Scarlet

Aku menunggu  Ayah di ruang tengah  tempat dimana kami senang berkumpul. Sebenarnya hanya aku dan Ayah yang sering melakukan itu, karna di rumah sebesar ini hanya kami berdua yang menempati, ada satu lagi yaitu pembantu kami Bi Rojah.

Ayah selalu pulang larut tiap banyak pasien yang harus di operasi, hemh aku heran kenapa banyak orang yang suka dioperasi  ya???

Ayahku adalah dokter spesialis bedah, tapi di Rumah Sakitnya, ia bisa mengatasi berbagai keluhan lain, ya  …  itu memang Rumah sakit Ayahku sendiri. Rumah Sakit impiannya yang ia bangun karna Almarhumah Mama.

Mamaku sudah meninggal saaat melahirkanku, 17 tahun yang lalu.

Dan selama itu aku hanya tahu satu orang tuaku yaitu Ayah, Ayah adalah Mamaku juga.

Namaku Scarlet Windarta Pratama. Namaku Scarlet karna Mamaku suka dengan Scarlet. Hemh… baiklah aku cantik seperti Mama ku tentunya.

“Ini cangkir yang ke dua!!!” Kataku,   aku membungkam bersama lenganku, kupandangi cangkir ungu kecil ku, kuaduk perlahan isi cangkir yang hanya tinggal separo.

“Ayah kan janji pulang lebih awal hari ini.!!!” Kataku dalam telepon,

“Maaf sayang Ayah ada pasien!!!”

 

“Iya Scarlet tahu, apa sampai jam 12 lagi?” tanyaku dan kulirik jam dinding

yang jarumnya sudah mennunjukkan angka 12

“Sepertinya tidak mungkin sampai jam 12 malam ya yah?,   sampai pagi lagi?”

Aku meralat sendiri pertanyaanku.

iya, maaf!!!”  Hanya itu yang bisa di ucapkan Ayah.

“Scarlet sayang Ayah, aku akan menunggu ayah seperti biasa, cepat pulang ya!!!”

Ayah usahakan!, cepat tidur besok kamu sekolah!!”

 

Tut…………..tut………………tut……………tut………

Aku menutup ganggang telepon ku.

Baiklah malam ini aku tidur di luar, menunggu ayah sampai datang, kasihan ayah pasti kelelahan.

*  *         *        *                 *       *

Pukul 2 pagi Ayah baru pulang dari Rumah Sakit, aku tahu tapi entah kenapa aku tidak bangun dari tidurku, aku tahu kalau ayah yang memindahkanku ke kamar, mencium keningku dengan hangat , lalu meletakkan selimut tebal untuk menjagaku.

Ayah segalanya bagiku.

Pukul 5  pagi aku membuka mataku, aku terbangun tiba-tiba karna aku mendengar suara mobil ayah, aku kira aku hanya mengigau, tapi ayah benar-benar pergi dengan mobilnya, mau kemana ayah pagi-pagi begini? Apa ia sudah istirahat?

Aku melihantnya dari jendela kamarku.

“Bi  Ayah kemana pagi-pagi begini?” tanyaku saat bibi menuangkan secangkir kopi di cangkir ungu kecilku.

“ke Rumah Sakit non!!” jawab bi Rojah.

“Ow…bibi tahu Ayah bangun tidur jam berapa?” tanyaku lagi.

Bibi diam tak menjawab, mungkin bibi tidak tahu kapan Ayah tidur,

“Sepertinya Ayah tidak tidur!!”  aku menjawab pertanyaan ku lagi.

“Bibi pernah dengar Ayah sebenarnya kenapa? Apa banyak pasien?  Apa ada sukarelawan yang harus di urus?”

Bibi masih tak menjawab,

“Mungkin juga tidak, Ayah terlalu memaksakan diri ya bi?” aku kembali menjawab pertanyaan ku sendiri.

“Non cepat mandi, tadi den Rafa telepon akan jemput non jam 6 pagi!!” kata bibi,

“Iya kah?  Ya ampun udah jam setengah 6 ternyata,!” aku beranjak ke kamar mandi.

  •   *   *   *   *   *   *

Aku ingin menceritakan sesuatu pada Ayah, tapi melihat kaesibukan ayah, dan kami pun tak pernah bertemu, di rumah,

“aku antar kan ke Rumah Sakit ya ?” Kata Rafa.

“Hemh, … gimana ya?, iya deh gag papa, kamu gag papa kan nganterin aku?”

“Ya………. Gag papa lah , kamu gag tahu ya keakraban kami,?”

“PD banget jadi orang!!!” aku tersenyum sesaat, Rafa juga tersenyum, senyumnya manis sekali seprti ayah, mereka berdua adalah 2 laki-laki yang begitu hebat di mataku, terutama Ayah,

Dia Rafa, laki-laki yang aku cintai setelah ayah, dan dia sangat menghargaiku sebagai perempuan.

Dia sangat sempurna bagi ku, karna tak ada wanita lain yang bisa bersamanya seperti aku. Aku beruntung bisa mencintainya dan bersamanya saat ini.

1 jam kemudian aku sudah berada di depan kantor Ayah. Rafa memandang ku,

“Ayow  turun, !!”

“baik!” kataku

Aku menyusuri lorong mencari ruangan ayah, banyak yang mengenalku karna aku suka sekali bermain di Rumah Sakit saat aku kecil, namun sejak beberapa tahun lalu aku tak pernah lagi sering ke Rumah Sakit, bahkan aku benci Rumah Sakit,   Sejak aku tahu bagaimana Mama meninggal, aku menganggap karna aku Mama meninggal, dan saat aku menyaksikan ada pasien yang kondisinya sama seperti aku dan Mama dulu, namun dokter tetap tak bisa menyelamatkan sang Ibu, hanya karna hal kecil, yaitu… belum adanya uang jaminan untuk melakukan operasi. Aku membenci Rumah Sakit, kenapa tidak bisa membantu sang Ibu?? Kenapa aku tahu ada anak yang senasib dengan ku?

Aku melangkah perlahan di dekat ruangan kerja Ayah, aku mendengar suara Ayah yang berbicara dengan suster.

“Assalamualaikum ayah!!” kataku, membuka pintu ruangan ayah.

“Waalaikum salam!” ayah sedikit terkejut, mungkin karna aku yang tiba-tiba datang ke Rumah sakit.

“Assalamualaikum om!” di susul Rafa di belakangku,

“Owh  Rafa!, ternyata sama Rafa, pantas !!!” Kata Ayah.

“Si cantik pengen ketemu Ayahnya om!!” Ucap  Rafa bercanda.

“Princess ku?  Sini!!” Ayah menggenggam tanganku dan membawaku duduk di kursinya.

“Om saya mau ketemu sama dokter Rifal !…”

“Iya, dokter Rifal di ruangannya!!!” Kata Ayah.

Rafa memberi kesempatan aku untuk berbicara kepada ayah,

“Kenapa princess?” Tanya ayah

“emh,,,,,… Ayah, Scarlet mau ngomong sesuatu, Ayah jangan marah ya!!”

‘Apa?”

“Scarlet ada festifal menyanyi besok, Ayah mau nonton ya, buat dukung Scarlet!!” aku berbicara selembut mungkin.

“Nyanyi?” Ayah sedikit terkejut..

Aku mengkerut, sudah aku duga kalau ayah akan sulit mengijinkan, tapi mau bagaimana lagi, besok adalah festifalnya, dan aku baru ada kesempatan bebicara dengan ayah hari ini.

“Ini festifal terakhir Scarlet deh ya!! Tapi ayah ijinin Scaarlet , buat nyayi!!!”

“Sudah Ayah bilang berapa kali kalau ayah tak suka kalau Scarlet nyanyi, Ayah lebih suka Scarlet jadi dokter seperti Ayah”

“ayah…!!!” aku memelas

“TIDAK!”

“ayah tidak mengijinkan!!!”

“Ayah J A H A T! Scarlet kecewa sama Ayah! Ayah sibuk dengan pekerjaan ayah< Scarlet sendirian di Rumah ayah!”

“scarlet! Mengertilah Ayah!”

“Scarlet pamit, besok Scarlet akan tetap ikut  festifal , dengan atau tanpa ijin ayah, Scarlet akan buktiin kalau Scarlet bisa.!”

“SCARLET!!!” Ayah mengejarku,  tapi aku tetap berlari menjauh dari ruangan Ayah.

Sampai akhirnya aku sampai di mobil Rafa, dan Rafa juga mengejarku.

“Kamu kenapa?” tanyanya perlahan.

Aku tahu kalau dia kecewa karna aku yang tiba-tiba saja marah dengan Ayah.

“Ayow pulang fa!, aku mau latihan”.

Aku tetap membulatkan tekatku untuk ikut festival besok, dengan atau tanpa ijin Ayah, aku ingin membuktikan kalau aku bukannya tak dapat apa-apa dari hoby ku itu.

Dan malam ini ayah kembali pulang larut, atau mungkin ayah memang marah padaku?, aku sudah lelah menunggu ayah pulang, pintu rumah yang kupandangi dari tadi sepertinya mulai risih karna aku yang tak pernah melirik tempat lain selain nya.

Aku tidur lebih dulu ayah……. Begitu pesanku di meja kerja ayah sebelum aku tidur. Besok aku lomba, aku akan bawa pulang piala ku ayah…. Do’aku yang kutulis di meja Ayah,

Aku befikir kalau ayah masih marah dengan ku, bukan aku yang marah , tapi ayah yang kecewa karna aku tidak menurut.

  •             *                     *

Lagi- lagi aku terlambat untuk bertemu ayah pagi ini,, tak ada mobil ayah di garasi.

Tapi entah kenapa hatiku menjadi gundah dan tak tenang saat aku tanya bibi dan bibi bilang kalau ayah tak pulang semalam.

“ayah….!!!” Ucapku lemas,

“Padahal aku mau lomba!!” aku merunduk kecewa,, tapi mungkin tak sekecewa ayah yang melihat anak semata wayangnya membangkang.

Ayah …… padahal ayah tahu kalau Mama ada pada diriku, dari semua kesukaannya, hoby hobynya,, bakatnya, semuanya ada padaku. Kadang aku berpikir kalau Ayah tak mau terus terusan di bayang bayangi sosok mama yang melekat padaku. Karna Ayah sangat mencintai Mama.

Tapi Ayah, Scarlet nggak akan nakal lagi kog, ucapku selalu.

Rafa sesekali melihatku yang terus menekuk wajah,,, aku terus memainkan benang rajutan syall ku, Rafa…. Coba kau memarahiku sekarang, ayow marahi aku sekarang, agar aku menurut pada Ayah, tapi memang aku sudah bertekat bulat untuk ikut festifal ini, aku ingin mengadokan ini untuk Mama.

Rafa juga diam disepanjang jalan, dia diam dan terus memandangi tingkah ku.

“Kenapa?” tanyaku pada Rafa

“Nggag! sayang aja Princessnya om sedang ditekuk tekuk wajahnya. “

“terus kenapa,,,, ?”

“hemh…. Kamu nunggu aku berkata sesuatu padamu kan?”

“Iya” jawabku lirih,, Rafa tahu apa yang aku pikirkan dari tadi.

“Lakukan dan pikirkan lalu siaplah dengan konsekuensinya, itu yang aku katakan Princess!” Kata Rafa dengan bijak.

Aku terdiam..

Aku harus siap dengan konsekuensiku, entah ayah akan perduli atau tidak dengan piala yang nantinya aku persembahkan atau malah menertawakanku karna aku tak membawa pulang piala yang aku janjikan.

“Aku janji dan akan ku tepati, ini festival terakhirku, selanjutnya nyanyi hanya sekedar hobi dan aku pasti akan jadi dokter” Aku ucapkan itu dengan tegas pada Rafa.

“Aku Rafael Sinatria Anggara, memegang janji Scarlet Windarta Pratama, dan Scarlet harus menerima apapun hukumannya kalau janjinya tidak ditepati!!!” Balas Rafa dengan tegas pula.

Aku tersenyum, semoga ini menjadi janji ku yang di harapkan ayah, kalau Ayah bisa bangga padaku dengan aku yang menjadi dokter, akan aku lakukan, sama seperti ayah yang rela melakukan apapun demi  keselamatanku dulu.

“Ayah Scarlet ikut festival!!” aku mengucapkan itu sebelum masuk ke panggung dan mulailah aku beraksi seperti yang telah aku latih sebelum-sebelumnya.

I was waiting for so long

For a miracle to come

Everyone told me to be strong but I was waiting for you. . . . .

 

Hush!   Now I see a light in the sky

Owh.. . . it’s almost blinding me

I can’t believe I’ve been touch by an angel with love. . . . .

 

 

Lagu milik  Celendion yang kupilih untuk ku nyanyikan di festival ini. . . . . . .  dan aku sukses membawakannya.

Aku turun dari panggung dan kembali ke backstage, Rafa menungguku disana.

Aku lihat Rafa jadi diam dan tak seperti tadi, apa Rafa juga tak suka sama seperti Ayah? Itu pikirku.

Hemh. . . .  sepertinya Rafa ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi sudahlah jangan berfikiran negative dengan Rafa.

Aku mendekatinya dan memasang wajah paling imoutku, memastikan kalau Rafa baik-baik saja.

“Apa? respon datar Rafa ketika aku mendekatinya.

“Ayo ke barisan penonton. Kita tunggu pengumuman disana saja.

“Iya!” Rafa berdiri dan   mendahuluiku.

Aku mengikuti di belakangnya, dia terlihat serius dengan ponselnya, sepertinya dia sedang SMS an dengan seseorang. Hfuh. . . . . .

Setelah menunggu setengah jam lamanya, pengumuman pun tiba. WAW!!! Hatiku deg-degan tapi tak seperti biasa, jantungku berdegup  kencang sekali, akhirnya aku sadar kalau ini bukan sekedar deg degan biasa. Ini rasa cemas, tapi kenapa aku merasa cemas dan gundah? Tuhan jaga hatiku.

Aku memejamkan mata saat juri mengumumkan siapa saja yang menjadi juara di festival itu. Aku memejamkan mata bukan karna takut mendengar pengumuman, tapi karna hatiku ini rasanya nyeri, karna rasa cemasku yang datang tiba-tiba. Ada apa? Aku tetap tak menemukan jawabannya.

Juara Festival tahun ini, . . . dia pendatang baru, sepertinya akan bisa bertahan dan berkmbang. Ini dia Juara I kita. . . . Scarlet Windarta Pratama!!”

 

 

Aku dengar namaku di sebut, tapi aku masih dengan posisiku dari tadi, menunduk dan menekan dadaku, menahan rasa nyeri di hatiku.

Aku membuka mataku, tapi aku masih menunduk.

“Princess!! Ayo ambil pialanya !!” Rafa berbisik di telingaku.

Aku bangun dan berjalan naik ke panggung, rasanya di luar dugaan, karna aku menepati janjiku untuk membawa piala ini ke Ayah.

Terima kasih Tuhan. .  aku bangga tapi tak bisa lepas, karna hatiku terganjal perasaan cemas.

Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan para  Juri dan si pembuat festival ini, mereka berharap aku bisa meneruskan bakatku ini di dunia tarik suara, di dunia yang lebih luas dan global tentang hobyku ini, mereka melihat potensiku.

Aku jadi ingat mama, kisahku ini sama dengan mama dulu yang meninggalkan bakat, potensi dan impiannya. Tapi tidaklah sama sebab mama meninggalkan semua itu dengan ku.

Aku sudah janji kalau aku akan jadi dokter. Meskipun  bisa aku mengambil keduanya, tapi aku ingin total serti ayah, pengabdian ayah yang ingin aku teruskan.

Aku bilang T I D A K   pada mereka.

“Langsung ke Rumah Sakit, aku yakin Ayah masih di sana!” ujarku pada Rafa.

Rafa hanya mengangguk.

“Tadi aku bertemu temanku, dia ternyata udah kerja di sebuah perusahaan rekaman.!”

“Oh ya? Kebetulan banget, ketemu teman kamu!!”

“Dia tertarik denganmu!!” Kata Rafa blak-blakan, dia hobi banget bilang gitu ke aku. Hemh. . . .

“Ich. . . . . .  kamu pasti gag bilang kalau aku pacar kamu!!!” kata ku sebel

“Nggag!!!” Jawanya singkat, dan tanpa ekspresi sama sekali, semakin membuatku sebal.

“Ngapain? Tanpa aku bilang kamu pacarku semua orang sudah tahu kalau ada ikatan yang kuat diantara kita, pancaran cinta kita!!!” Rafa mulai kumat ngegombal.

Hoach. . . . . .  meski sedikit sebel tadi, tapi akhirnya di siram juga sama Rafa. Dasar!!! Itu juga hobinya.

“Terus?” tanyaku.

“Dia tertarik dengan suaramu, dia ingin menawarkan kerja sama, hemh. . . .  terus aku lihat tadi kamu juga diajak bicara dengan para juri, di tawari juga?”

“Iya, kata mereka aku berpotensi!!”

“lalu kamu?”

“t I d a k!! aku bilang Tidak!”

Rafa tersenyum, tangannya mengacak rambutku, bukan membelai, itu juga hobinya, mengelus-elus sambil mengacak ngacak rambutku seperti anak kecil.

“Semuanya ada di tanganmu princess, aku nggag akan ikut campur dengan keputusanmu untuk masa depanmu sendiri!! Aku yakin putri Om ini sudah dewasa!!” Rafa berusaha meyakinkan keputusanku.

“Terima kasih!! Xie-xie Rafa!!”

Kami sampai di Rumah Sakit.

Kini giliran Rafa yang enggan turun dari mobil, aneh aku memaksanya turun meskipun sebenarnya aku juga ragu utntuk menemui Ayah, tapi ku pikir ini harus.

Aku menyembunyikan pialaku di balik punggung, sebelum bertemu Ayah di ruangannya, aku membuat sebuah kejutan untuk Ayah.

Sudah di lorong dekat ruangan Ayah, aku berlari mendahului Rafa. Kubuka perlahan pintu kerja Ayah, hemh.  . . deg degan, meski masih ada rasa gundah dan cemas tadi tapi ini tak seberapa karna kutampis dengan rasa inginku bertemu Ayah.

“Lho, kog udah kosong?” ujarku sedikit kecewa, ruang kerja ayah kosong, tak ada ayah di ruangannya, apa ayah sudah pulang??

Tak lama setelah itu Rafa muncul di balik pintu.

“Scarlet!!!” panggil Rafa penuh makna.

Aku menoleh, dan kulihat wajah Rafa sudah tak seperti tadi lagi, ekspresi dan pandangan matanya berbeda pada ku.

“Iya? Rafa, Ayah sudah pulang!!!” kataku memberitahu

“Iya!!” jawab Rafa, masih dengan nada aneh.

“Udah tahu ayah pulang? Sejak kapan? Aduuh. . . kalau gitu ayow cepat pulang, aku mau minta ma’af ke Ayah, dan kamu bilang kalau kamu jadi saksi janjiku ke Ayah ya!!” ajakku ke Rafa.

Lalu aku menarik lengan Rafa keluar dari ruangan itu.

“Kita bertemu seseorang dulu ya!” ajak Rafa.

“Oww.w.w.w!!” aku menurut.

Tangan Rafa menggenggamku erat, hemh, , , , , Rafa tak pernah seperti ini.

Aku mengikuti  Rafa, yang ternyata menuju ruang operasi .

Di depan Ruangan itu ada dokter Rifal dan beberapa dokter lain serta para suster.

“Ada operasi besar-besarn ternyata” gumamku

“Ayah ada disitu?”

Kami sampai di antara kerumunan para dokter hebat itu, Rafa masih menggenggam tanganku. Dokter Rifal sedikit terkejut dengan kedatangan kami. Suster suter pun juga segera masuk ke ruangan operasi. Kemudian dokter-dokter lainnya, hanya dokter Rifal yang menemui kami.

“Selamat malam dokter!!” sapaku.

‘Selamat malam Scarlet!!”

“Ayah dimana dokter? Saya ingin menunjukkan sesuatu ke Ayah!”

Dokter Rifal mengusap keringat yang ada di wajahnya, dia baru saja melakukan operasi wajar kalau berkeringat.

“Scarlet, ma’af. . .  kami dokter dokter di Rumah Sakit ini tak bisa berbuat banyak!” Ucap dokter Rifal.

“kenapa dokter?”

“Dokter Pratama, beliau orang yang sangat hebat, beliau punya dedikasi yang sangat tinggi dengan pengabdiannya, kami tak bisa berbuat banyak saat beliau meminta kami mengoperasi beliau!!”

“Ayah saya sakit?”

“Tidak, Dokter Pratama sangat sehat, dan karna itu beliau rela kami bedah dan menyumbangkan sejumlah organ tubuhnya untuk orang orang yang membutuhkan!! Ma’af Scarlet, Dokter Pratama telah kembali ke sisiNya!” jelas dokter Rifal.

Aku terkejut bukan main, hatiku semakin sakit, TIDAK TIDAK TIDAK!!

Ayah?. . .  aku tak mampu mengeluarkan suara, tak mampu mengarakan sepatah kata pun, tubuhku kaku, lemas, sepertinya jiwa ini ikut lepas karna terkejut bukan main.

This is just a dream!!! I hope this is realy a dream, not a fact!!!

Rafa masih menggenggam erat tanganku, kulepaskan piala yang kusembunyikan di balik punggungku. Aku belum mengatakan janjiku pada Ayah. Aku belum menjadi dokter seperti yang ayah mau, aku belum minta maaf ke Ayah.

Tuhan!!!! Aku benar benar kaku, air di mata ku sudah menendang nendang bendungannya.

Aku tersimpuh saat aku tahu jenazah Ayah di keluarkan dari ruang operasi. Aku tahu kalau organ ayah saat ini sudah tidak lengkap lagi. Ayah menyumbangkan mata, jantung, hati dan ginjalnya.

Aku merangkak mendekati jenazah Ayah yang berhenti tepat di depanku.

“AYAAAH!!! AYAAAH!!!” aku berteriak sekencang mungkin, tapi percuma karna ayah tak mungkin kembali bangun hanya karna aku berteriak!

“Ayaaah, Scarlet bawa piala ayah!!! Aku memeluk jenazah Ayah, aku tak di perbolehkan melihat wajah ayah untuk yang terakhir kali, tapi aku tak mau tahu, ku buka kain putih yang menutupi wajah ayah. Ada balutan kasa yang mengitari mata Ayah.

“Ayah. . . . Scarlet janji scarlet nggag membangkang lagi kog!! Tanya Rafa, Scarlet sudah janji ke Rafa, sekarang Scarlet bawa piala, ini piala pertama dan terakhir Scarlet ayah, setelah itu scarlet mau di sekolahkan kemana saja asal Scarlet jadi dokter yang Ayah mau!!! Ayah. . .  !”

Aku tak bisa menghentikan air mata ini. . kain putih yang menutupi tubuh Ayah basah karna air mataku,

“Ayah!! Hghghghg!” aku mencium tangan ayah,  ku sembunyikan wajahku di balik telapak tangan Ayah,

“Ayah tidak mau melihat Scarlet jadi dokter? Ayah kenapa tidak menjawab??”

“AYAH!! AYAH! Scarlet panggil Ayah!! Ayow ayah bangun!!”  hghghghghghg

Rafa dan dokter Rifal berusaha mengankatku, menahanku agar aku tak histeris dan Drop.

“Rafa, Ayah !!!!” Aku melambaikan tanganku, melihat jenazah Ayah yang di bawa pergi oleh suster. Jangan!! Tapi jenazah ayah memang harus segera di urus.

Rafa memelukku, dia sudah tahu rencana Ayah saat aku dalam festival, tapi dia tak mungkin memberitahuku begitu saja. Itulah sebabnya sikapnya aneh.

Aku menagis, menyesali kesalahanku, menyesali aku yang membangkang di saat saat terakhir Ayah, aku yang seolah membuat Ayah berfikir kalau aku marah pada Ayah, Aku meninggalkan kesan buruk di saat terakhir Ayah. Dan aku yang tak sempat minta maaf atas sikapku yang kasar dan mengatakan kalau Ayah Jahat!

Tuhan, rasanya hamba ingin menghukum diri hamba sendiri.

Penyesalan ini tak akan pernah berakhir.

____________<3<3<3<3____________

Aku melempar tanah pertama di lubang kuburan Ayah sebelum di kubur dengan tanah. Kami ada di pemakaman Ayah. Aku, Rafa, keluarga Rafa, dan keluarga-keluarga Ayah di Rumah Sakit, tempat Ayah mengabdi. Acara pemakaman Ayah di ikuti juga dengan seluruh pasien ayah yang ada di Rumah Sakit.

Ayah di makamkan tepat di samping makam Mama, wanita yang sangat ia cintai, sehingga ia ingin cepat cepat menyusul wanita hebat itu.

Rasanya tak sanggup lagi untuk bangun dan berdiri.

Kakiku lemas, lumpuh seketika, aku masih shock karna semua ini. Aku di bantu kursi roda dan dikuatkan oleh orang orang yang menyayangi kami.

“Ayah meninggalkan aku sendiri Rafa!! Padahal mama sudah ninggalin aku sejak kecil, sekarang Ayah!!” Ucapku lirih.

Rafa hanya menggenggam tanganku.

Aku pasti mewujudkan janjiku Ayah! Itu benar benar Janjiku.

___________________<3<3<3_______

Banyak yang sangat mengagumi sosok Ayah, tak semua dokter yang mau menyumbangkan organ organ tubuhnya sebelum ia meninggal.

Ayah benar-benar mengabdikan diri sebagai dokter, karna itulah janjinya pada mama, saat mama meninggalkan kami, Ayah benar-benar mewujudkannya, dan Rumah Sakit itu adalah buah wujud nyata dari mimpi mereka berdua saat masih kuliah dulu.

Ayah kembali bersatu dengan mama saat Ayah merasa bahwa tugasnya selesai.

Sekarang giliran aku yang menepati janji ku.

“Ayah aku harap ayah bersama mama melihatku, sekarang aku berdiri di jendela memandang langit dari ruangan Ayah, Scarlet jadi pengganti ayah di Rumah Sakit, tapi rasanya banyak sekali bayangan Ayah di ruangan ini. Hemh. . . . mungkin mulai besok ruangan ini akan sering sepi karna Scarlet akan sering bertugas di daerah, tapi tenang. . . ada keluarga keluarga Ayah di rumah sakit yang semakin giat membantu mereka”

“Ayah Scarlet sudah jadi dokter, dan Scarlet tidak akan mengecewakan Ayah lagi, terima kasih ayah, atas kasih yang selalu engakau berikan, atas pelajaran yang selalu engaku ajarkan. . . .

Mama aku mengagumimu karna bisa membuat Ayahku jadi hebat,, AKU MENCINTAI KALIAN!!”

“Ayah tahu tidak kalau aku mengasuh anak kecil salah satu penerima donor Ayah, aku juga mengawasi penerima donor Ayah yang lain, tidak akan ku biarkan organ ayah itu rusak, Hemh. . .  ada juga kabar baik untuk Ayah dan Mama, Rafa melamar ku lho, cowok yang di sukai Ayah itu sekarang jadi pengusaha sukses, dia nantangin aku agar aku bisa lulus di sekolah kedokteran Belanda tanpa ada embel embel aku anak ayah, jadi sekolahku murni beasiswa, hemh. . . . Rafa itu memang aneh! Katanya gag seru dong kalau aku lulus sekolah kedokteran dengan gampang, biar sama seperti ayah dulu. Hahahaha aku juga mencintainya!!!” Aku menceritakan semuanya seperti sosok mereka ada di depanku.

Aku duduk di kursi Ayah, masih terpajang foto ayah bersamaku saat aku kecil dan saat aku SMA, ada juga foto Ayah memakai seragam dokter pertamanya yang terpasang di dinding, di sampingnya ada foto Ayah bersama Mama dengan seragam praktek mereka, Aku berdiri dan menambahkan satu foto lagi, fotoku dengan seragam putihku. Fotoku bersanding dengan foto-foto kebanggaan Ayah.

“Ayah tahu tidak kalau aku mengasuh anak kecil salah satu penerima donor Ayah, aku juga mengawasi penerima donor Ayah yang lain

I LOVE YOU.  . . . .

THE MIRACLE WAS COME. . . .

~THE END~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s