany.

“Baiklah kita pergi dulu!” Lou dan Nao beranjak terlebih dahulu

___________________________Beautiful Diamond______________________

Tiffany side.

Apapun caranya sekarang Tiffany mencoba untukmengulur waktu sampai teman-temannya datang. Ia mulai melihat bahwa tak hanya satu orang yang mengikutinya.

Ada beberapaorang yang berbeda di titik tertentu, mereka menyamar. Setelah pesan itu Jessica memberitahunya untuk melihat sekitar yang mempunyai gerak-gerik mencurigakan seperti orang yang mengikutinya.

“Lou dan Nao sedang mengikuti GPS mu, sebisa mungkin janganterlalu banyak berpindah tempat, tapi bergeraklah sehingga mereka tak punya kesempatan untuk menyerangmu, gunakan sekitarmu , jika yang mereka incar adalah kamu, mereka tak akan berani menyakiti yang lain, berpindahlah ke tempat yang ramai” jelas Jessica.

“Kau dimana?” rengek Tiffany.

“hemh… tunggu saja mereka!”

Tut…tut…tut…

“Aish! Jessi ! dasar!” umpat Tiffany.

Ia mulai memperhatikan sekitarnya, untuk mengulur waktu. Dan sekarang ia berhenti pada seorang anak kecil yang bermain dengan bolanya.

Ia menelan ludah, jika harus bersembunyi pada anak kecil sampai teman-temannya datang, ia membahayakan anak kecil itu.

___________________________Beautiful Diamond_______________________

Nao memejamkan matanya saat tiba di tempat dimana GPS Tiffany berhenti.

“Kali ini lebih banyak!” Kata Lou yang juga sudah menemukan beberapa orang itu.

“Kau sudah melihatnya? Ada 10 orang di tempat ini!” kata Nao

“Beritahu Tiffany untuk kembali berpindah ke tempat yang lebih sepi, disini banyak anak kecil!” kata Lou

“Baik!”

“Tiff!” Nao menggesek microchip yang ia pakai.

“Kita bergerakdari  sini!”

“Baik!” Tiffany mengerti maksud Nao.

Tiffany, Nao dan Lou, mereka mulai bergerak cepat dari taman bermain itu.

_______________________Beautiful Diamond__________________________

“It’s the show time!” Nao sudah dalam posisinya.

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[chapter 1] BEAUTIFUL DIAMOND

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s