ALL MY LOVE FOR YOU

Dia bilang dia bukan sosok kakak yang baik untuk adiknya, dan untuk keluarganya.

Dari kecil dia tidak bisa bersikap lembut pada sang adik, entah kenapa sepertinya kehidupannya dengan sang adik sangat berbeda dengan orang-orang kebanyakan, rasa jengkel dari kecil karna kenakalan sang adik selalu mempengaruhi sikapnya sampai sekarang.

Dia paling tidak mau menunjukkan rasa perhatiannya tapi dibalik itu dia sangat memperhatikan bagaimana adiknya tumbuh dan seperti apa kedepannya kelak.

Berbicara dengannya pun jarang, apalagi sampai berbicara dari hati ke hati.

Yang ia tahu hanya memarahinya setiap kali bertemu dengannya, berteriak dan pertengkaran heboh yang mirip dengan perang dunia, enatah perang dunia yang keberapa itu.

Tapi sesekali terlihat ia menangis melihat adiknya itu. Adiknya yang kurang beruntung disbanding dia, ketakutannya akan hal-hal buruk pada adiknya saat adiknya mulai beranjak dewasa. Itu semua membuatnya miris.

Sesekali ia memandang dalam adiknya itu, memerhatikan dengan teliti bagaimana wajah sang adik, hidungnya, matanya, bibirnya, senyumnya, semuanya, lalu ia meneteskan air mata tanpa disadari oleh sang adik. Perasaannya berkecambuk mengingat perjalanan hidupnya dengan sang adik di masa kecil,

“Apa kak?” Begitu sang adik menyadari bahwa sang kakak hanya bengong melihatnya.

“Apa? “ balas sang kakak yang selalu ketus dan mencibirnya

“JANGAN GR YA!” sambungnya

Seketika sang adik mencibir, pipi merahnya jadi meredup, senyum malu nya hilang, cengirannya juga menghilang seketika.

“Yeeee DASAR, masih cantikan aku kan!? Ngaku ngaku ngaku!! Masih putihan aku, masih sipitan aku, !” balasnya tidak terima, itu yang paling sering ia lontarkan pada kakaknya.

Sesekali ia juga mengakui kecantikan adiknya, kepolosannya, keluguannya, dan wajah melas yang tak pernah terlintas dan diperhatikan orang, wajah itu hanya terlihat oleh sang kakak.

Yang ia lakukan hanya menjauh, lalu menghapus air matanya.

“Tuhan! Korban itu janganlah dia!semoga dari dulu sampai ia besar nanti tetap menjadi anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang masa kecilnya yang menyedihkan, bahkan ketika ia besar kelak dan mengerti bagaimana rasa sakit itu, jangan sampai memori itu menyiksanya! Dia harus bahagia sekarang dan menjadi anak baik bersama orang tua kami!” sang kakak menjerit dalam hatinya.

Sulit rasanya menunjukkan rasa perdulinya itu, ia akan membelikan buku-buku terbaik untuk sekolah adiknya setiap ia di toko buku, itu buku-buku yang tidak bisa ia beli dulu sewaktu sekolah, ia akan belikan seragam saat seragam itu sudah kusam, hal yang tidak ia lakukan saat sekolah dulu, bahkan dari kelas 1-6 SD seragam pun masih sama, meskipun itu sudah sangat kecil bahkan roknya menjadi 5 cm diatas lutut saat SD, hahaha

Rasa perdulinya itu hanya mampu ia lontarkan pada orang tuanya, bagaimanapun ia ingin pendidikan itu berasal dari orang tuanya, sang ibu terutama. Hal yang tidak diterimanya dulu.

Bagaimanapun ia harus punya orang terdekat di keluarganya, sang ibu, untuk berbagi cerita, untuk berbagi argument, ia tahu labilnya anak remaja yang menginjak ABG, bagaimana ia sudah memiliki perasaan lain pada teman lain jenisnya, bagaimana kegiatannya di sekolah, dia harus punya orang untuk menampung semua ceritanya, dan yang kakak inginkan orang itu adalah ibunya, tak lain. Hal yang juga tak ia lakukan ketika ia remaja.

Ia juga ingin kalau Ibunya adalah gerbang pertama dan orang pertama yang tahu akan semua masalahnya, barulah sang ibu bisa membicarakannya dengan sang ayah. Yang ia mau ibunya harus berperan penting dalam perkembangan adiknya itu.

Tidak perduli bagaimana ia menggapai cita-cita dan keinginannya yang tak pernah ia ungkapkan bahkan pada orang tuanya, ia selalu berfikir untuk mengarahkan adiknya agar kedepannya bisa lebih mudah menggapai cita-citanya. Baginya ia cukup menjadi orang yang mendukung dibelakangnya tanpa ia tahu bagaimana ia berfikir untuk keberhasilan adiknya. Bahkan ia tak pernah berfikir seperti apa kelak masa depannya.

Yang ia bisa hanya menangis ketika mengingat hal itu. Dan terus berdoa agar memori adiknya tentang masa kecil mereka terhapus, ia harus jadi orang baru dan lebih baik darinya kelak.

Ia tahu adiknya menganggap dia tak pernyah menyayanginya, tak pernah bersikap baik, pilih kasih, bahkan saat sang adik berulah, hanya dengan tatapan dinginnya ia sudah takut, tapi tak pernah membuat sang adik berhenti untuk berulah. Sampai-sampai melihat adiknya menagis tidak akan menggerakkannya untuk datang dan menyuruhnya untuk diam. Itu tidak berlaku untuknya, kalau mau menangis ya silahkan menangis, dia akan berhenti menangis, setiap orang akan berhenti menangis, lebih baik dia menangis hanya karna rasa sakit yang sementara. Bukan rasa sakit yang membekas sehingga akan membuatnya menangis kapan pun dimanapun saat ia mengingat rasa sakit itu.

”ALL MY LOVE FOR YOU” itu kata hati sang kakak, dan ia tidak mau sang adik tahu isi hatinya.

Ia punya tugas untuk menjadikan sang adik menjadi sutradara dan actor yang hebat dalam scenario yang telah tersedia, dengan sedikit kreatifitas dan gubahan pada scenario itu, sehingga menjadi apresiasi seni kehidupan yang membuatnya bernafas bangga, tersenyum bangga, memperlihatkan senyum manis dan mata sipitnya, dia sangat cantik melebihi kakaknya, dan juga kehidupannya kelak.

AMIIN _______________________________________

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s